GADIS PENOLONG Sang Mafia

GADIS PENOLONG Sang Mafia
33. Mengerjai Balik


__ADS_3

Melihat pasien itu adalah suaminya sendiri, ditambah lagi membaca kasus sang suami dengan rentetan pengobatan rutin yang di jalankan MARA, membuat Alia menarik kesimpulannya sendiri apa yang telah dilakukan MARA pada dirinya.


"Apakah karena takut membuatku terluka kamu tega merekayasa kematian mu demi menjalankan pengobatan ini?


Sekuat apa kamu ingin menyembunyikan semua dariku sayang, jika pada akhirnya, Tuhan menyibak kebohongan mu dengan caranya sendiri." Tutur Alia sambil melakukan operasi pada suaminya.


Betapa hati-hatinya Alia melakukan operasi itu, seakan ia sedang berada di ruang itu berdua saja dengan suaminya. Rasa haru bahagia bercampur dongkol menyatu dalam batinnya kini.


Namun sepanjang operasi, Alia terus melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an untuk menjaga kontak batinnya dengan Allah yang dikira tim dokter lain, Alia sedang berdendang dan mereka menikmatinya terasah sangat syahdu nyanyian indah itu.


Hampir tujuh jam berkutat dengan syaraf mata MARA hingga akhirnya Alia melakukan operasi dengan sempurna membuat tim dokter bernafas lega.


"Dokter MARSYALIA!" Tegur dokter Brooklyn.


"Hmmm!"


"Jika kamu tahu siapa pasien ini, pasti kamu akan syok jika tahu banyak tentang dirinya."


"Emangnya siapa dia?" Tanya Alia pura-pura tidak tahu sambil melepaskan kaus tangan dan baju pelindung dari tubuhnya menuju ruang dokter di mana mereka selalu berkumpul.


"Dia adalah salah satu seorang mafia yang sangat disegani di dunia bisnis. Walaupun begitu hatinya sangat baik karena dia selalu menolong orang lain, termasuk pasien yang tidak mampu di rumah sakit ini yang mendapatkan subsidi pengobatan darinya."


"Benarkah?" Timpal Alia menyimak cerita dokter Brooklyn tentang suaminya.


"Dia sangat tampan, kaya raya dan baik hati, namun sayang, dia sudah menikah. Sepertinya dia sangat mencintai istrinya dan selama lima tahun menjalankan pengobatannya di sini, tidak satu kali pun kami melihat istrinya untuk mendampinginya selain asistennya. Apakah di sedang mengurus proses perceraiannya?"


Tanya dokter Brooklyn sambil mengetuk dagunya seakan sedang berpikir.


"Wah, rupanya dokter Brooklyn sangat tertarik dengan kehidupan pasien hingga tahu segalanya tentang pasien." Pancing Alia.


"Aku salah satu pengagumnya dokter MARSYALIA, hanya saja pasien itu terlalu angkuh untuk bisa aku dapatkan hatinya. Apakah anda punya tips khusus agar bisa menaklukkan hati tuan Damara itu?" Tanya dokter Brooklyn penuh harap.


"Bukankah katamu, dua sudah menikah? Kenapa dokter Brooklyn ingin masuk ke dalam kehidupan pernikahannya yang tidak tersisa lagi tempat dihatinya kecuali cintanya yang utuh hanya untuk istrinya seorang." Ucap Alia membuat wajah dokter Brooklyn memerah.

__ADS_1


"Tapi, aku tidak pernah melihat istrinya mendampinginya, mungkin saja pernikahan mereka terancam....-"


"Jangan menebak kehidupan pribadi pasien mu, hanya ingin mendapatkan hatinya. Bisa jadi ia punya komitmen tersendiri dengan istrinya yang membuat cinta mereka tetap terjaga walaupun tidak harus selalu bersama dan publik harus tahu tentang hubungan mereka.


Bukankah pasien itu seorang Mafia? Itu berarti dia sedang menjaga wanitanya agar tetap aman di rumahnya sampai ia menunggu kesembuhannya dan kembali lagi untuk wanita yang sangat ia cintai. Jadi jangan terlalu berharap pada milik orang lain karena itu sangat menyakitkan untuk anda, dokter Brooklyn." Ucap Alia yang tidak ingin beristirahat karena dia harus kembali melihat keadaan MARA yang saat ini sudah di pindahkan ke kamar inap.


Wajah dokter Brooklyn makin memerah mendapat nasehat menohok dari Alia. Ia tidak tahu siapa lawan bicaranya saat ini. Alia menemui direktur rumah sakit tersebut untuk menyampaikan keinginannya.


"Dokter Alia....! Terimakasih sudah mau membantu kami menolong pasien itu agar bisa keluar dari kegelapan." Ucap dokter Glassman.


"Dengan senang hati dokter Glassman. Tapi bolehkah saya meminta sesuatu kepada anda?"


"Silahkan dokter Marsya!"


"Ijinkan saya untuk merawat pasien itu sendiri!"


"Tapi dia sudah punya asisten yang saat ini selalu merawatnya."


"Saya akan bicara dengan asistennya itu untuk menggantikan posisinya sementara waktu."


"Tidak perlu dokter Glassman! Biarkan saya yang memperkenalkan diri saya sendiri padanya. Lagi pula kita akan membuka perban pada matanya setelah tiga hari ke depan dan saya ingin melakukannya sendiri. Saya ingin orang yang pertama dilihatnya adalah saya." Ucap Alia tegas.


"Baiklah dokter Marsya! kalau itu memang keinginanmu, aku akan mengijinkanmu merawat pasien itu selama ada di rumah sakit ini. Tapi saya berharap jangan melibatkan perasaan anda pada pasien karena rumah sakit ini melarang seorang dokter jatuh cinta pada pasiennya sendiri."


Dokter Glassman memperingatkan Alia dengan tegas membuat Alia hanya tersenyum miring.


"Akan saya jaga aturan itu, dokter Glassman. Terimakasih. Kalau begitu saya akan ke kamar pasien sekarang untuk mulai tugas saya." Ucap Alia meninggalkan ruang kerja dokter Glassman dengan perasaan lega.


Alia mengetuk pintu kamar inap MARA di sambut oleh asisten suaminya Houston. Houston yang tidak mengenali Alia karena saat ini Alia tetap mengenakan seragam Dokternya dengan jas putih serta masker yang menutupi sebagian wajahnya hingga terlihat hanya manik indahnya saja.


MARA masih terjaga dalam tidurnya karena masih dibawah pengaruh obat penenang." Selamat sore dokter!" Sapa Houston.


"Sore....! Apakah kamu kelurga pasien?"

__ADS_1


"Iya dokter!"


"Boleh kita bicara sebentar?"


"Baik."


Houston dan Alia bicara di luar kamar MARA. Dan Alia membuka maskernya membuat mata Houston mendelik tak percaya." Bukankah Anda adalah nona Alia?" Tanya Houston dengan wajah paniknya.


"Syukurlah kalau kamu mengenaliku walaupun kita baru bertemu untuk pertama kalinya." Ucap Alia.


Alia menceritakan semuanya kepada Houston bagaimana ia bisa diminta oleh rumah sakit itu untuk melakukan operasi pada MARA.


Mendengar cerita Alia, membuat Houston merasa sangat terenyuh. Alia juga menyampaikan keinginannya untuk merawat MARA sampai perban mata MARA dibuka.


Dan selama itu, Alia meminta Houston untuk merahasiakan keberadaannya jangan sampai MARA tahu karena itu akan menganggu kesehatan MARA yang tidak boleh kaget berlebihan.


Houston akhirnya mengerti dan mau bekerjasama dengan Alia. Keduanya kembali ke kamar MARA. Rasanya saat ini Alia ingin memeluk suaminya itu dengan sangat erat. Ingin rasanya ia menumpahkan sejuta rasa bahagianya setelah sekian lama tidak bertemu dengan suaminya.


Alia tidak mau berpaling dari tatapannya pada lelaki yang telah memberikannya seorang putra. Ia menghujami suaminya dengan ciumannya entah di pipi, lengan, dada dan perutnya MARA.


"Aku merindukanmu, MARA. Jangan lagi bohongi aku." Batin Alia.


"Selama ini kamu sudah mengerjai aku suamiku, bagaimana rasanya jika aku mengerjai balik dirimu." Ucap Alia dengan bahasa Indonesia yang tidak dimengerti oleh Houston.


Tidak lama kemudian, akhirnya MARA siuman. Namun Alia tidak bisa membuka suaranya. Ia hanya menggantikan tugas Houston tapi Houston yang tetap bicara pada MARA.


"Houston...!"


"Iya Tuan...!"


"Jam berapa sekarang? Tolong bantu aku duduk? Dan kapan perban mataku akan di buka?" Tanya MARA penuh kesabaran.


"Seperti biasa Tuan, kita tunggu tiga hari ke depan dan sekarang sudah pukul lima sore."

__ADS_1


"Semoga ini operasi terakhir ku Houston. Aku ingin segera menemui Istriku. Kalau bisa, aku ingin saat aku membuka mataku, wajah yang ingin aku lihat adalah Alia ku. Aku sangat merindukannya." Ucap MARA membuat Alia hanya bisa menangis dalam diamnya.


__ADS_2