GADIS PENOLONG Sang Mafia

GADIS PENOLONG Sang Mafia
11. Menyebar Gosip


__ADS_3

Hampir satu bulan Alia menjadi istri dari Damara dan tinggal serumah dengan pengusaha ternama itu. Walaupun begitu ia tetap melakukan tugasnya sebagai pelajar yang harus belajar.


Karena Alia mengambil jurusan MIPA, tentu pelajaran sulit bagi sebagian orang itu menjadi tugasnya kali ini untuk menyelesaikannya.


Sudah hampir satu jam gadis itu terus berkutat diatas meja belajarnya dengan buku tulis dan pena serta buku pelajaran yang ada di hadapannya. Kadang mulutnya komat-kamit menghafal semua isi buku yang sesuai BAB yang dibutuhkan untuk ulangan besok.


MARA yang sedari tadi menunggu istrinya itu kelar belajar hanya mengutak-atik laptop yang ada di atas pahanya sambil bersandar dan sesekali tenggelam dalam tatapan matanya yang tertuju pada Cinderella nya yang tak sekalipun menatapnya.


"Perasaan di kamar ini hanya ada aku. Istriku sama sekali tidak mempedulikan aku. Apakah aku harus menggodanya?" Ucap MARA timbul pikiran isengnya untuk mengerjai Alia.


"Auhhghtt....! Kepalaku...!" Pekik MARA berhasil memancing sang istri seketika reflek menatapnya.


"Sayang....!" Alia buru-buru lompat ke atas tempat tidur memindai laptop milik suaminya di meja nakas dan meraih kepala sang suami ke dadanya.


"Apakah kamu sakit kepala?" Tanya Alia dengan lembut memijat kepala MARA membuat MARA mengulum senyumnya.


"Yes ..! Berhasil." Batin MARA makin mendramatisir sakitnya sambil membenamkan wajahnya di perut ramping itu.


"Kalau sudah kelelahan, kamu istirahat sayang. Jangan memaksakan diri untuk terus bekerja." Ucap Alia sambil terus memijit pelipisnya MARA.


Walaupun kepalanya tidak sakit, tapi pijitan lembut Alia pada kepalanya terasa sangat enak. Ia baru merasakan pijitan itu dan sekarang berpindah ke wajahnya atas permintaan Cinderella nya agar ia berbaring di pangkuan Alia.


Alia mengambil pembersih wajahnya untuk melakukan massage wajah seperti melakukan gerakan totok wajah.


"Masya Allah, anak ini apa saja bisa. Alia...sayang, aku sangat bahagia memilikimu." Batin MARA sambil merasakan pijatan lembut istrinya yang membuat ia kembali fresh.


Tengkuk Alia sedikit ditekan oleh MARA yang ingin memagut bibir istrinya. Alia tidak mampu menolak ciuman dahsyat suaminya karena dia juga menginginkannya. Tangan MARA meremas dada Alia di balik piyama tidur Alia membuat Alia makin menggelinjang kegelian.


"Lakukan sayang, kalau kamu tidak kuat lagi menahan hasrat mu. Aku ikhlas." Ucap Alia.


"Tidak sayang! Aku akan menunggumu lulus SMA atau setidaknya kamu sudah menyelesaikan ujian Nasional." Ucap MARA menahan dirinya.

__ADS_1


Akhirnya keduanya memilih tidur setelah puas melakukan ciuman panas mereka.


Keesokan paginya, seperti biasa MARA mengantar Cinderella nya dulu ke sekolah baru ke perusahaan. Saat Alia turun dari mobil, gadis itu berpapasan dengan teman kelasnya Nadin yang mengamati Alia dan MARA seperti tidak lagi memiliki hubungan seperti yang sedang pacaran tapi lebih dari itu karena Alia mencium punggung tangan MARA penuh takzim dan MARA mengecup kening istrinya penuh kelembutan. Sontak saja wajah Nadin tercengang melihat adegan itu dari dalam mobilnya.


"Belajar yang rajin ya sayang! Jangan lupa kalau istirahat telepon aku!" Ucap MARA.


"Hmmm."


Ia membiarkan Alia berjalan terlebih dahulu dan MARA sudah meninggalkan tempat parkir itu dengan benda mewahnya.


Alia berjalan setengah berlari untuk mencapai kelasnya. Begitu pula dengan Nadin yang sudah siap menggonggong ingin menjatuhkan Alia di depan teman-temannya. Setibanya di kelas, Nadin menggebrak meja milik Alia yang sedang duduk sambil ngobrol dengan sahabatnya Lidia.


"Eh...! Sekarang kemiskinan telah mengikis iman mu hingga sekarang kamu sudah menjadi simpanannya pengusaha hebat seperti Damara? Aneh, orang miskin sepertimu bisa digila-gilai oleh pangeran tampan itu, kalau dilihat dari fisikmu, malah lebih cantik aku daripada kamu." Ucap Nadin dengan angkuhnya.


Teman-temannya Alia sontak melihat ke arah Alia yang tidak begitu peduli dengan ocehan Nadin. Ia malah tersenyum sinis dengan tetap mengobrol dengan Lidia yang saat ini sudah kebal dengan semprotan Nadin.


Daffa yang menaruh hati selama ini pada Alia mulai terpengaruh dengan ucapan Nadin. Ia ingin menembak gadis itu, tapi belum sempat karena Alia selalu menghindarinya.


Melihat Alia keluar, Daffa juga ikut keluar dan mengikuti langkah Alia. Serasa cukup sepi, Daffa menarik pergelangan tangan Alia membuat gadis ini tersentak.


"Apakah benar yang dikatakan Nadin tentangmu, Alia?" Tanya Daffa sambil menatap tajam wajah Alia.


"Bukan urusanmu." Ketus Alia.


"Berapa harga mu? Sebutkan...! Aku juga menginginkan dirimu." Ucap Daffa sinis.


"Ternyata mulutmu juga sama jijiknya dengan Nadin. Kenapa bukan dia saja yang kamu tawari untuk bisa tidur denganmu." Sarkas Alia.


"Aku akan melaporkanmu kepada kepala sekolah kalau kamu adalah simpanan pengusaha kaya." Ancam Daffa tidak main-main.


Alia sedikitpun tidak bergeming karena ia tidak merasa seperti apa yang dituduhkan Nadin padanya. Daffa makin geram dengan sikap Alia yang tidak begitu peduli pada dirinya.

__ADS_1


Usai istirahat, Alia benar-benar dipanggil oleh kepala sekolah. Alia bingung harus menjawab apa karena ini diluar dugaannya.


"Silahkan duduk Alia!" Titah kepala sekolah sambil mengamati laporan prestasi Alia.


Alia mengambil tempat duduk sambil membaca doa agar dimudahkan menjawab pertanyaan kepala sekolah.


"Apakah benar apa yang dikatakan oleh teman-temanmu kalau kamu sekarang sudah berubah Alia?"


"Perkataan yang mana ya pak?" Tanya Alia pura-pura tidak tahu.


"Bahwa kamu adalah simpanan om-om."


"Apakah mereka memiliki bukti untuk menunjukkan kepada bapak?" Tanya Alia dengan sikap menantang.


"Bapak belum punya bukti dan segera akan mengumpulkan bukti."


"Kalau begitu bapak tidak berhak menghakimi hidupku karena tugas bapak disini sebagai pendidik bukan sebagai Intel untuk mencari aib siswa untuk menendangnya keluar." Timpal Alia.


"Bapak tidak ingin sekolah ini jadi hancur bila memiliki siswa yang mempunyai moral bejad sepertimu." Imbuh kepala sekolah dengan wajah kelam.


"Tanpa aku yang rusak moral sekolah ini, dari dulu moral siswa sudah rusak pak, hanya saja bapak tidak bisa mengawasi mereka satu persatu. Kalau dipanggil dan diselidiki mungkin setengah dari populasi siswa di sekolah ini sudah melakukan hubungan se**s bebas." Ungkap Alia sebenarnya.


"Kau...!"


"Bapak salah alamat kalau sudah berpikir buruk kepadaku yang merupakan wanita baik-baik. Aku bisa menuntut balik bapak atas pencemaran nama baik." Alia balik mengancam.


"Baiklah Alia. Jika terbukti kamu melakukan kesalahan seperti apa yang dituduhkan oleh teman-temanmu, maka kamu terancam tidak bisa mengikuti ujian Nasional."


"Kumpulkan bukti sebanyak-banyaknya tentang fakta diriku dan aku dengan senang hati menerima ancaman bapak." Sahut Alia pada kepala sekolah yang tipikal penjilat ini.


"Silahkan kembali ke kelas mu Alia dan tunggulah tanggal mainnya." Ucap kepala sekolah sambil menarik sudut bibirnya sinis.

__ADS_1


__ADS_2