
Hari terakhir para pelajar itu berkunjung di salah satu tempat wisata yang cukup terkenal di pulau Dewata Bali. Keceriaan mereka terlihat jelas saat mereka memisahkan diri secara berkelompok untuk menikmati tempat-tempat yang dianggap bagus untuk berselfi. Tapi mereka akan kembali berkumpul di tempat parkir dana bis sekolah menunggu mereka untuk kembali ke hotel sebelum pukul lima sore.
Alia dan kedua sahabatnya memilih untuk menikmati kuliner di salah satu kedai yang terdapat di daerah pariwisata itu.
"Sebelum kita pulang, kita harus menikmati semua makanan khas Bali tentunya yang halal untuk agama kita." Ucap Alia pada Lidia dan Vania yang sedang memilih menu berbeda dengan Alia.
"Di sini hanya terdiri sembilan menu, apakah kita harus pesan satu orang tiga menu setelah itu kita saling bergantian menyicipinya." Ucap Lidia.
"Ok, setuju." Timpal Vania.
Sambil menunggu menu mereka jadi, Alia melihat seorang wanita tua yang susah payah membawa gerobaknya yang terlihat terlalu berat untuk di tarik. Iapun segera bangkit untuk menolong ibu itu untuk mendorong gerobak.
"Alia..! Kamu mau ke mana?" Tanya Vania saat makanan mereka sudah datang.
"Kalian makan saja dulu. Aku ada urusan." Ucap Alia mengeluarkan uang satu juta untuk diberikan kepada Lidia untuk membayar makanan mereka.
Lidia dan Vania tidak begitu ambil pusing dengan urusan Alia. Keduanya menikmati makanan mereka sementara Alia sudah menghilang dari pandangan mereka.
Merasa gerobaknya berjalan dengan lancar, perempuan paruh baya itu menghentikan langkahnya dan otomatis Alia ikut berhenti.
"Wah..ada non cantik yang membantu ibu to." Ucap wanita tua itu yang merupakan orang Jawa tapi sudah lama tinggal di Bali.
"Iya Bu. Lanjut saja, aku akan membantu ibu mendorong gerobak ini." Ucap Alia.
"Sudah cukup non. Rumah ibu sudah dekat dari sini." Ucap ibu itu melihat Alia sudah bermandikan peluh.
"Tidak apa, tanggung. Aku ingin melihat suasana desa Bali." Ucap Alia membuat ibu itu akhirnya mau ditolong oleh Alia hingga tiba di rumahnya.
Setibanya di rumah ibu itu yang ternyata bangunannya masih setengah permanen. Rumah yang berdinding balok kayu yang terlihat agak lapuk di beberapa sisinya.
__ADS_1
"Silahkan masuk non..!" Pinta ibu itu.
Alia dengan senang hati bertamu ke dalam rumah itu. Ia memperhatikan sekelilingnya tidak ada benda berharga yang ada di dalam rumah itu.
"Apakah ibu tinggal sendirian?"
"Putra putriku sudah berkeluarga jadi ibu tinggal sendirian non." Ucap ibu itu.
Alia melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan hampir pukul lima sore. Ia segera pamit pulang kepada ibu itu dan keduanya bersalaman. Alia juga menyelipkan uang yang cukup banyak di tangan ibu itu.
"Gunakan seperlunya Bu. Jangan terlalu keras bekerja dan jaga kesehatan ibu." Ucapnya.
"Terimakasih non, hati-hati di jalan." Alia melambaikan tangannya dan segera mencari kendaraan agar bisa tiba di lokasi wisata.
Hampir setengah jam, Alia berjalan kaki tidak menemukan ojek atau kendaraan angkutan yang bisa ia tumpangi kecuali kendaraan pribadi yang berseliweran tanpa mempedulikan Alia yang terus menunjukkan jempolnya untuk bisa tumpangi kendaraan mereka. Rupanya Alia mengambil rute jalan yang tidak sesuai dengan arah jalan pintas untuk bisa tiba di lokasi wisata saat bertemu dengan wanita tua tadi.
"Perasaan tadi jalannya terasa dekat dengan lokasi wisata, kenapa sekarang jadi jauh begini?" Gumam Alia mulai kebingungan karena sudah masuk waktu magrib dan tidak ada orang yang bisa ia tanya.
"Apakah ia mengatakan kepadamu kalau ia sudah pulang ke hotel?" Tanya Ibu Hafsah.
"Tadi saya hanya dengar dia bicara sama seseorang di telepon, katanya mau langsung ke hotel." Ucap Alia.
"Jangan-jangan suaminya sudah ada di hotel makanya Alia buru-buru pulang duluan ke hotel." Gumam Bu Hafsah lalu meminta seluruh siswanya untuk memeriksa teman mereka. Ketua kelas mengabsen nama teman-temannya masing-masing.
"Semuanya sudah komplit. Bis satu siap berangkat." Ucap ketua kelas.
Sepuluh bis berjalan beriringan menuju hotel. Yoris yang kewalahan mencari Alia, pasalnya ponsel Alia tidak aktif saat ini. Ia tadi sempat ke toilet dan tidak mengetahui ke mana perginya Alia.
Sementara itu Alia yang sudah berjalan jauh dengan ponsel yang sudah habis baterai nya. Tidak lama kemudian, sebuah mobil pribadi berhenti di sampingnya dan Alia menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Butuh tumpangan nona...?" Tanya seorang pemuda yang ada di jok belakang dan di sampingnya ada seorang wanita yang tersenyum pada Alia.
Alia terlihat sangat senang dan juga lega bertemu dengan orang baik yang akhirnya mau menolongnya. Alia menyebutkan nama resort tempat ia menginap.
Pemuda itu turun dan pindah ke jok depan. Alia masuk duduk dengan wanita itu. Keduanya berkenalan dan saling bercerita basa basi sesaat. Wanita muda itu memberikan Alia air mineral dan Alia mengucapkan terimakasih sambil membuka tutup botol itu.
Ia meneguk minumannya hingga setengah botol." Apakah dari sini sangat jauh ke resort tempat aku menginap?" Tanya Alia yang tidak mengerti area Bali.
"Ini sudah di luar kota. Emang tadi dari mana?" Tanya wanita itu.
Alia menyebutkan tempat wisata yang sekolahnya kunjungi." Ini masih jauh, mungkin sekitar dua jam baru tiba di resort penginapan kamu." Ucap wanita itu.
Seharusnya tidak seperti apa yang dikatakan wanita itu pada Alia. Untuk mencapai resort itu hanya butuh satu jam. Wanita itu menipu Alia karena merasa Alia orang baru. Alia yang terlalu lelah akhirnya tertidur.
Ternyata di minuman itu sudah tercampur obat tidur. Tubuh Alia yang sangat lelah di tambah obat tidur membuatnya langsung terlelap.
Tidak berapa lama, bis sekolah Alia sudah memasuki area resort. Kepala sekolah segera mendatangi manajer hotel untuk menanyakan Alia dan kebetulan Yoris juga ada di situ.
"Apakah Alia sudah ada di kamarnya?" Tanya kepala sekolah begitu kuatir.
"Justru saya juga sedang mencarinya Tuan." Ucap manajer Nyoman.
"Astaga...! Ke mana anak itu?" Tanya kepala sekolah panik.
"Tenang saja tuan. Saya yang bertanggung jawab untuk menjaga nona Alia, hanya saja saya tadi sempat ke toilet dan tidak melihat lagi nona Alia. Biar saya yang akan melacak keberadaannya." Ucap Yoris memenangkan kepala sekolah.
"Baiklah. Segera kabari aku kalau Alia sudah di temukan.
Di tempat yang berbeda Alia mengerjapkan matanya. Ia merasakan tubuhnya terasa sangat panas dan tidak bisa bergerak. Betapa kagetnya Alia saat melihat area di sekelilingnya terbakar. Alia terlihat panik berusaha melepaskan diri dari ikatan pada tubuhnya di kursi kayu. Ia juga tidak bisa berteriak karena mulutnya juga di lakban.
__ADS_1
"Maraaaaa......!" Teriak Alia dalam hatinya melihat api sudah mulai membesar.