GADIS PENOLONG Sang Mafia

GADIS PENOLONG Sang Mafia
29. Rencana Bertemu


__ADS_3

Alia mengikuti prosesi acara wisudanya dengan meraih gelar sarjana kedokteran. Ia juga mengambil spesialisasi mata. Menjadi mahasiswa terbaik adalah sebuah kebanggaan kedua orangtuanya.


Di tengah rasa kebahagiaannya tanpa kehadiran seorang suami yang ikut merasakan perjuangannya meraih prestasi membuat Alia tidak begitu menikmati perjuangannya itu.


"MARA....! Bagiku tidak ada kebahagiaan tanpa kehadiranmu di sisiku yang terasa sangat hambar. Aku seperti robot yang bisa melakukan apapun untuk menyenangkan hati orang lain namun jiwaku sendiri rasanya kosong. Kamu bukan saja menghilang sendirian, tapi kamu juga seakan pergi bersama membawa pikiranku.


Kembalilah sayang. Cepatlah kembali! Apakah saat ini kamu telah menemukan wanita lain hingga melupakan aku?" Desis Alia sambil mewek saat sedang berada di dalam kamar mandi membenahi riasannya yang berantakan karena banyak menangis.


Rasa sesak yang dirasakan MARA saat mendengar ucapan istrinya membuat ia tidak sadar berteriak histeris dan terdengar oleh Alia melalui alat penyadap yang dipakainya.


"Aku tidak pernah melupakanmu Alia!"


Deggggg......


Suara itu terdengar lirih namun cukup membuat Alia menegang di tempatnya berdiri. Pasalnya saat ini ia berada di dalam kamar mandi sendirian.


"MARA....!" Alia mencoba menelaah bahwa itu bukan suara setan yang sedang mengelabuhi pendengarannya.


"Apakah aku terlalu merindukanmu hingga bisa mendengarkan suaramu, sayang?" lirih Alia menyadarkan MARA yang lupa mematikan sambungan ke suaranya pada speaker untuk Alia.


"MARA....! Aku bisa mendengarkan mu, Baby. Bicara lagi, sayang!" Lirih Alia sambil meratap seperti orang gila.


Alia segera keluar dari kamar mandi sambil memohon agar MARA bicara lagi padanya.


Nyonya Yuyun menghampiri putrinya yang sedang bergumam sendirian dengan wajah kalut membuatnya kuatir kalau putrinya sudah berada di tahap depresi.


"Alia....!" Sapa nyonya Yuyun membuat Alia berhenti menatap wajah bundanya dengan rona bahagia.


"Bunda ... bunda...bunda! Aku bisa mendengar suara MARA. Ia sedang bicara kepadaku saat aku mengeluhkan kerinduanku kepadanya." Ucap Alia dengan wajah berbinar.


"Alia, itu hanya halusinasi mu saja sayang. Kita tidak tahu apakah saat ini suamimu masih hidup ataukah sudah mati yang jelas jangan terlalu berharap banyak padanya sayang!" Jawab nyonya Yuyun.


"Tidak bunda ...! Jangan pernah mengatakan tentang kematian! Aku hidup dengan keyakinan ku kalau MARA masih hidup dan tinggal di suatu tempat. Itulah yang membuat Alia kuat bunda. Jangan redup kan kepercayaan cintaku padanya. Karena kekuatan cinta suamiku aku mampu bertahan sejauh ini." Bantah Alia membuat nyonya Yuyun hanya mengelus dada.

__ADS_1


"Baiklah sayang. Ayo kita pulang! Putramu dan adik-adikmu sudah menunggumu. Kamu juga berencana besok mau membawa putramu ke Belgia untuk bertemu kedua mertuamu." Ucap Nyonya Yuyun mengajak Alia masuk ke mobilnya di mana Bili sudah menunggu mereka.


Setibanya di dalam mobil, Alia mengadukan lagi pada Bili kalau ia bisa mendengar suara MARA yang sedang bicara padanya. Bili hanya bisa menarik nafas panjang sambil melonggarkan sedikit dasinya yang seakan mencekik lehernya.


"Bili...! Aku tidak sedang berbohong padamu. Aku memang mendengarkan suara MARA." Ucap Alia penuh semangat.


"Aku percaya padamu, nona. Tapi nona harus fokus untuk keberangkatan kita ke Belgia." Ucap Bili.


"Baiklah. Aku senang kamu mempercayai aku Bili." Ucap Alia terlihat bahagia.


"King....! Hanya mendengar suaramu saja membuat ia begitu bahagia, apa lagi bertemu denganmu nanti. Entah bagaimana rasanya kebahagiaan Alia saat ini." Batin Bili.


Tiba di mansion Alia disambut oleh putranya dengan memberinya sebuah buket bunga. Wajah tampan duplikat MARA ini membuat Alia makin merindukan suaminya.


"Selamat mami...! Mami aku hebat... muaachhh! Aulia mengecup pipi ibunya lebih dalam.


"Terimakasih baby...!" Aulia menciumi harumnya bunga itu lalu menggendong putranya untuk foto berdua saja sebelum dengan yang lainnya.


Ada Vania dan Lidia juga yang ikut merayakan momen bahagia itu. Ketiga sahabat ini walaupun mengambil kuliah dengan jurusan berbeda dengan Alia membuat ketiganya kompak.


"Terimakasih atas doa dan support kalian." Ucap Alia.


Sementara Vania menekuni bidang analisis kimia. Lidia dan Vania juga baru wisuda baru-baru ini di susul Alia.


Siang itu Alia merayakan keberhasilannya bersama keluarga dan teman-temannya. Sementara Bili melaporkan kejadian barusan pada Damara yang saat ini sedang berada di Singapura.


"Bili....! Laksanakan rencana kedua. Aku sangat merindukan istriku. Lakukan secara diam-diam. Kamu mengerti?"


"Baik King..!"


...----------------...


Di dalam pesawat jet pribadi milik Damara, Alia dan putranya menaiki pesawat itu dengan hati riang. Baru kali ini Bili melihat lagi senyum Alia yang terlihat tulus karena mendengar satu kalimat saja dari MARA.

__ADS_1


Hanya saja ia menyayangkan sikap pengecut MARA yang ingin bertemu dengan Alia dengan cara yang sangat curang menurutnya.


Karena perjalanan menuju Belgia di lakukan malam hari, tepat pukul delapan malam membuat putranya Aulia tidur lebih cepat. Bili dan satu kedua pramugari yang sudah bekerja sama dengan Damara untuk membuat Alia mabuk.


"Lakukan sesuai rencana Mita!" Titah Bili saat pesawat itu sudah mendarat di Singapura.


"Baik Tuan."


Pramugari memberikan minuman yang sudah dicampur obat perangsang dan sedikit obat tidur pada minuman Alia saat mereka menuju Singapura untuk menjemput MARA.


Di bandara Singapura, MARA di tuntun oleh Bili menuju tangga pesawat.


"Apakah Istriku sudah berada di kamar? " Tanya Mara saat sudah berada di dalam pesawat.


"Sesuai dengan yang king inginkan. Dan ini putramu Aulia." Bili mendekati MARA pada Aulia yang sedang tertidur pulas.


MARA mendekati putranya lalu memeluk dan mencium putranya bertubi-tubi. Saat ini pengobatan yang berhasil baru kakinya MARA yang sudah bisa berjalan lagi. Hanya matanya yang belum bisa melihat saja.


Puas melepaskan rindunya pada sang putra. Kini MARA beralih masuk ke kamar pribadinya di pesawat jet pribadi itu di bantu oleh seorang pramugari yang sudah menggantikan baju Alia dengan lengerie se*si.


Pintu ditutup kembali oleh MARA dan ia mendengar gumaman Alia yang sudah merasakan reaksi obat perangsang itu sambil memanggil nama MARA.


MARA menanggalkan pakaiannya sendiri untuk melepaskan kerinduannya pada tubuh sang istri setelah lima tahun tidak ia sentuh.


Walaupun Alia tidak sadar sepenuhnya tapi ia bisa melihat kehadiran suaminya dan mulai merasakan tangan suaminya membelit pinggangnya.


"MARA...! Kaukah itu sayang?" Tanya Alia dengan pandangan sayu.


"Ia sayang! Aku di sini. Aku sangat merindukanmu Baby. Kita akan melewati malam ini dengan bercinta.


Kerinduannya pada tubuh sang istri makin membuncah membuatnya langsung memagut bibir Alia sambil merasakan dengan tangan kekarnya.


Tapi anehnya, sedikit demi sedikit saat melakukan penyatuan tubuh mereka, MARA bisa melihat wajah Alia walaupun tidak sepenuhnya jelas.

__ADS_1


Ayah dari Aulia ini makin bersemangat untuk menggauli istrinya dengan hasrat birahinya yang makin menggebu. Alia yang sudah terangsang saat MARA melakukan pemanasan pada tubuhnya ikut melayani suaminya sambil meracau dengan kata-kata fulgar membuat MARA makin memacu tubuhnya pada tempat sempit itu yang terasa seperti istrinya perawan lagi karena sudah lama tidak ditengok sang junior.


__ADS_2