
Hari pertama masuk sekolah, Alia begitu malu untuk membawa motor barunya. Ia memilih menumpangi ojek yang ada di pangkalan untuk bisa tiba di sekolahnya.
Rupanya MARA sudah memerintahkan seseorang untuk mengawasi kekasihnya itu. Anak buahnya MARA yang bernama Yoris melaporkan apa yang ia lihat saat ini pada MARA.
"King....nona tidak mengendarai motornya tapi naik ojek dekat rumahnya." Ucap Yoris.
"Baiklah. Terimakasih Yoris. Tetap awasi istriku!" Ucap MARA yang merasa Alia sudah menjadi miliknya.
"Siap King."
Alia terlihat sangat cantik dengan seragam abu nya yang baru. Mata Nadin mengamati dari perubahan penampilannya Alia mulai dari sepatu baru dengan brand mahal dan tas sekolah yang tergolong mahal hingga seragam serta jam tangan juga menempel ditubuh gadis itu.
Ditambah lagi melihat ponsel yang digunakan Alia adalah limited edition yang saat ini sedang diincarnya tapi justru Alia yang sudah memiliki lebih dulu.
"Wah...! ada sugar baby baru nih di kelas ini." Sindir Nadin pada Alia yang sedang fokus pada ponselnya.
Alia yang mendengar itu memasang mode cuek untuk membalas Nadin yang bermulut besar.
Semakin di sindir semakin dicuekin hingga membuat Nadin mulai senewen. Alia mengamankan ponselnya di dalam kantong roknya sebelum Nadin merebutnya.
Lidia mengajak Alia ke kantin untuk menghindari Nadin yang sudah menggeram ingin mencakar wajah Alia dan Lidia secara bersamaan.
Setibanya di kantin, Lidia yang juga penasaran dengan Alia ikut menyelidiki Alia.
"Alia.....! Apakah sekarang iman mu sudah tidak Istiqomah lagi hingga mendapatkan barang-barang mewah seperti yang kamu miliki sekarang ini?"
"Aku tidak perlu menjual diriku hanya untuk mendapatkan barang mewah seperti ini, Lidia."
"Lantas, dari mana kamu mendapatkannya?"
"Calon suamiku." Ucap Alia cuek.
"What ...? Jadi, masa liburan kemarin, kamu sedang melakukan perburuan calon suami?" Sentak Lidia dengan mulut terbuka.
Lidia setengah tak percaya karena dirinya sendiri sulit mendapatkan kekasih yang tajir kecuali menjadi sugar baby.
"Apakah dia sangat kaya? Apakah dia tampan? Apakah dia seorang putra konglomerat, Alia?"
"Bukan. Dia pemilik perusahaan ternama di Jakarta." Ucap Alia apa adanya membuat Lidia tersentak.
Deggggg ...
__ADS_1
"Astaga, Alia...! Ternyata kamu diam-diam menghanyutkan." Ucap Lidia sedikit iri pada sahabatnya ini.
"Permisi nona Alia..! Ini nasi gorengnya dan jus jeruk untuk anda." Ucap mamang tukang nasi goreng dengan senyum ramahnya.
"Saya tidak memesan nasi goreng mang." Ucap Alia heran.
"Saya diperintahkan sama pemilik hati non Alia untuk melayani kebutuhan perut non saat jam istirahat seperti ini." Ucap tukang nasi goreng."
Alia tersenyum manis menatap nasi goreng itu dan senyum itu langsung direkam oleh Yoris yang duduk sedikit jauh dari Alia dan Lidia. Yoris langsung mengirimnya pada King nya.
"Ehmmm....! Enak banget jadi seorang Putri di layani langsung sama pangerannya. Kenalin dong, Alia! Aku jadi penasaran sama pangeran kamu." Pinta Lidia.
"Tidak mau!" Ketus Alia.
"Kenapa?"
"Kamu akan menggodanya."
"Akukan sahabat kamu Alia, tidak mungkinlah aku mengambil milik teman."
"Tidak sedikit sahabat di dunia ini yang menikung sahabatnya sendiri karena setiap wanita dilandasi sifat iri. Aku hanya menjaga milikku sebaik mungkin dari orang sepertimu Lidia."
Ucap Alia frontal dan itu tidak membuat Lidia tersinggung karena dia juga menjalin hubungan dengan seseorang yang sudah beristri.
...----------------...
Ketika pulang sekolah, MARA sudah berdiri bersandar di mobilnya dengan gaya perlentenya membuat siswi SMA itu berdecak kagum melihat ketampanan MARA yang setara dengan artis Hollywood karena MARA sendiri blasteran indo Belgia.
Alia yang tidak tahu kalau saat ini MARA sedang menjemputnya berjalan santai sambil mengobrol dengan sahabatnya Lidia dan Vania.
Nadin, Weni dan Lea yang berada di belakang mereka, terus saja menggonggong menghina ketiga gadis ini dengan gaya mereka seperti putri konglomerat dan ketiganya seperti kafilah yang terus berlalu walaupun berkali-kali di gonggong.
Tidak lama kemudian MARA sudah memanggil Alia membuat manik indah Alia mendelik menatap tak percaya MARA sedang menjemputnya dan memanggil namanya dengan lantang hingga semua orang melihat MARA yang tersenyum pada sang kekasih.
Alia pun segera pamit pada Lidia dan Vania." Sorry say ..! Aku duluan ya."
"Apakah itu pangeran kamu, Alia?" Tanya Lidia dan Vania yang terus menatap ketampanan MARA.
"Hmm!"
Bukan hanya Lidia dan Vania yang terkesima melihat MARA, tapi ketiga wanita yang terus menggonggong itu, menghentikan gonggongannya kala melihat MARA sudah menggenggam tangan lembut Alia sambil merapikan anak rambut Alia yang menutupi sebagian wajah cantik Alia.
__ADS_1
"Sial....! Jadi pria itu sumber kekayaan Alia sekarang?" Lirih Nadin yang merasa sangat kalah saat ini pasalnya dia sangat mengenal MARA karena ia selama ini selalu mengikuti perjalanan karir MARA di majalah bisnis.
Sekarang tiba-tiba saja pria pujaannya itu menjadi milik Alia.
"Sial...! Itukan cowok gue." Lirih Nadin penuh percaya diri.
"Emang si tampan itu kenal kamu, Nadin?" Tanya Lea.
"Dia tidak mengenalku sama sekali tapi aku sangat mengenalnya." Ujar Nadin.
"Terus, kenapa kamu ngaku-ngaku si tampan itu milik kamu?" Canda Weni sambil cekikikan membuat wajah Nadin memerah menahan malu.
MARA dan Alia sudah menghilang dengan benda mewah yang dikendarai sendiri oleh MARA.
"Kenapa tiba-tiba menjemput ku?"
"Karena kamu tidak mau membawa motormu, Alia. Makanya aku menjemputmu karena aku tidak rela kamu diantar oleh tukang ojek." Balas MARA.
"Aku tidak punya SIM. Selama ini aku bawa motor selepas subuh untuk bisa titip motorku di rumah bibi Ida. Sekarang bibi Ida ke luar negeri untuk melihat anak-anaknya yang saat ini sedang sakit." Ucap Alia.
MARA mengajak Alia ke polres untuk membuat SIM. Apapun keluhan Alia, MARA langsung sigap mengurusnya untuk Alia. Sepertinya MARA sudah menjadi Dora Emon untuk memenuhi kebutuhan kekasihnya itu.
Usai membuat SIM untuk Alia, MARA juga memberikan black card untuk Alia.
"Apa ini MARA?"
"Apapun yang kamu butuhkan, gunakan kartu itu untuk kamu dan keluargamu, sayang."
"Tapi, kita ini belum menikah."
"Sebentar lagi kita akan menikah, setelah kamu dapat ijasah kamu juga mendapatkan buku nikah, sayang. Aku ingin namamu tertera dalam buku nikah dan hatiku." Ucap MARA terlihat serius.
Deggggg....
"Apakah kamu sungguh-sungguh mencintaiku, MARA?"
"Menurutmu...? Apakah perhatianku selama dua Minggu ini tidak menunjukkan perasaanku?" Tanya MARA.
"Wanita itu butuh suatu pengakuan bukan sekedar barang mewah sebagai perwujudan atas bentuk cinta." Ucap Alia.
MARA menepikan mobilnya dan menarik lengan Alia untuk menatapnya.
__ADS_1
"Alia ..! Apakah kamu pernah menatap mata ini, sayang? Apakah kamu ingat dengan tatapan mata ini di suatu tempat sebelum kita saling menatap saat aku melakukan konferensi pers di perusahaan ku beberapa bulan yang lalu?" Tanya MARA sambil menatap wajah cantik kekasihnya.