
Memasuki usia delapan bulan, kehamilan Alia yang membawa perut besar itu membuat Alia cukup kesulitan beraktifitas. Belum lagi baby Aulia makin kolokan mencari perhatian ibunya agar mengantarnya ke sekolah bersama Daddy-nya.
Alia juga mengerti perasaan cemburu Aulia yang sama persis seperti suaminya yang tidak ingin cinta mereka terbagi." Sepertinya, putramu menuruni sifatmu." Ucap Alia.
"Sifat yang mana?"
"Posesif dan keras kepala."
"Oh itu..! Itu adalah sifat wajib yang sudah mendarah daging dalam diri keluarga Aji Prasetyo. Jika kami ingin mempertahankan milik kami yang terlalu berharga, kami harus berjuang sampai titik darah penghabisan." Ujar MARA dengan santainya.
"Justru itu membuat aku makin pusing dengan sifat manja kalian itu. Putramu menjadi cengeng dan tidak boleh beralih sedikit saja perhatianku dan dia akan menangis."
"Itu karena sebentar lagi akan hadir tiga saingannya sekaligus yang akan mengusai dirimu dan bukan hanya baby Aulia yang merasa terancam kenyamanan kami selama ini dengan kasih sayang dan perhatianmu tapi aku juga akan kena imbasnya." Imbuh MARA.
"Kau....? Merasa terancam? Bukankah kamu sendiri yang selama ini sangat berambisi untuk menghadirkan mereka siang dan malam? Sekarang kenapa mengeluh?" Sergah Alia.
"Ku pikir yang datang satu, tapi malah rombongan." Protes MARA.
"Bukankah kamu tahu sendiri kalau aku berasal dari keluarga kembar? Sekarang inilah hasil kerja kerasmu yang tidak kenal waktu. Hasil enak-enak mu..kan? Terimalah nasibmu tuan karena kamu yang mengundang mereka sendiri." Ledek Alia.
"Baiklah. Waktuku sudah sebulan lagi bisa menikmati kebersamaan kita. Aku menginginkan ini sebelum mereka bertiga mengambil alih." Ucap MARA sambil membuka kancing dress sang istri mencari sumber makanan untuk ketiga bayinya kelak.
"Kamu ini selalu saja tidak mau rugi." Sela Alia.
"Aku ini seorang pebisnis, jadi, selalu mencari peluang mencari keuntungan di sela-sela waktu yang tersisa." Imbuh MARA yang sudah membenamkan mulutnya di belahan dada sang istri dengan satu tangan bermain nakal meremas squishy padat dan menggemaskan itu.
Alia, hanya mengulum senyum melihat tingkah pangerannya itu sambil membelai rambut suaminya dengan penuh kelembutan.
Sesekali Alia harus mende$ah merasakan jemari suaminya sudah berpindah di lembah sempitnya. Hisapan itu, kini berpindah ke bagian bawah membuat Alia seakan terbang menembus awan karena rasa hangat lidah kasar itu bermain nakal, mengoyak pertahanannya yang terus di aduk kenikmatan yang membuat pandangannya begitu sayu.
__ADS_1
Puas memberikan permainan ringan itu, kini MARA mendorong perlahan benda pusaka yang terlihat gagah memasuki dirinya untuk memberikan kenikmatan sejati membuat Alia harus memekik sambil mengigit dada bidang suaminya.
"MARA...Sayang...Kau!"
"Baby...! Aku merindukanmu. Setiap saat merindukan ini. Milikmu tidak ada duanya." Lenguh MARA mulai memacu perlahan membuat Alia mengimbangi permainan suaminya.
Keduanya bertempur sengit, mencari keringat saat putra mereka Aulia sedang menikmati pelajarannya di sekolah. Permainan itu akhirnya berakhir saat MARA puas mencari kenikmatan pada istrinya yang tidak lelah melayani dirinya dengan perut yang sangat besar dan itulah yang membuat Alia makin terlihat seksi di hadapan istrinya.
"Kamu akan melahirkan ketiganya dengan mudah sayang karena aku sudah membantu membuka jalan untuk mereka." Kicau MARA sambil membelai rambut istrinya.
...---------------...
Saat kelahiran tiba, MARA dan juga keluarga Alia sedang menantikan proses persalinan secara normal yang dilakukan Alia di dalam sana.
MARA menemani sang istri yang sedang berjuang melahirkan ketiga bayi mereka dengan sedikit mengalami kendala karena putra keduanya agak sulit keluar.
"Apa yang ditunggu putra keduamu ini, MARA." Gerutu Alia yang sudah berusaha mengejan berkali-kali agak terasa sulit hingga MARA mengelus istrinya dan meminta putranya untuk keluar.
"Sayang...! Kamu adalah jagoan ayah yang paling hebat. Apapun keinginanmu selama itu tidak bertentangan dengan agama, Daddy akan penuhi.
Sekarang keluarlah! Kasihan istriku sangat kesakitan saat ini atau Daddy akan menghukum mu!" Ancam MARA membuat dokter dan suster harus menahan tawa mereka dengan ulah MARA yang mengomeli putranya.
Akhirnya sang putra lahir juga dengan tangis yang sangat kencang seakan sedang membalas omelan ayahnya. Tidak lama berselang putri bungsu mereka lahir dengan begitu mudahnya dan wajah cantik ini sangat mirip dengan Alia membuat MARA jatuh cinta dengan putri bungsunya.
Wajah Putri pertama mereka perpaduan antara wajah Alia dan MARA begitu pula putra keduanya. Sementara putri ketiganya sangat mirip dengan Alia.
Kelahiran kembar tiga ini tidak memiliki kemiripan wajah yang identik karena memiliki kantung yang berbeda-beda. Dan mungkin mereka juga memiliki talenta yang berbeda pula.
Ketiganya di azan oleh Daddy MARA yang menyambut ketiganya dengan penuh haru. Karena buatnya di Amerika ada wajah sedikit bule diantara ketiganya dan itu tidak aneh karena MARA juga keturunan bule dari ibunya yang berwarga negara Belgia.
__ADS_1
Karena kelahiran kembar tiga, dua hari sebelum memasuki bulan Ramadhan, kedatangan kedua orangtuanya MARA dari Belgia yang ingin menjalani ibadah puasa di Jakarta membuat kebahagiaan keluarga itu makin lengkap.
Seakan ingin menebus kesalahannya, MARA langsung melaksanakan aqiqah ketiga bayinya itu karena keluarganya sudah hadir semua. Ketiga bayinya di beri nama, Mariam, Khadijah dan Yusuf.
Alia yang terlihat sangat cantik dengan jilbab merah saat acara aqiqah berlangsung membuat MARA tidak mau jauh dari istrinya.
"MARA..! Istrimu baru habis melahirkan. Kamu harus menunggu selama empat puluh hari. Bisakah kamu bersabar sedikit, untuk menunggunya melewati masa nifasnya?" Semprot nyonya Aisyah pada putranya ini.
"Istriku semakin cantik mami dan aku harus menjalani puasa dobel dan itu sangat membuat aku tersiksa. Apalagi menjalani bulan ramadhan itu waktunya sangat lama dari hari ke harinya." Gerutu MARA.
Nyonya Aisyah hanya menggelengkan kepalanya dengan ulah nakal sang putra." Cih...! Kau dan ayahmu sama saja kelakuan kalian yang tidak bisa menahan diri kalau sudah menyangkut urusan bercumbu." Batin nyonya Aisyah.
Usai acara aqiqah, MARA tidak sabar ingin memagut bibir istrinya. Ia harus memastikan dulu ketiga bayinya tidur, baru bisa mendekati istrinya.
"Sayang..! Aku baru habis melahirkan." Protes Alia saat tubuhnya sudah berada di pelukan sang suami.
"Aku hanya ingin memagut bibirmu saja, tidak lebih sayang. Hanya memeluk kamu saja. Tubuhmu makin semok, sayang. Dan aku tidak tahan melihatnya." Ucap MARA begitu frontal.
Keduanya saling berciuman mesra hingga Alia kewalahan mengimbangi ciuman panas suaminya. Di saat sedang memuaskan dahaga kerinduannya dengan sang istri, ketiga bayinya kompak membuat orkestra dengan menangis serentak.
MARA hanya bisa meremas rambutnya menahan kesal. Alia merasa ketiga bayinya sedang menyelamatkan dirinya dari hasrat sang suami yang tak berkesudahan.
......
TAMAT
Terimakasih pada para pembaca setia ku yang selalu mengikuti tiap episodenya. Terimakasih atas dukungan, doa saat author sakit, like dan hadiahnya. Semoga selalu sehat dan sukses di manapun kalian berada.
Tolong ikuti cerita lain milik author ya ..bye
__ADS_1