GADIS PENOLONG Sang Mafia

GADIS PENOLONG Sang Mafia
34. Kaulah Duniaku


__ADS_3

Alia meminta Houston untuk menunjukkan apartemen suaminya selama tinggal di Amerika. Houston hanya meminta sopir pribadi MARA untuk mengantar Alia.


Alia ingin memasak sendiri makanan kesukaan suaminya. Ia pun datang membawa tiga menu makanan kesukaan MARA. Ia sendiri juga yang menyuapkan makanan itu untuk suaminya. Ketika makanan itu masuk ke mulutnya, MARA berhenti mengunyahnya karena ada yang berbeda dengan rasa makanan itu.


"Houston...!"


"Iya Tuan!"


"Apakah ini makanan dari rumah sakit?"


"I..ya tuan! Emang ada apa Tuan?" Tanya Houston gugup.


"Tidak apa. Rasanya seperti masakan Istriku." Gumam MARA lirih.


"Mungkin Tuan terlalu kangen sama nona Alia, makanya masakan yang di makan rasanya seperti masakan istrinya, Tuan." Ucap Houston membuat Alia menahan tawanya.


"Tidak...! Di manapun aku makan, aku selalu bisa membedakan masakan istriku dengan masakan orang lain walaupun jenis masakannya sama." Tutur MARA membuat Alia dan Houston menahan tawa.


"Emang enak sayang, aku kerjain. Makanya jadi suami itu jangan tipu-tipu." Batin Alia sambil mengulum senyum.


MARA Tetap menerima suapan dari istrinya. Houston merasakan Alia dan MARA adalah pasangan yang teraneh yang pernah ia kenal. Saling mencintai, tapi satu sama lain tak ingin melihat pasangannya sedih. Akhirnya keduanya hanya menyiksa diri sendiri karena rindu.


Usai makan, MARA meminta Houston agar pihak rumah sakit menyiapkan makanan yang sama seperti yang baru ia makan. Alia hanya mengangkat jempolnya pada Houston.


Saat membersihkan tubuh MARA, lagi-lagi Alia menatap tubuh kekar itu dengan menghitung susunan otot yang kelihatan tetap energik. Rasanya ia ingin mengecupnya.


"Cepatlah sembuh sayang ...! Setelah ini aku akan menghukum mu." Batin Alia lalu memakaikan lagi baju khusus pasien pada MARA.


Memasuki hari ke tiga, menjelang hari di mana MARA, akan kembali melihat dunianya lagi setelah hampir enam tahun ia hidup dalam kegelapan.


Alia sang istri berdandan secantik mungkin karena ia sendiri yang akan membuka perban pada mata suaminya di temani tim dokter lainnya.


Dokter Albert, dokter Alia, dokter Brooklyn dan juga dokter Glassman mengadakan briefing sesaat sebelum masuk ke kamarnya MARA.


Sementara MARA terlihat gelisah karena ia tidak sabar lagi menunggu perban pada matanya dibuka.


"Houston....! Apakah dokter masih lama datang ke mari?" Tanya MARA sambil mengepalkan tangannya.

__ADS_1


"Sabar Tuan! Dokter punya aturan tersendiri untuk melakukan yang terbaik untuk Tuan." Ujar Houston.


"Kau bicara begitu karena kamu tidak pernah mengalami seperti yang aku alami. Sekarang sudah jam berapa?"


"Sembilan pagi Tuan!"


"Aku sudah tidak tahu mana malam dan mana pagi. Apakah hari ini aku masih bisa melihat lagi sinar mentari pagi ataukah sama gelapnya seperti hari-hari sebelumnya?" MARA terlihat kembali frustasi.


"Tenang Tuan, bukan hanya mentari pagi yang akan anda lihat tapi sosok bidadari yang turun dari surga pun , bisa anda melihatnya juga." Ucap Houston." Termasuk bidadari hatimu yang telah menolong mu." Batin Houston.


"Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan istriku, Houston. Apa kabar dia hari ini? Secantik apa dia saat ini. Aku tidak lagi mengikuti perjalanan usia dewasanya dari gadis belia yang belum genap usia tujuh belas tahun yang aku nikahi dan aku....-"


MARA tidak mampu melanjutkan kata-katanya karena terlalu merindukan istrinya itu. Bahkan hanya ada nama istrinya di hatinya, daripada putranya sendiri.


"Sabar Tuan...! Sebentar lagi dia akan ada di hadapanmu dan harapanmu akan segera terkabul." Lirih Houston.


Sementara di ruang dokter, Alia meminta tim dokter untuk tidak memperkenalkan namannya sebagai dokter yang telah melakukan operasi pada matanya MARA.


"Setidaknya, anda harus mendapatkan apreasiasi dari pasien atas keberhasilan anda yang telah melakukan operasi pada matanya, tuan MARA." Protes dokter Albert.


"Jika dokter dokter Marsya tidak ingin pamer pada tuan MARA, saya bersedia menggantikan tempatnya, anda tidak keberatan kan, dokter Marsya?"


"Kerja keras seseorang di tambah lagi prestasi seseorang tidak bisa diakui oleh siapapun, dokter Brooklyn. Karena kehebatan itu bukan datang dari pengakuan tapi lebih kepada pembuktian diri dengan tingkat kejeniusan yang menjadi tolak ukur untuk menempatkan dirimu sebagai orang yang berarti untuk orang lain, jadi hati-hati dengan ucapanmu itu dokter Brooklyn." Desis dokter Glassman membuat dokter Brooklyn memerah wajahnya.


Para suster yang mendengar hanya melipat bibir mereka menertawai sikap konyolnya dokter Brooklyn yang tergila-gila pada tuan Damara.


"Ayo, sekarang kita siap membuka perban mata tuan Damara. Dokter Marsya, kami menyerahkan tanggung jawab ini padamu dan ingin melihat seberapa kehebatan mu telah menyelamatkan matanya pasien." Ujar dokter Albert.


"Baik dokter!" Ujar Alia santun dan penuh rasa syukur.


"Kenapa harus dokter Marsya lagi sih? Dia di sini kan hanya seorang dokter tamu. Kenapa bukan aku saja yang diberikan kesempatan untuk bisa membuka perban mata tuan Damara. Lagian Aku adalah dokter tetap di rumah sakit ini." Semprot dokter Brooklyn.


"Kamu memang dokter tetap di rumah sakit ini, tapi kamu tidak sehebat dokter MARSYALIA, bukan?" Ucap suster Petricia gregetan juga pada dokter Brooklyn yang terlalu berlebihan menurutnya.


"Jika itu bukan suamiku, aku juga dengan senang hati menyerahkan tanggung jawab ini padamu, dokter Brooklyn." Batin Alia.


Tim dokter segera menuju ke kamar inap MARA.

__ADS_1


Cek .. lek ...!


MARA tersentak begitu pintu kamar itu terbuka. Sapaan selamat pagi pada MARA dan Houston dari tim dokter membuat keduanya tersenyum.


"Apa kabar tuan MARA!" Tanya dokter Albert.


"Baik dokter. Apakah hari ini perban mata saya akan di buka?"


"Benar tuan Damara. Sekarang bersiaplah. Saat kami meminta anda untuk membuka matamu, baru anda buka secara perlahan-lahan." Ucap dokter Albert.


"Baik dokter."


"Tuan Damara! Jika orang yang anda ingin lihat pertama kali saat anda membuka mata anda, siapa yang ingin anda lihat?" Tanya dokter Glassman.


"Istriku."


"Jika istrimu tidak ada di sini, siapa yang ingin anda lihat?"


"Foto istriku."


"Tapi anda di larang untuk melihat ponsel sementara waktu." Ucap dokter Albert.


Dokter Brooklyn hanya menarik nafas gusar. Alia mulai membuka perban mata suaminya diawali dengan ucapan basmallah. Ia sekuat mungkin menahan letupan emosionalnya saat ini karena akan bertatapan langsung dengan mata elang suaminya yang sudah lama ia rindukan.


Bukan hanya Alia yang menegang saat ini, bahkan tim dokter dan juga Houston seakan sulit bernafas saat tiap lembar demi lembar perban mata MARA di buka oleh Alia dengan terus berzikir hingga akhirnya selesai juga.


MARA seketika diam sesaat karena harus menunggu perintah selanjutnya dari dokter Albert.


"Sekarang bukalah secara perlahan-lahan matamu sambil merasakan sinar yang masuk lagi dalam matamu, tuan Damara!" Titah dokter Albert.


Degup jantung Alia makin berdebar saat ini. MARA mulai membuka perlahan matanya dan ia bisa melihat cahaya masuk ke matanya dari mulai kabur hingga terang benderang dan Alia mulai menyunggingkan senyum terbaiknya untuk sang suami sambil menahan harunya.


MARA tersentak saat melihat wajah cantik sang istri ada di hadapannya. Hampir saja ia mengucek matanya namun langsung di tahan oleh Alia.


"Baby...! kau....!"


"Assalamualaikum suamiku!"

__ADS_1



Mohon doanya saat ini author sedang di rawat inap para readers setiaku. Mohon maaf lahir batin.


__ADS_2