GADIS PENOLONG Sang Mafia

GADIS PENOLONG Sang Mafia
18. Di Saat Yang Tepat


__ADS_3

MARA yang baru turun dari pesawat


dikagetkan dengan informasi dari Yoris tentang Alia. Yoris tidak mengetahui jika king nya sudah berada di bandara Denpasar dengan pesawat jet pribadi miliknya.


Hawa amarah menguar kuat kala mendengar istrinya tidak ditemukan di manapun. Rasa panik dan juga bersalah membuat persendian tubuhnya seakan terlepas dari anggota badannya.


Ia tidak rela sedikitpun jika Cinderella nya mengalami suatu hal yang buruk yang akan membuat jiwanya ikut terkubur. " Apa saja kerjamu sehingga Alia bisa lepas dari pengawasan mu, hah?"


Bentak MARA sambil berjalan menuju helikopter miliknya yang sudah disiapkan asistennya Bili.


"Maaf King saya dan anggota sudah mencari ke area mana saja dengan mendeteksi keberadaan nona melalui GPS ponselnya tetap saja tidak ditemukan." Ujar Yoris ketakutan akan mendapatkan murka dari MARA.


MARA yang tidak bisa lagi menerima apapun alasan pengawal pribadi istrinya, mengakhiri pembicaraan itu secara sepihak.


Ia memakai caranya sendiri untuk melacak keberadaan istrinya yang sudah ia rancang alat pelacak di setiap perhiasan Alia.


Beruntunglah Alia mengenakan liontin miliknya hingga MARA bisa menemukan sinar dari alat pelacak yang di gunakan Alia. MARA melihat GPS menunjukkan letak lokasi Alia yang jauh dari pusat kota atau dari daerah pemukiman penduduk.


"Bukankah alat pelacak ini lebih mengarah ke hutan?" Tanya MARA sambil fokus pada ponselnya di mana keberadaan istrinya sudah terlacak olehnya.


Dalam sekejap, helikopter itu sudah melesat ke arah Alia yang ini sedang di sekap di sebuah rumah kosong di pinggir kota menjorok arah hutan.


Dari atas keliatan kobaran api yang seakan ada kebakaran hutan." Apakah Istriku di buang di pinggir desa...? Lirih marah tercekat lalu meminta untuk di turunkan dengan menggunakan tangga tali.


"King ... hati-hati!" Ucap pilot mengarahkan MARA tepat di samping kobaran api.


Di dalam sana, Alia sedang berjuang untuk menjauhi api agar tidak mengenai tubuhnya. Gadis ini terus saja berdoa agar seseorang datang menolongnya.

__ADS_1


Nama MARA yang terus saja ia sebut walaupun pikirannya terus mengatakan kalau suaminya masih berada di luar negeri. Namun entah mengapa hatinya seakan menguatkan dirinya bahwa suaminya lebih dekat dengannya saat ini.


Tangis Alia tidak dapat tertahankan walaupun suaranya tenggelam dalam bekapan lakban. Si jago merah makin mengamuk membabat semua bahan material berbahan kayu yang mudah terbakar.


Alia menjauhi atap yang sudah memerah dengan hawa panas yang terasa memanggang tubuhnya karena atap itu sedikit lagi akan menimpanya.


"Ya Allah...! Jika ini adalah ajal ku yang akan berakhir disini, berilah kemudahan untukku agar aku bisa menghembuskan nafasku tanpa ada rasa sakit." Alia membaca surat Al-Fajri di mana surah itu satu-satunya yang akan membantu hamba Allah menghadapi kematian dalam keadaan tenang.


Di saat kepasrahannya ia serahkan kepada pemilik hidupnya, pertahanan Alia akhirnya mulai tumbang. Di saat yang sama MARA berhasil menendang pintu yang sudah terbakar itu sambil membekap mulutnya dengan handuk kecil sambil mencari jantung hatinya di dalam sana.


"Alia...!" Pekik MARA saat melihat istrinya itu sudah terkapar di lantai dengan tubuh masih terikat di kursi.


"Alhamdulillah, sayang ..! Akhirnya aku menemukanmu. Aku sudah mendapatkanmu." Ucap MARA penuh syukur.


MARA tidak bisa membuka tali pengikat ditubuh Alia di dalam rumah itu karena api sudah mengepung mereka.


Setelah ikatan tali sudah di lepas, MARA menarik lakban dalam sekali sentak membuat kelopak mata indah Alia terbelalak karena merasakan mulutnya sangat sakit.


Sakit itu menghilang kala ia melihat sosok yang ia nantikan telah ada dihadapannya membuat ia seketika berujar lirih dengan tubuh yang terlihat sangat lemah.


"Apakah ini kamu sayang, suamiku?" Tanya Alia dalam dekapan suaminya yang sedang membawa tubuhnya ke dalam helikopter.


"Maafkan aku.... maafkan aku... maafkan aku sayang." Ucap MARA berulang kali sambil berurai air mata.


Helikopter itu langsung membawa Alia ke rumah sakit karena paru-paru Alia sudah penuh dengan asap membuat tubuhnya makin lemas.


Alia masih kuat mengusap air mata dipipi suaminya tanpa ingin bicara apa-apa lagi. Kerinduannya yang harus dibayar mahal dengan pengorbanan yang saat ini ia pertaruhkan antara hidup dan mati.

__ADS_1


Tim dokter dan dua orang suster sudah siap menyambut Alia dengan peralatan medis untuk menolong istrinya MARA ini. MARA tetap mendampingi istrinya di dalam ruang IGD.


MARA meminta agar tidak boleh ada dokter atau perawat laki-laki yang ikut menangani tubuh istrinya. Apa lagi saat ini mereka harus menanggalkan semua pakaian Alia yang sudah bau asap.


Alia di berikan obat penenang dan dokter mulai melakukan tugasnya untuk memeriksa setiap detail organ vital dalam tubuh Alia maupun di sekujur tubuh gadis itu dengan alat tertentu.


Terlihat jelas beberapa memar di tubuh Alia karena penyiksaan seperti sabetan ujung gesper. Suster mencatat semua luka lebam dan apa saja yang dikatakan dokter padanya dan MARA yang mendengar dan melihat itu kembali murka.


"Siapa bajingan yang telah menyiksa Istriku seperti ini? Dia harus di tangkap hidup-hidup dan aku ingin menyiksanya sendiri sama seperti ia menyiksa istriku." Gumam MARA lirih sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


Sekitar dua jam dokter memeriksa keadaan Alia yang sangat memprihatinkan. Tubuhnya mengalami dehidrasi akut di tambah lagi banyaknya asap yang sudah menghuni rongga paru-parunya.


Cairan infus dengan suntikan obat-obatan tertentu yang bisa menolong keadaan Alia. Dokter siap memberikan laporan hasil visum pada tubuh Alia pada MARA.


"Nona Alia akan baik-baik saja karena kami sudah memberikan obat-obatan yang dibutuhkan oleh tubuhnya. Ia hanya butuh istirahat dan pemulihan trauma. Dukungan tuan sangat penting saat ini." Ucap dokter Ni Made Ayu Komang.


"Terimakasih dokter. Saya harap tidak ada satu orang media manapun yang mengetahui kejadian yang menimpa istri saya sebelum saya temukan pelakunya." Ucap MARA tegas.


"Baik Tuan." Ujar dokter singkat.


"Rahasiakan juga keberadaan istri saya di rumah sakit ini karena saat ini saya tidak bisa membedakan mana lawan dan mana kawan." Lanjut MARA.


"Siap Tuan. Identitas nona akan kami palsukan."


"Saya titip istri saya dalam pengawasan kalian. Saya ingin pergi sebentar karena ada urusan penting." Ucap MARA.


MARA kembali ke helikopter menuju resort miliknya di mana para pelajar itu menginap. Jika kalian merasa ini perbuatan Nadin atau Daffa, kalian salah besar karena ada musuh terselubung dalam orang-orang MARA sendiri yang ingin membalas dendam pada MARA melalui orang yang paling di cintai pria tampan itu yaitu ALIA.

__ADS_1


__ADS_2