GADIS PENOLONG Sang Mafia

GADIS PENOLONG Sang Mafia
26. Tak Kunjung Datang


__ADS_3

Di hari penting putranya yang saat ini sedang mengadakan aqiqah, Alia gelisah menunggu kedatangan suaminya yang tak kunjung datang padahal acara sudah di tutup dengan doa oleh Ustadz Khalid Al-qurtubi.


Alia tidak berhenti mengirim pesan pada suaminya dan juga pada asisten Bili menanyakan keberadaan mereka. Yang ada dalam pikiran Alia kalau pesawat milik suaminya masih belum tiba di bandara setempat.


Berulang kali ia menarik nafas panjang seakan membebaskan kegelisahannya yang menyimpan rasa kecewa.


"Apakah putramu tidak begitu penting MARA?"


Lirih Alia yang saat ini sudah berada di kamarnya karena acaranya sudah bubar dan ruang tamu dan juga tenda telah dirapikan kembali oleh sejumlah pelayan dan pemilik tenda.


Nyonya Yuyun masuk dengan seorang pelayan yang membawanya makanan karena sedari tadi Alia belum menyentuh makanannya sama sekali.


"Alia...! Makan dulu sayang! Kasian baby Aulia dari tadi mengamuk terus karena ASI mu tidak ada isinya." Pinta nyonya Yuyun sembari meletakkan nampan berisi makanan berupa sate kambing dan sup kambing.


Alia segera bangkit dan menyantap makanannya. Sesekali ia melirik ponselnya yang sedari tadi belum juga berbunyi. Kecemasan mulai melanda jiwanya.


Rasa kesal dan amarah mulai berkecamuk di dalam pikirannya. Akankah sang suami sudah tiba atau belum di bandara. Alia segera menghabiskan makanannya.


Ia lalu menghubungi lagi ponsel suaminya namun jawabannya tetap sama yaitu berada di luar jangkauan.


Hingga malam tiba, akhirnya Alia merasa tidak punya harapan lagi untuk menunggu sang suami.


Sementara di Amerika, MARA meminta untuk menjalankan rencana mereka dengan cara merekayasa kematiannya.


"Lakukan sekarang Bili!" Titah Damara pada asistennya Bili yang sedari tadi begitu gugup untuk menghubungi Alia.


"Baiklah King."


Bili menghubungi Alia dengan suara yang terbata-bata." Hallo nona Alia..!"

__ADS_1


"Hallo Bili! Di mana suamiku? kenapa aku telepon tidak bisa terhubung?" Tanya Alia antara senang bercampur kesal.


"Nona Alia...! Aku harap kamu dengarkan baik-baik apa yang akan aku katakan ini." Ucap Bili sengaja menjeda kata-katanya.


"Emang ada apa Bili? Kedengarannya kamu merasa sangat tertekan. Apa yang terjadi dengan suamiku?" Tanya Alia dengan intonasi suara mulai melemah.


"Nona Alia, tuan Damara di culik oleh orang tak dikenal ketika sedang menuju bandara untuk kembali ke tanah air. Dan penjahat menembak tubuhnya dan dibuang ke sungai dan saat ini kami sedang melakukan pencarian.


Saya akan mengirimkan video rekaman pembunuhan itu pada anda nona." Ucap Bili hati-hati.


"Tidak mungkin...! Kamu sedang membohongi akan bukan? Kamu sendiri bisa selamat dan bisa bicara denganku. Jika mereka mau kamu pasti juga diculik." Protes Alia.


"Saya tadi sempat ambil berkas yang ketinggalan di hotel dan king berangkat duluan ke bandara. Setibanya di bandara mobil milik king tidak datang juga ke bandara dan ponselnya tidak bisa dihubungi.


Dan terakhir mereka mengirim video pembunuhan itu dan jasad king dibuang ke sungai tapi kami tidak tahu di mana sungai itu nona Alia."


Ponsel milik Alia terlepas dari tangannya dan Alia yang melihat video itu tidak bisa lagi menyangga tubuhnya dan langsung pingsan di tempat usai melihat video mengerikan itu.


Dewi yang baru masuk ke kamar kakaknya langsung histeris memanggil kakaknya.


"Kak Aliaaaa...!" Pekik Dewi mengundang keluarganya yang lain ikut masuk ke dalam kamarnya Alia.


"Astaghfirullah Alia!" Pekik nyonya Yuyun menghampiri putrinya.


Pak Hadi segera mengangkat tubuh putrinya di pindahkan ke kasur Alia. Sementara Dewa mengambil ponselnya Alia dan melihat pesan masuk yang menyebabkan Alia bisa pingsan.


"Innalilahi wa innailaihi rojiuun!" Jerit Dewa saat melihat rekaman video yang dikirim oleh Bili.


Wajah Bili terlihat pucat sambil menggenggam ponsel milik kakaknya. Dewi yang penasaran ikut melihat apa yang terjadi dan Dewa langsung menepis tangannya Dewi.

__ADS_1


"Kamu tidak usah lihat video ini yang akan membuat kamu tidak bisa tidur. Cukup kak Alia saja yang pingsan. Nanti kamu ikutan pingsan." Ucap Dewa Dewa menyimpan ponsel Alia ke kantong celananya.


Sementara kedua orangtuanya Alia sedang mengoleskan minyak kayu putih ke kening Alia." Apa yang terjadi Dewa?" Tanya pak Hadi yang langsung dijelasin oleh Dewa dengan apa yang ia lihat dan ia baca dari pesan yang dikirimkan oleh asisten Bili.


Pak Hadi langsung syok melihat rekaman yang terlihat sangat sadis itu. Iapun menceritakan kepada istrinya tentang apa yang terjadi pada menantunya.


"Ada apa ayah? Kenapa wajah kalian terlihat sedih seperti itu?" Perasaan nyonya Yuyun mulai tidak enak.


Alia mulai terlihat sadar sambil bergumam memanggil suaminya." MARA....! Suamiku...! Suamiku tidak meninggalkan bunda? Ayah ..! Apa yang aku lihat tidaklah benar. Tidak mungkin itu suamiku." Ucap Alia dengan suara parau sambil menatap wajah-wajah sendu keluarganya.


Alia mencari ponselnya di bawah lantai." Di mana ponselku...? Aku harus menghubungi Bili. Mungkin mereka sedang ngeprank aku. Itu bukan Damara. Suamiku belum meninggal. Mereka tidak menculiknya. Itu orang lain. Aku tidak bisa melihat wajahnya. Tidak mungkin itu suamiku." Bantah Alia membuat ibunya yang sudah mengetahui memeluk putrinya.


"Sayang...! Coba kamu tenang dulu. Ayahmu sedang menghubungi lagi Bili untuk menanyakan kepastiannya." Ucap nyonya Yuyun memenangkan hati putrinya yang terlihat sangat tertekan.


"Aku harap ini hanya kebohongan bunda. Aku tidak bisa menerima kematian suamiku begitu saja. Maraaaaa.....MARA...!" Teriak Alia sambil menggoyangkan tubuhnya ke depan dan ke belakang membuat Dewi dan ibunya ikut menangis.


"Alia sayang kendalikan dirimu. Ingat putramu sayang. Tolong jangan buat bunda jadi serba salah seperti ini.. Kami juga sedih dan hancur sama sepertimu.


Kamu tidak sendirian menghadapi kehilangan nak MARA. Kaki juga sangat sakit mendengar kabar duka ini sayang." Ucap nyonya Yuyun sambil berurai air mata.


Pak Hadi dan Dewa kembali ke kamarnya Alia. Nyonya Yuyun menatap suaminya yang hanya bisa mengangguk bahwa berita kematian menantu mereka adalah benar.


"Sabarlah putriku...! Ini adalah bagian dari takdir. Kita tidak bisa menghindari takdir walaupun kita tidak suka menerima ini semua." Imbuh pak Hadi namun Alia menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Jangan katakan itu ayah...! Itu sangat menyakitkan. Bunda ...! Ini sangat sakit bunda. Sangat sakit bundaaaa....MARA...! Jangan lakukan itu padaku sayang....hiks .mhiks...!" Alia makin terlihat gila sambil sambil mengacak rambutnya dengan tangis yang terdengar menyayat hati.


Suara tangisan Alia terdengar jelas oleh Bili dan MARA dari ponselnya Dewa yang sedang bicara dengan Bili menanyakan lagi keadaan Abang iparnya.


MARA ikut menangis di sana dan Bili ingin marah pada Damara yang begitu tega pada Alia yang masih terlalu muda menerima kematian MARA ini.

__ADS_1


__ADS_2