
Mata indah itu masih terlihat mengembun dengan wajah mendung berselimut kabut hingga bibir itu tetap mengatup menahan beban kesedihan yang tak mampu terbendung.
Satu pekan sudah nuansa pilu di rumahnya masih menggayut lara. Jika matahari pagi saja bisa datang setiap pagi untuk menyinari bumi maka manusia tidak merasa takut melewati malam gelap dengan kesepian yang menyiksa. Itulah sebabnya kegelapan memaksa kita untuk tidur sambil menunggu mentari pagi bersinar.
Namun sayang, bagi sosok cantik seorang Alia, malam dan siang baginya sama saja. Kerinduannya pada sang suami yang baru mengukir sepenggal kenangan untuk dirinya.
"Kau datang dalam hidupku secara tiba-tiba. Memberikan apapun yang ku butuhkan hingga melengkapi hidupku tanpa menyisakan cela kemiskinan.
Bahkan aku baru menikmati manisnya cinta bersamamu. Belajar menghargai satu sama lain dan aku belum kenyang dengan cinta yang kamu berikan wahai cinta ku yang paling berharga . Walaupun satu dunia ada bersamaku tapi aku tetap membutuhkan dirimu....hiks...hiks ...!" Tangis Alia kembali terdengar lirih.
Suara serak itu seakan makin menghilang karena kelelahan terus menangis.
"Cinta mu terlalu pelit memanjakan aku di usia belia. Yang kau tinggalkan segudang kemewahan tapi aku tidak membutuhkan itu MARA, justru hati dan jiwamu serta ragamu yang bersamaku itulah kekayaan ku yang sesungguhnya." Gumam Alia sambil terisak menatap foto-foto kemesraan mereka bersama.
Rupanya setiap ucapan Alia dari bibirnya yang bercampur tangis, terdengar juga oleh Damara melalui alat penyadap pada kalung Alia yang ia pasang pada leher istrinya sebelum ia tinggalkan Alia.
Alat canggih itu sengaja MARA pasang hanya ingin mendengarkan apa saja yang akan diucapkan isterinya termasuk dengan siapa Alia berdialog.
Tangis Alia yang membuat MARA di nun jauh di sana ikut teriris batinnya." Maafkan aku Alia. Aku sedang berjuang untuk kesembuhan ku agar kita kembali berkumpul bersama." Lirih MARA.
Malam semakin larut bahkan sudah memasuki dini hari namun Alia masih saja terjaga karena kerinduannya mencegahnya kantuk yang belum mau menyapa mata indahnya hingga terdengar suara tangis bayinya yang harus memaksakan dirinya untuk memeriksa popok sang bayi yang sudah penuh dengan pipisnya.
Alia mengusap air matanya lalu menggantikan popok dan juga baju bayinya dengan memakaikan bedak agar kulitnya tetep lembab. Seakan mengerti sang ibu, baby Aulia memperhatikan wajah cantik sang ibu dengan senyumnya.
__ADS_1
Melihat senyum sang baby, Alia mengajak sang bayi untuk ngobrol." Apakah kamu mau menemani mami, baby?" Tanya Alia saat bayinya ingin menghiburnya.
"Kamu main sama mami atau menyusu sayang?" Tanya Alia yang sudah merapikan putranya.
Ia menyandarkan tubuhnya di kepala ranjangnya dan membawa sang bayi didadanya untuk ia susui. Beruntunglah Alia bukan bayi yang rewel dan gampang diajak kompromi saat ibunya dilanda kesedihan.
Bayi itu menggenggam satu jari ibunya sambil menyedot makanannya di dada ibunya. Seakan ia mau mengatakan," jangan menangis mami. Semuanya baik-baik saja karena ayah masih ada bersama kita. Aku akan menjaga mami sampai ayah kembali kepada kita."
"Wah ..! Genggaman tangan baby kuat sekali sayang. Seperti genggaman tangannya ayah setiap kali ayah jalan berdua bersama mami."
Alia ingin melepaskan jarinya namun Baby Aulia mengeratkan genggaman jari lentik ibunya. Entah mengapa genggaman putranya seakan menguatkan hatinya untuk tidak bersedih lagi.
"MARA...! Apakah kamu sengaja menggantikan dirimu dengan menitipkan putramu untuk menjagaku? Aku rasa tidak cukup hanya satu Aulia yang kamu titipkan untuk menjagaku. Aku mau anak yang banyak darimu, sayang." Ucap Alia yang kembali menangis.
"Nanti sayang, aku akan buat tim kesebelasan bola untukmu." Timpal MARA ikut terharu.
Untuk meyakinkan Alia kalau sampai saat ini Bili masih ikhtiar untuk mencari sang bos, hingga tiga bulan lamanya, MARA baru meminta Bili untuk meninggalkan Amerika dan kembali ke Indonesia.
"Sudah lama sekali kita berdua meninggalkan perusahaan. Sebaiknya kamu kembali ke Indonesia. Kasihan juga dengan sekertaris Azlin yang saat ini sedang menangani perusahaan sendirian." Titah MARA pada Bili usai melakukan rapat virtual dengan staff perusahaan dan juga sekertaris nona Azlin.
"Baik King."
"Libatkan juga istriku dalam bisnis kita karena dia adalah pengganti ku saat ini. Semua dokumen penting yang berhubungan dengan beberapa proyek kerjasama dengan perusahaan lain, mintalah tandatangannya.
__ADS_1
Dan setibanya di sana, tetap awasi dan bimbing Alia agar dia paham mengusai bisnis. Tapi saat ia sibuk dengan kuliahnya jangan terlalu memaksanya karena impiannya menjadi seorang dokter harus kita hargai." Imbuh MARA diangguki Bili.
Pesawat jet pribadi milik Damara kembali menukik ke awan biru membawa sang asisten Bili kembali ke tanah air tercinta. Entah apa yang harus ia katakan kepada Alia saat gadis itu menanyakan perihal suaminya.
Walaupun ia sudah terlatih untuk berbohong namun sesuatu yang direkayasa sangat tidak sempurna saat sudah terjun ke lapangan.
"Semoga saja aku tidak membuat kesalahan dan lidahku ini tidak keseleo jika berhadapan dengan istrinya king." Gumam Bili lirih.
Selama itu pula Damara yang didampingi oleh asisten pribadinya Houston, terus berupaya untuk mencari pengobatan yang bisa memulihkan lagi kondisinya yang saat ini sedang buta dan juga lumpuh.
Berada di atas kursi roda dalam keadaan buta sangat membuat Damara tertekan. Namun mengingat istrinya dan juga putra mereka, semangat Damara kembali membara.
Ia tidak mau mendengar suara lirihan kesedihan istrinya yang setiap saat memanggil namanya. Ia seperti menjadi seorang pecundang dan terlihat egois. Mengakui hidupnya hanya untuk Alia tapi justru ia hidup hanya untuk dirinya sendiri saat ini.
Alia yang baru bangun saat mendengar azan subuh seketika termenung menatap langit kamarnya.
"MARA...! Di mana kamu sayang? Di saat aku memanggilmu saat ini. Tahukah kau yang tidak bisa ku atasi hatiku adalah kerinduan.
Bahkan mimpi saja begitu pelit padaku hingga aku tidak menemukan dirimu saat aku terlelap. Aku bangun berjuta kesadaran sepi seperti sendirian menghadapi hariku tanpamu. Aku harap kamu masih hidup di suatu tempat dan ada orang yang menolong mu.
Aku tidak pernah menganggap kamu meninggal sayang karena aku tidak ingin merubah statusku menjadi seorang janda." Gumam Alia lalu turun dari tempat tidur menunju kamar mandi untuk mempersiapkan diri menunaikan sholat subuh.
Karena perbedaan waktu Amerika dan Jakarta dua bekas jam lamanya, maka apapun aktivitas Alia, MARA bisa mengetahuinya dari suara gadis ini jika sedang berbicara atau mendengarkan gemericik air saat Alia sedang mandi.
__ADS_1
MARA membayangkan kembali bagaimana ia dan Alia selalu mandi bersama bahkan mereka juga sering melakukan percintaan panas di kamar mandi. Inilah sepenggal kenangan yang mereka alami dari pernikahan singkat sebelum akhirnya berpisah untuk sementara waktu entah itu sampai kapan.
"Alia....! Tetaplah sehat dan kuat hingga aku kembali untukmu, sayang." Ucap MARA yang hanya bisa membayangi wajah cantik Alia dalam gelap dunianya kini.