GADIS PENOLONG Sang Mafia

GADIS PENOLONG Sang Mafia
15. Kesepian


__ADS_3

Entah sudah berapa lama Alia duduk di atas sajadahnya dengan Alquran yang ada di tangannya. Ia tidak ingin jiwanya dibiarkan kosong untuk mengudang setan membisikkan kata-kata keji yang akan merusak hati dan pikirannya disaat dilanda kesedihan yang dirasakannya saat ini kala kesepian merasuki dirinya.


Sudah tiga hari kepergian MARA yang tidak memberikan kabar apapun padanya yang menjadi pemicu hati Alia mulai dilanda gundah gulana.


Untuk menghindari pemikiran sempit tentang suaminya, sholat dan membaca ayat suci Alquran adalah solusi yang tepat untuk menyelesaikan masalah hatinya.


Saat membacakan Al-Qur'an, Allah sendiri yang mengajak kita untuk berkomunikasi, beda halnya kalau kita sholat, kita yang sedang berkomunikasi kepada Allah.


Jadi dengan membaca Alquran, maka Allah sedang menghibur kita dengan berbagai petunjuk yang akan ia berikan melalui surat cintaNya Al-Qur'an.


"Ya Allah...Berilah kesembuhan untuk ibu mertuaku secepatnya agar suamiku bisa kembali kepadaku." Pinta Alia menahan kerinduannya pada sang suami.


"Ya Allah....! Engkaulah pemilik hati kami. Aku memohon kepadaMu untuk selalu menjaga hati suamiku agar tidak terlepas dalam genggamanMu.


Jika hatinya dalam penjagaan-Mu, maka ia lebih mendengarkan Mu daripada bisikan-bisikan manusia yang memiliki kepentingan untuk menguasai hati suamiku.


Aku titipkan dia kepadaMu dengan setumpuk rinduku agar suamiku kembali lagi kepadaku tanpa ternodai oleh bujukan kedua orangtuanya yang akan memisahkan kami." keluh Alia dalam doanya usai membaca Alquran.


Ia tidak mau melanggar perintah suaminya untuk tidak menghubungi suaminya terlebih dahulu sebelum MARA yang akan menghubunginya. Kini Alia sudah berada di istananya tanpa ditemani adiknya Dewi.


Ia lebih memilih tinggal sendirian merasakan kesepiannya sendiri. Untuk mengisi waktu luangnya ia membuat kue dengan mencoba berbagai resep baru yang ada di channel YouTube.


Ia juga tidak ingin melibatkan pelayannya untuk membantunya membuat kue apa saja yang saat ini Alia buat. Pelayannya sampai heran melihat Alia membuat berbagai macam kue entah untuk siapa.


"Nona..! Apakah kue-kue ini anda ingin menjualnya?" Tanya pelayan Pipit.


"Untuk suamiku." Ujar Alia sambil memasukkan adonan yang sudah jadi ke dalam loyang yang model bongkar pasang.

__ADS_1


"Tapi tuan tidak ada di sini nona, siapa yang akan menghabiskan kue sebanyak ini?" Tanya Pelayan Efi.


"Pengemis." Sahut Alia membuat mereka tercengang.


"Non...! Mereka bukan siapa-siapa anda kenapa harus...-"


"Mereka makhluk Allah yang tidak pernah dilirik oleh siapapun karena mereka kehilangan identitas. Apa salahnya menyenangkan hati mereka dengan makanan buatanku." Ucap Alia lalu memasukkan semua kue buatannya ke dalam kardus.


"Tolong bawa kardus ini ke dalam mobilku! Ini kue terakhir yang aku masak di dalam oven ini untuk kalian. Kalau timer nya sudah berhenti, keluarkan saja dan potong-potong lalu dibagikan diantara kalian.


Itu ada dua loyang, jangan lupa bagikan untuk satpam dan sopir. Aku mau pergi dulu." Ucap Alia yang sudah melepaskan celemek nya menuju mobil.


"Astaga...! Ternyata non Alia tidak pernah lupa dari mana asalnya. Walaupun sudah menjadi nyonya konglomerat ia masih ingat dengan orang susah di luar sana." Ucap Pipit yang saat ini sedang mengamati kue untuk mereka yang belum matang.


"Kita harus banyak belajar dari non Alia bagaimana ia memuliakan hamba Allah lainnya tanpa tebang pilih. Itulah mengapa Allah menghadiahi tuan muda untuknya karena ketulusan hatinya." Kata Efi.


Tidak berapa lama kue milik mereka sudah matang. Pipit mengeluarkan kue itu dari oven. Aroma kue itu sangat menggoda lidah mereka untuk segera dinikmati.


Sementara di Belgia sana, MARA sedang duduk di pinggir brangkar ibunya yang terbaring lemah dengan peralatan medis menempel di beberapa bagian tubuhnya.


Bunyi alat EKG perekam jantung begitu nyaring di telinga MARA yang terus memperhatikan gerakan grafik perkembangan jantung ibunya.


"Mami....! Bukalah matamu sebentar saja, MARA sudah ada di sini." Ucap MARA sambil menggenggam satu tangan ibunya yang terbebas dari jarum infus.


MARA harus bergantian jaga dengan ayahnya yang saat ini sudah pulang ke rumah untuk beristirahat. Melihat kondisi ibunya MARA makin terpuruk karena ia tidak menyangka sakit ibunya makin parah.


Ibunya yang asli orang Belgia ini memang tidak ingin menetap lama di Indonesia karena ia ingin meninggal di tanah kelahirannya. Itulah sebabnya ia ingin menghabiskan hari tuanya bersama sanak saudaranya yang ada di Belgia.

__ADS_1


Satu pekan sudah MARA meninggalkan istrinya yang nun jauh di sana menanti kabar darinya. MARA tidak melupakan kekasih hatinya itu. Hanya saja saat ini, hatinya lebih fokus untuk merawat ibunya.


Maklum lah MARA adalah putra satu-satunya yang di miliki Nyonya Aisyah dan tuan Aji. Ibunya seorang mualaf jadi nama Islamnya adalah Aisyah.


Dua hari lagi Alia harus berangkat ke Denpasar Bali di mana sekolahnya akan mengadakan acara perpisahan. Karena ia harus melakukan perjalanan jauh, membuat Alia harus meminta ijin suaminya untuk meminta ridho sang suami.


Panggilan itu sudah berkali-kali ia lakukan namun MARA sekalipun tidak mengangkatnya. Alia hanya menarik nafas panjang sambil beristighfar.


Ia akhirnya mengirim pesan suara untuk suaminya." Aku tahu saat ini hatimu lagi sedih memikirkan sakitnya mami. Tapi, jangan lupa aku juga bagian dari tanggung jawab mu yang harus kamu perhatikan juga suamiku.


Aku minta ijin untuk keluar kota karena ada acara perpisahan sekolah dan kamu pasti sudah mengetahui itu. Aku sangat merindukanmu, suamiku." Ucap Alia di dalam pesan suara itu.


MARA melihat ada pesan suara yang masuk di ponselnya dari istrinya, namun lagi-lagi ia tidak ingin membukanya apalagi untuk membalas pesan itu. Pikirannya masih tertuju pada sosok wanita yang melahirkannya yang belum juga siuman sejak kedatangannya.


"Mami...! Tolong bangunlah..! Jangan membuatku makin sedih melihat keadaanmu seperti ini. Katakan apa yang mami inginkan dariku! MARA akan memenuhinya asalkan mami sembuh dan melihat MARA." Ucap MARA sambil menangis.


"Apakah kamu sekarang menyesal, putraku? Jika dari awal kamu terbuka dengan kami tentang pernikahanmu, mungkin mami mu tidak sesakit ini." Ucap tuan Aji Prasetyo.


"MARA menikahi Alia karena saat itu Alia masih sekolah ayah. Jika sekolahnya mengetahui aku menikahi Alia, gadis itu akan dikeluarkan dari sekolah." Ucap MARA memberi alasan tentang pernikahan rahasianya.


"Tapi setidaknya kamu bisa minta ijin kepada kami secara baik-baik dengan begitu ibumu tidak berapa tersinggung dengan ulah nekat mu itu.


Apakah kamu menikahinya karena sudah menghamilinya? Apakah kamu yakin anak itu adalah anak kandungmu? Jangan -jangan dia hanya ingin menjebakmu agar bisa hidup dalam kemewahan.


Bukankah ayah sudah mengatakan kepadamu jika kamu ingin memiliki seorang wanita yang tulus mencintai dirimu, jadilah seorang laki-laki gembel dan lihatlah dia bagaimana ....-"


"Aku sudah melakukan seperti yang ayah inginkan dan itu adalah Alia ayah. Dia tidak hamil dan aku baru menggaulinya saat malam resepsi pernikahan kami, ayah.

__ADS_1


Dia masih suci ayah dan dialah wanita yang ayah inginkan untuk menjadi pendamping hidupku." Ucap MARA membungkam tuduhan ayahnya pada Alia yang terlalu berlebihan menurut MARA.


Duaaarrr....


__ADS_2