GADIS PENOLONG Sang Mafia

GADIS PENOLONG Sang Mafia
35. Dialah Istri Sah-nya!


__ADS_3

Tatapan tim dokter memandang rumit saat MARA menarik tubuh Alia masuk dalam pelukannya. Keduanya menangis haru makin membuat mereka saling bertanya satu sama lain.


Houston segera memberikan klarifikasi kepada tim dokter lainnya agar mereka tidak salah paham pada pasangan ini terutama pada direktur utama rumah sakit itu yakni dokter Glassman.


"Maaf dokter Glassman...! Dokter MARSYALIA adalah istri sahnya tuan Damara." Ucap Houston tegas.


"What....? bagaimana ceritanya mereka bisa tidak tahu satu sama lain?" Tanya dokter Albert lalu diminta Houston untuk tinggalkan kamar itu agar ia bisa menjelaskan semuanya.


Houston menjelaskan semuanya kepada tim dokter itu apa yang terjadi pada pasangan itu dan mereka baru mengerti. Sementara dokter Brooklyn sangat malu mengetahui kebenaran hubungan Alia dan MARA.


"Sial....! Aku juga sudah curhat pada Marsyalia tentang perasaan ku pada tuan Damara yang ternyata suaminya sendiri. Oh...ini sangat memalukan...!" Batin Dokter Brooklyn buru-buru kembali ke tempat kerjanya.


Sementara di dalam kamar inap, Damara mengurai pelukannya pada sang istri untuk menatap lagi wajah cantik Alia." Masya Allah baby ...! Kenapa kamu diam saja tidak memberitahuku kalau kamu yang telah mengoperasikan sendiri mataku, hmm?"


"Karena kamu yang mengajariku bagaimana caranya untuk berbohong. Bukankah istri selalu mengikuti perbuatan suaminya?" Sindir Alia.


"Baby....! Kamu makin cantik dengan jas putih dokter mu ini. Sekarang istriku sudah menjadi seorang dokter hebat. Dan lebih lucunya takdir yang telah menuntunku bahwa aku harus diobati oleh istriku sendiri bukan dokter lainnya." Ucap MARA kembali memeluk istrinya.


Dagu Alia ditangkupnya untuk dipagutnya mesra. Sementara Houston berjaga di depan pintu kamar agar suster dan dokter tidak boleh masuk untuk sementara waktu.


Alia tidak lagi mempermasalahkan bagaimana suaminya merekayasa kematiannya untuk mengelabuinya. Jawabannya sudah ia temukan sendiri. Baginya bisa melihat lagi suaminya merupakan anugrah terindah dalam hidupnya.


Walaupun keduanya menceritakan apa saja terutama putra mereka, namun MARA tidak diperbolehkan untuk melihat ponsel karena radiasi sinar ponsel tidak boleh mengenai matanya.


Sementara itu MARA juga tidak sabar untuk membuka kancing kemeja Alia namun Alia menahan tangannya MARA untuk tidak melanjutkannya.


"Kamu juga dilarang untuk bercinta dulu sayang." Cegah Alia.


"Yang mau mengajak kamu bercinta siapa, baby? Aku hanya mau melihat aset berhargaku saja, selama aku tinggalkan apakah masih lengkap?" Canda MARA meneruskan membuka kancing baju Alia.


"Masih komplit. Tidak ada yang berkurang." Ucap Alia.


"Bukankah bentuknya pasti sudah berubah. Pasti lebih menggairahkan. Iyakan baby?" Goda MARA lagi kali ini dengan suara terdengar serak lagi berat.


"Baiklah kamu boleh melihat bagian dadanya dan jangan menyentuhnya. Nanti kalau sudah pulang dari rumah sakit kamu boleh melakukan apa saja." Ucap Alia yang tidak ingi MARA kebablasan.

__ADS_1


"Masa cuma lihat sayang?" MARA mulai ngambek.


"Masalahnya hampir enam tahun kita tidak pernah bercinta, sayang. Bisa jadi kamu nanti kalap. Biasanya kalau berhadapan dengan orang kelaparan, sulit dikendalikan." Ucap Alia lalu mengambil sesuatu yang ingin ia berikan kepada suaminya.


"Apa yang kamu lakukan, sayang?"


"Aku membuat banyak makanan kesukaanmu."


"Tapi aku tidak mau makan itu." Tolak MARA.


"Emang kamu mau makan apa?" Tanya Alia bingung.


"Kamu...! Sini sayang. Duduklah dalam pangkuanku. Aku lebih membutuhkan kamu dari pada yang lainnya." Pinta MARA ingin Alia masuk dalam selimut itu.


Alia menanggalkan jas dokternya karena saat ini dia hadir sebagai istrinya MARA bukan lagi dokternya MARA. Memisahkan antara kepentingan pribadi dan profesionalitas nya sebagai dokter tamu di rumah sakit itu.


Dia juga tidak bisa menolak suaminya yang sedang menginginkan dirinya walaupun keinginan MARA yang kembali menjadi bayi besarnya Alia.


...----------------...


MARA dan Alia pamit bersamaan pada rumah sakit itu. Keduanya bicara sebentar pada dokter Glassman yang sampai saat ini masih takjub dengan kisah cinta pasangan itu.


"Tuan Damara...! Anda harus bersyukur memiliki istri hebat seperti dokter Marsya. Walaupun dia sudah mengetahui yang ia operasi itu adalah suaminya sendiri, ia bisa membedakan perasaannya demi profesinya. Yang lebih membuatku kagum, hatinya begitu besar menghadapi suami yang menyebalkan sepertimu." Sarkas dokter Glassman.


"Itulah sebabnya mengapa aku memilih wanita seperti ini. Karena aku sudah mengujinya dengan berbagai cara. Dalam keyakinan kami, standar seorang istri di katakan baik menurut Tuhan ya, bukan menurut manusia yaitu seorang istri yang menjaga kemal**nnya saat di tinggal suaminya.


Menjaga harta dan rumah suaminya yang di dalamnya ada anak dan keluarga suaminya dan seorang istri yang menjaga ibadah wajibnya yaitu sholat lima waktu dan berpuasa pada bulan ramadhan. Dan surga menjadi jaminan untuknya karena suaminya sudah meridhoi nya." Timpal dokter Glassman mencoba memahami dari sisi teologi.


"Terimakasih atas pembelajarannya tuan Damara. Satu hal yang sulit di miliki setiap pasangan adalah nilai kesetiaan.


Terimakasih juga dokter Alia, entah mengapa intuisi ku begitu kuat saat ingin memintamu untuk melakukan operasi pada pasien kami walaupun pada akhirnya aku punya kiprah untuk mempertemukan kalian. Kisah cinta yang unik. Semoga selalu bahagia dan menjadi panutan untuk rumah tangga yang lain." Ucap dokter Glassman melepaskan kepergian pasangan ini.


Perpisahan singkat itupun terjadi sesaat dengan tim dokter lainnya dengan Alia yang juga minta maaf pada dokter Brooklyn.


"Alia....! Apakah masih ada stok pria seperti suamimu itu? kalau ada, apakah bisa kamu carikan untukku?" Tanya dokter Brooklyn.

__ADS_1


"Sorry dokter Brooklyn. Suamiku tidak bisa dibuat kloning untuk memenuhi impian wanita sepertimu yang menginginkan karakter yang sama dengan suamiku." Ucap Alia sambil tersenyum samar.


Dokter Brooklyn hanya menarik nafas berat karena harapannya telah sirna kini.


Iring-iringan mobil pengawal untuk mengawal pasangan itu menuju apartemen mewah mereka. MARA yang terus saja mencium istrinya Alia di dalam mobil itu membuat Houston harus menatap lurus di depan jalan raya seakan menuli apa yang terjadi di belakang sana.


Karena pulang dari rumah sakit itu pada malam hari, akhirnya keduanya langsung menuju ke apartemen MARA. Alia yang sudah memasak sebelumnya tinggal menghangatkan lagi makanan itu sebelum di siapkan untuk suaminya.


"Sayang....!"


"Iya MARA...?"


"Kapan kita bisa bercinta?"


"Satu bulan lagi."


"What....? Kenapa terlalu lama sekali?" Protes MARA.


"Apakah kamu ingin kembali ke duniamu yang gelap?" Tanya Alia.


"Pastinya tidak mau."


"Kalau begitu jangan terlalu memaksakan diri untuk memenuhi hasrat mu sayang." Pinta Alia.


"Aku sih bisa menahannya tapi sang junior tidak bisa di ajak bekerjasama." Ucap MARA dengan wajah cemberut.


"Nanti kita baca Alquran bersama agar jiwamu tidak terganggu lagi dengan hasrat menggebu itu." Ucap Alia.


"Baik Bu dokter! Siap. Tapi, aku harus memenuhi janjiku padamu."


"Apa?"


"Memberikan banyak bayi untukmu."


Duarrrr...

__ADS_1


__ADS_2