GADIS PENOLONG Sang Mafia

GADIS PENOLONG Sang Mafia
25. Ternyata Gagal


__ADS_3

Bili terlihat gelisah saat menunggu operasi pengangkatan proyektil peluru yang bersarang di kepala Damara. Ia terus berdoa agar operasi ini berhasil karena jika gagal maka akan berimbas pada perusahaan milik Damara dan itu akan meruntuhkan semua kerja keras suami dari Alia ini.


"Kamu orang baik king. Aku saksi dari kehidupanmu yang tidak pernah meninggalkan orang susah sama seperti istrimu.


Itulah sebabnya kamu memilih Alia sebagai istrimu karena kalian terlahir sebagai manusia terpilih yang cepat tersentuh dengan nasib orang lain." Batin Bili yang ingin Damara selamat dari operasi yang akan membahayakan nyawanya.


Hampir tujuh jam Dokter di dalam sana berkutat dengan operasi pengangkatan peluru itu. Bili seakan ingin berteriak dan membentak dokter yang terlalu lama menangani operasi itu.


Yang membuat Bili makin kepikiran adalah jika Damara bisa selamat dari operasi itu, ia akan mengalami buta dan juga lumpuh karena peluru itu bersarang pada syaraf otak dan penglihatannya.


Jika salah sedikit saja maka Damara tidak bisa melihat dan berjalan lagi dan Bili harus siap untuk merekayasa kematian Damara sesuai permintaan King nya.


Tidak lama dokter menemui Bili dan menyampaikan keberhasilan mereka mengangkat proyektil dari kepala Damara.


"Kita tunggu saja sampai tuan Damara siuman untuk mengetahui hasilnya. Apakah ada efek samping yang mengakibatkan dua kemungkinan yang akan terjadi pada tubuhnya tuan Damara." Ucap Liem Park yang merupakan dokter Amerika keturunan Cina.


Bili mengusap wajahnya dan berharap ucapan dokter Antonio tidak menjadi kenyataan.


MARA sudah di pindahkan ke kamarnya. Bili menanti kesadaran Damara dari waktu ke waktu. Sekitar dua jam kemudian, Damara sudah mulai sadar dengan menggerakkan jemarinya secara perlahan.


Bili langsung mendekati Damara dengan wajah berbinar." King...!" Sapa Bili dengan menarik nafas lega penuh rasa syukur.


Namun tawa kecil itu menghilang saat Damara memintanya untuk menyalakan lampu." Apakah kamu sengaja mematikan lampu kamar ini Bili?"


Duarrrr...


"King...! itu...!"


"Cepat nyalakan Bili...! Nafasku rasanya sesak kalau berada dalam kegelapan. Kamu tahu itu bukan?" Bentak Damara membuat Bili kembali dihadang frustasi.


"Astaga...!" Apakah king saat ini mengalami kebutaan?" Lirih Bili dengan wajah sedih.


"Bili...! Apakah kamu tidak mau mendengarkan aku, hah?"


"King...! Lampunya di kamar ini sangat terang benderang." Ucap Bili dengan terbata-bata kuatir Damara akan kecewa bahkan mengamuk.


"Tidak... Tidak..tidakkkkkk....!" Teriak Damara tidak terima dengan keadaan ini walaupun ia sudah mendengar resikonya akan berakibat seperti ini.

__ADS_1


Bili memencet tombol nurse call agar dokter segera menangani keadaan Damara. Dokter berlari menuju kamar inap Damara dengan wajah kalut. Menghadapi seorang Damara yang 8a sangat kenal sebagai mafia yang tidak ia ampuni jika berkhianat.


"Tuan...! Biarkan saya memeriksa matanya Tuan!" Pinta dokter Antonio seraya mendekati Damara yang sedang mengamuk dengan melemparkan apa saja yang ada di hadapannya.


Bili begitu sedih mendengarkan rasa frustasinya MARA saat ia tidak bisa menerima kenyataan itu walaupun ia sudah mempersiapkan batinnya.


Dokter menggelengkan kepalanya kalau MARA tidak mampu lagi melihat. Ini baru mata belum kakinya yang lambat laun akan lumpuh seiring syaraf otaknya yang tidak bisa lagi memerintah anggota kakinya untuk bergerak. Syaraf motoriknya juga tidak akan bisa berfungsi dengan baik karena peluru itu.


"Maafkan kami Tuan! Kami sudah berupaya semaksimal mungkin untuk membuat anda pulih tapi, kenyataan berkata lain." Ucap dokter Antonio makin membuat hati MARA hancur.


Ia terdiam sesaat, tidak lagi mengamuk seperti tadi. Hatinya tidak mampu lagi menjerit, apalagi untuk menyalahkan orang lain atas kehidupannya yang seakan tamat. Dokter Antonio dan timnya meninggalkan kamar MARA.


"Bili...!"


"Iya king!"


"Kamu sudah tahu tugasmu selanjutnya?"


"Apakah harus sekarang king?"


"Tunggu seminggu lagi sampai aku puas mendengar kekasihku bercerita tentang putra kami."


Sesaat kemudian Alia menghubungi lagi suaminya untuk menanyakan kapan kepulangannya karena putra mereka akan menggelar aqiqah.


"MARA..!" Panggil Alia terdengar manja.


"Iya sayang!"


"Sepekan lagi ayah ingin kita segera menggelar aqiqah untuk baby Aulia."


"Lakukan saja apa yang menurut ayah terbaik untuk putra kita." Sahut MARA.


"Tapi kami menunggu kepulanganmu. Kapan kamu pulang?"


"Mungkin bertepatan dengan hari aqiqah untuk putra kita."


"Apakah tunggu kamu di sini dulu baru kita rayakan bersama?"

__ADS_1


"Tidak perlu menunggu aku ada disitu yang jelas aku akan pulang hari itu juga. Aku mohon jangan terlalu memaksaku karena pekerjaan ku yang cukup sulit untuk ditinggalkan secepat ini, apa kamu mengerti sayang?" Ucap MARA penuh penekanan pada kalimatnya.


"Baiklah. Kami berdua sangat merindukanmu. Jangan membuatku aku lelah menunggu mu MARA!" Ucap Alia juga dengan kalimat yang terdengar sinis. MARA memejamkan matanya sambil menahan sesak di dadanya.


"Jika aku pergi lama kembali kamu pasti menggugat cerai diriku. Satu-satunya cara mempertahankan mu adalah merekayasa kematian ku dan aku tahu kamu pasti akan setia kepadaku." Batin MARA.


"Sayang...! Kenapa diam? Apakah kamu baik-baik saja?" Tanya Alia yang merasa sikap berubah aneh.


"Aku hanya merasa lelah sayang. Apakah aku boleh....-"


Tangis si kecil terdengar oleh MARA seakan memintanya segera pulang. Ia mendengar suara putranya sambil merekam suara itu untuk ia kenang.


"Baby...!" Maafkan ayah sayang!" Lirih MARA.


"Apakah kamu mau istirahat MARA?"


"Iya sayang. Tidak apakan kalau aku tinggal rehat, sayang?" Pinta MARA lembut.


"Hmm!"


"Aku mencintaimu Alia. Aku sangat mencintaimu. Muuahhh....!" Ucapan MARA membuat Alia merasa ada yang aneh dengan MARA.


Keduanya mengakhiri obrolan mereka dan MARA menangis setelah bicara dengan Alia." Aku tidak tahu sampai kapan aku akan bisa memulihkan kondisiku untuk bisa bersama dengan kalian lagi. Aku tidak mau membuat hari-harimu sedih Alia. Biarlah seperti ini sampai aku benar-benar siap untuk menemuimu." Ucap MARA lirih.


"Ada apa dengan MARA? Kenapa setiap kali bicara dia selalu mengucapkan cinta?" Gumam Alia lirih.


Alia kembali menyusui putranya yang sejak tadi terus menangis." Kenapa sayang? Kamu terdengar kolokan sama ayah. Kangen yah sama ayah?" Tanya Alia sambil mencium tangan putranya.


Bili mendekati Damara dengan menyampaikan rencana rekayasa kematiannya Damara. Suami dari Alia ini menyetujui ide asistennya yang terlihat masuk akal.


"Lakukan sesuai dengan rencana mu, Bili. Setelah itu kamu harus kembali ke Jakarta dan awasi keluarga ku." Pinta Damara.


"King ..! Apakah tuan yakin nona Alia akan bertahan menanti Tuan sejauh yang tuan bisa?"


"Aku yakin istriku tidak akan berpaling dariku, Bili." Ucap Damara percaya diri.


"Seiringnya waktu, kadang kesetiaan bisa runtuh dengan godaan pada laki-laki lain yang akan meyakinkan nona Alia untuk menerima cintanya apalagi nona Alia masih sangat muda, King. Pasti banyak yang menyukainya." Ucap Bili frontal.

__ADS_1


"Kau....!"


__ADS_2