
Sebagai dokter, Alia tetap mengontrol kondisi kesehatan suaminya. Seperti pagi itu untuk pertama kalinya setelah pulang dari rumah sakit Alia memandikan sendiri MARA di kamar mandi di dalam bathtub.
Tentu saja keduanya sama-sama dalam keadaan polos. Alia memberikan shampoo secara hati-hati pada rambut MARA .
"Tolong jangan dibuka matanya sebelum aku memintamu untuk membukanya, baby!" Pinta Alia sambil message kepala MARA dengan lembut.
"Iya baby." Ucap MARA sambil tangannya tidak mau diam ikut massage juga dada sekang sang istri.
"Ko jadi pasien nakal amat sama dokternya." Sindir Alia sambil tersenyum.
"Tapi dokternya suka kan?" Goda MARA sesekali menyambar bukit kembar itu dengan mulutnya membuat Alia harus menahan kenikmatan sambil mendesis.
Acara mandinya jadi lama karena satu sama lain harus memberikan servis mereka pada tempat-tempat keramat mereka masing-masing, hingga keduanya mengeluarkan cairan kenikmatan karena mereka tidak bisa bercinta sesungguhnya.
"Akkhhh ....! Sayang..!" Desis Alia yang tidak mampu lagi menahan hasratnya. Matanya terlihat sendu dengan nafas yang terdengar memburu.
Namun senyumnya tak mampu ia sembunyikan karena rasa kepuasannya saat suaminya memanjakan lagi tubuhnya.
"Kamu merindukan sentuhan ini, sayang?" Goda MARA membuat Alia harus menahan emosinya.
"Iya sayang, tidak ada komentar lagi. Tolong jangan terus memancingku. Kamu belum boleh menyerang ku. Sekarang kita keluar dari sini. Mandinya sudahan." Pinta Alia yang sudah membilas lagi tubuh mereka dengan air bersih.
Keduanya memakai jubah mandi lalu keluar. Sekarang asisten Houston sudah kembali ke kamar apartemennya sendiri yang tidak jauh dari kamar apartemennya MARA.
Alia menyiapkan nasi goreng kesukaan suaminya dan roti panggang coklat keju serta sepiring omlet.
"Mau disuapi Baby?" Tawar Alia.
"Aku yang mau suapin kamu." Sahut MARA.
"Ya sudah kita saling suapi." Ujar Alia.
Jadilah keduanya saling menunjukkan keromantisan mereka. Alia memberikan obat pada MARA untuk di minum lalu memeriksa lagi mata suaminya secara berkala.
"Baby...!" Panggil MARA.
"Hmm."
"Kita hanya tinggal berdua di dalam apartemen, aku harap kamu cukup mengenakan lengerie saja tanpa mengenakan pakaian dalam." Titah MARA penuh penekanan pada kalimatnya.
__ADS_1
"Tapi,....-"
"Ini bukan permintaan, tapi perintah sayang!" Lanjut MARA lagi.
"Tapi aku tidak membawa lengerie, sayang, hanya pakaian dalam saja yang aku bawa. Lengerie semuanya ada di Indonesia."
"Aku sudah menyiapkannya untukmu. Bukalah di lemari yang masih terkunci sebelah kanan. Pilihlah lengerie yang kamu sukai karena aku sengaja menyiapkannya untukmu." Ucap MARA.
Ketika baru mau masuk ke kamar ganti, ada telepon masuk dari si tampan Aulia yang belum mendengar kabar dari ibunya sejak tiba di Amerika.
"MARA....! Putramu melakukan video call." Ucap Alia.
"Biar aku sambungkan ke televisi." Ucap MARA lalu menghubungkan ke televisi hingga mereka bisa melihat putra semata wayangnya itu.
"Assalamualaikum mamiiii....!" Pekik Aulia kegirangan.
MARA tercengang melihat putranya sudah sebesar itu. Sementara Baby Aulia sedikit heran melihat ibunya di pangku oleh seseorang tapi dia tidak begitu kenal.
"Mami,....! Siapa yang pangku mami...? Nanti ayah ku marah kalau ada orang lain bersama mami." Ucap Aulia tidak menyukai pria yang bersama dengan ibunya.
"Baby ...! Perhatikan dulu, siapa yang bersama mami sekarang...!" Pinta Alia.
"Ayah....! Ayahhhh..... Apakah itu ayahku, mami?!" Pekiknya histeris sambil menangis haru.
"Mamiii...! kapan mami menemukan ayah ..?"
"Di rumah sakit sayang. Ternyata pasien mami adalah ayahmu, sayang."
"Benarkah? Tapi, Aulia juga mau ketemu ayah...!" Pinta Aulia sambil menyeka air matanya.
"Aulia...! Kamu sedang bicara dengan siapa sayang?" Tanya Nyonya Aisyah.
"Sama ....-" Rupanya MARA tidak membolehkan putranya untuk memberitahu Omanya tentang keberadaannya.
"Sama mami Oma." Ucap Aulia sambil mematikan sambungan teleponnya dengan ibunya.
"Kenapa kamu melarang Aulia untuk tidak memberitahu mami, sayang?"
"Karena jantung mami bisa kumat, kalau tahu-tahu melihatku masih hidup."
__ADS_1
"Benar juga. Aku sampai lupa mami punya riwayat penyakit jantung, sayang." Timpal Alia. Dua pekan lagi kita baru bisa melakukan penerbangan ke Belgia." Saran Alia sebagai dokter untuk suaminya.
"Tapi aku belum bercinta dengan ibu dokternya." Ucap MARA mulai lagi dengan kenakalannya.
"Sabar sayang..! Jangan terlalu terburu-buru. Nanti kalau sudah waktunya kita bisa bermain sebanyak yang kamu suka."
Ucap Alia yang sebenarnya juga menginginkan hal yang sama seperti suaminya.
Tapi bagaimanapun juga, sebagai dokter mata, ia lebih paham bagaimana pasien pasca operasi yang tidak boleh melakukan aktivitas berlebihan terutama bercinta yang akan menyebabkan syaraf mata kembali terganggu.
Alia masuk ke kamar ganti untuk mengenakan lengerie kesukaan suaminya. Lengerie warna hitam kontras dengan warna kulitnya yang seputih salju.
MARA yang sedang mencari film romantis yang akan mereka tonton. Pop corn yang sudah dibuat oleh Alia dengan lemon tea hangat sebagai teman mereka untuk menikmati film.
Langkah kaki jenjang itu menghampiri suaminya yang kembali terpana memindai dari ujung rambut hingga ujung kepala. Rambut Alia dicepok ke atas memperlihatkan leher jenjang nan putih mulus. Belum lagi puncak tinggi dada sekang dengan paha mulus di bungkus bokong padat menjadi sumber penggoda.
"Sini sayang...!" MARA meraih tangan istrinya lalu masuk dalam pangkuannya. Wangi harum tubuh aroma vanilla dari tubuh Alia memabukkan MARA yang kembali mengembara ke alam liarnya.
Keduanya mampu menyalurkan hasrat mereka seperti biasanya. Mungkin sekian lama tidak bersama. Membuat hari-hari yang mereka lalui kembali lagi seperti pengantin baru.
Ciuman keduanya yang tidak lagi bisa berhenti. Alia benar-benar diperlakukan seperti permaisuri yang baru di nikahi oleh rajanya. MARA memanfaatkan kedua matanya untuk memandang pemandangan indah pada tubuh istrinya sendiri.
"Tidak ada lagi tatapan yang mendatangkan pahala selain pada istri Sholehah." Ungkap MARA usai puas berciuman dengan istrinya.
"Tidak ada tempat yang akan ku datangi selain tempat tidur suamiku yang akan mengantarkan aku sampai ke surga." Balas Alia.
"Baby....! Aku begitu takut tidak bisa lagi melewati hidupku dengan menikmati masa muda mu. Sekarang usiamu dua puluh satu tahun, usia yang sudah matang untuk seorang wanita memasuki usia dewasa." Ungkap MARA.
"Apakah setelah ini, kamu masih ingin meninggalkan aku, MARA?" Tanya Alia.
"Tidak akan pernah sayang. Sampai kamu berhenti berproduksi bayi untukku." Jelas MARA.
"Kenapa ini terus membengkak? Padahal sudah di jinakkan berkali-kali oleh ku?" Protes Alia pada benda pusaka MARA yang terus saja menggodanya untuk dilahapnya lagi.
"Karena dia bisa tidur kecuali di dalam sarangnya. Kau terlalu pelit untuk memberikan tempatnya hingga ia tersiksa seperti ini, Bu dokter." Gerutu MARA.
"Sekarang aku jadi dokter plus-plus untuk suamiku sendiri."
"Terimalah nasibmu karena pasien mu adalah suamimu sendiri. Dobel job, sayang...!" Goda MARA lalu meminta Alia untuk memanjakan lagi miliknya.
__ADS_1
Benda pusaka itu sudah berada dalam rongga mulut Alia yang menikmati benda kenyal itu seperti permen loli pop nya.