
MARA dan Alia langsung menuju rumah sakit untuk menjenguk putra mereka Aulia. Alia melarang MARA untuk muncul di hadapan kedua orangtuanya karena akan membuat keduanya syok.
"Sebaiknya aku sendiri menemui ayah dan mami setelah itu aku akan menjelaskan mereka secara perlahan agar mereka siap menerima kamu." Ucap Alia.
"Sebaiknya lakukan dengan cepat karena aku sangat merindukan putraku, sayang."
"Iya, aku tahu itu."
"Dan aku juga akan merindukanmu kalau kamu terlalu lama di dalam sana."
"Iya sayang." Ujar Alia.
"Jangan lama-lama!" Ulang MARA dengan masih memeluk tubuh istrinya.
"Bagaimana aku bisa menemui putra kita kalau kamu terus memeluk tubuhku?" Protes Alia.
"A...iya. Aku lupa sayang. Waktumu sepuluh menit dan lebih dari itu, aku akan nekat masuk." Ancam MARA.
"Yang akan kamu temui itu orangtuamu sendiri. Jika ada apa-apa dengan mereka kamu sendiri yang bertanggungjawab." Sergah Alia membuat MARA ciut.
"Ternyata istriku galak juga." Lirih MARA membuat Alia tersenyum.
"Baru tahu ya..?" Seloroh Alia sambil melambaikan tangannya ke MARA.
"Sebentar ya baby!"
"Hmm!"
Setibanya di dalam kamar sana, rupanya Aulia benar-benar dalam keadaan sakit parah. Alia menjerit melihat putranya begitu pucat.
Ia langsung memeluk putranya sambil menangis histeris." Mami...! Kenapa tidak bilang kalau Aulia sakit parah?"
Alia terlihat kecewa pada ibu mertuanya." Mami tidak mau kamu pulang ke sini dalam keadaan sedih berat." Sahut nyonya Aisyah.
"Baby....! Ini mami sayang. Bukalah matamu! Bukankah kamu sangat merindukan mami?" Ucap Alia terus berurai air mata.
Aulia mengerjapkan matanya perlahan. Ia tersenyum melihat lagi wajah cantik ibunya." Mami? Di mana Daddy? Aulia kangen ingin di peluk Daddy." Pinta Aulia lirih.
"Iya sayang...! Sebentar lagi Daddy datang." Ucap Alia membuat nyonya Aisyah dan tuan Aji saling menatap.
"Alia....! Jangan menjanjikan apapun pada putramu sesuatu yang mustahil, nak. Kamu tahu sendiri kalau MARA sudah meninggal.
__ADS_1
"Aku datang bersamanya mami, ayah. Putra kalian belum meninggal. Justru akulah yang telah melakukan operasi pada MARA. Aku juga baru tahu kalau pasien itu adalah suamiku sendiri.
Hanya MARA yang bisa menjelaskan kepada kalian tentang kekacauan yang ia buat." Ucap Alia masih dengan menangis.
"Sekarang di mana dia, Alia?" Tanya tuan Aji dengan bibir bergetar.
Cek lek....
MARA masuk dengan mata berkaca-kaca membuat kedua orangtuanya hampir limbung dan sama-sama saling berpegangan satu sama lain.
"MARA...! Benarkah ini putraku MARA...?" Tanya nyonya Aisyah sambil mengusap wajah putranya.
"Iya mami ...! Ini aku MARA!" Ucap MARA langsung bersimpuh di kaki ibunya.
Tuan Aji memeluk putranya itu dengan suka cita diikuti oleh nyonya Aisyah yang tidak kuat lagi menahan kerinduannya pada sang putra yang telah lama menghilang kabar beritanya.
Sementara Aulia menyaksikan ayahnya dari gendongan ibunya." Daddy....!" Lirih Aulia lagi membuat MARA baru menyadari belum menyapa putranya.
"Sapalah putramu sayang! Dia lebih merindukanmu dari pada kami." Ucap Nyonya Aisyah.
MARA mengambil putranya dari gendongan istrinya. Aulia langsung memeluk sang putra penuh kerinduan. Ia mencium pipi putranya sambil mengucapkan kata maaf.
"Baby hanya ingin memberikan adik untukmu secepatnya."
Alia melebarkan matanya sambil mencubit pinggang MARA yang telah berkata begitu frontal pada putra mereka.
"Benarkah Daddy mau memberikan Aulia seorang adik?" Tanya Aulia dengan polosnya.
"Hmm!" Ucap MARA serius membuat Aulia tersenyum bahagia.
Setelah di dekap sang ayah begitu lama lambat laun, demam Aulia mulai menurun. Dokter masuk ke kamar Aulia untuk memeriksakan lagi keadaan bocah itu.
"Selamat sore, Aulia!" Sapa dokter Annie.
"Sore dokter...!"
"Apakah ini kedua orangtuanya Aulia?"
"Benar." Ucap Alia dan MARA kompak.
"Dokter periksa dulu ya ..!"
__ADS_1
Dokter Annie memeriksakan keadaan Aulia dan semuanya tampak baik-baik saja." Aulia sakitnya karena rindu saja pada orangtuanya. Kemarin panasnya susah turunnya dan sekarang sudah tidak panas lagi. Besok sudah boleh pulang." Ucap dokter Annie.
"Terimakasih dokter!"
Dokter Annie meninggalkan kamar Aulia dan melanjutkan melakukan visit ke pasien lain. Keesokan harinya, MARA membawa pulang keluarganya ke rumah orangtuanya.
MARA menjelaskan keadaannya kepada kedua orangtuanya tentang rekayasa kematiannya. Mereka memaklumi sikap MARA karena tidak ingin membuat Alia lebih menderita.
...----------------...
Sebulan kemudian, MARA memboyong keluarganya kembali ke tanah air. Aulia terlihat sangat senang karena ia sudah bersama dengan kedua orangtuanya lagi." Daddy ..! Nanti kalau Aulia sekolah, kalian berdua harus mengantarku agar aku tidak di katakan seorang anak yatim." Ucap Aulia.
"Apakah teman-temanmu selalu menganggu mu di sekolah, sayang?" Tanya Alia curiga.
"Mereka selalu mengatakan kalau aku tidak punya ayah. Bahkan menganggap mami hanya seorang singel parent dan itu membuat aku sangat kesal, mami." Sahut Alia.
"Ternyata mereka sangat jahat sekali. Apakah karena gangguan mereka membuat kamu jatuh sakit, sayang?" Tanya MARA.
"Iya Daddy! Tolong jangan pergi jauh lagi. Aulia butuh Daddy. Aulia tidak mau lagi sekolah di luar negeri. Mereka sangat tidak sopan dan terkesan nakal. Mereka juga tidak tahu caranya menghargai orang lain. Aulia mau sekolah di Jakarta saja, Daddy.
"Iya sayang. Daddy dan mami akan mengantar kamu setiap hari ke sekolah. Kamu tidak akan lagi kekurangan kasih sayang." Ucap MARA begitu dendam pada teman-teman sekolah putranya yang ada di Belgia.
Beruntunglah ia mengenyam pendidikan masa kecilnya hingga SMA di Jakarta. Dan baru kuliah di Jerman dan kembali lagi ke Jakarta mengembangkan perusahaan milik ayahnya.
Sedari tadi, MARA asyik memanjakan putranya dengan mengajak Aulia main bersama. Sementara Alia sudah masuk ke kamarnya karena kepalanya terasa sangat pusing dan mual datang secara bersamaan.
MARA yang tidak mengetahui keadaan istrinya dan mengira Alia saat ini hanya ingin istirahat. Hampir satu jam Alia tidak keluar dari kamarnya, sementara putra mereka Aulia akhirnya kelelahan bermain game dengan ayahnya.
MARA membuka pintu kamarnya dan mendapati Alia mengalami keringat dingin." Aulia....!" MARA nampak panik menggenggam tangan istrinya yang juga terasa dingin. Ia memanggil pramugari untuk melihat keadaan istrinya.
Pramugari Wulan memeriksa keadaan Alia. Wulan yang sudah berpengalaman memiliki tiga orang anak mencurigai kalau istri dari MARA saat ini sedang hamil muda.
"Tuan....! Apakah selama ini nona Alia menstruasinya datang secara rutin?" Tanya pramugari Wulan.
MARA mengingat selama tiga bulan ini hanya sekali saja ia mendapati istrinya mengalami haid saat mereka masih di Amerika. Dan semenjak ia berhubungan setiap saat dengan Alia, ibu satu anak ini tidak pernah lagi mengeluh haid.
"Sepertinya sudah dua bulan lebih, istriku tidak pernah haid lagi." Sahut MARA.
"Kalau begitu, saat ini, nona Alia ....?" Wulan sengaja menjeda kalimatnya agar MARA bisa menebaknya sendiri.
"Maksud kamu apa, pramugari Wulan?" Tanya MARA penasaran.
__ADS_1