
Kedatangan MARA ke resort itu membuat para staffnya gemetar ketakutan termasuk kepala sekolah dan guru-guru yang bertanggungjawab mengawasi Alia.
Tatapan MARA menghunus tajam ke arah mereka yang sedang berdiri ketakutan menunggu apa yang akan dilakukan oleh MARA pada mereka.
Aura kemurkaan MARA menguar meleburkan keberanian mereka yang tidak bisa membela diri atau memberikan sedikit alasan dengan hilangnya Alia. MARA tampil di hadapan mereka seakan belum bertemu dengan Alia.
"Di mana istriku, Alia?"
Intonasi suara itu terdengar lembut namun menyimpan ancaman yang besar dari seorang MARA yang memiliki sisi kejam yang belum banyak orang tahu.
Hanya asistennya Bili dan Yoris yang mengetahui bagaimana sepak terjangnya MARA di dunia mafia.
Wajah-wajah ketakutan itu kini terlihat peluh yang menetes di pelipis dan leher mereka. Jika dipegang tangan mereka satu persatu, pasti sangat dingin bercampur keringat saat ini.
"Bagaimana bisa kalian kehilangan istriku? Jawab kepala sekolah! Apa tugasmu sebagai kepala sekolah karena ini adalah acara sekolahmu, hah?"
MARA mendekati wajah culas itu yang sekarang terlihat bodoh dihadapannya.
"Begini Tuan MARA! Saya selaku kepala sekolah sudah menghimbau kepada semua siswa untuk saling memperhatikan teman mereka satu sama lain.
Mereka bukan anak kecil lagi yang harus di awasi setiap saat. Mereka sudah kelas dua belas yang harus memikul tanggung jawab masing-masing untuk menjaga diri mereka sendiri." Ucap kepala sekolah sambil tertunduk dengan satu tangan menggenggam lengan bawahnya.
"Iya, itu berlaku pada siswamu yang lain tapi pengecualian pada istriku Alia." Sinis MARA yang tidak mau tahu dengan aturan sekolah yang diterapkan oleh kepala sekolah.
"Bagaimana dengan kamu Yoris? Bagaimana kamu bisa lengah hanya menjaga satu wanita?"
"Maaf bos..! Terakhir kali saya tinggal ke toilet Nona Alia sedang duduk bertiga dengan sahabat dekatnya yaitu Vania dan Lidia. Tapi saat saya kembali dari toilet nona sudah menghilang dan kedua temannya tidak mengerti ke mana Nina pergi saat itu." Sahut Yoris.
MARA mengeluarkan pistolnya dan mengarahkan ke kepala Yoris yang sudah membeku di hadapan MARA. Kepala sekolah terhenyak melihat sisi lain penampakan MARA.
"Kamu ingin menyusul teman-temanmu yang sudah meninggalkan kamu Yoris? Nyomaaaannnn!"
Panggil MARA pada manajer hotel itu yang nampak tenang menghadapi amarahnya Damara.
__ADS_1
"I..Iya king!"
"Tembak dia..!" Titah MARA pada Nyoman membuat yang lain menutup mata mereka dengan kuat.
Nyoman dengan mudahnya mengangkat pistol itu lalu mengarahkan ke kepala Yoris. Pelatuk itu secara perlahan ditarik membuat kepala sekolah yang belum pernah bersentuhan dengan dunia hitam seketika pingsan membuat guru-guru membantu membopong tubuh gendut itu.
Yoris terlihat pasrah dan siap mati karena ia memang bersalah. Saat pelatuk itu benar-benar ditarik oleh Nyoman, lelaki asli Bali itu dalam sekejap beralih hendak menembak MARA yang sudah tahu akan berakhir seperti ini.
"Orang yang pantas mati itu, kau berengsek...!" Maki Nyoman sambil menarik pelatuk pistolnya ke arah MARA yang diberikan kepadanya dan ternyata pistol itu tidak ada peluru sama sekali membuat Nyoman panik sambil berjalan mundur ketakutan hendak kabur.
"Ringkus dia Yoris dan bawa dia ke markas. Dialah otak dari penculikan Istriku." Perintah MARA sambil bersedekap dengan keangkuhannya.
Yoris dan para bodyguard lainnya sudah menyeret tubuh Nyoman dengan menutup kepalanya dengan kantong hitam dan tangannya yang sudah terikat.
"Kembali ke tempat kalian masing-masing dan jangan sampai para pelajar mengetahui interogasi ini atau nasib kalian akan berakhir seperti Nyoman?" Ancam MARA lalu kembali lagi ke helikopternya menuju rumah sakit untuk melihat Cinderella nya.
...----------------...
Dokter Ni Made Ayu berdiri saat melihat kedatangan MARA. Ia dan dua suster lainnya memberikan tempat untuk MARA mendekati istrinya yang terlihat pucat dengan helaan nafas stabil mengikuti oksigen yang ditariknya masuk ke dalam rongga paru-parunya.
"Asap yang mengepung paru-parunya sudah mulai berkurang. Dalam tiga hari ke depan nona Alia akan kembali pulih. Hanya traumanya saja yang mungkin sulit dihilangkan secepatnya." Ucap dokter Ni Made Ayu.
"Dia sudah tidur terlalu lama. Aku ingin ingin bicara dengannya. Bisakah dokter membangun dia secepatnya?"
"Baik Tuan."
Dokter Ni Made Ayu segera menyuntikkan obat ke cairan infus Alia agar gadis ini segera sadar. Dalam satu menit kemudian, Alia menggerakkan otot-otot syarafnya melalui tangannya yang tertancap jarum infus.
Melihat istrinya mulai sadar, MARA meminta dokter dan suster meninggalkan mereka.
"Aku ingin berdua saja dengan istriku." Ucap MARA dan dokter serta dua suster meninggalkan pasangan ini.
Alia mengerjapkan matanya secara perlahan yang awalnya terlihat kabur, lama kelamaan pandangannya mulai jelas terlihat pada satu titik wajah yang menantikan dirinya dengan rasa cemas.
__ADS_1
"Maraaa....!" Lirih Alia sambil membuka cup oksigennya yang menghalanginya untuk bicara.
"Sayang....!" Tatapan keduanya penuh kerinduan dengan air mata yang mengalir deras.
"Ke mana saja kau...?"
Pertanyaan Alia terdengar lirih namun penuh penekanan pada kalimatnya membuat lidah MARA terasa sangat Kelu untuk menjelaskan semuanya bagaimana ia menghilang begitu saja tanpa kabar untuk istrinya.
"Maafkan aku sayang...! Aku bisa pulang karena mami baru sadar dari komanya." Ucap MARA dengan terbata-bata.
"Apakah satu menit untuk menghubungi aku saja terlalu berharga untukmu, MARA? Betapa cemasnya aku tidak mendengar kabarmu sama sekali atau pesan singkat yang mengatakan kamu di sana baik-baik saja, hanya itu yang ingin aku ketahui. Apakah aku tidak terlalu penting untukmu?"
Dada Alia yang terasa sesak menyimpan amarah dan kecewa yang begitu besar pada suaminya. Rasanya tenaganya belum pulih untuk meledakkan amarahnya saat ini pada suaminya yang tidak menganggapnya ada.
"Aku tahu dan sadar ibumu adalah hal yang terpenting dalam hidupmu. Tapi aku juga bagian dari dirimu sekarang MARA. Jangan terlalu meremehkan perasaanku karena keluguan dan kemiskinan ku yang tidak setara dengan kehidupanmu. Aku juga punya hati, aku juga bisa marah.
Tidakkah kamu tahu bagaimana rasanya tersiksa menunggu itu? Jika aku mati dalam kebakaran itu, mungkin kau hanya menangisi ku sesaat dan melupakan setelahnya karena aku tidak begitu berharga bagimu, bukan?"
Suara Alia makin terdengar parau karena tekanan kekecewaannya pada suaminya begitu besar saat ini setelah ditinggal dua pekan lebih tanpa ada kabar.
MARA mencoba memeluk Alia, namun hati gadis ini sangat kacau." Lepaskan aku MARA...! Keluar....! Tinggalkan aku...!" Bentak Alia yang tidak bisa memaafkan MARA begitu saja.
"Sayang...! Aku mohon jangan marah padaku karena aku juga sangat tersiksa sama denganmu." Ucap MARA memberi alasan.
Alia yang melihat ponsel di kantong kemeja suaminya itu lalu mengambilnya.
"Benda ini juga tidak berguna bagimu bukan...? Lebih baik di buang...!" Teriak Alia histeris lalu melemparkan ponsel milik MARA ke dinding hingga pecah berantakan.
MARA yang baru melihat bagaimana kelembutan Alia yang berubah sangar saat ini tercengang.
"Alia....!"
"Ceraikan aku...!"
__ADS_1
Deggggg....