
Ketika tiba di kediaman mertua, Alia nampak gugup sambil menggendong putranya Aulia yang tidak ingin turun dari gendongan ibunya.
Tidak berapa lama keluarlah seorang wanita paru baya dengan kursi roda bersama sang suami Aji Prasetyo yang mendorong kursi roda itu. Alia mengucapkan salam dan disambut hangat oleh kedua mertuanya yang sangat terharu melihat cucu mereka yang tampak lebih besar saat ini.
"Apakah ini MARA kecilku?" Tanya nyonya Aisyah yang ingin menggendong cucunya itu.
"Aulia...!" Ini oma dan itu opa!"
Alia memperkenalkan kedua mertuanya pada putranya yang nampak bingung melihat keduanya yang nampak asing baginya.
Tuan Aji yang begitu gemas dengan cucunya mengajak Aulia melihat kuda karena kebetulan tuan Aji hobi berkuda walaupun tempatnya sedikit jauh dari mansionnya tapi ia baru saja mengajak Ema mampir ke rumahnya.
"Apakah kamu ingin melihat kuda sayang?" Tanya tuan Aji mengalihkan perhatiannya Aulia dengan menunjukkan seekor kuda betina berwarna putih dan sangat cantik.
Aulia mengangguk sambil tersenyum kepada kakeknya. Sementara Alia dan nyonya Aisyah sudah bebas ngobrol tentang apa saja yang pasti obrolan mereka tidak jauh-jauh dari MARA.
"Alia...! Maafkan mami nak, tidak bisa ke Indonesia melihat keadaan mu karena jantung mami yang sering kumat."
"Tidak apa mami, yang penting mami sehat. Alia juga minta maaf karena baru bisa mengunjungi kalian karena sibuk kuliah dan mengurus perusahaan. Ketidakhadiran MARA membuat perusahaan sempat tergoncang dan Alhamdulillah, Alia bisa mengatasinya.
"MARA sangat pintar memilih istri sehebat dan secantik kamu. Kehilangan dirinya yang sampai saat ini menjadi tanda tanya besar bagi mami yang tidak yakin kalau putra mami sudah meninggal."
Nyonya Aisyah kembali terisak mengenang putranya namun tidak dengan Alia yang tidak ingin menangis lagi karena hatinya saat ini berbunga-bunga.
"Alia percaya mami, kalau MARA masih hidup dan tinggal suatu tempat. Aku sebagai istrinya sangat yakin dan Alia mohon mami sebagai ibu kandungnya harus yakin akan keberadaannya di dunia ini." Ucap Alia seakan sedang menghibur dirinya sendiri.
Ayo kita makan Alia. Tadi mami sudah memasak untukmu. Tapi masakannya khas negara ini. Apakah kamu ingin mencobanya?"
Alia mengangguk disertai senyum sambil menarik bangkunya untuk duduk. Ia melayani ibu mertuanya terlebih dulu baru untuk dirinya sendiri.
Makanan khas Belgia ini hampir mirip dengan Indonesia. Moules merupakan hidangan laut yang terbuat dari kerang hijau utuh yang dibumbui dengan sederhana, seperti bawang putih garam, mentega, bawang merah, lemon dan daun peterseli cincang.
Biasanya hidangan ini di padukan dengan roti dan juga kentang goreng yang biasa disantap oleh masyarakat lokal..
__ADS_1
"MARA sudah banyak cerita tentangmu kalau kamu pintar memasak. Dan dua jatuh cinta pada masakan mu. Apakah kamu mau sayang masak masakan Indonesia untuk mami?"
"Insya Allah mami. Alia juga bawa rendang untuk mami. Kata MARA, mami sangat suka sama rendang." Timpal Alia.
"Oh ya..! Kenapa tidak sekalian saja disiapkan di sini, kebetulan ayah mertua mu suka sekali dengan rendang." Imbuh Nyonya Aisyah.
Alia mengambil sebentar rendang yang sudah ia kemas dalam kopernya. Ketika disiapkan aroma khas rendang Padang itu membuat nyonya Aisyah makin tergiur.
Tidak lama tuan Aji sudah datang bersama cucunya Alia setelah berkeliling naik kuda di sekitar mansion." Mami tadi Aulia naik kuda bersama opa." Ucap Aulia yang sudah duduk di sebelah ibunya untuk disuapi Aulia.
"Wah ....! Aulia bisa naik kuda?"
Hmmm! Tapi kudanya tidak mau berhenti saat Aulia memintanya berhenti." Sahut Aulia.
"Berarti kudanya tidak ingin pisah dengan Baby." Ucap Alia.
"Berarti ayah tidak suka sama mami ya karena sampai saat ini ayah tidak mau pulang ke rumah kita." Ucap Aulia yang sudah berusia lima tahun.
Deggggg...
Tidak lama kemudian datang Bili untuk ikut duduk di meja makan karena di minta tuan Aji untuk makan siang bersama mereka.
"Mami...! Sepertinya semalam saat masih di dalam pesawat, Aulia merasa ayah datang mencium Aulia lalu pergi lagi." Ucap Aulia membuat Alia merasa dia tidak sendirian kalau suaminya semalam datang bercinta dengannya.
Sementara itu Bili berusaha menuli dengan asyik menikmati makan siangnya walaupun saat ini rasanya nyawanya ikut lompat keluar.
Alia memperhatikan ekspresi wajah Bili yang nampak tenang seakan tidak mempedulikan celotehan Aulia.
"Sepertinya Bili menyembunyikan sesuatu dariku dan aku harus mencari tahu tentang itu. Rasanya bukan suatu kebetulan yang sama, MARA datang dalam mimpi kami berdua." Batin Alia.
Makan siang itu berakhir dengan dessert yang berupa roti panas yang berisi coklat meleleh membuat semangat Aulia dan putranya menyicipi roti buatan chef itu.
Belgia memang terkenal dengan negara penghasil coklat terbaiknya. Puas menikmati makan siang mereka, keluarga itu duduk santai di ruang keluarga dengan pintu kaca terbuka lebar.
__ADS_1
Alia pamit sesaat kepada mertuanya untuk menemui Bili yang ingin buru-buru kabur darinya." Bili....!" Panggil Alia membuat Bili tersentak.
"Iya nona!"
Membalikkan tubuhnya menghadap Aulia dengan pandangan tertunduk menahan gugup.
"Bili...! Aku tahu kesetiaan mu pada suamiku lebih dari menjaga nyawamu sendiri. Jika kamu sangat berbaik hati padaku, aku akan berterimakasih kepadamu." Ucap Alia dengan kalimat yang terdengar diplomasi.
"Apa maksud anda nona Alia?"
Tanya Bili pura-pura tidak tahu.
"Hanya dirimu dan hati kecilmu itu yang bisa berkata jujur kepadaku. Aku mohon beritahu aku di mana suamiku. Aku rasa kalian sedang kerjasama untuk membohongiku. Ini sudah tahun ke lima, apakah kamu tidak lelah untuk terus-menerus membohongi aku?" Tanya Alia dengan wajah sendu membuat Bili makin tidak enak hati harus bungkam.
"Begini nona Alia, sebenarnya Tuan MARA.....-"
"Alia sayang...!" Panggil nyonya Aisyah membuat Bili harus mengurungkan niatnya untuk berkata jujur pada Alia.
Alia menghampiri ibu mertuanya dengan berkata kepada Bili." Urusan kita belum selesai Bili. Aku masih menunggu jawaban darimu." Ucap Alia penuh penekanan pada kalimatnya.
Alia duduk dekat nyonya Aisyah yang sedang membuka sebuah kotak berisi kalung emas bermata berlian.
"Alia...!! Bukalah kalung ini sayang dan kenakan kalung mami yang sudah mami simpan untuk menantu mami tercinta." Pinta nyonya Aisyah membuat Alia sedikit keberatan jika kalung pemberian suaminya di lepas.
"Tapi mami, ini adalah kalung pemberian MARA agar aku tidak boleh melepaskannya." Ujar Alia.
"Apakah kamu tidak ingin mengenakan kalung pemberian mami sayang?" Ucap nyonya Aisyah dengan wajah sendu.
Sementara MARA yang sedang mendengarkan percakapan dua wanita penting dalam hidupnya berharap Aulia tidak melepaskan kalung pemberiannya.
"Aku mohon ... jangan dilepas sayang karena aku tidak akan pernah tahu apa saja yang kamu ucapkan setiap saat untukku...!" Pinta MARA penuh harap.
.....
__ADS_1
Maaf say author sakit lagi...! Kalau up nya lama jangan marah.