
Kemewahan pesta pernikahan MARA dan Alia mengundang decak kagum para tamu undangan. Namun sayang pesta pernikahan MARA dan Alia tidak dihadiri oleh kedua orangtuanya yang saat ini sedang sakit.
Ibunya tidak bisa melakukan perjalanan dari Belgia ke Jakarta karena jantung beliau yang tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh. Itu berarti ayah kandung MARA juga tidak bisa hadir di momen bahagia Putranya itu.
Melihat ketidakhadiran kedua orangtuanya MARA menciptakan spekulasi tamu undangan yang merasa pernikahan pasangan itu tidak direstui oleh kedua orangtuanya MARA.
Ditambah lagi para musuhnya Alia seakan sedang menertawakan teman kelasnya itu karena kebahagiaan Alia terhalang restu mertua.
"Selamat Alia..! Semoga pernikahanmu langgeng dan tidak ada halangan apapun terutama mertuamu. Sepertinya mereka tidak menyukaimu hingga enggan untuk hadir mendampingi mempelai pria." Sarkas Nadin dengan tersenyum miring pada Alia.
"Terimakasih atas perhatianmu Nadin, semoga kedengkian hatimu ini tidak membuat hidupmu tersesat karena setiap amal yang kamu tanam entah itu keburukan akan kembali kepadamu." Ucap Alia sambil tersenyum seakan menertawakan Nadin yang sedang iri padanya saat ini.
"Terimakasih atas kehadirannya nona Nadin. Alia sudah tenang karena sudah mendapatkan jodohnya seperti aku, apakah anda tidak berusaha menggunakan koneksi ayah anda untuk mendapatkan jodoh yang sepadan dengan anda?" Sarkas MARA membuat Nadin tercengang.
Iapun akhirnya meninggalkan pelaminan itu dengan merengut kesal sambil menghentakkan hells miliknya membuat lekukan bibir MARA dan Alia mengembang sempurna.
Tidak berapa lama pesta itupun usai. MARA sudah tidak sabar ingin belah duren. Di hotel yang sama adalah tempat mereka akan menghabiskan malam pertama.
Saat melangkah ke dalam kamar hotel, MARA menerima panggilan dari sang ayah. Alia akhirnya masuk sendiri di dalam kamarnya sekaligus ingin mempersiapkan diri untuk melayani suaminya.
Alia mengenakan lengerie seksi malam itu dengan pita kecil di kedua sisinya. Lengerie yang hanya menutupi pangkal pahanya itu mampu menggetarkan suaminya yang sudah berdiri membelakangi Alia.
Tangan kekar itu seketika menyusup ke tempat yang masih terbungkus segitiga tiga merah dengan warna senada dengan lengerie merah milik Alia.
Alia mende$ah kala bibir sang suami sudah lebih dulu menapaki leher jenjangnya. Tangan kekar itu dengan bebas meremas dada sekang Alia hingga suara erangan itu terlontar merdu dari bibir sensual Alia.
Ciuman dan decapan menjadi candu yang setiap saat mereka lakukan tapi kali ini terasa lebih manis karena Alia sudah begitu mahir melayani suaminya. Ia tidak lagi memikirkan cara berciuman dengan instingnya tapi ia banyak belajar dari buku-buku yang menjelaskan bagaimana menjalani kehidupan dunia dewasa.
Keduanya saling memberikan kehangatan hingga akhirnya penyatuan tubuh itu berhasil membuat Alia memekik kesakitan sambil mendorong tubuh MARA.
"Tidak...tidak... sakit... sakit.... tunggu... tunggu sayang! Jangan langsung masukkin seperti itu...!" Pinta Alia namun tidak dihiraukan oleh MARA yang terus menekan kuat membuat Alia membekap mulutnya karena merasa sangat kesakitan.
MARA mendiamkan sesaat untuk memberikan waktu bagi Alia beradaptasi dengan miliknya. Permainan berlanjut hingga MARA bisa membuktikan kesucian istrinya dari merahnya darah yang sudah terlihat jelas di seprei putih itu.
__ADS_1
Alia mulai terbiasa walaupun sangat ngilu seakan miliknya diganjal sesuatu walaupun MARA sudah memisahkan tubuhnya dengan terkulai lemas di sampingnya.
"Apakah kamu merasakan kenikmatannya sayang?" Tanya MARA di sela-sela keduanya rehat.
"Apa yang nikmat MARA. Aku malah merasa milikku sangat kesakitan dan...-"
Dreeett....
Ucapan Alia terhenti saat mendengar dering ponsel milik MARA.
Ponsel MARA kembali berdering, kali ini yang mengangkat adalah Alia namun MARA meminta untuk diberikan kepadanya.
Mara tidak mau mendengar omelan kasar ayahnya pada istrinya karena saat tadi ia sudah terima telepon pertama dari ayahnya yang memintanya agar segera terbang ke Belgia karena ibunya terus menanyakannya.
MARA tidak ingin mengecewakan istrinya karena ini adalah malam pengantin mereka. Apalagi perdana untuk MARA yang ingin merasakan kegadisan istrinya.
"Apakah kamu ingin menunggu ibumu mati dulu baru kamu pulang ke Belgia, hah?" Bentak ayahnya MARA pada putranya yang keras kepala itu.
MARA menjauhkan ponselnya karena suara lengkingan ayahnya hampir memecahkan gendang telinganya.
"Aku akan segera berangkat ke Belgia ayah. Semoga mami baik-baik saja. Titip salam ku untuk mami." Ucap MARA.
"Ayah harap kamu tidak membawa istrimu bersamamu karena pernikahanmu yang diam-diam itulah yang menyebabkan ibumu jatuh sakit."
"Baik ayah."
MARA kembali ke kamarnya menemui Alia dengan tubuh yang masih polos tertutup selimut.
"Ada apa sayang?" Tanya Alia.
"Sayang..! Apakah aku besok boleh pulang ke Belgia?"
"Apakah sakit mami makin parah?"
__ADS_1
"Begitulah."
"Apakah aku boleh ikut, MARA? Aku ingin bertemu dengan mertuaku. Apalagi saat ini mami sedang sakit. Aku ingin merawat beliau." Pinta Alia.
"Jangan sekarang sayang! Keadaan tidak memungkinkan untuk kalian bertemu. Aku tidak mau menjadi serba salah di sana nanti karena harus membela siapa. Kau dan orangtuaku sama-sama penting dalam hidupku. Aku mohon kamu sedikit bersabar agar aku bisa meyakinkan mereka untuk menerimamu sebagai menantu." Ucap MARA.
"Baiklah..Aku mengerti kekuatiran mu, MARA. Semoga Allah membolak balikkan hati kedua orangtuamu untuk menerimaku. Maafkan aku karena kemiskinan ku tidak layak menjadi menantu mereka."
Ucap Alia dengan prediksinya sendiri mengambil kesimpulan bahwa kedua orangtuanya MARA tidak menyetujui pernikahan mereka karena status sosialnya.
"Sayang ...! Tolong jangan berkata seperti itu, karena orangtuaku tidak sepicik itu. Mereka memiliki pikiran terbuka karena kekayaan bagi mereka adalah hal yang biasa dan tidak berkurang harta mereka karena memiliki menantu sepertimu." Imbuh MARA menghibur istrinya.
MARA memeluk lagi Alia dan mengulangi lagi permainan panas mereka karena ia harus meninggalkan istrinya untuk berangkat ke Belgia esok hari.
Sekitar pukul sepuluh pagi, MARA meninggalkan kamar hotel dan membiarkan Alia sendirian di kamar hotel itu.
"Kamu boleh kembali ke rumah jika kamu sudah bosan berada di sini. Jika merasa kesepian kamu boleh meminta Dewi temanin kamu di rumah." Ucap MARA.
"Apakah kamu akan pergi lama MARA?"
"Tergantung kesehatan mami, sayang. Tapi aku akan usahakan untuk cepat pulang." Ucap MARA lalu melabuhkan ciuman yang agak lama pada bibir Alia.
"Semoga kamu memiliki rindu yang banyak untukku agar kamu cepat pulang," timpal Alia.
"Aku akan menghubungimu setiap saat agar kamu tidak begitu merindukanku." Sahut MARA.
"Aku tidak menikah dengan ponsel tapi denganmu. Jika hanya suaramu yang terdengar tapi tidak bisa memelukmu lantas untuk apa." Protes Alia.
MARA tersenyum mendengar rengekan manja istrinya." Tidak usah mengantarku ke bawah, karena aku tidak ingin ada yang melihat pengantin wanitaku. Kamu makin cantik setelah kita bercinta." Ucap MARA lalu membuka pintu kamarnya.
"Jangan membuatku terlalu lama menunggumu, sayang." Ucap Alia saat menutup pintu kamarnya.
"Hati-hati sayang....!"
__ADS_1
"Kamu juga. Aku akan meminta Bili untuk menjemputmu nanti kalau kamu sudah bosan di hotel." Ucap MARA sambil melambaikan tangannya melewati koridor kamar hotel.