GADIS PENOLONG Sang Mafia

GADIS PENOLONG Sang Mafia
24. Kelahiran


__ADS_3

Wajah MARA tampak sumringah ketika melihat Alia berhasil melahirkan putra pertama mereka. Bayi dengan bobot tubuh 3,5 kg, dengan panjang tubuh sekitar 55 cm. Tangis bayinya menggema di ruang bersalin itu saat di rapikan oleh suster lalu menidurkan ke samping tubuh ibunya. Alia segera dipindahkan ke ruang inap.


"Terimakasih istriku...!"


MARA mengecup kening sang istri yang terlihat masih lemah.


MARA mengeluarkan kalung emas dengan bandulan hati lalu dikenakan ke leher istrinya." Apapun yang terjadi jangan pernah membuka kalung ini." Pinta MARA.


"Apakah ini hadiah untukku?" Tanya Alia penuh suka cita.


"Bukan sayang. Ini adalah bagian dari diriku untuk menemanimu saat aku jauh darimu. Hadiah mu ada di kamar kita." Sahut MARA


"Memangnya kamu mau ke mana, MARA?"


"Kamu sudah banyak tahu tentang pekerjaan ku yang tidak bisa diam di suatu tempat. Aku selalu meninggalkanmu jika keadaan membuat kita harus berpisah dalam waktu yang cukup lama." Ucap MARA.


"Jangan katakan kalau kamu akan meninggalkan aku bertahun-tahun! Kedengarannya sangat menakutkan."


Imbuh Alia sambil melihat kalungnya dengan kaca kecil yang ada dalam tasnya.


"Tidak sayang..! Kamu adalah hidupku. Aku tak akan meninggalkanmu." Ucap MARA.


"Terimakasih, suamiku. Kalung ini sangat cantik." Ucap Alia lalu mengecup bibir MARA dan keduanya berciuman sesaat hingga terdengar bunyi pintu dibuka.


Suster datang membawa makanan untuk Alia dan MARA menyuapkan makanan untuk Alia untuk menggantikan ion tubuhnya yang hilang pasca melahirkan.


"Apakah kamu sudah mengumandangkan adzan pada putra kita sayang?" Tanya Alia saat menghabiskan makanannya.


"Belum. Aku ingin mengurus kamu terlebih dahulu." Ucap MARA.


"Apakah ayah dan bundaku sudah ke sini?"


"Mereka sudah pulang saat melihat bayi kita sudah lahir. Mereka berjaga semalaman. Nanti siang ke sini lagi."


"Kalau begitu, kamu harus mengumandangkan adzan pada putra kita. Siapa nama yang akan kamu berikan kepada putra kita?"


" Mohammad Aulia Umar Sidiq."


"Kenapa menamakan ketiga manusia hebat itu pada putra kita?"


"Aku berharap putraku akan mewarisi akhlak ketiganya jika menjadi seorang pemimpin suatu saat nanti. Aulia artinya pemimpin. Dia akan menolong banyak orang dengan kemampuannya." Ucap MARA penuh harap.

__ADS_1


Alia mengaminkan doa suaminya. Ia pun segera beranjak keluar untuk mengazani putranya. Saat sudah sudah mengazani putranya, tiba-tiba saja pandangan mata MARA mulai kabur. Ia segera membaringkan lagi tubuh putranya.


"Ya Allah, jangan sekarang...!" Pinta MARA lalu duduk sebentar di depan ruang bayi.


"Tuan...! Apakah anda baik-baik saja?" Tanya suster yang melihat wajah MARA terlihat pucat.


"Hanya sedikit pusing suster." Ucap MARA lalu berjalan perlahan menuju lift.


MARA menghubungi Alia ingin pulang ke rumah dan beristirahat. Rupanya di kamar Alia juga sudah terlelap pasca melahirkan. Karena tidak ada jawaban dari sang istri, MARA hanya mengirim pesan suara karena matanya mulai kabur lagi.


Bili segera menjemput MARA dengan menggunakan helikopter. Setibanya di dalam helikopter, MARA meminta Bili untuk mempersiapkan keberangkatannya ke Amerika.


"Kita berangkat sekarang Bili atau aku akan kehilangan penglihatan ku." Titah


MARA mulai frustasi karena pandangannya mulai kabur.


Keduanya sudah berada di pesawat jet pribadi milik MARA.


"King...! Apakah nona Alia tahu keberangkatan king ke Amerika?"


"Aku sudah mengirim pesan suara padanya. Tapi, aku tidak bilang kita menuju ke Amerika."


"Tapi bagaimana nanti kalau nona Alia menanyakan tentang anda?"


"Tapi king...!"


Bili tertunduk tidak ingin melanjutkan perkataannya saat tatapan elang itu menghunus tajam ke arahnya.


"Baik King." Pesawat siap berangkat menuju Amerika.


Bili tidak tahu harus berbuat apa saat semuanya tidak sesuai dengan rencana King nya." Ya Tuhan, kenapa aku harus dihadapkan pada pilihan yang sulit jika istrinya nanti menanyakan suaminya." Batin Bili.


Damara harus melakukan operasi pengangkatan peluru di kepalanya yang masih bersarang selama lima tahun. Di saat kejadian penembakan itu, ia tidak bisa mengangkat peluru itu karena kondisinya tidak memungkinkan peluru itu di angkat yang akan menyebabkan ia buta secara permanen. Peluru itu hanya bisa diangkat setelah penglihatannya mulai terganggu, maka resikonya antara mati atau buta.


...----------------...


Alia mengerjapkan matanya dan melihat keluarganya sudah berdiri di hadapannya. Ibunya yang sedang menggendong baby Aulia, tampak menikmati wajah tampan cucunya.


"Selamat ya kak! Sudah jadi ibu." Ucap Dewi lalu mengecup pipi kakaknya.


Alia tersenyum tapi matanya sedang mencari suaminya." Apakah MARA lagi keluar bunda?" Tanya Alia sambil meraih ponselnya di nakas.

__ADS_1


"Saat kami datang hanya melihatmu sendirian di kamar ini." Ucap nyonya Yuyun.


Alia membuka ponselnya dan mendengar pesan suara suaminya menggunakan headset.


"MARA di rumah sedang istirahat. Biarlah dia istirahat karena semalaman dia tidak tidur sampai pagi tadi." Ucap Alia lalu meminta bayinya pada bundanya untuk disusui olehnya.


"Nanti bunda akan mengurus mu. Kebetulan di restoran sudah ada yang bantu bunda." Ucap nyonya Yuyun.


"Siapa bunda?"


"Temanmu Lidia. Sekarang dia sudah bekerja di restoran kita." Balas nyonya Yuyun.


"Syukurlah kalau mereka sudah kembali ke jalan yang benar." Batin Alia.


Sekitar pukul lima sore, Alia sedang menunggu kedatangan suaminya yang tidak muncul juga di rumah sakit. Ia lalu menghubungi ponsel MARA tapi tidak ada jawaban. Alia menghubungi pelayannya.


"Maaf nona Alia. Tuan tidak ada di rumah dan belum pulang sampai saat ini." Ucap pelayannya yang bernama Atin.


"Baiklah. Mungkin MARA ada di perusahaan." Ucap Alia mengakhiri sambungan teleponnya dan beralih menghubungi asisten suaminya, Bili.


Panggilan itu juga tidak tersambung membuat Alia mulai geram. Ia langsung menghubungi sekertaris suaminya Nona Azlin.


"Maaf nona Alia, King tidak ada di perusahaan dan tuan Bili mengatakan king MARA sedang menuju ke Belanda karena ada urusan penting." Ucap nona Azlin sesuai dengan pesan yang di kirim Bili kepadanya.


"Baiklah. Mungkin mereka masih dalam perjalanan. Aku akan menghubungi lagi suamiku nanti kalau sudah tiba di Belanda." Ucap Alia.


"Tidak usah takut kak, Dewa yang akan menjaga kakak selama Abang MARA pergi." Ucap Dewa menjalankan tugasnya sesuai pesan MARA tempo hari.


"Nanti kami akan menginap di rumahmu, Alia kalau suamimu tidak ada di mansion biar kamu tidak merasa kesepian." Ucap Nyonya Yuyun.


Keesokan harinya, Alia sudah pulang dari rumah sakit di kawal ketat oleh anggotanya MARA agar Alia tetap aman hingga tiba di mansion.


Sementara itu MARA sedang dipersiapkan oleh pihak dokter untuk melakukan operasi pengangkatan peluru yang bersarang di kepalanya akibat terjadi penembakan antar mafia lima tahun yang lalu.


Tapi sebelumnya itu, ia sedang melakukan video call dengan istrinya Alia sebelum masuk ke ruang operasi.


MARA bicara di tempat yang tidak terlihat benda-benda medis. Ia memilih jendela untuk melakukan video call.


Alia sedang menggendong bayinya sambil bicara dengan MARA yang menatap kedua cintanya itu dengan pandangan yang sudah tidak jelas.


"Aku mencintaimu Alia, aku sangat mencintaimu. Aku mencintai kalian berdua. Titip cium ku untuk baby Aulia." Ucap MARA lalu berpamitan dengan istrinya.

__ADS_1


....


Maaf ya say..! Author lagi sakit.


__ADS_2