
Usai bercinta, MARA berbaring sambil memeluk tubuh polos istrinya. Kebiasaan Alia yang selalu ketiduran usai bercinta membuat ia harus kehilangan lagi kekasihnya.
MARA memastikan Alia terlelap, baru ia berusaha bangkit untuk meninggalkan lagi Alia karena pesawat itu harus transit di negara India untuk mengisi BBM. MARA juga harus kabur sebelum ketahuan oleh Alia.
Walaupun manik hitam itu sulit untuk dibuka, namun alam bawah sadarnya terus berkata." Aku harap ini bukan mimpi, MARA. Jangan pergi! Aku masih merindukanmu. Aku ingin kamu memberikan ku bayi lagi, baby." Racau Alia dalam tidurnya.
"Aku akan memberikan sebanyak bayi yang kamu mau, tapi kita belum bisa bersama. Aku mohon bersabarlah untuk menungguku!" Ucap MARA makin membuat hati Alia merasakan linu.
"Kau bicara seperti aku tidak punya hati. Aku melewati hariku begitu berat, tidakkah kamu kasihan padaku... hiks...hiks." Air mata itu terus mengalir dalam keadaan matanya tertutup.
Namun suara itu makin serak dengan memeluk lengan kekar suaminya untuk tidak meninggalkannya. MARA juga ikut menangis. Di peluknya tubuh polos itu. Kata-kata Alia yang menginginkan bayi membuatnya ia kembali berhasrat.
Ia kembali melebarkan paha mulus itu, untuk memberikan kesan terakhir pada istrinya. Permainan itu sengaja di percepat karena pesawat sedikit lagi akan landing.
Puas menyalurkan hasratnya, MARA membersihkan bagian inti dari istrinya agar tidak meninggalkan jejak yang akan membuat Alia curiga. Dengan pandangan yang sedikit kabur, MARA bisa menangkap senyum kepuasan istrinya dengan bergumam." Aku mencintaimu MARA, terimakasih sudah datang dalam mimpi ku." Ucap Alia untuk terakhir kalinya.
Tubuh polos Alia ditutupnya dengan selimut tebal. Ia membawa lengerie bekas pakai istrinya untuk menemani hari-harinya.
"Maafkan aku sayang." Belum saatnya kita bersama. Aku harus pergi sampai pengobatan ini berhasil." Ucap MARA lalu mencium lagi bibir istrinya lebih dalam.
Pengumuman co-pilot yang menyatakan pesawat akan tiba di bandara India, membuat MARA harus buru-buru meninggalkan kekasih hatinya." SELAMAT TINGGAL BABY! SAMPAI JUMPA LAGI."
MARA yang sudah mengenakan lagi pakaiannya dengan penglihatan terbatas tapi cukup membuat hatinya bahagia kalau ia punya harapan untuk bisa melihat kembali istri dan putra tercintanya.
Ketika melihat MARA, sudah menyelesaikan urusannya dengan istrinya, Bili menghampiri MARA yang sudah berdiri di depan pintu kamar Alia.
"Tolong bawa aku pergi dari sini Bili!" Ucap MARA lalu sempat mencium lagi putranya yang sedang tertidur pulas. Ia juga bisa melihat wajah tampan putranya yang sangat mirip dengan wajahnya.
"Jaga mami mu, sayang! Kita akan bersama lagi dalam waktu dekat." Ucap MARA lalu di tuntun oleh Bili untuk turun dari pesawat jet miliknya itu.
Namun sial bagi MARA, setibanya di mobil untuk menuju pesawat jet pribadinya yang ada di India, justru ia kembali buta. Penglihatannya sama sekali tidak bisa menemukan cahaya sedikitpun.
__ADS_1
"Kenapa harus gelap lagi ya Allah! Bukankah saat bersama dengan istriku, aku sudah bisa melihat wajahnya secara samar namun sangat membantuku untuk mengobati kerinduanku." Batin MARA kembali frustasi.
Asistennya Houston segera membantu bosnya itu naik lagi ke pesawatnya menuju Amerika. Hatinya terlihat sangat puas saat bisa menyentuh lagi istrinya. Senyumnya terukir indah walaupun matanya kembali buta.
Melihat raut wajah binar sang bos, Houston juga ikut bahagia. Setidaknya wajah tampan itu enak di lihat saat ini. Itu yang ada di pikiran Houston pada MARA. Pesawat milik mereka sudah berada di landasan pacu untuk siap tinggal landas.
"Alia, cintaku. Semoga kita sama-sama selamat sampai tujuan." Gumam MARA lirih dan mulai merebahkan tubuhnya karena ia juga saat ini kelelahan usai bertempur dengan Alia.
...----------------...
Beberapa jam kemudian, Alia menggeliat di atas tempat tidurnya dan merasakan tubuhnya terasa sangat pegal di tambah lagi dengan bagian intinya setelah dihajar dengan benda keras milik suaminya.
"Kenapa bagian intiku sangat sakit dan perih?" Batin Alia sambil memperhatikan tempat tidurnya dengan seprei yang acak-acakan.
Ia melihat tubuhnya sudah polos tapi ia tidak merasa kalau ia melucuti pakaiannya dan tidur dalam keadaan telanjang." Siapa yang melucuti pakaianku? Apakah diriku sendiri? Tapi aku merasa baru selesai bercinta dengan MARA dan itu rasanya sangat nyata.
Harusnya aku tidak usah bangun agar bisa bercinta terus dengan MARA. Tapi ini, kenapa sangat sakit. Apakah aku sedang menyenangkan diriku sendiri hingga tidak sadar?" Alia terus bertanya-tanya dengan dirinya sendiri.
"Baby ...! Kamu masih sangat nikmat. Dan itulah yang membuat aku sangat merindukanmu. Maafkan aku sayang!" Ucap MARA.
Usai membersihkan tubuhnya, Alia melakukan sholat subuh di tempat tidurnya dengan posisi duduk. Ia berharap semoga suaminya datang lagi dalam mimpinya agar mereka bisa bercinta.
Alia keluar dari bilik kamarnya untuk menemui sang buah hati yang masih saja terlelap di sebelah kursinya Bili.
Semuanya terlihat baik-baik saja dan tidak ada hal yang mencurigakan.
Pramugari yang bernama Mita menghampiri Alia untuk menanyakan sesuatu yang dibutuhkan gadis ini.
"Apakah anda butuh sesuatu nona?" Tanya Mita saat membelai rambut gimbal putranya.
"Berikan sesuatu yang bisa ku makan pagi ini!" Ucap Alia sambil tersenyum.
__ADS_1
"Baik Nona. Tunggu sebentar!"
Pramugari Mita beralih ke dapur untuk menyiapkan nasi goreng siap saji yang di panaskan di microwave dengan segelas susu coklat hangat serta air putih yang sudah diletakkan di baki.
Alia memberikan ucapan terimakasih dan meminta pramugari Mita untuk duduk dengannya." Mita...! Apakah bisa kamu menemaniku sarapan?"
"Baik nona."
Alia menyuapkan nasi gorengnya sambil memperhatikan wajah dan gesture tubuh Mita agar ia bisa menemukan hal yang mencurigakan dari gadis itu.
"Mita...! Apakah semalam tidak ada yang masuk ke kamarku? Atau mungkin kamu sendiri yang masuk ke kamarku?" Tanya Alia sambil menatap mata Mita untuk menemukan jawaban di sana.
"Aku tidak masuk ke kamar anda nona tanpa mendapatkan ijin dari anda." Ujar Mita bohong namun terlihat sangat serius.
"Aneh ...! Kenapa aku bisa lepas kontrol begitu?" Lirih Alia yang tidak ingin meneruskan perkataannya pada Mita yang saat ini sedang menahan groginya.
"Baiklah. Kamu boleh kembali ke tempatmu. Terimakasih sudah melayaniku." Ucap Alia santun.
"Dengan senang hati nona."
"Ah....iya, ada yang aku lupakan?" Ucap Alia membuat Mita menghentikan langkahnya dengan jantung berdebar.
Gadis ini kembali berbalik menghadap Alia." Ada apa nona?"
"Berapa jam lagi kita tiba di Belgia?"
"Sekitar satu jam lagi nona." Ucap Mita terlihat bernafas lega.
"Selamat... selamat...!" Ucap Mita ketika duduk lagi di ruang pramugari dengan dua temannya.
Sementara itu Bili yang saat ini pura-pura tidur mendengar semua percakapan antara Mita dan Alia.
__ADS_1
"King ...! Sampai kapan kamu mau main kucing-kucingan dengan istrimu. Dia terlihat sangat bahagia tapi menyimpan tanda tanya besar untuk kami." Keluh Bili.