
Waktu berlalu begitu cepat. Alia saat ini sudah hampir menyelesaikan pendidikan kedokterannya. Alia menjalani hari-harinya seperti biasa seakan ia ingin mengatakan kepada dunia, suaminya masih ada bersamanya kini hanya saja raga MARA tidak bersamanya.
Dengan adanya baby Aulia yang sudah berusia empat tahun, membuat Alia makin semangat menapaki hidupnya. Sementara itu di restoran milik Alia yang dikelola oleh Lidia dan Vania yang sesuai dengan cita-cita mereka yang ingin membuka restoran khas Korea Selatan tampak ramai saat ini.
Restoran yang sudah berjalan dua tahun ini memiliki omset yang sangat besar dalam sebulan. Lidia dan Vania makin semangat menciptakan inovasi baru pada makanan khas Korea Selatan itu yang digandrungi anak muda saat ini.
Saat restoran sedang ramai-ramainya, datang seorang wanita yang terlihat makin cantik saat ini namun sifatnya saja yang tidak pernah berubah.
Nadin memasuki restoran itu dengan gaya angkuhnya walaupun saat ini ayahnya tidak lagi memangku jabatan sebagai pejabat tinggi di negara ini.
Kedua pelayan restoran itu menghampirinya untuk mencatat menu makanan yang akan ia pesan.
"Permisi nona ..! Apakah anda sudah siap memesan menu kesukaan anda?" Tanya pelayan itu ramah.
"Aku ingin bertemu dengan manajer restoran ini, apakah dia ada?" Tanya Nadin dengan angkuh.
"Maaf nona ..! Manajer kami sedang sibuk." Sahut pelayan itu yang tidak suka dengan sikap tamu restoran ini.
"Aku hanya ingin dilayani oleh manajer restoran ini bukan pelayan biasa seperti kamu. Apakah kamu tidak tahu siapa aku, hah?" Bentak Nadin membuat pelayan ini mengepalkan kedua tangannya menahan amarahnya.
Vania segera menghampiri tamu restoran itu untuk menengahi keduanya dan ia sangat kaget melihat wajah Nadin yang sudah ada di restoran itu.
"Ada apa Ayu?" Tanya Vania bersikap biasa seakan tidak mengenal Nadin.
"Nona ini bersikeras ingin di layani manajer restoran ini, nona Vania." Ucap Ayu.
"Biar saya saja yang melayaninya." Ucap Vania.
"Apa kabar kawan? Apakah sekarang ini kamu sudah pensiun menjadi su...-"
__ADS_1
"Silahkan pesan makanan anda kalau tidak silahkan tinggalkan tempat ini karena waktu kami terlalu berharga untuk mendengarkan ocehan tak bermutu dari anda." Ucap Vania dengan tenang.
Nadin tertawa kecil memandang remeh Vania yang menatapnya dengan tatapan angkuh." Hah...! Sombong sekali kamu. Jangan merasa diri hebat kalau pernah hidup bergelimang dosa." Sarkas Nadin.
"Tuhan saja memberi kesempatan untuk hambaNya untuk bertaubat. Kenapa kamu sebagai manusia sama sepertiku senangnya menghina? Lagian apa urusan kamu dengan hidupku? Apakah aku pernah menyusahkan mu? Alia saja yang sangat baik akhlaknya tidak pernah merendahkan kami kenapa kamu yang tidak bisa berhenti datang menganggu orang lain?"
"Oh iya kebetulan sekali kamu menyebut anak pembantu itu. Cinderella yang saat ini sudah menjadi janda. Mungkin sebentar lagi dia akan kembali ke tempatnya menjadi Upik abu karena tidak ada lagi pendukungnya seperti mendiang suaminya yang tajir itu." Sinis Nadin.
"Aku sangat kasihan padamu Nadin. Dulu kau terlalui bangga menjadi anak seorang pejabat. Apakah kamu lupa bahwa jabatan itu seperti tongkat estafet yang akan mencari pemiliknya yang lain.
Ayahmu bisa dilengserkan dari jabatannya sementara Alia tidak berkurang hartanya sedikitpun walaupun suaminya saat ini masih menghilang. Perusahaan suaminya makin maju pesat karena kejeniusan Alia dengan kemampuannya mampu mengelola perusahaan suaminya.
Jika MARA memiliki istri sepertimu mungkin kamu akan membuat perusahaan itu menjadi bangkrut." Ledek Vania dengan menaikkan satu alisnya sambil bersedekap dengan senyuman yang menyebalkan Nadin.
Nadin mengepalkan kedua tangannya menahan gemuruh didadanya seakan ingin menjambak rambut Vania.
"Mungkin suatu saat nanti kamu akan datang mengemis pekerjaan pada Alia. Karena suaminya mewarisi banyak perusahaan untuknya." Lanjut Vania.
"Ayu....!" Panggil sekuriti untuk mengusir tamu ini karena gadis ini sudah menganggu kenyamanan pengunjung lain." Ucap Vania bertepatan dengan kedatangan Alia yang sedang mengunjungi restoran miliknya.
Nadin memindai tatapannya pada penampilan Alia yang sangat berkelas namun tetap terlihat bersahaja.
Walaupun Alia tidak mengenakan perhiasan mewah ditubuhnya namun pakaian, sepatu dan tasnya serta jam tangan yang dipakainya setara dengan puluhan miliar.
Alia hanya mengenakan cincin kawin dan kalung emas murni dengan bandulan hati bertuliskan nama suaminya. Itu saja harganya ratusan juta.
"Akhirnya ketemu juga sama Cinderella." Ucap Nadin sinis.
"Vania...! Apakah kamu sedang mengundang teman kita reunian di restoran kita ini?" Sindir Alia
__ADS_1
"Saya saja lupa punya teman seperti dua bagaimana mungkin saya akan mengundang teman yang tidak pernah memberi kesan yang baik pada kita Alia?" Balas Vania.
"Cih....! Dasar gadis-gadis melarat yang menjijikkan." Balas Nadin.
"Kamu tahu Nadin. Allah punya skenario untuk setiap hambaNya di dunia ini. Allah maha mengatur dan maha memelihara. Dia akan mengangkat derajat seseorang dan menjatuhkan derajat hamba lainnya sesuai yang Dia kehendaki tanpa tebang pilih.
Allah tidak membedakan hambaNya yang manapun yang ingin Ia muliakan dari segi agama manapun yang manusia anut. Itulah maha adilnya Allah dan itu berlaku juga bagiku dari yang tidak punya apa-apa hingga menjadi seperti sekarang ini karena karunia Tuhanku Nadin. Dan aku tidak perlu malu dengan pendapat mu tentang hidupku." Ucap Alia menohok.
"Sekarang pikirkan hidupmu sendiri Nadin, karena saya begitu takut suatu saat nanti kesombongan mu akan membuatmu makin terhina." Balas Vania.
Nadin segera angkat kaki dari tempat itu dengan gaya khasnya berjalan angkuh tanpa tersentuh dengan nasehat kedua temannya.
Alia dan Vania hanya menggelengkan kepala mereka menatap pergi punggung Nadin yang melangkah keluar dari restoran itu.
"Mau minum apa Alia?" Tanya Vania saat ibu dari Aulia ini duduk di sofa di ruang kerjanya di restoran itu.
"Aku mau jus mangga saja Vania." Ucap Alia.
Sementara itu Lidia yang sejak tadi membuat laporan keuangan tidak mengetahui kedua sahabatnya ini sedang beradu mulut dengan musuh bebuyutan mereka di jaman sekolah dulu.
Ketiganya akhirnya ngobrol membahas lagi tingkah Nadin yang sok kaya dan hebat. Walaupun kedua sahabatnya cekikikan mengingat sikap Nadin namun tidak dengan Alia yang tidak pernah tersenyum lagi setelah kehilangan suaminya.
Melihat wajah Alia yang tetap datar, akhirnya kedua sahabatnya itu kembali lagi bekerja dan membiarkan Alia sendirian sedang mengenang sang suami.
"Rintik gerimis mengundang kekasih di malam ini, kita menari dalam rindu yang indah. Sepi kurasa hatiku saat ini oh sayangku, jika kau di sini aku tenang." Alia sedang berdendang sambil mengenang MARA.
Setelah itu ia kembali menangis sendirian merindukan kekasih hatinya.
"MARA...di mana kamu, sayang? Aku ingin bertemu. Aku merindukanmu...sangar merindukanmu...!" Serak Alia terdengar jelas oleh MARA di nun jauh di sana.
__ADS_1