GADIS PENOLONG Sang Mafia

GADIS PENOLONG Sang Mafia
12. Persiapan Ujian


__ADS_3

Saat memasuki weekend, Alia sibuk di dapur untuk menyiapkan makan siang untuk suaminya. Penampilan Alia yang sedikit berantakan membuat MARA tersenyum usai berenang bersama adik iparnya Dewa.


Kedua orangtuanya Alia sudah sibuk di restoran mereka di bantu Dewi. Otomatis masakan hari itu Alia sendiri yang mengerjakannya di bantu dua orang pelayan.


Melihat kedatangan MARA secara diam-diam, membuat kedua pelayan itu beringsut pergi atas perintah MARA. Ia memeluk Alia dari belakang membuat yang punya tubuh tersentak.


"Maaf Tuan ...! Saya masih usia sekolah, saya harap tuan menjaga kode etik yang sudah disepakati bersama." Ucap Alia sambil mengaduk masakannya.


"Sebentar lagi peraturan itu tidak berlaku lagi untukku." Ucap MARA sambil mengecup leher jenjang mulus istrinya.


Sejak menjadi istri MARA, Alia terlihat makin cantik dan bersinar. Kulit tubuh dan wajah yang terawat setiap Minggu oleh dokter kecantikan membuat kulit Alia semulus porselin.


Alia mematikan kompor dan melepaskan celemek yang menggantung di tubuhnya. MARA menggendong wanitanya membawanya ke kamar.


"Aku masih bau keringat, sayang." Ucap Alia malu-malu.


"Aku akan memandikanmu. Aroma tubuhmu seperti masakan dan rasanya aku ingin menjilatinya." Goda MARA.


"Katanya tidak mau mandi bersama sebelum aku selesai ujian." Ledek Alia.


"Aku hanya ingin melihat milikmu karena hanya area itu yang masih membuatku penasaran." Ucap MARA sambil mengangkat dress milik Alia hanya dalam sekali sentak.


MARA melabuhkan bibirnya pada bibir Alia yang sudah menyambut hisapan dan decapan lidah suaminya yang mendesak masuk dalam rongga mulutnya.


Sambil menautkan lidah mereka, MARA membebaskan ikatan pengaman dua cup hitam itu membuat dua gundukan terekspos lepas membuat MARA menggeram menatap sesaat squishy padat nan kenyal itu.


"Indah sekali sayang dan sangat menggiurkan." Ucap MARA dengan suara berat.


Alia menarik kepala suaminya untuk merasakan aset miliknya. Ia kini sudah terbakar gairah yang memuncak dan melepaskan sendiri segitiga hitamnya untuk menggoda sang suami.


"Lakukan, sayang! Jangan membuatku terus menunggu." Pinta Alia dengan mata yang berat.


Setelah kedua mencicipi dada sekang Alia, kini beralih ke tempat indah milik istrinya dan langsung membenam di tempat itu. Alia mende$ah kala permainan lidah suaminya meluluhkan lantahkan jiwanya hingga ia melesakkan cairan kenikmatan dengan suara serak sambil menjambak rambut MARA yang terus mengisap habis jussy miliknya. Tubuh itu melengkung sambil melenguh nikmat.


"MARA....! Ini sangat nikmat sayang." Ucap Alia yang sudah mendapatkan keinginannya.


"Sekarang pelajaran bercintanya cukup sampai di sini." Ucap MARA.

__ADS_1


"Tapi aku belum melakukan hal yang sama padamu." Protes Alia yang belum pernah melihat seperkasa apa milik suaminya.


"Jangan...! Pasti kamu akan kaget dan ketakutan?" Ucap MARA.


"Bukankah untuk mendapatkan baby harus dengan ini." Ucap Alia membuat MARA tersentak.


Rasanya saat ini MARA ingin memperkosa istrinya yang makin hari makin menggemaskan dengan ucapan frontalnya.


"Cukup di lihat saja tapi kita tidak bercinta sayang." Ucap MARA membuat Alia menyanggupinya.


Ketika diperlihatkan miliknya pada Alia, sontak saja Alia terpana sambil menelan salivanya yang terasa sangat kering di tenggorokannya.


Benda perkasa itu sangat besar membuat nafasnya memburu menahan malu.


"Apakah kamu takut sayang?" Tanya MARA.


"Tidak ..!" Sahut Alia walaupun hatinya berkata ya. Tapi Alia tidak ingin membuat suaminya kecewa.


"Mau mencobanya?"


"Aku tidak tahu bagaimana memulainya." Ujar Alia yang buta akan dunia dewasa.


MARA mulai mengajarkan istrinya bagaimana cara memanjangkan miliknya dan Alia memperhatikan dengan seksama dan berusaha melakoninya membuat MARA tersenyum puas. Walaupun mereka tidak melakukan penyatuan tubuh setidaknya memberikan pelayanan melalui mulut mereka itu sesuatu yang sangat memuaskan. Step by step.


...----------------...


Hari pertama ujian cukup mendebarkan buat Alia. Walaupun ia sudah mempersiapkan segalanya dengan matang namun hatinya tetap saja terasa ciut.


Soal dengan berupa bulatan kecil itu terdiri dari lima yang ada di layar laptop miliknya, membuat ia dengan cepat meneliti satu persatu butiran soal itu dengan mengisinya hingga selesai.


Kecepatan Alia menyelesaikannya ujiannya membuat wajah tegang terutama Nadin yang tidak bisa menjawabnya karena dia mendapatkan kunci jawaban yang tidak sesuai dengan soal yang tertera di layar laptopnya.


Rupanya Nadin dan beberapa temannya yang di dalam kelas sudah termakan jebakan oleh seorang penipu yang merupakan oknum sekolah itu sendiri yang ingin meraup keuntungan dari anak-anak orang kaya seperti Nadin.


Setelah Alia, kini Lidia dan Vania yang menyusul keluar kelas. Wajah ketiganya begitu ceria. Ketiganya memutuskan untuk kantin untuk menikmati hasil kerja keras mereka mempersiapkan ujian Nasional ini.


"Apakah kamu bisa menyelesaikannya, Lidia? Tanya Vania.

__ADS_1


"Tentunya Vania. Aku ingin merubah nasibku dan tidak ingin menjadi sugar baby terus menerus." Ucap Lidia sambil mengunyah makanannya.


"Alia...! Bagaimana denganmu? Apakah lulus SMA nanti kamu akan menikah dengan pangeran mu?" Tanya Lidia.


Alia yang sedang menyedot jus miliknya tersedak mendengar pertanyaan Lidia.


Uhukk ....uhuk ....


"Aku....?" Tentu saja aku akan segera menikah karena hubungan kami sudah terlalu dekat." Ucap Alia.


Vania terlihat pucat dan juga merasa sangat sedih." Bagaimana denganmu Vania? Apa cita-citamu ke depannya?"


"Entahlah Alia. Saat ini aku sendiri sedang hamil dua bulan." Ucap Vania terlihat sedih.


Hampir saja Alia menyemburkan makanannya mendengar pengakuan Vania.


"Apakah sugar Daddy kamu itu mau menikahimu?" Tanya Alia.


"Masalahnya, ia tidak bersedia menerima anak ini karena selama ini ia hanya ingin bersenang-senang denganku dan sialnya aku terlanjur mencintainya." Ucap Vania sedih.


"Begini saja Vania. Kalau kamu butuh pekerjaan, kamu bisa bekerja sementara di restoran milik orangtuaku.Itupun kalau kamu mau." Ucap Alia memberikan solusi.


"Selama ini, aku tidak bekerja berat Alia, karena aku dan Lidia hanya mengandalkan tubuh kami." Ucap Vania sedih.


"Kalian mau cari sugar Daddy yang lain? Silahkan! Sampai kapanpun uang haram tidak akan membuat kalian puas apa lagi menjamin ketenangan di hati kalian.


Kalau kalian tidak belajar menggunakan tangan dan pikiran kalian dengan mendapatkan rejeki yang halal, maka selamanya hidup kalian terus terhina." Ucap Alia menahan geram.


"Kenapa kamu jadi marah-marah seperti ini Alia?" Tanya Vania tidak terima.


"Karena sahabat yang baik akan menasehati temannya dengan cara yang benar walaupun terdengar sangat tidak nyaman di telinga kalian tapi setidaknya aku menyayangi kalian seperti saudaraku." Ucap Alia.


"Lalu kamu apa Alia? Kamu tidak jauh bedakan dengan kehidupan kami. Kamu menerima semua kemewahan dari Damara, karena kamu menjadi simpanannya, juga,kan?." Semprot Vania.


"Jelas saja aku bera dengan kalian, karena aku tahu bagaimana cara menghargai kehormatanku.


Aku mendapatkan semua itu dengan cara terhormat karena Damara sudah menikahi ku dan memberikan semua apa yang tidak bisa dimiliki oleh sugar Dady kalian itu untuk di berikan pada kalian." Ucap Alia lalu meninggalkan kedua sahabatnya di kantin itu yang hanya bisa melongo.

__ADS_1


Duaaarrr....


__ADS_2