GADIS PENOLONG Sang Mafia

GADIS PENOLONG Sang Mafia
23. Setia Menemani


__ADS_3

Kehamilan Alia yang sudah memasuki delapan bulan membuat gadis ini tetap semangat melakukan aktifitasnya sebagai mahasiswa kedokteran.


Biasanya Yoris yang mengawasi Alia, tapi kini MARA sendiri memastikan sendiri kenyamanan istrinya saat pulang pergi ke kampus. MARA yang terlalu posesif memesan Alia untuk tidak berkeliaran di tempat keramaian.


Gadis ini membawa makan minumnya sendiri dari rumah. MARA melarang Alia untuk makan di kantin. Dan melarang gadis ini untuk menerima makanan dari orang lain.


Ketika MARA menjemput Alia pulang, gadis ini meminta makan es krim dan MARA segera mampir ke kedai yang menjual es krim yang sedang viral.


Saking hati-hatinya, MARA mencoba dulu es krim milik Alia terlebih dahulu baru ia memakannya.


"MARA...! Kenapa kamu terlihat saya protective padaku? Apakah kamu memiliki banyak musuh?"


"Tidak ada sayang. Tapi waspada itu perlu." Ujar MARA sambil mengusap perut istrinya.


"Apakah kamu tidak percaya kekuatan Allah?"


"Aku percaya kepada Allah. Tapi Allah juga meminta kita menjaga milik kita dengan sebaik mungkin. Setelah itu pasrahkan kepadaNya." Ucap MARA.


"Dua pekan lagi aku ujian, setelah itu libur. Aku akan fokus mempersiapkan persalinan ku. Aku harap jangan pernah tinggalkan aku di saat aku mempersiapkan kelahiran ku." Pinta Alia.


"Aku tidak akan meninggalkan mu walau apapun terjadi sayang. Justru aku ingin melihat seberapa tampan putraku nanti, semoga dua tidak lebih tampan dariku." Ujar MARA.


"Ihhh ..jahat banget sih kamu. Masa doanya seperti itu." Imbuh Alia sambil memencet hidung istrinya.


"Aku hanya takut saja, saking tampannya putramu, matamu tidak lagi menatapku." Ucap MARA.


"Jadi ceritanya cemburu nih." Ledek Alia."


"Biasanya seorang ibu seperti itu. Perhatiannya akan terbagi pada putranya dan suaminya menjadi orang kedua."


"Tidak usah kuatir, sayang. Nanti aku akan adil pada kalian berdua."


"Benar ya sayang."

__ADS_1


"Iya janji."


Walaupun MARA mengawasi istrinya sendiri, tapi penjagaan untuk mereka cukup ketat. Beberapa mobil mengikuti keduanya terus mengikuti mobilnya MARA.


Penjagaan untuk pasangan ini memang ketat, tapi musuh masih bisa menyamar jadi apa saja hanya untuk membunuh keduanya. Hingga ada seorang bapak-bapak yang sedang memungut setiap botol plastik bekas minuman kemasan dengan membawa karung berjalan kaki menyusuri jalan itu.


Alia meminta suaminya untuk berhenti karena ia ingin memberikan uang kepada pemulung itu. MARA yang menurut saja permintaan istrinya tidak mengetahui kalau pemulung itu adalah musuh yang sedang menyamar. Saat hendak melepaskan seat belt miliknya, Yoris memintanya untuk terus melanjutkan perjalanan mereka.


"King..! Apa yang anda lakukan?"


"Alia mau memberikan uang untuk pemulung yang saat ini sedang memungut botol bekas." Ucap MARA.


"Bos, apakah seorang pemulung memakai sepatu mahal untuk memulung?" Tanya Yoris dan MARA memperhatikan dari kaca spion dalam dan benar saja, pemulung itu seakan sedang mencabut sesuatu dari balik jaketnya.


"Sial...! Itu penyamar." MARA segera cabut dari situ bersamaan dengan pemulung itu mengarahkan pistol peredam suara ke arah mobilnya.


"Ada apa MARA ...!"


"Apakah kamu sedang diintai MARA?" Tanya Alia cemas.


"Yang jelas kita berdua sayang. Mereka menginginkan nyawa kita berdua. Mereka tahu kebiasaan mu yang terlalu murah hati itu yang membuat mereka menyamar menjadi orang yang tak berpunya, seperti pengemis, pemulung dan apa saja yang bisa menarik minatmu." Ucap MARA.


"Berarti mereka juga menyamar sebagai orang yang berkelas untuk menipuku seperti penculikan beberapa bulan yang lalu." ucap Alia.


"Iya sayang. Mulai sekarang jauhi mereka semua. Kamu bisa melakukan kebaikan dengan cara yang lain." Ucap MARA untuk membuat istrinya mengerti.


"Apakah aku tidak boleh lagi bersosialisasi dengan orang lain?"


"Cukup aku saja dan keluargamu. Aku mohon jangan lagi mudah empati pada penampilan orang lain. Kamu sekarang adalah nyonya Damara. Nyawa mu adalah harta berharga untuk mereka. Aku rela mati demi kamu. Jika kamu mencintai ku turuti apa saja perkataan ku. Fokus pada calon bayi kita." Sahut Damara yang sudah membelokkan mobilnya memasuki pintu gerbang rumahnya.


"Apakah duniamu sangat mengerikan?"


"Lebih yang dari kau bayangkan."

__ADS_1


"Apakah kamu ingin mengatakan aku harus siap setiap saat untuk kehilanganmu?" Tanya Alia menahan tubuh suaminya yang ingin menaiki tangga.


"Aku akan menjaga diriku untukmu. Dan jagalah dirimu untukku sayang. Kita harus sama-sama kuat dan saling mendukung. Mulai sekarang jangan membantah perkataan ku. Aku menikahimu karena aku tahu kamu wanita tangguh. Kemiskinan saja kau bisa hadapi, apa lagi ....-"


"Aku tidak siap untuk kehilanganmu. Jangan memintaku untuk yang satu ini." Sela Alia.


MARA merangkul istrinya. Jika wanita lain, mungkin akan gila menghadapi dunia hitam yang MARA bangun selama ini. Tapi untuk Alia sekalipun gadis ini berkata tidak sanggup, MARA yakin Alia tidak mudah terpuruk.


"Aku sudah melatih mu dua pekan tanpa kabar baby dan kau terlihat baik-baik saja. Kamu mengisi kesepian mu dengan hal yang bermanfaat bukan pergi clabing atau berkumpul dengan gadis sosialita. Waktu ku tidak banyak untuk menjagamu, baby." Batin MARA.


Keduanya berjalan menuju kamar mereka. Alia menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang. Entah mengapa hatinya tidak merasa baik-baik saja saat ini.


MARA mengoleskan minyak di betis istrinya yang terlihat makin bengkak karena kehamilan Alia. Tidak lama kemudian, Alia terlihat sudah pulas. MARA mengambil ponselnya dan keluar menuju balkon kamarnya.


MARA menghubungi orang-orangnya kepercayaannya. Entah apa yang ia bicarakan dengan orang-orang kepercayaannya.


Saat malam tiba, Bili mengabarkan bahwa pengemis yang tadi mencoba membunuh mereka sudah di amankan oleh anggota mereka. MARA meminta Bili, untuk menghubungi pengacaranya agar memindahkan semua aset miliknya atas nama Alia dan putranya.


"Aku harap kamu mengajarkan banyak hal tentang bisnis kita pada Alia. Istriku sangat jenius. Dia mudah memahami segalanya." Tulis MARA.


"King...! Kenapa tidak terus terang saja pada Nona Alia tentang....-"


"Aku tidak meminta saranmu dan jangan mencoba mendikte ku. Aku sedang berusaha, jika gagal maka kamu harus melakukan tugasmu. Kamu mengerti Bili?" Tulis Damara penuh penekanan pada kalimatnya.


"Baik King. Aku akan mengurus semuanya. Aku harap jangan king harus menunggu sampai bisa melihat pertumbuhan putra king." Tulis Bili dengan berat hati.


Bukan hanya Bili dan para anak buahnya yang kirim pesan. MARA juga menulis pesan untuk adik iparnya Dewa. MARA memang sengaja menyuruh adik iparnya itu untuk mengikuti latihan bela diri Wushu.


"Dewa. Jika aku tidak ada di sisi kakakmu Alia, tolong jaga dia untukku." Tulis MARA.


"Emang Abang MARA mau ke mana?" Tanya Dewa namun tidak dibalas oleh MARA.


"Aneh...! Pesan Abang MARA, mengerikan sekali." Gumam Dewa.

__ADS_1


__ADS_2