GADIS PENOLONG Sang Mafia

GADIS PENOLONG Sang Mafia
37. Kembali Bersatu


__ADS_3

Satu bulan sudah Alia dan MARA berada di Amerika. Itu berarti pantangan untuk MARA sudah tidak berlaku lagi karena ia menjadi pria yang kuat di dunia ini secara lahir batin.


Entah sudah ke berapa kalinya permainan panas itu berlangsung seru. Bahkan Alia seakan tidak bisa lagi melangkah dengan anggun keesokan paginya karena MARA tidak bisa membiarkannya istirahat sedikitpun.


Semalaman ia terus di gempur seakan tidak ada hari esok lagi MARA untuk melunasi hutangnya setelah enam tahun terpenjara sendiri dengan keputusan yang ia buat.


Istrinya dibuat seperti tawanannya, bahkan ia rela menggendong Alia hanya untuk buang air kecil dan mengembalikan lagi ke kasurnya.


Hari-hari berikutnya hingga dua pekan kemudian, pekerjaan MARA hanya bercinta dan bercinta dengan Alia hingga gadis ini tidak bisa menikmati bagaimana dengan keindahan kota new York.


Tepat dua bulan pasca operasi, MARA baru siap mengantar sang istri yang akhirnya merengek ingin melihat sudut kota New York city membuat MARA akhirnya menyerah.


"Ayolah sayang! Kita jalan-jalan." Ajak MARA sambil memakaikan boot milik Alia karena saat ini Amerika akan memasuki musim salju.


"Iya aku sudah siap!"Ucap Alia kembali mematuk penampilannya di depan kaca.


Alia tidak berani memulas bibirnya dengan lipstik yang berwarna menyolok karena karena akan di hapus oleh MARA dengan bibir pria itu. Keduanya sudah turun dari apartemen mereka dengan mobil mewah yang di bawa oleh Houston mengantarkan pasangan ini di Mall karena Alia ingin belanja.


Alia hanya mencari beberapa aksesoris yang ia butuhkan, seperti tas, sepatu, mantel dan jam tangan. Sementara MARA ingin membelikan sesuatu untuk Alia berupa anting yang tadi ia sudah sempat melihatnya.


"Sayang...! Bisa aku tinggal sebentar? Tanya MARA saat Alia melihat beberapa mantel bulu pada Krah agar ia tidak merasa kedinginan.


"Kamu mau ke mana?" Tanya Alia.


"Di konter sebelah sana." Unjuk MARA asal padahal bukan tempat itu yang akan ia tuju.


"Ok. Baiklah." Ucap Alia lalu kembali mencoba lagi mantel yang ia inginkan.


Alia yang sedang dikawal oleh Houston sekaligus membawa belanjaan gadis itu. MARA sibuk membeli perhiasan untuk istrinya dan pakaian dalam wanita yang sangat ia sukai untuk Alia kenakan nanti.


Puas berbelanja, Alia mengunjungi tempat kuliner yang berlebel halal dan beruntunglah Houston bisa mengarahkan istri bosnya ini ke tempat cemilan yang berlebel halal.


"Kalian ada di mana?"


"Restoran Turki Tuan!"


"Baik aku segera menyusul ke sana."


Sementara Alia sedang duduk memilih menu, tanpa ia sudah Daffa yang sedari tadi sudah mengikuti Alia akhirnya duduk di meja yang sama dengan Alia.

__ADS_1


"Apa kabar Alia!" Sapa Daffa hampir membuat Alia gugup.


Saat Houston ingin mendekati mereka, Alia mencegahnya. " Tidak apa. Ini adalah temanku Houston." Ucap Alia.


"Baik Nona!" Houston kembali ke tempatnya sambil mengawasi situasi sekitarnya.


"Alia! Aku dengar kamu sekarang hidup sendiri setelah kematian suamimu yang sampai saat ini tidak ditemukan jasadnya. Apakah itu benar?" Tanya Daffa penasaran.


"Rupanya kalian masih peduli pada hidupku saat kita sudah tidak lagi dekat. Terimakasih atas perhatiannya Daffa. Aku rasa berita itu tidak mendasar dan jangan percaya apa itu kabar burung." Ucap Alia.


"Apakah kamu takut jika kamu di katakan seorang janda?" Selidik Daffa.


"Siapa yang janda?" Suara MARA sedikit keras membuat Daffa terperanjat.


"Tu..tuan MARA...!" Ucap Daffa spontan berdiri membuat Alia mengulum senyumnya.


"Apakah kamu sedang bicarakan ibumu sekarang menjadi seorang janda, Daffa?"


"Tu..tuan! Bukankah Anda sudah dinyatakan meninggal?"


"Sekarang siapa yang sedang aku ajak bicara? Apakah kamu bisa melihat jiwaku yang bicara padamu?" Sarkas MARA membuat Daffa tertunduk malu.


MARA mendekati Alia lalu mengecup bibir istrinya tepat di hadapan Daffa.


"Jadi kamu berpikir punya kesempatan untuk menggoda istriku yang kamu anggap sudah janda?" Sarkas MARA membuat Daffa harus meminta maaf berkali-kali kepada MARA yang langsung mengusirnya pergi.


"Apakah kamu tidak apa sayang?"


"Hmmm!"


"Aku tidak tahu apa jadinya jika aku lama tidak muncul mendampingimu, pasti banyak yang ngantri di rumahku untuk melamar Istriku." Umpat MARA yang sudah duduk di samping Alia yang sedari tadi menatapnya membawa beberapa paper bag.


"Itu apa sayang?" Tanya Alia.


"Peralatan perang!"


Alia hanya menarik nafasnya mendengar jawaban sang suami yang tidak jauh dari ranjangnya. MARA menyerahkan kotak perhiasan untuk Alia dan memintanya memakainya nanti malam.


Mereka menikmati hidangan yang disajikan oleh pelayan." Alia...!"

__ADS_1


"Hmm!"


"Apakah kamu tidak akan tergoda dengan rayuan pria manapun jika kamu merasa sudah jadi janda ku?"


"Tidak ada yang bisa menggantikan tempatmu, MARA. Berhentilah untuk meragukan cintaku. Aku tidak butuh siapapun di dunia ini kecuali keluargaku dan putraku Aulia jika kamu tidak ada lagi di sisiku." Sahut Alia yang melihat MARA masih kesal dengan kehadiran Daffa yang tiba-tiba muncul di hadapannya.


"Maafkan aku sayang. Aku membuatmu menjadi serba salah. Tapi aku tidak suka kamu bicara dengan Daffa tanpa seijin ku." Protes MARA.


"Aku tidak enak langsung mengusirnya pergi kecuali dua berlaku tidak sopan padaku. Lagi pula kamu punya CCTV berjalan yang terus mengawasi aku sedari tadi." Sindir Alia pada asisten suaminya, Houston.


Keduanya akhirnya memutuskan pulang usai menyantap kudapan di restoran tersebut. Tidak lama ada telepon masuk dari nyonya Aisyah. Alia segera menerimanya.


"Alia...!"


"Iya mami."


"Putramu sedang sakit parah sayang. Beberapa hari ia tidak mau makan. Ia terus memanggil kamu dan MARA. Apakah pekerjaan mu di rumah sakit Amerika belum selesai, sayang?"


"Sudah mami! Baiklah kami akan pulang sekarang." Sahut Alia panik.


"Kami...? Kamu mau pulang ke Belgia sama siapa Alia?" Tanya nyonya Aisyah heran.


"Aissh! Maaf mami, maksudku, aku dan rekan dokter ku pulang ke Belgia bersama besok." Ralat Alia.


"Cepatlah sayang? Kasihan cucuku terlalu merindukan mu."


"Baik mami. Kami akan segera ke bandara." Alia mengakhiri sambungan teleponnya dengan ibu mertua.


"Apakah putraku sakit Alia?"


"Iya. Bisakah kita segera pulang sekarang, MARA?"


"Baik. Kita langsung ke bandara." Ucap MARA lalu meminta Houston untuk menghubungi pilot pesawat jet pribadinya.


Alia merasa ia terlalu lama meninggalkan putranya hingga anak itu jatuh sakit. MARA memeluk tubuh istrinya yang tiba-tiba sedih mendengar putra mereka jatuh sakit.


Di dalam pesawat MARA tidak bisa menuntut apapun pada istrinya karena pikiran Alia hanya tertuju pada putra mereka. "Apakah baby Aulia di rawat di rumah sakit?" Tanya MARA begitu pesawat mereka sudah mengudara.


"Yang di katakan mami seperti itu sayang. Semoga tidak ada sakit yang serius pada putraku." Ucap Alia cemas.

__ADS_1


__ADS_2