
Sepanjang perjalanan keduanya terdiam karena MARA sudah menyetel google map arah rumah Alia agar ia tidak perlu banyak tanya pada Cinderella nya yang sedang melamun menatap jalanan.
"Apakah kamu punya saudara, Alia?" Tanya MARA memecah kesunyian.
"Bagaimana tuan mengetahui nama saya?"
"Bukankah kamu tadi menulis nama dan alamat mu di buku milik montir?"
"Jadi tuan ikut mengintip apa yang aku tulis?"
"Jangan memanggilku Tuan, aku masih muda!"
"Jadi panggilnya Om?"
"Itu lebih parah karena aku tidak pernah mengenal tante mu."
"Jadi panggilnya apa ...?"
"MARA saja..!"
"Ok."
"Aku memiliki adik kembar Dewa dan Dewi. Mereka baru kelas 7 SMP."
"Apakah saat ini kamu masih sekolah?"
"Aku sekarang sudah kelas 12 sebentar lagi aku mau lulus. Saat ini lagi libur semester ganjil. Tahun depan baru masuk."
Tidak lama kemudian, MARA membelokkan mobilnya ke sebuah supermarket.
"Apakah ada yang anda mau beli, MARA?"
"Turunlah Alia!"
"Baik."
Keduanya sudah di dalam supermaket itu. MARA meminta Alia untuk mengambil cemilan kesukaan adik kembarnya Alia, sementara MARA sendiri mengambil berbagai kebutuhan rumah tangga, seperti minyak sayur, sabun mandi, deterjen dan masih banyak lagi yang biasa ia belanja untuk kebutuhan di apartemen miliknya.
Alia hanya mengambil secukupnya sementara MARA menambahkan beberapa cemilan lainnya untuk di masukkan ke troli belanjaannya.
Usai membayarnya di kasir, MARA memasukan semuanya ke dalam bagasi mobilnya dan keduanya melanjutkan perjalanan.
"Apakah kamu tinggal sendirian, MARA?"
"Hhmm!"
"Jadi belanja sendiri?"
"Hmm."
"Di mana rumahmu?" Tanya MARA saat google map menunjukkan arah lokasi rumah Alia yang sudah hampir dekat.
"Dua gang lagi. Tapi kamu nggak usah ngantar aku sampai rumahku! Aku mau turun di sini saja." Ucap Alia.
"Kenapa?" Tanya MARA tidak mengerti.
"Aku tidak mau menimbulkan fitnah dari para tetanggaku, jika melihat aku turun dari mobil mewah milikmu." Tolak Alia.
"Apakah kamu hidup dibawah bullying mereka?"
"Begitulah."
"Kenapa tidak sekalian saja kamu buktikan apa yang mereka duga?" Tantang MARA.
__ADS_1
"Aku hanya kasihan pada kedua orangtuaku kalau tingkahku akan membuat orang lain mencibir mereka." Jawab Alia.
"Apakah selama ini mereka membantu menyokong hidup kalian?"
"Tidak ..!"
"Kalau begitu jangan takut kalau kamu ingin sukses. Mereka tidak ingin melihat kalian bahagia apa lagi sukses. Mereka hanyalah segerombolan anjing yang sedang memperebutkan daging segar, makanya itu mereka menggonggong agar hatimu ciut dan tetap hidup di bawah kesederhanaan." Timpal MARA.
"Kemiskinan bukanlah sebuah dosa, MARA."
"Justru kemiskinan menjadikan kalian dicemooh kan." Timpal MARA.
"Biarkan saja mereka seperti itu karena kenyataannya seperti itu, MARA."
Alia hanya menarik nafas panjang. Ia merasa baru mengenal MARA tapi lelaki ini terlalu berlebihan memperlakukannya seakan mereka sudah lama kenal.
Saat mobil itu sudah parkir di depan rumah Alia, MARA membuka kap bagasinya dan menurunkan semua belanjaannya.
"Kenapa belanjaannya di turunkan semuanya?" Tanya Alia tidak mengerti.
"Karena ini untuk kalian." Ucap MARA.
"Tapi aku tidak memintanya."
"Aku ingin memberikannya untuk kalian. Aku tidak menerima penolakan atau motormu tidak akan aku kembalikan." Ancam MARA.
Adik kembarnya Alia keluar dengan wajah termangu. Mereka menatap Alia dan MARA secara bergantian saat keduanya sudah berada di depan teras.
"Wah...! Belanjaannya banyak sekali, kak? Apakah Abang ganteng ini yang membelikannya?" Tanya Dewi sambil meneliti setiap kantong belanjaan.
"Tolong bawain ke dalam, Dewi!" Titah MARA.
"Abang ini siapanya kak Alia?" Tanya Dewa.
Deggggg...
Alia menghunuskan tatapannya ke wajah tampan MARA, namun MARA hanya mengangkat kedua bahunya acuh.
"Sekarang aku pamit dulu. Nanti kalau motornya sudah tiba, tolong kabari aku. Hati-hati kamu di rumah, Alia." Ucap MARA sambil mengucapkan salam. Iapun sempat mengacak rambut Dewa.
MARA segera masuk ke mobilnya dan berangkat ke perusahaannya. Wajah bahagia MARA saat ini tidak bisa terlukiskan dengan
kata-kata.
"Mimpi apa aku semalam bisa bertemu dengan gadis itu dan bisa berduaan dengannya hari ini." Gumam MARA lirih sambil senyum-senyum sendiri.
Selang beberapa jam kemudian, seorang dealer motor mengantarkan motor baru atas nama Alia. Ibunya Alia nyonya Yuyun dan Alia keluar menemui pengantar motor itu saat kedua orang itu memberikan salam.
"Apakah ini rumah nona Alia?"
"Benar saya sendiri." Ujar Alia.
"Tolong paraf di sini, nona sebagai bukti tanda terima!"
"Tapi saya tidak membeli motor." Bantah Alia.
"Memang bukan anda yang beli motornya, tapi tuan Damara yang membelikan untuk anda." Ucap Tito, petugas dealer itu.
Motor baru dengan merk terkenal dan harganya cukup gila daripada motor yang biasa dipakai oleh teman-teman sekolahnya Alia.
"Ya Allah...! Ini berkah atau ujian?" Lirih Alia saat melihat motor metik itu sudah bertengger di teras rumahnya.
"Apakah, ini dari pemuda yang sama yang kamu ceritakan itu, Alia?" Tanya nyonya Yuyun.
__ADS_1
"Iya bunda." Ucap Alia terlihat sendu.
"Berarti dia menyukai kamu, Alia." Ucap Nyonya Yuyun.
Belum hilang rasa syok mereka, datang lagi paket untuk Alia dan adik-adiknya.
"Ini dengan nona Alia?"
"Iya bang, saya sendiri."
"Ini paket untuk anda dan tolong tanda tangan di sini." Pinta kurir itu.
Lagi-lagi Alia hanya menerima pemberian MARA dalam satu hari ini." Perbuatan baik apa yang kulakukan hingga mendapatkan rejeki bertubi tubi seperti ini, bunda?"
"Hanya Allah yang tahu nak, perbuatanmu yang mana penyebab berkah yang kamu tuai dari kebaikan kamu." Ucap nyonya Yuyun bijak.
Keduanya masuk ke dalam membawa paket dan ternyata ada lima ponsel untuk Alia dan keluarganya. Semuanya sudah di namakan masing-masing. Hanya kotak ponsel Alia yang sudah terbuka.
Satu paket lagi berisi seragam sekolah untuk si kembar dan Alia.
Ponsel untuk Alia lebih mewah daripada adik kembarnya dan juga orangtuanya.
Alia menyalakan ponselnya dan ternyata di layar itu sudah ada foto tampan milik MARA dan juga ada pesan dari MARA.
"Aku tidak ingin mendengarkan alasan penolakan darimu. Gunakan fasilitas yang aku berikan walaupun kita baru kenal, Alia. Calon suami, Damara." Tulis Damara disertai emoticon hati.
Alia menelepon MARA dengan perasaan yang sudah tidak enak. Ia bukannya senang tapi ia malah sangat takut. Ia menutup pintu kamarnya lebih rapat dan menunggu panggilan teleponnya dijawab oleh MARA.
"Hallo...!" Sapa MARA mesra.
"Apa yang kamu inginkan dariku? Apakah tidak cukup kamu memberikan belanjaan dapur dan sekarang motor, ponsel apa nanti kamu juga ingin membeli tubuhku, hah?" Sergah Alia.
"Untuk tubuhmu aku harus memberikan mahar yang mahal untukmu dengan mengucapkan ijab qobul dengan ayahmu, itulah harga terhormat untuk tubuhmu, Alia."
Ujar MARA lalu mengakhiri pembicaraannya karena ia tidak ingin Cinderella nya itu mengamuk padanya.
"Ke mana motorku? Kenapa belum datang juga." Alia mengirim pesan untuk MARA.
MARA malah tidak ingin membalasnya. Rupanya motor itu sudah di perusahaan MARA dan ia simpan bersama motor besarnya.
MARA saat ini sedang menikmati makan siangnya yang belum sempat ia makan dan tentu saja itu dari kantin bibi Ida. MARA makan sambil senyum-senyum sendiri membayangkan pertemuannya hari ini dengan Cinderella nya.
Bili yang baru masuk ke ruang kerjanya MARA hanya mengernyitkan dahinya.
"Apakah king sudah gila?" Batinnya.
"King ..!"
"Hmm!"
"Sepertinya anda terlihat bahagia sekali? Apakah ada kabar baik yang ingin anda ceritakan kepadaku?"
"Tentu saja Bili. Enam bulan lagi aku akan menikah."
"Dengan siapa king? Apakah anda tidak berminat lagi dengan gadis penolong itu?"
"Justru aku akan menikah dengan gadis penolong itu, Bili." Ujar MARA sambil terkekeh.
"Hahhh ..? Kapan ketemunya?" Tanya Bili.
"Hari ini ..?"
"What ...?"
__ADS_1