
Tangis penuh luka itu membuat MARA dirundung rasa bersalah. Meninggalkan Alia di saat bulan madu pertama mereka baru di mulai. Hatinya juga merasakan sakit melihat Alia terus menerus mengalirkan air bening itu dari bola indah matanya.
Saat baru mengetahui indahnya dunia dewasa. Saat baru merasakan apa itu lezatnya kenikmatan surgawi. Setiap inci raga memberi sensasinya tersendiri menjadikan waktu berlalu tanpa terasa.
Tiba-tiba di tinggalkan manisnya cinta dibaluti lagi dengan kerinduan tanpa kabar apapun dari sang kekasih.
Walaupun saat ini telah dipertemukan lagi, tidak bisa lagi dinikmati momen kerinduan itu karena hujaman kekecewaan yang tertinggal mendalam di sana, menjadi sulit untuk di hapus oleh Alia.
Walaupun cinta yang dibawa suaminya yang ingin membungkus kerinduan itu agar benang-benang kerinduan itu tak lagi sekusut seperti wajah sendu itu masih menarik hidung merah tertarik ingus bercampur air mata.
MARA tidak mau beranjak keluar walaupun berulang kali Alia mengulangi kata-kata yang sama untuk mengusirnya. Ia ingin. merangkul tubuh molek itu yang sangat ia rindukan dan menangkup wajah sendu itu agar bibir mereka kembali menyatu.
"Sayang...! Apapun ucapanmu aku pantas menerimanya. Tapi tolong jangan mengusirku pergi dari sini. Waktu yang ku lewati setiap saat cukup berat dan hampir membuatku gila.
Kerinduanku menumpuk di dadaku ingin ku selesaikan bersamamu agar tidak lagi membelenggu dadaku yang membuatku setiap saat terasa sesak. Aku merindukanmu Alia.
Jangan menghukum ku untuk menjauh dariku lagi." Pinta MARA lirih dengan mata berkaca-kaca menahan gejolak jiwanya yang saat ini ingin memeluk Alia namun pertahanan gadis itu begitu kuat agar tubuhnya menjauh dari wanitanya.
Jika ia nekat, maka Alia akan berontak dan jarum infus ditangannya akan tercabut dan itu akan membahayakan Alia. MARA mengusap wajahnya frustasi. Alia yang lembut dan sangat santun padanya dan bahkan gadis ini dulu berani menggodanya dengan manja membuat MARA tidak berhenti tersenyum.
Yah, hanya dengan Alia lekukan bibir Damara bisa terlihat menawan. Hanya senyumnya yang bisa ia berikan untuk Alia karena selebihnya wajah datar itu hanya ia suguhkan untuk orang lain.
Lambat laun pengaruh obat penenang kembali menyeruak mata indah Alia yang kembali meredup memaksanya untuk kembali menutup mata. Walaupun masih tersisa air mata di sana, tapi keadaan ini memaksa MARA untuk berani mendekat.
__ADS_1
"Baby..?" MARA naik ke tempat tidur untuk tidur bersama dengan istrinya. Ia menyesal telah membuat Cinderella nya kecewa pada dirinya yang terlalu larut dalam kesedihan yang rumit kala sang mami membeku di tempat tidurnya membuatnya enggan untuk melakukan apapun selain menatap wajah cantik ibunya yang terus tertidur hingga di saat-saat kerinduan MARA pada Alia tak mampu terbendung, nyonya Aisyah baru terbangun.
Saat mengetahui ibunya mulai sadar dan MARA merawatnya penuh cinta, di saat itulah MARA langsung pamit pada ibunya untuk menemui jantung hatinya yang semula ingin memberikan kejutan agar ia bisa melanjutkan bulan madu mereka di resort mewahnya, harus tertunda karena penculikan Alia yang membuat dunianya sesaat runtuh.
Beruntunglah ia datang tepat waktu. Jika telat sedikit saja maka status baru akan disandang MARA menjadi duda keren.
Keduanya sudah terlelap dalam mimpi indah mereka dengan lingkaran lengan MARA pada pinggang sang istri. Biarkanlah malam ini MARA melewati kerinduannya menunggu pagi menjelang.
...----------------...
Waktu azan subuh terdengar sayup-sayup dari ponsel MARA yang disetel kecil agar Cinderella nya tidak terganggu. MARA segera bangkit untuk membersihkan tubuhnya dengan mengambil air wudhu.
Alia masih terlihat pulas karena pengaruh obat penenang yang semalam disuntik lagi oleh suster agar istrinya MARA ini memiliki istirahat yang cukup. MARA melakukan sholat subuh sendirian di dalam kamar inap VVIP milik Alia.
Usai melakukan sholat subuh, MARA meneruskan membaca Alqur'an melalui aplikasi ponselnya. Samar-samar Alia mendengarkan suara khas milik suaminya melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an itu yang membuatnya terasa tenang.
Walaupun tidak terdengar tangisan itu, namun guncangan kuat dari tubuh MARA membuat Alia mulai luluh. Ia juga tidak tega pada suaminya yang ia siksa batin MARA semalaman. Rasanya sudah cukup menghukum suaminya.
Melihat suaminya seperti itu, membuat ia merasa sangat berdosa. Menyelamatkan nyawanya saja dari kobaran api itu sudah menjadi perjuangan yang sangat besar untuknya dari suaminya dengan tidak mempedulikan nyawanya sendiri. Apa lagi namanya kalau bukan CINTA.
"Maraaa...!" Lirih Alia membuat pemilik nama itu menghentikan tangisnya tanpa suara. Ia seakan merasa sedang berhalusinasi mendengar panggilan lembut dari istrinya.
"MARA...! Intonasi suara Alia lebih meninggi agar suaminya mau menghampirinya.
__ADS_1
"Baby...!" Gumam MARA sambil mengusap bersih air mata di pipinya. Ia segera bangkit lalu menghampiri istrinya dengan cepat.
Alia tersenyum samar pada penguasa hatinya itu yang memandangnya dengan tatapan sendu.
"Apakah kamu tidak merindukan aku, S-U-A-M-I-KU?" Tanya Alia lirih.
"Sangat Baby...!" Ucap MARA dengan rona bahagia bercampur haru.
"Kalau rindu kenapa masih berdiri saja di situ? apakah kamu tidak ingin menciumiku?" Tanya Alia mulai menggoda lagi suaminya.
"Mauuuuu ! pakai bingitt.." Batin MARA karena lidahnya sudah kelut bercampur haru. Mata itu kembali berkaca-kaca karena gejolak kerinduannya yang membuncah saat melihat sang istri menginginkannya lagi.
Alia mengangkat kedua tangannya menyambut suaminya. MARA dengan cepat menyongsong tubuh jenjang itu untuk ia bawa ke dalam dada bidangnya.
"Baby....Miss you my wife!" Lirih MARA sambil mengusap lembut rambut istrinya yang masih terasa bau asap.
Walaupun begitu, bagi MARA, aroma itu sangat wangi baginya saat ini karena rasa bahagianya mengalahkan bau asap itu. MARA menciumi seluruh wajah sang istri namun saat bibir keduanya hendak berdekatan untuk memagut, ada saja pengganggu yang datang yaitu suster dan dokter yang melakukan visit di pagi buta itu.
"Sial...! Apakah mereka tidak bisa menunggu ku sebentar saja karena baru saja ada perdamaian dunia cintaku saat ini?" Gerutu MARA membatin dengan memasang kembali wajah datarnya menatap wajah dokter Ni Made Ayu yang siap memeriksa lagi keadaan istrinya dengan stateskop.
"Keadaan nona Alia sudah membaik karena semalaman kami rutin memberikan obat untuk membersihkan organ paru-parunya. Mungkin sore ini. nona Alia sudah bisa di bawa pulang, Tuan!" Ucap dokter ni Made.
"Apakah istriku memerlukan rawat jalan lagi di rumah sakit Jakarta usai pulang dari sini dokter?" Tanya MARA untuk memastikan keadaan Alia agar benar-benar pulih.
__ADS_1
"Silahkan tuan! kalau tuan ingin nona Alia sudah terbebas dari asap yang masuk ke paru-parunya agar menjaga hal-hal yang tidak di inginkan olehnya tapi, ada yang terlewatkan oleh saya Tuan yang lupa saya sampaikan kepada anda." Ucap dokter Ni Ayu terjeda membuat Alia dan MARA sama-sama menunggu kelanjutan ucapan dokter Ni Made Ayu.
"Apa dokter?" Tanya keduanya kompak.