GADIS PENOLONG Sang Mafia

GADIS PENOLONG Sang Mafia
9. Kehangatan Keluarga


__ADS_3

Ritual pernikahan sakral itu sudah di lewati pasangan ini. MARA pamit kepada mertuanya untuk ke kamar pengantin mereka yang belum dilihat oleh Alia sejak ia tiba di villa itu.


Ketika pintu kamar itu dibuka perlahan oleh Alia, nampak lah kemewahannya yang benar-benar memanjakan manik hitam legam milik Alia.


"Masya Allah. Ini sangat indah dan elegan, MARA." Ucap Alia begitu bahagia.


"Aku ingin menciptakan surga kecil untukmu di dunia ini Alia, sebelum engkau melihat surga sesungguhnya yang Allah janjikan untuk para hambaNya yang Sholih." Ucap MARA.


"Surga dunia itu hanya kita rasakan di hati kita, saat kita melihat sesuatu dan menerima apapun yang yang berikan Allah untuk kita dengan kita merasakan kenyamanan, ketenangan dan kesabaran, itulah surga yang kita yang sesungguhnya, MARA. Dan jaminan surga ku adalah kau MARA, suamiku." Ucap Alia dengan tatapan lembut.


Deggggg...


"Bagiku apapun yang disuguhi ujian secara finansial atau penghinaan yang aku terima, tidak pernah aku keluhkan kepada Allah, kecuali satu hal yaitu pengkhianatan MARA." Lanjut Alia sambil menatap mata elang milik suaminya.


"Aku memilihmu karena aku tidak lagi berpikir tentang wanita manapun. Insya Allah Alia, kamu akan mendapatiku adalah seorang suami yang setia.


Kamu sudah memberikan segel kepemilikan mu di hatiku hingga Aku tidak tertarik lagi pada makhluk yang sejenis mu karena ada satu wanita dalam hidupku kini adalah kamu yang akan menjaga dan merawat ku di kalah sakit maupun sehat. Dikala suka maupun duka." Ucap MARA meyakinkan istrinya.


Entah kapan tangan MARA bergerak bebas yang membuat kancing kebaya yang di kenakan Alia sudah terbuka semua.


Kini MARA hanya ingin melihat miliknya yang telah ia halalkan barusan. MARA menahan nafasnya saat kebaya itu sudah bebas dari tubuh Alia.


Dan kini bawahan batik itu sudah teronggok di atas lantai. Alia menggigit bibir bawahnya dengan tubuh yang terasa sangat gemetar membuat MARA juga tidak tega untuk menyentuh gadis berusia 17 tahun ini.


Walaupun masih ada dua bahan lagi yang menutupi aset berharga milik istrinya, tapi MARA membiarkan itu tetap pada tempatnya. Ia membantu Alia melepaskan Tiara mahkota di atas kepala istrinya dan beberapa jepitan yang cukup banyak di rambut itu.


Semuanya akhirnya selesai juga. Dan MARA menggendong tubuh Alia ke tempat tidur. Ia juga sudah membuka bajunya sendiri dan menyisakan boxer miliknya untuk menutupi benda perkasanya.


Tubuh mereka sudah berada dibawah selimut. Alia tidak lagi bergumam karena lidahnya terasa kelu saat ini. Apa lagi melihat tubuh kekar suaminya yang terlihat sangat sempurna dan dia memilih bersembunyi di dada bidang itu yang sangat harum membuatnya sangat nyaman daripada menatap mata elang suaminya yang membuatnya makin gugup.


"Apakah kamu takut sayang?"

__ADS_1


Tanya MARA yang sudah memeluk erat tubuh Alia. Ia merasakan kelembutan kulit milik Alia yang baru saja mendapatkan perawatan tadi sore.


"Aku...aku ...!" Alia tidak mampu meneruskan kata-katanya karena semuanya begitu mendadak hingga ia tidak punya rencana untuk mempersiapkan mental dan tubuhnya untuk ia berikan kepada suaminya.


MARA memaklumi keadaan istrinya. Ia merenggangkan pelukannya dan meraup wajah cantik Alia.


"Apakah aku boleh mencium bibirmu, sayang?" Tanya MARA dengan suara bergetar hebat.


"Apakah aku cantik MARA?" Tanya Alia karena ia belum pernah mendengar MARA memuji dirinya sedari tadi.


MARA baru ingat bahwa wanita tidak bisa disentuh kalau ia belum mendengar puji-pujian dari suaminya.


"Di saat aku pertama kali bertemu denganmu, kamu terlihat sangat cantik Alia. Saat kamu mengibaskan rambutmu yang basah terkena hujan, saat itulah aku terpana dengan kecantikan mu dan malam ini, kamu menjelma menjadi seorang bidadari walaupun setiap aku melihatmu kamu terlihat tetap cantik. Dan malam ini kamu sangat cantik." Puji MARA.


Perbedaan usia delapan tahun dengan Alia, tidak mudah bagi MARA untuk menghadapi gadis remaja ini. Apalagi Alia belum lulus SMA. Mental Alia juga masih labil. Walaupun pikirannya terlihat dewasa karena tuntutan hidup tapi soal urusan cinta, Alia masih sangat mentah dan MARA ingin membimbing sendiri istrinya agar mental Alia matang secara perlahan.


Alia memberanikan diri mengecup bibir suaminya. MARA spontan tersentak melihat ulah wanitanya.


Keduanya saling berciuman. Karena sama-sama belum pernah merasakan bagaimana caranya berciuman, mereka hanya mengandalkan insting untuk melakukan sebaik mungkin.


Malam itu tidak ada yang istimewa karena janji MARA pada istrinya hanya untuk menemaninya tidur bukan untuk bercinta. MARA ingin melakukannya saat istrinya sudah dinyatakan lulus dari sekolahnya.


...----------------...


Pukul tiga pagi, Alia sudah membersihkan dirinya untuk melakukan sholat tahajud yang sudah rutin ia lakukan. Dengan mukena barunya pemberian sang suami, wajah Alia terlihat sangat cantik saat ia sudah khusu dalam sholatnya.


MARA memperhatikan istrinya sambil mengagumi kecantikan dan kesalehan Alia." Ya Allah nikmatMu yang mana lagi yang aku kufur kan karena selama hidupku Engkau memberikan ku kemudahan hingga mendapatkan istriku seperti Alia. Tolong jangan pisahkan kami ya Allah dan jagalah kami dari api nerakaMu." Batin MARA lalu ikut bangkit untuk menunaikan sholat tahajud.


MARA memang jarang melakukan sholat tahajud, tapi ia tidak mau menjadi kepala keluarga yang tidak bisa memberi panutan untuk anak-anaknya kelak. Setidaknya ia harus berlatih mulai dari awal pernikahan mereka.


Alia yang melihat suaminya sudah khusu dalam sholatnya tersenyum bahagia." Semoga iman dan ketakwaan kita terpelihara dalam bimbingan Allah, sayang. Semoga Allah selalu menjagamu dari kemaksiatan dan mara bahaya... aamiin."

__ADS_1


Sambil menunggu suaminya selesai sholat tahajud Alia membaca beberapa ayat Alquran sambil menunggu kedatangan adzan subuh. Saat sudah azan subuh pasangan ini memilih menunaikan sholat subuh berjamaah untuk pertama kalinya.


Pagi itu, Alia dan ibunya meminta pelayan untuk mengijinkan mereka memasak. Awalnya pelayan menolak tapi ketika diberi pengertian oleh Alia, mereka mengalah dan membantu yang dibutuhkan oleh majikan baru mereka ini.


Alia membuat nasi goreng seafood dan omlet. Sementara nyonya Yuyun membuat roti panggang pisang coklat dan juga susu. Ia juga menggoreng pisang yang merupakan hasil dari kebun di villa itu.


Pagi itu keluarga ini menikmati sarapan pagi mereka di meja makan yang ada di luar sambil menikmati deburan ombak.


Pak Hadi dan Bu Yuyun terlihat haru karena merasakan kenikmatan yang Allah berikan kepada mereka dengan mengirim menantu seperti MARA sehingga mereka bisa menikmati semua ini. Makan sambil melihat laut lepas.


"Ayah, Dewa pingin berenang." Pinta Dewa dan Dewi juga menginginkan hal yang sama.


"Kalian boleh berenang tapi harus bersama ayah." Ucap pak Hadi.


"Alia juga mau berenang ayah." Pinta Alia manja kepada ayahnya.


"Pinta lah sama suamimu Alia bukan pada ayahmu lagi, lupa ya kalau kamu sudah menjadi istrinya, nak MARA?" Semprot nyonya Yuyun pada putrinya.


"Oh iya lupa, kirain Alia masih gadis." Ucap Alia sambil menepuk jidatnya.


"Memang masih gadis, sayang. Kan belum diapa-apain." Ledek MARA setengah berbisik.


"Kamu kan sudah cium aku semalam dan itu ciuman pertamaku." Protes Alia.


"Tapi segelnya belum dilepas sayang, jadi masih gadis tulen." Ucap MARA.


"Siapa suruh nggak mau di lepasin?" Tantang Alia membuat MARA salah tingkah sendiri, pasalnya si junior langsung merespon.


Alia mengerlingkan matanya sambil membasahi bibirnya menggoda sang suami.


"Kalau begini caranya, sepertinya aku tidak bisa bertanggungjawab untuk menunggumu lulus SMA, sayang." Bisik MARA sambil menyeringai licik.

__ADS_1


Degggg....


__ADS_2