Gadis Tapi Janda

Gadis Tapi Janda
tanggung jawab


__ADS_3

Alice memperhatikan wajah Naya yang berubah menjadi pucat. Bagaimana tidak, Alice adalah sahabat dari musuh nya. Ia pasti takut rahasia nya tersebar dan akan menghancurkan sekolah nya


"Udah, tenang aja! Gue gak akan kasih tau siapapun" ujar Alice


"Serius, makasih Al, gue bakal lakuin apapun yang Lo mau. asal Lo gak kasih tau siapapun soal ini" jawab Naya yang kembali bersemangat sembari mengengam tangan Alice untuk memohon


Tak lama, alarm pengumuman berdering. Semua siswa berkumpul di lapangan. Para guru bergegas membawa para siswi berbaris di depan toilet untuk mulai pengecekan masal


"Masuk sesuai urutan absen ya.. Ani" ujar ibu Siti sembari membukakan pintu toilet dan memberikan tespek ke Ani


Setelah beberapa menit, Ani keluar dari toilet sembari membawa tespek bergaris 1 yang menandakan negatif. Ia pun bergegas menyuruh nya ke keals


"Selanjutnya, Alice" panggil ibu Siti. Naya terlihat pucat dan berusaha untuk tenang. Tak lama, Alice diam-diam memberikan tabung kecil berisi air seni nya kepada Naya untuk di gunakan tes.


"Selanjutnya, Anaya" panggil ibu Siti. Naya pun bergegas masuk ke toilet dan mengunakan tespect tersebut dan menunjukkan hasil negatif


"Thanks Al" ujar Naya sembari menangis terharu. Ia memeluk Alice dengan erat karena telah membantu nya untuk keluar dari masalah besar


Singkat cerita, Naya mencari keberadaan Darren yang Ntah kemana. Ia terus menghubungi nya.  Namun, tak ada jawaban. Ia pun bergegas mendatangi rumah Darren dan terus memanggil nya


"Nyari siapa dek?" Ujar ibu Suki tetangga Darren


"Nyari Darren buk" ujar Naya sembari tersenyum ramah


"Oh, gak ada di rumah dek. Itu rumah udah kosong sekarang! Daren sekeluarga udah pindah ke luar negeri katanya" jawab ibu Suki yang masih sibuk menyirami tanaman di halaman nya


"Hah, kemana buk?" Tanya Naya semangkin Panik


"Waduh, kalo itu ibu gak tau. Kayaknya ada perdebatan hebat sebelum pindah. Ibu jadi gak berani nanya" jawab ibu Suki


Mendengar hal tersebut, Naya pun bergegas pergi meninggalkan rumah Darren dengan tatapan kosong. Ia tak percaya bahwa kekasihnya yang sangat ia sayangi tak ingin bertanggung jawab atas kehamilannya


Sepanjang perjalanan, Naya menangis tiada henti. Ia terus memukuli perutnya berharap cabang bayi tersebut punah. Tak lama, handphonenya berdering. Ia pun dengan semangat menjawab telpon tersebut


"Darren, kamu dimana?" Ujar nya sembari menghapus air matanya


"Maaf nay, aku pergi tanpa pamit. Kamu jangan berharap sama aku lagi ya. Orang tua ku gak suka liat aku sama kamu. Aku juga gak mau masa depan ku hancur karena bayi itu. Ini jalan satu-satunya yang terbaik untuk kita. Kamu jangan cari aku ya" ujar Darren.

__ADS_1


Jantung Naya berasa terhenti, nafas nya sesak seakan ingin meninggal saat itu juga. Kaki dan tangan nya gemetar dan tak terasa, air Mata nya tumpah membasahi pipi


"Tapi, kamu bilang mau tanggung jawab!" Ujar nya dengan nada berat


Darren tak menjawab lalu mematikan telpon nya. Ia melempar handphonenya ke dalam sungai agar Naya tak dapat mencari nya lagi


Disisi lain, Naya berjalan kaki melewati jembatan yang hampir gelap karena matahari telah terbenam. Ia pun menaiki atas jembatan tersebut dan membentangkan kedua tangannya yang bersiap untuk terjun


disisi lain pula, Hans tengah mengendarai mobilnya dan melewati jembatan tersebut. Ia melihat siswi yang bersiap untuk lompat ke sungai yang tengah mengalir deras


"Itu siswi Internasional school kan? ngapain berdiri disitu pake seragam sekolah" ujar Hans sembari menghentikan mobilnya


"Haha! pasti mau bunuh diri karena Putus cinta" ujar Hans sembari keluar dari mobil nya dan bersender dengan nyatai untuk menyaksikan siswi tersebut lompat dari jembatan.


"Eh, kok kayak Naya!! eh, beneran Naya" ujar Hans sembari berlarian menarik seragam Naya yang membuat nya terjatuh di dalam pelukan Hans


"Lepas!!" ujar Naya memberontak dan hendak naik kembali ke jembatan


"heh!! punya masalah apa sih Lo? Gak harus bunuh diri juga solusinya! Lo sendiri yang bilang kalo mati gak akan menyelesaikan masalah" ujar Hans sembari menahan tangan nay dengan keras


"Lo gak ngerti Hans!! lepasin gue" ujar Naya sembari memberontak


"Hey, lepaskan putri ku!! mau kau apakan?" ujar Ilham sembari menarik Naya dari genggaman Hans dan memeluknya


"Oh, itu anak bapak? Dia mau bunuh diri tadi! gak tau deh kenapa" ujar Hans sembari memegangi tangan nya yang terluka akibat benturan yang di sebabkan oleh Naya


"Apa? kenapa Naya? Cerita ke papa" ujar pak Ilham sembari memegang kedua pundak Nay yang terus menangis


"Kayaknya karena putus sama Darren deh pak! kan tadi orang tua Darren ke sekolah untuk ngurus surat pindah" ujar Hans sembari mengaruk kepalanya


"Benar itu Naya!! sudah berapa kali papa bilang kalo pacaran itu cuma merusak hati, mood dan mental" ujar Ilham sembari berteriak. namun, Naya hanya diam sembari menangis


"Saya pulang ya pak" ujar Hans hendak kembali ke mobilnya


"Tunggu!! Bapak antar ya nak" ujar pak Ilham sembari menahan tangan Hans


"Gak usah pak. saya bawa mobil kok" ujar Hans sembari memberikan salam

__ADS_1


"tapi tangan mu terluka. apa masih bisa menyetir" ujar Ilham sembari mengangkat tangan Hans yang terluka


"Gapapa kok pak. ini cuma leset. keliatan parah karena lagi pake baju putih" ujar Hans sembari tersenyum


"Ya sudah kalau begitu! terimakasih ya sudah mengagalkan niat Naya untuk bunuh diri" ujar Ilham sembari menepuk pundak Hans


Singkat cerita, Pak Ilham dan Naya telah kembali kerumahnya. Namun, Naya hanya diam mengurung dirinya dikamar dan tak bersuara yang membuat pak Ilham dan ibu Arum bingung


Tak lama, sebuah notifikasi pesan yang masuk ke handphone Naya. Naya yang masih berharap akan kembalinya Darren pun dengan semangat membuka isi pesan nya


"Nay, Lo gapapa kan?" ujar isi pesan yang di kirim oleh Hans. melihat hal tersebut, Naya tak merespon dan terus menangis


"Nay, Apapun yang tejadi Lo pasti bisa melewati itu semua! Lo wanita kuat" tambah Hans


Disisi lain, Hans tengelam dalam lamunannya sembari memetik gitar dan menunggu respon dari Naya. tak lama, Rere masuk ke kamar Hans untuk mengantarkan makan malamnya


"Hans, makan dulu biar gak sakit" ujar Rere sembari meletakkan makanan di atas meja. Namun, Hans hanya diam tak merespon ibu nya


"Hans!! are you okay?" ujar Rere sembari menepuk pundak Hans dan duduk di sebelahnya


"hah!! iya mah, ada apa?" ujar Hans sembari meletakkan gitarnya


"kamu ngelamunin apa sih? jangan-jangan mikirin cewek ya?" ujar Rere yang membuat Hans salah tingkah


"Eh, bener ya? muka nya jadi merah gitu" tambah Rere sembari tertawa kecil untuk mengejek putra nya


"apaan sih mah!! nggak kok" ujar Hans sembari mengambil air putih di atas meja


"kenalin ke mama dong" ujar Rere semeringai sembari mencolek pinggang Hans


"Apaan sih ma!! nggak ada" ujar Hans sembari meminum air putih nya


"Gak usah malu-malu! kapan-kapan bawa kerumah ya. biar nanti kamu gak mama jodohin! takut nya kamu gak normal karena gak pernah bawa cewek kerumah" ujar Rere sembari beranjak pergi dari kamar hans. Sedangkan Hans hanya diam mematung sembari terus memikirkan Naya


"Naya kenapa gak balas massage gue! semoga aja dia gak kenapa-kenapa" ujar Hans sembari merebahkan tubuhnya


Keesokan harinya. Semua murid telah masuk ke kelas masing-masing untuk menunggu kehadiran guru pelajaran. tak lama, Naya masuk ke kelas dengan tatapan kosong dan menjadi pusat perhatian para murid

__ADS_1


Sisil dan Maya yang melihat sahabatnya berubah tak seperti biasanya pun segera menghampiri nya untuk mengetahui apa yang terjadi. Namun, Naya tetap mengabaikan sahabatnya itu


__ADS_2