
Udah, Lo pulang aja! Rumah gue gak jauh dari sini. Bentar lagi ortu gue datang" ujar Hans dengan lembut. Namun, Naya tetap tak ingin pulang jika orang tua Hans belum tiba ke rumah sakit tersebut
Tak lama, Renata pun tiba ke rumah sakit menjenguk putra nya. Ia tergesa-gesa melangkahkan kaki nya menyusuri lorong rumah karena khawatir
Sesampainya di ruangan Hans. Ia menjatuhkan tas nya saat melihat kondisi putra nya yang penuh lebam. Dengan mata yang berkaca-kaca, ia berjalan perlahan menghampiri Hans yang tetap tersenyum lebar menyambut ke hadirannya
Rena memeluk putra nya dengan erat sembari menangis sejadi jadinya."mah, ada temen Hans loh! Hans jadi malu" ujar nya berbisik pada Rena
Mendengar hal tersebut, Rena pun melepaskan pelukannya sembari menghapus air matanya. Ia tersenyum malu saat berhadapan dengan Naya yang masih berada di ruangan tersebut menyaksikan kasih sayang nya.
"Hai, maaf ya. Tante gak lihat kamu tadi" ujar nya sembari menghampiri Naya
"Iya Tan, Naya ngerti kok" jawab nya dengan sopan sembari tersenyum lebar
"Dia yang bawa Hans ke rumah sakit mah" tambah Hans
Mendengar hal tersebut, Rena memeluk erat Naya sebagai tanda terimakasih nya. Tak lama, bara masuk ke ruangan putranya. Ia memberikan sebuah cek berisi uang tunai sebesar dua ratus juta untuk Naya. Namun, dengan sopan. Naya menolak cek tersebut
"Ini tanda terimakasih om karena sudah menyelamatkan nyawa Hans. Kalo kamu gak terima om marah loh" ujar bara sembari meletakkan cek di atas tangan Naya dengan paksa
"Ta-tapi om, Saya ikhlas bantu Hans kok" jawab nya hendak mengembalikan cek yang ia pegang
"Om juga ikhlas kasih kamu cek itu. Udah terima aja!" Ujar bara yang tetap memaksa Naya untuk mengambil cek yang ia beri
"Udah nay, ambil aja! Nanti papa tersinggung loh" tambah Hans sembari tersenyum
"Iya nak, Om sama Tante sangat kecewa kalo kamu gak terima cek itu. Simpan aja untuk keperluan kamu ya" tambah Rena sembari mengelus pundak Naya dengan lembut.
Dengan berberat hati, Naya pun menerima cek tersebut. Ia pun hendak berpamitan untuk pulang. Tapi tak lama, Stella bersama Alice masuk ke ruangan Hans. Alice yang telah lama menguping di depan pintu pun menatap Naya dengan sinis
__ADS_1
"On,Tante. Naya pulang dulu ya" ujar Naya sembari tersenyum
"Iya nak, nanti di antar anak buah om ya" ujar bara sembari mengambil telpon dari kantong jas nya untuk memberi perintah ke anak buahnya
"Gak usah om. Naya bawa mobil sendiri kok" ujar Naya dengan lembut
"Oh, ya udah. Hati-hati ya" tambah Rena sembari tersenyum senang
Singkat cerita, Naya pun kembali ke rumahnya. Sedangkan bara, Rena dan Stella pergi keluar meninggalkan Hans dan alice agar semangkin dekat. Karena Orang tua Hans dan Alice telah berencana untuk menjodohkan mereka. Tanpa disadari bahwa Hans dan Alice memang sudah berpacaran diam-diam sejak lama
"Kenapa Lo?" Tanya Hans saat melihat wajah Alice yang masam
"Berisik Lo!!" Jawab Alice dengan ketus sembari duduk di sofa
"Kenapa setiap kali gue dekat Naya selalu berdebar. Tapi jantung gue gak berdebar kalo dekat Alice" ujar Hans di dalam hati sembari memandangi Alice yang sibuk dengan handphone nya.
"Apa gue suka sama Naya? Tapi kan Alice pacar gue" gumam Hans sembari mengalihkan pandangan nya ke langit-langit kamar
Disisi lain, Naya menemui Darren dan menampar keras wajah nya. Sedangkan Darren hanya pasrah saat Naya memukuli dirinya "Lo gila apa gimana!" Ujar Naya dengan kesal
"Dia duluan babe! Kalo dia gak nyari masalah dengan pegang-pegang kamu saat itu. Hal ini gak mungkin terjadi" jawab nya dengan lembut sembari memegang kedua tangan Naya
"Lo mukul dia bukan karna itu! Lo cuma gak terima di pukul depan publik siang tadi kan" ujar Naya yang membuat Darren terdiam sembari menundukkan kepalanya
"Udah jelas semua nya!" Tambah Naya sembari menarik tangan nya dan Pergi meninggalkan Darren yang masih terdiam mematung. Namun, langkah kaki nya terhenti saat melihat polisi sudah menunggu di depan pintu
Darren yang panik melihat polisi pun bergegas kabur melewati jendela. Namun, polisi sudah mengepung tempat tersebut dan berhasil menangkap nya. Darren berserta teman-teman nya pun di adili atas perbuatannya
Berita tersebut menguncang sosial media. Dikarenakan Darren dan temannya masih dibawah umur. Mereka pun di jatuhi hukuman penjara tiga bulan untuk memberikan efek jera
__ADS_1
Beberapa Minggu kemudian, Hans telah pulih kembali dan dapat melanjutkan studi nya seperti biasa. Kejadian tersebut membuat Naya merasa bersalah padanya dan membuatnya semangkin dekat.
Alice memperhatikan kedekatan Hans dan Naya dari kejauhan. Sedangkan raya yang tak terima pun menghampiri mereka
"Wah, keren ya nay! Dulu Darren. Eh, Darren nya gak ada dan sekarang ngedeketin Hans! Gak sekalian aja semua cowok di sekolah ini. Biar keliatan murahannya" ujar raya sembari duduk di meja sebelah Naya dan Hans
"Heh, nenek lampir! Iri aja lu" jawab Maya yang membela sahabatnya
"Dih Najis" cetus raya sembari mengangkat kedua kaki nya di atas meja
"Alice, Noni pijetin dong. Tangan gue pegal banget" tambah raya sembari mengibaskan tangannya. Mendengar perintah dari raya. Alice dan Noni pun dengan senang hati menuruti keinginannya
"Pftt! Alice, Alice! Mau aja di jadiin babu" cetus Hans sembari membalikkan lembar halaman buku yang ia baca
"Apaan sih! Berisik banget" jawab Alice dengan dingin dan terus memijati Raya
"Raya, sini dong" ujar Hans dengan lembut sembari tersenyum kecil.
Raya yang memang menyukai Hans pun segera menghampiri Nya dengan tergesa-gesa "kenapa Hans?" Ujar nya dengan girang
"Pijetin kaki gue dong" ujar Hans Sembari mengangkat kedua kaki nya ke atas meja. Mendengar hal tersebut, raya pun dengan semangat memijati kaki nya
"Sekalian tuh, dua babu Lo suruh pijetin kaki satunya" tambah Hans dengan angkuh sembari tersenyum dan menaikkan satu alisnya untuk mengejek Alice
"Kalian berdua gak dengar ya!! Ayo buruan pijetin Hans" seru raya dan Noni pun mengikuti perintah raya kevuali Alice yang enggan memijat Hans
"Gue bukan babu Lo!! Enak aja" jawab Alice
"Kenapa? Kalo Lo bisa jadi babu raya. Kenapa Lo gak bisa jadi babu gue juga?" Cetus Hans yang membuat Alice bertambah kesal
__ADS_1
"Al, jangan bandel deh! Lo mau rahasia Lo gue bongkar" ujar raya dengan pelan namun menekan nada bicaranya. Mendengar ancaman raya. Alice pun panik dan melangkahkan kakinya menghampiri Hans dan memijat tangannya