
Elina nampak kesal karena ulah Reyz yang menghukumnya tadi siang membuat Elina semakin susah untuk berjalan dan hal itu membuat Raya dan Jonathan tertawa terbahak-bahak saat mereka mengantarkan semua keperluan Elina dan Reyz untuk berbulan madu.
Dan saat ini sepasang suami istri itu tengah duduk di dalam pesawat pribadi mereka yang akan mengantarkan mereka ke Swiss.
Elina masih terlihat kesal dan memilih untuk duduk menjauh dari Reyz dengan wajah tertekuk cemberut, namun hal itu membuat Reyz tersenyum bahagia.
''Sayang kau masih marah ?''
''Kau pikir saja sendiri ''
Reyz menghampiri Elina dan duduk di samping sang istri diraihnya tangan Elina dan menciuminya.
''Maafkan aku, aku tak akan melakukannya lagi jika kau tak suka ''
''Bu-bukan begitu...
Elina merasa bersalah karena telah membuat Reyz berpikiran jika dia tak suka dengan apa yang Reyz lakukan tadi.
''Lalu kenapa kau masih marah ?''
''Aku hanya kesal, karena ulahmu Raya dan Jonathan sampai menertawakanku tadi , percuma aku menghukum mereka jika akhirnya aku sendiri yang kalah dan pasti saat ini mereka masih menertawakanku''
''Oh... jadi karena itu istri ku ini kesal ?''
''Kau pikir karena apa ?''
''Baiklah, aku akan memberikan hukuman pada Raya dan Jonathan karena mereka telah berani menertawakan istri ku ''
''Apa yang akan kau lakukan ?''
Reyz meraih ponsel miliknya untuk menghubungi seseorang yaitu Jonathan.
''Jo, terima hukuman dariku karena kau istri ku merajuk aku tak mau tahu kau harus push up 100 kali sekarang juga!!!''
Tanpa menunggu jawaban dari Jonathan, Reyz mematikan sambungan telepon selulernya Elina memeluk bahu Reyz dengan suka cita
''Apa kau yakin Jo, akan melakukannya ?''
''Aku tahu dia akan melakukannya ''
''Bagaimana kau bisa seyakin itu?''
Reyz, memperlihatkan ponselnya yang tersambung dengan cctv di rumah Kakek Hadi terlihat Jonathan sedang melakukan hukuman yang Reyz berikan.
__ADS_1
''Dia benar-benar melakukannya''
Elina tersenyum bahagia melihatnya.
''Kau senang ?''
''Hemmm...aku sangat senang , oh ya Raya juga harus mendapatkan hukuman juga''
Elina meraih ponsel miliknya dan bergegas menghubungi Raya sang asisten.
''Raya, aku ingin kau makan makanan pedas yang aku siapkan di lemari pendinginku, dan kau harus video call saat kau memakannya di hadapanku sebagai hukuman karena kau berani menertawakanku''
Seperti Reyz, Elina juga menutup panggilan tanpa menunggu jawaban dari Raya, kali ini Elina tersenyum puas karena berhasil menghukum sahabatnya itu.
''Kau sadis juga sayang''
''Itu sebanding dengan ulahnya , sudahlah aku lelah dan aku ingin tidur ''
Elina menarik tangan Reyz untuk di jadikan bantal annya tidur, Reyz memeluk bahu sang istri dan mendaratkan ciumannya di kepala sang istri.
''Tidurlah,aku akan menjagamu , I love you ''
''I love you too ''
Beberapa jam setelah sekian lama akhirnya mereka tiba di Swiss.
Jonathan memerintahkan manajer untuk menyambut sang CEO yang akan berbulan madu di Swiss selama beberapa hari ke depan.
Dengan diantarkan sang manajer Reyz dan Elina menuju kamar pribadi mereka.
''Silahkan Tuan muda, semoga anda nyaman di Hotel kami'' ucap sang manajer dengan bahasa Swiss tentunya
''Terimakasih''
jawab Reyz yang juga fasih berbahasa Swiss.
Elina terlihat masih terlelap dalam pelukan Reyz, sejak turun dari pesawat Reyz dengan penuh cinta membopong tubuhnya seolah ia tanpa beban.
Para staf dan karyawan Hotel yang melihat mereka nampak terkagum-kagum dengan perhatian yang Reyz berikan kepada sang istri.
Reyz membaringkan tubuh Elina di tempat tidur dengan perlahan supaya Elina tidak merasa terganggu dengan kondisi di sekitarnya ia ingin sang istri beristirahat setelah ia menggempur nya habis-habisan.
Sebenarnya Reyz ingin sekali untuk membangun kan Elina namun ia tak tega melihat kondisi Elina akibat ulahnya hingga kesusahan untuk berjalan.
__ADS_1
''Maafkan aku sayang, entah apa yang kau miliki hingga kau membuat ku begitu tergila-gila padamu''
Reyz beranjak dan mengecup kening dan bibir Elina sejenak sebelum ia ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
🌿🌿🌿🌿🌿
Sementara itu di Indonesia saat ini di kediaman Wijaya tengah terjadi keributan akibat ulah Damar yang datang bersama beberapa orang anak buah Danu.
'' Damar, apa yang kau lakukan disini ? bukannya kau di penjara ?''bagaimana kau bisa bebas?'' Indra dengan suara keras sembari memeluk sang istri yang ketakutan.
'' Mas Indra,, tidak perlu tahu bagaimana aku bisa keluar dari penjara , aku hanya ingin tahu dimana Elina berada ?''
''Untuk apa kau ingin tahu dimana Elina ? dia sudah bahagia bersama suaminya '' timpal Mira
PRAAAAAANNNNGGGG
Damar melempar vas bunga ke lantai dengan kasar membuat semua orang di kediaman Wijaya ketakutan begitu juga Mira.
''Jangan kalian pikir aku akan terima begitu saja, aku tak peduli jika Elina sudah menikah atau belum dia hanya milikku dan aku pastikan itu'' Damar dengan berapi-api
''Kau sakit Dan.... kau harus ke psikiater '' tukas Indra
''Hahaha..... terserah apa yang Mas katakan bagiku Elina tetap milikku''
''Kau gila....''
''Kalian yang membuatku seperti ini, jika saja kalian biarkan aku untuk mendapatkan Elina semua ini tak perlu terjadi ''
''Biarkan Elina bahagia bersama suaminya, jangan pernah kau mencoba untuk mengganggu atau menyakiti mereka atau kau akan menanggung akibatnya '' Indra dengan menatap tajam Damar
''Kau tak akan bisa melarang ku Mas Indra, aku yang sekarang bukanlah Damar yang dulu yang bisa kau bodohi aku punya segalanya untuk menghancurkan kalian semua yang menghalangiku untuk mendapatkan wanita yang aku cintai'' Damar dengan penuh percaya diri
''Kau tidak akan pernah bisa melakukannya ''
Mira dan Indra menatap Damar dengan penuh emosi tanpa di sadari Damar, Indra memanggil polisi .
Suara sirine polisi membuat Damar bergegas pergi di ikuti orang -orangnya meninggalkan kediaman Wijaya.
Mira memeluk Indra dengan tubuh gemetar ia sangat ketakutan akan keselamatan Elina dan Reyz.
''Pah, bagaimana ini Damar sangat berbahaya, aku sangat mencemaskan El''
''Jangan cemas Elina berada di tangan yang tepat, Papah yakin Reyz akan melindungi nya dengan baik ''
__ADS_1
''Semoga saja apa yang Papah katakan benar''
Mira dan Indra pun berpelukan dan beberapa saat kemudian polisi datang, keduanya pun menceritakan kedatangan Damar juga ancamannya untuk Elina dan Reyz.