Gadis Tapi Janda

Gadis Tapi Janda
Berlatih Bersama


__ADS_3

''Ya Tuhan , apa yang kalian lakukan?''


Suara Ratih menggema di pagi hari, membuat semua semua orang terkejut dan bergegas menuju kamar Elina dimana saat ini Ratih tengah berkacak pinggang.


''Bu, ada apa? Kenapa pagi-pagi begini sudah berteriak-teriak?''


''Ayah lihat saja sendiri, kelakuan putri kesayanganmu itu''


Ratih menunjuk ke arah sofa dimana saat ini Elina tidur dalam posisi memeluk Reyz, keduanya nampak masih terlelap dan tak terusik dengan suara Ratih.


''Astagfiruloh, Elina apa yang kalian lakukan ?''


Dirga mencoba membangunkan Elina namun Elina malah semakin mengeratkan pelukannya terhadap Reyz.


''Emhh...Ayah berisik, El masih ngantuk'' gumam


Elina.


''Elina , bangun kau sadar apa yang kau lakukan? jangan sampai Kakek melihat kalian seperti ini dia pasti marah'' timpah Ratih


''Emmh...Ibu, berisik sekali sih , Elina masih ngantuk , Elina masih mau tidur ''


''Ya Tuhan , anak ini''


Habis sudah kesabaran Ratih di tariknya Elina dari tubuh Reyz hingga jatuh ke lantai , beruntung lantainya di alasi karpet.


''A.aaw...sakit Bu, apaan sih bar-bar banget ngebangunin orang''


''Sayang , kau tidak apa-apa?'' Reyz bangun seketika mendengar rengekan Elina dan segera beranjak membantunya untuk bangun dari lantai.


''Kalau tidak seperti ini kalian tidak akan bangun, kalian belum sah menjadi suami istri tapi sudah tidur berdua seperti ini, Reyz kau juga salah membiarkan Elina tidur di sisimu dengan memelukmu''


''Maaf, tante, om semalam saya ketiduran ,saya tidak tahu kalau Elina tidur disamping saya'' ucap Reyz.


''Bu, jangan marah pada Reyz, Elina yang salah semalam Elina gak bisa tidur jadi Elina yang memutuskan untuk tidur di samping Reyz, El yang salah jadi jangan marah lagi ya please''


Elina dan memohon pada Ratih , Dirga yang di samping sang istri terlihat mengangguk pada sang istri.


''Ya sudah, kalian Ibu maafkan sekarang kalian mandi, Ibu tunggu kalian di meja makan untuk sarapan''


''Yes, tanks ya Bu, Elina sayang Ibu'' Elina memeluk Ratih dengan senang.


''Jangan di ulangi lagi'' ucap Dirga


''Yes Bos''


Ketiganya pun tertawa bahagia , Reyz yang melihat kehangatan itu pun ikut senang selama ini ia tak pernah merasakan kasih sayang orang tua karena kedua orang tuanya meninggal saat Reyz masih kecil.


Hanya Hadiningratlah keluarga yang ia miliki selain seorang Kakek, Hadiningrat berperan sebagai orang tua bagi Reyz.


Ratih menoleh ke arah Reyz, wanita paruh baya itu paham akan yang Reyz rasakan saat ini dengan ketulusan Ratih mengulurkan tangannya pada Reyz.


''Kemarilah Reyz, mulai hari ini kau bagian dari keluarga kami bukan hanya menjadi menantu tapi kau juga putra kami'' ucap Ratih


Reyz, mengangguk bahagia dengan mata berbinar ia pun ikut kedalam dekapan Ratih dan Dirga yang memeluk Elina dengan tawa bahagia mereka sebagai keluarga yang saling menyayangi dan mencintai dengan tulus.


🌿🌿🌿🌿🌿

__ADS_1


Usai sarapan Elina pergi berlatih di halaman belakang, Elina melatih ilmu bela dirinya dengan memanggil guru dari tempat Gym nya tempo hari ke rumah.


''Bu, El kemana ? '' tanya Reyz yang baru saja selesai mandi dan berniat untuk pamit pergi kekantor.


''Elina sedang berlatih bela diri di belakang rumah , ngomong-ngomong kau sudah akan berangkat kerja ya?''


''Iya Bu, El berlatih sendiri?''


''Tidak, sepertinya gurunya seorang pria '' jawab Ratih sembari membereskan perlatan masak yang baru saja di cuci pelayan.


''Bu, kenapa enggak bilang dari tadi kalau gurunya laki-laki''


''Memang kenapa Reyz?''


Reyz, yang akan pergi bekerja pun malah pergi menuju halaman rumah dengan penasaran dan juga kesal tanpa menjawab pertanyaan Ratih yang heran dengan sikap Reyz.


Benar saja saai ini Elina tengah berlatih dengan sang guru , dihalaman belakang yang sangat luas yang Elina sulap menjadi tempat berlatih dengan segala fasilitasnya .


Beberapa hari yang lalu ia memerintahkan Raya untuk membuat halaman belakang rumah menjadi tempatnya berlatih beladiri dan berolah raga , suasana halaman yang sejuk dengan berbagai tanaman hias, bunga dan pohon buah membuat halaman terasa sejuk dan nyaman.


Reyz memperhatikan gerakan demi gerakan yang Elina praktekan sesuai arahan guru berlatihnya , terlihat Elina sangat pintar dan pandai mengusai jurus demi jurus yang di berikan.


Namun tatapan penuh cinta Reyz berubah menjadi kekesalan kembali saat sang pelatih membantu Elina dengan memegang tangan dan pinggang Elina membenahi posisi tubuhnya.


''Tangan dan pinggang anda harus di posisi ini agar anda tidak cedera ataupun sakit nanti selesai berlatih'' ucap pelatih


Elina mengangguk tanda mengerti, pelatih memberikan beberapa gerakan dan kembali menyentuh tubuh Elina memberikan arahan , hal itu sontak membuat Reyz kalang kabut .


''Hey kau!!!''


Reyz berjalan dengan cepat menghampiri Elina dan pria tersebut.


''Aku tak jadi pergi, dan kau! siapa kau berani-beraninya menyentuh calon istriku''


Reyz menunjuk wajah sang pelatih yang terkejut dengan sikap Reyz tersebut yang terlihat begitu kesal pada dirinya.


''Maaf Tuan muda, saya tak bermaksud untuk lancang, saya hanya melatih Nona El sesuai dengan prosedur saya sebagai pelatihnya''


''Reyz, kau kenapa ?jangan konyol'' Elina menarik tangan Reyz ia merasa tidak enak hati pada pelatihnya.


''Apa kau bilang sikapku konyol? Cukup berlatihnya dan kau pergi dari hadapanku sekarang juga sebelum hilang kesabaranku!'' bentak Reyz dengan napas memburu.


''Reyz, apa yang kau lakukan?''


Pria yang melatih Elina pun pamit dari hadapan Reyz dengan meminta maaf dan pamit untuk pulang.


''Yang kulakukan sudah benar, aku tidak suka apa yang menjadi milikku di sentuh orang lain ,kau tidak lihat dia selalu menatapmu? apa kau tidak bisa mencari pelatih selain dia ? atau mencari pelatih wanita saja untuk melatihmu'' Reyz mencerca Elina dengan kesal yang sudah memuncak .


''Reyz, jangan katakan kalau kau cemburu pada pelatihku?''


''Ya, aku cemburu ! Kau puas ?''


Elina menatap Reyz, seketika ia mengulas senyum melihat sikap cemburu Reyz yang membabi buta tersebut.


''Kau malah tertawa?''


Elina menarik dasi di leher Reyz hingga membuat tubuh Reyz tertarik ke hadapan Elina dan ...

__ADS_1


''Cups''


Elina mengecup bibir Reyz dengan tersenyum manis membuat Reyz tak bisa berkutik seketika amarahnya menguap begitu saja.


''Aku suka melihatmu cemburu'' bisik Elina sembari menyentuh hidung Reyz dengan hidung mancungnya.


Reyz mengeratkan pelukannya di pinggang Elina di ciumnya pipi Elina yang bersemu merah nampak menggemaskan bagi Reyz.


''Jadi Nona El, kau suka dengan kemarahanku?''


''Sejujurnya tidak, aku tidak suka melihatmu marah, kau sangat menyeramkan jika sedang marah''


''Makanya jangan coba-coba menguji kesabaranku, aku mencintaimu dan aku tidak suka pria manapun menatap ataupun menyentuhmu kau hanya milikku''


''Sorry''


''Kau harus dihukum ,untuk kesalahanmu Nona''


''Apa itu hukumannya Tuan Muda?''


''Terima hukumanmu ''


Reyz menarik tengkuk Elina dan mencium bibir Elina dengan panas menggebu-gebu membuat Elina kewalahan mengimbangi permainan bibir Reyz.


Namun Elina juga menikmati pertautan bibir Reyz yang seolah membuat dirinya candu dan menginginkan Reyz lagi dan lagi.


Elina membuka mulutnya membiarkan Reyz mengexplore bibirnya sampai puas mereguk madu manisnya lidah mereka saling membelit dan bertukar saliva.


''Kau suka hukumannya sayang?''


Reyz setelah melepaskan pagutannya dengan mengusap bibir Elina yang sedikit membengkak karena ulahnya.


''Aku suka , tapi kau juga harus menerima hukuman dariku Tuan Muda ''


''Apa maksudmu sayang?''


Tanpa di duga Elina mendorong tubuh Reyz hingga terdorong ke belakang dan secara tiba-tiba Elina menyerang Reyz dengan ilmu beladiri yang sudah dikuasainya.


''Jadi Nona , kau menantangku?''


Reyz memasang kuda-kuda saat ia berhasil menangkis serangan demi serangan yang Elina layangkan.


''Kau harus bertanggung jawab menggantikan pelatihku untuk melatihku Tuan Muda'' titah Elina dengan senyum liciknya sifat Elina yang dingin memang akan selalu menjadi jati diri seorang Elina Maharani.


''Baiklah Nona dengan senang hati aku akan melatihmu, terima seranganku AWAS!!!''


Reyz menyerang Elina dengan menggunakan beberapa jurus yang ringan untuk mengimbangi dan mengasah kemampuan Elina.


Namun tanpa Elina sadari jika Reyz malah memanfaatkan situasi itu untuk mencium pipi atau pun bibirnya dengan semua jurus yang Reyz miliki membuat konsentrasi Elina terpecah.


''Reyz, kau curang ya?''


''Itu bukan curang sayang, tapi strategi kau saja yang tidak fokus''


''Kau...


''Cups....

__ADS_1


Reyz berhasil mencuri kembalu ciumannya di bibir membuat Elina semakin kesal dan ia tak bisa lagi untuk berkonsentrasi, pilihan yang salah meminta Reyz untuk mengajarinya berlatih.


__ADS_2