
Beberapa bulan kemudian. Alice telah sembuh dan kembali ke sekolahnya. sedangkan, Raya telah dibebaskan dari lapas anak-anak. Namun, ia di skors dari sekolah karena perbuatannya
Disisi lain, Naya semangkin depresi karena bayi nya semangkin berkembang. ia mengikat perutnya mengunakan korset pengecil perut untuk menyembunyikan kehamilannya.
"Naya, buruan nanti telat loh" ujar Arum sembari menyiapkan sarapan untuk putri dan suami nya
"Kok jam segini belum turun juga sih!! apa belum bangun?" ujar Arum sembari berjalan ke kamar Naya dan segera masuk ke kamar nya. ia pun syok saat melihat Naya yang sedang mengunakan korset.
"Arghhh..." teriakan Arum membuat suami nya bergegas menghampiri istrinya. sedangkan Naya terkejut melihat ibu nya yang terjatuh pingsan. ia pun segera menghampiri ibu nya
"Mama kenapa Nay?" ujar pak Ilham sembari mengendong istrinya ke atas ranjang.
Naya yang takut pun hanya bisa menangis sembari menggenggam tangan ibu nya
Tak lama, Ibu nya tersadar kembali dan teringat perut Naya yang membesar. ia pun dengan paksa membuka seragam putrinya sembari menangis.
Pak Ilham yang melihat hal tersebut pun terduduk lemas tak berdaya. Naya hendak membantu ayahnya untuk berdiri. Namun, pak Ilham menepis tangan Naya yang membuat Naya semangkin sedih
"Kenapa kamu tega ndok" ujar Pak Ilham dengan suara lirih
"Siapa? Siapa bapak nya!! jawab" ujar ibu Arum yang terbawa emosi sembari memegang kedua pundak Naya
"Jawab Naya!! Siapa bapaknya!" Tambah ibu Arum berteriak melihat Naya yang hanya diam sembari menangis
"Pasti Pacar kamu yang nama nya Darren itu kan!" ujar pak Ilham sembari beranjak tengak dan Naya pun hanya menganggukkan kepalanya
"Papa sudah bilang berkali-kali jangan pacaran Naya!! ini lah akibatnya. sekarang beritahu papa Darren ada dimana?" ujar pak Ilham dengan tegas
"Naya gak tau pah. Dia gak ada kabar sejak pindah sekolah" ujar Naya sembari menangis
mendengar hal tersebut. Pak Ilham melemas dan ibu Arum pun segera memapah suami nya dan membantu nya untuk duduk agar tak terjatuh
Disisi lain, Pelajaran dimulai seperti biasa. Raya hendak mendekati Alice. Namun, Alice menjauh dan memilih bermain bersama Maya dan Sisil yang merupakan sahabat Naya
"Dih, awas ya! gue kasih pelajaran Lo" ujar Raya dengan kesal melihat Alice yang tertawa bersama teman-temannya
"Mau apa lagi Ray!! Jangan bilang Lo mau mencelakai Alice lagi" ujar Noni
"iya harus!! penghianat kayak dia emang pantes digituin" ujar Raya sembari menekukkan tangannya
"Mending jangan deh Ray! gue dilarang papa untuk jahat sama alice. soalnya mama nya Alice itu kerja sama papa nya Hans loh! kita harus hati-hati" ujar Noni sembari memegang tangan raya
"Oh, jadi dia itu anak dari babu nya keluarga Hans ya haha!! bagus deh, nanti kita sebarkan ke seluruh sekolah biar dia malu" ujar raya sembari pergi keluar kelas dan di ikuti oleh Noni
__ADS_1
Singkat cerita. Raya benar-benar membuat poster dan menempelkan di papan pengumuman bahwa Alice adalah anak dari babu yang membuat seisi sekolah heboh dan mengunjingi nya
"Ada apa sih? kok mereka bisik-bisik melihat ke arah kita" ujar Maya
"iya, ada apa sih!!" tambah Sisil sembari terus berjalan mengarah ke kantin
"gusy!! ini dia anak babu nya haha" ujar raya yang muncul bersama Noni dengan membawa pengeras suara dan poster wajah alice. Mendengar hal tersebut. para murid pun menertawakan Alice
"Apaan sih Lo! jangan sembarang ngomong ya" ujar Alice sembari mendorong tubuh Raya
"heh anak babu!! gak usah pegang-pegang gue. ntar kotor. Lo kan miskin haha" ujar Raya sembari mengibaskan seragam nya
Melihat para murid menertawakan dirinya. Alice pun berusaha mengambil poster wajahnya yang telah di tempel oleh raya di dinding. Sisil dan Maya pun membantu merobek poster tersebut
"Kenapa di robekin Al!! malu ya karena ketahuan miskin haha" ujar raya tertawa puas
"Lo gak ada kapok-kapoknya ya" ujar Stefan yang muncul dari kerumunan para murid dan membantu melepaskan poster tersebut
"Apaan sih! Gak usah sok jadi pahlawan deh" ujar Raya
"Heh, Nenek lampir! Jadi orang jangan terlalu jahat deh! Ntar kalo butuh malu mau minta tolong" ujar Maya sembari mendorong pundak raya hingga terjatuh
Raya yang tak terima akan hal tersebut pun bergegas menyerang Maya dan perkelahian saling tarik menarik rambut pun Terjadi
Disisi lain, Orang tua Naya tengah kebingungan menghadapi masalah putrinya. Mereka terus mencari jejak Darren yang menghilang bak di telan bumi
"Gimana nih pah? Anak itu gak tau kemana" ujar Arum sembari menutupi wajahnya mengunakan telapak tangannya
"Entah lah mah. Papa juga bingung harus gimana! apa perlu kita aborsi saja" ujar Ilham sembari duduk di sebelah istrinya
"Jangan pak!! Naya telah berdosa melakukan zina itu. kalau di aborsi maka dosanya semangkin besar! lagi pula usia Naya masih 17 tahun. takutnya nanti dia gak bisa mempunyai keturunan di masa depan" ujar Arum sembari menahan tangisnya
"Lalu kita harus bagaimana mah!! ini aib. jika semua orang tau maka hancurlah nama baik keluarga kita" ujar Ilham
"Ditambah lagi usia Naya yang masih muda! jika semua orang mengetahui hal ini. maka masa depannya akan hancur. mimpinya akan berhenti sampai sini" tambah pak Ilham sembari merangkul istrinya
"biasanya anak yang hamil di luar nikah gak akan kelihatan pah. gimana kalo kita merahasiakan hal ini" ujar ibu Arum sembari memijat kepalanya karena pusing
"Tapi, mau sampai kapan kita merahasiakan hal ini mah! Cepat atau lambat semua orang akan tau" jawab pak Ilham
"Sebentar lagi kan ujian penaikan kelas pah. Gimana kalo setelah liburan kita sembunyikan Naya. Biar dia daring aja sampai lahiran" ujar ibu Arum yang baru saja mendapatkan ide. Mendengar hal tersebut, pak Ilham pun menyetujuinya karena itu adalah hal terbaik satu-satunya
Beberapa hari kemudian. Naya masih belum masuk sekolah. teman-temannya yang khawatir pun menghampiri rumahnya. Namun, Orang tua Naya yang khawatir Rahasia putri nya terbongkar pun melarang mereka untuk bertemu.
__ADS_1
"Maaf ya. Naya lagi sakit tipes gak bisa di jenguk nanti menular ke kalian. Tante gak mau kalian sakit kaya Naya" ujar Arum sembari tersenyum paksa dan menutup pintu.
Sisil dan Maya yang mengerti pun segera pergi dari rumah Naya. Sedangkan Naya hanya bisa mengintip temannya dari jendela kamar. dan tak lama, Alice datang membawa parcel untuk memastikan keadaan Naya. Orang tua Naya hendak menyuruh Alice pergi. Namun, Naya turun untuk menemui Alice
"Mah, Biarin dia masuk. Alice udah tau kok tentang rahasia Naya. dia yang bantu Naya melewati kesulitan selama menyembunyikan kehamilan ini" ujar Naya sembari merangkul tangan ibunya.
Mendengar hal tersebut. Arum mempersilahkan Alice masuk
"Orang tua lo udah tau nay?" ujar Alice yang bingung dengan ucapan Naya
"Iya Al. pas gue lagi pake korset. mama tiba-tiba masuk ke kamar dan lihat perut gue" ujar Naya sembari berusaha untuk duduk di ranjang
"Jadi gimana? Orang tua Lo nyuruh aborsi gak?" ujar Alice sembari membantu Naya untuk duduk
"Nggak, soalnya aborsi di umur gue resikonya besar. jadi kami memilih untuk melahirkan bayi ini dulu. perut gue gak keliatan kalo pake Hoodie atau jaket besar" ujar Naya sembari mengelus perutnya dan mereka pun bercanda bersama hingga sore hari.
Keesokan harinya, Naya kembali ke sekolah mengunakan Hoodie yang jumbo untuk menutupi perutnya yang membuncit
"Naya, akhirnya Lo berangkat sekolah lagi!! kita kangen banget tau" ujar Maya sembari memeluk Naya yang baru saja tiba
"Sorry, gue gak sempat ngabarin kalian. Gue sakit tipes soalnya hehe" ujar Naya sembari duduk di kursinya
"kita kemarin ke rumah Lo tapi disuruh pulang sama orang tua Lo. jadi sedih gak bisa jenguk Lo" ujar Sisil
"Iya, Mama gue takut Lo ketularan sakit dari gue! Lagian sekarang gue udah sembuh kok" ujar Naya sembari merangkul teman-temannya
"Dih, Lebay banget sihh!" ujar Raya sembari mengibaskan rambutnya yang Curly
"Lebay! Lebay! bilang aja Lo iri kan" ujar Maya melirik sinis ke arah Raya
"Dih, iri sama rakyat jelata!! gak bangett" ujar raya sembari melipatkan tangannya di dada
"Songong banget sih!! sok cantik" ujar Maya bergemerutu
"Apa Lo bilang!! hello, cantikan gue kali" ujar Raya sembari menaikkan kaki nya ke atas meja dan bersandar dengan santai
"Heh, Nenek lampir! Cantik dari mana Lo. dari belakang UPS haha" ujar Maya sembari tertawa
"May, jangan gitu ih" ujar Naya yang berusaha menghentikan perdebatan temanya
"Kurang ajar Lo ya!!" ujar raya yang kesal sembari menepak meja dengan keras
"Hallo semua nya!! Ada apa nih ribut-ribut? Udah siap untuk kuis hari ini" ujar ibu Rini berjalan dengan santai ke kursi nya. Raya dan lain-lain pun bergegas duduk di kursi masing-masing.Para murid mendengar kuis dadakan dari ibu Rini pun sontak berteriak. Bagaimana tidak, mereka belum belajar sama sekali jadi bagaimana cara mereka menjawab kuis tersebut
__ADS_1