Gadis Tapi Janda

Gadis Tapi Janda
kepergian Naya


__ADS_3

Pagi telah berubah menjadi petang hari. Naya yang telah lelah menangis di dalam pelukan Alice. Ia pun memberanikan diri untuk pulang dan menemui orang tua nya yang terus menghubungi dirinya


Langkah kaki Naya terhenti saat melihat kedua orang tua nya tengah berdiam diri dan tenggelam dalam lamunan. Tak lama, Andara menangis sehingga membuat ibu Arum tersadar dari lamunannya dan bergegas memomong cucu nya tersebut.


Naya perlahan melangkahkan kaki nya yang berat seakan tak bisa di angkat untuk menghampiri ibu nya


"Mah..." Panggil nya dengan suara lirih yang penuh kesedihan


"Naya, kamu udah pulang nak? Makan dulu gih" ujar ibu Arum sembari mengelap air mata nya yang telah banyak terbuang


"Mah, maafin Naya" ujar Naya yang tak dapat menahan air matanya dan bergegas memeluk ibu nya


"Udah, mama gak apa-apa kok! Semua sudah terjadi gak bisa diulang lagi" jelas ibu Arum dengan lembut


"Papa gak di pecat kan mah?" Tanya Naya untuk memastikan pekerjaan yang telah di impikan oleh ayah nya dari dulu


Ibu Arum dan suami nya hanya diam merunduk. Seharusnya Naya sudah mengerti apa yang terjadi pada pekerjaan ayah nya. Ya, ia di pecat secara tak terhormat. Bahkan semua wali murid datang ke sekolah dalam bentuk protes.


Bagaimana tidak, seorang Kepala sekolah yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai budaya dan terkenal mendidik anak murid nya dengan tegas agar tak ada memilih jalan yang salah. Namun, tidak dapat menjaga putri nya


Seketika, dunia Naya terasa hancur. Penyesalan, kecewa,marah dan sedih bercampur menjadi satu. Ia terduduk dengan lemas di ujung tembok kamar nya sembari menangis di dalam diam


Tak lama, ia mendengar suara yang sangat bising. sehingga membangunkan Andara yang tengah tertidur pulas


Ibu Arum bergegas mengendong cucu kecil nya sembari menghampiri sumber suara yang sangat bising di luar pintu rumah nya


"Ada apa ya pak, ibu?" Tanya pak Ilham


"Pak, kami mendapat kabar bahwa putri bapak hamil di luar nikah sampai melahirkan!! Sudah tradisi di desa ini. Siapa pun yang berzina di luar nikah akan di cambuki" ujar ibu-ibu dengan nada tinggi.


"Baik!! Baiklah! Kami akan menyerahkan putri kami untuk di hukum sesuai tradisi desa ini. Tapi besok! Sekarang beri kami untuk beristirahat" jelas pak Ilham dengan tegas.

__ADS_1


Para warga pun menyetujui hal tersebut dan mulai berpisah untuk kembali ke rumah masing-masing. "Maksud papa apa? Papa rela anak kita di siksa?" Tanya ibu Arum


Pak Ilham mengabaikan pertanyaan istrinya dan bergegas menghampiri Naya yang masih mengurung dirinya di kamar


"Naya harus segera pergi dari desa ini ma" ujar pak Ilham sembari mengeluarkan semua pakaiannya di dalam lemari


"Tapi,..." Ujar ibu Arum yang hendak protes. Namun, di sela oleh pak Ilham yang sedang terburu-buru


"Gak ada waktu lagi mah! Lebih baik Naya pergi meninggalkan kita agar bisa melanjutkan hidup di negeri orang Daripada harus menyaksikan Naya di cambuki esok hari" ujar pak Ilham


"Lagi pula, bapak sudah mempersiapkan tiket pesawat dan juga apartemen di Bangkok. Naya akan pergi ke sana lebih dulu. Setelah tabungan kita cukup. Kita juga akan menyusul Naya ke sana" tambah pak Ilham sembari mengeluarkan tiket berserta buku tabungan milik nya


"Sejak kapan papa menyiapkan ini semua?" Tanya ibu Arum


"Sejak Naya ketahuan hamil. Dulu Papa sangat yakin bahwa suatu saat aib ini akan terbongkar. Jadi papa menabung untuk membeli apartemen dan juga menabung untuk biaya hidup Naya selama dua tahun di sana" ujar pak Ilham


Ibu Arum pun merasa apa yang di ucapkan pak Ilham benar. Ia mengeluarkan koper dan bergegas mengemasi barang Naya


Sedangkan, Naya yang sudah stress pun bertambah takut mendengar hal tersebut. Tanpa berfikir panjang, ia membantu ibu nya mengemasi pakaiannya dan mengendap-endap keluar dari pintu belakang.


Singkat cerita, Naya telah sampai di Bangkok. Ia merebahkan tubuhnya di atas sofa yang masih terbungkus kain putih.


Karena lelah, ia pun akhirnya tertidur


Beberapa hari kemudian, Naya mulai melangkah keluar apartemen nya. Ia hendak mencari pekerjaan agar tidak membebani orang tua nya


Ia bertemu dengan seorang wanita yang penuh tato di tubuhnya sedang mencari sesuatu di kotak sampah


Naya pun bergegas membeli beberapa makanan dan menghampiri wanita tersebut


"Kak" panggil nya sembari menepuk pundak nya

__ADS_1


"Ada apa?" Jawab nya dengan ketus


"Ini ada sedikit makanan untuk kakak. Saya ikhlas kok" ujar Naya sembari meletakkan kantung makanan di tangan wanita Tersebut


Wanita tersebut memandangi Naya yang pergi meninggalkan nya dengan tatapan Aneh


"Dikira pengemis apa!!" Gerutu nya sembari meletakkan makanan yang di berikan Naya ke atas meja dan kembali mencari sesuatu di kotak sampah


"Ahh, akhirnya ketemu" ujar wanita tersebut dengan senang saat memegang kunci mobil sport Lamborghini nya yang tak sengaja terjatuh ke kotak sampah saat ia membuang tisu.


Disisi lain, Naya telah lelah berjalan seharian untuk mencari pekerjaan. Ia memilih untuk melanjutkan mencari pekerjaan di esok hari nya


Ia melangkah dengan lesu hendak memasuki kamar apartemen nya. Tanpa ia sadari, wanita yang ia temui siang hari. ternyata tinggal di sebelahnya


Wanita tersebut menahan pundak Naya. Sehingga langkah kaki nya terhenti.


Tanpa berkata-kata, wanita tersebut meletakkan makanan di atas tangan Naya yang masih mematung


"Tunggu..." Ujar Naya menghampiri wanita tersebut yang hendak masuk ke kamar apartemen nya


"Ini apa? Kenapa anda memberikan ini ke saya" tanya Naya dengan bingung


"Tadi siang Lo traktir gue makanan. Jadi gue traktir balik" jawab nya dengan dingin


"Tunggu, nama mu siapa? Siapa tau bisa jadi teman" ujar Naya berteriak saat melihat wanita tersebut masuk ke kamar nya


"Naomi" ujar nya sembari menutup pintu kamar nya


"Naomi?? Gaya nya tomboy tapi nama nya feminim ya hihi" ujar Naya sembari kembali ke kamar nya


Tak lama, orang tua Naya menelpon untuk mengetahui keadaan putri nya. Mereka senang saat melihat putri nya mulai menjalani hidup dengan ceria seperti biasa nya

__ADS_1


Naya sengaja menyembunyikan kesedihannya saat jauh dari keluarga. Ia merasa bersalah pada putra nya yang tak tau apa-apa dan harus merasakan di tinggal oleh ayah dan ibu nya di usia dini


Ia telah memutuskan untuk melupakan masalah tersebut dan ingin fokus mencari uang untuk membuat hidup anak nya terjamin di masa depan


__ADS_2