Gadis Tapi Janda

Gadis Tapi Janda
gejolak asmara


__ADS_3

Naya menyentuh kedua pipi Hans dengan tak percaya. Ia masih merasa pusing di akibatkan oleh Alkohol yang sangat kuat.


"Kenapa?" Tanya Hans yang sedikit panik membuat Naya tersadar kembali


"Lo-, Lo kenapa disini?" Tanya Naya dengan tak percaya


"Study tour seminggu!! Lo sendiri?" Tanya Hans


"Gue, gue harus balik sekarang. Bye" ujar Naya sembari turun dari ranjang


"Heh, jawab dulu" ujar Hans mengejar Naya dari belakang


Langkah kaki Naya terhenti saat membuka pintu kamar. Ia berbalik menghadap Hans dengan serius


"Lo gak ngapa-ngapain gue kan?" Tanya Naya dengan dingin


"Nggak lah gila!! Lo pikir gue laki macam apa" ujar Hans


Tanpa berkata-kata, Naya menampar wajah Hans dan membuatnya terkejut. Bagaimana tidak, ia merasa tak melakukan Kesalahan apapun. Namun, harus mendapat tamparan hangat di pagi hari


"Kok Lo nampar gue sih?" Tanya Hans dengan bingung


"Sorry, gue jadi ke ingat Darren" ujar Naya sembari pergi meninggalkan Hans yang hanya diam mematung


Singkat cerita, Naya kembali berkerja seperti biasa nya. Ia terus merasa khawatir dengan kejadian malam itu


"Gimana kalo Hans bener-bener ngelakuin hal itu pas gue lagi gak sadar?" Gerutu Naya dengan takut


Tak lama, ia dikejutkan oleh seseorang yang menepuk pundak nya dari belakang.


"Nay, Lo kemana malam tadi? Gue bangun-bangun udah di rumah aja" tanya Nida


"Sama kak, Naya juga bangun-bangun di kamar temen" jawab Naya


"Wah, syukur lah kita gak di unboxing preman itu ya! Najis banget kalo sampe di sentuh sama mereka" ujar Nida sembari menghisap rokok nya


Tak lama, seorang tamu datang ke bar tersebut. Ia memesan bir dan Naya pun mengantarkan pesanan tersebut


"Permisi, ini pe-" ujar Naya terhenti saat melihat tamu tersebut yang tak lain adalah Darren


"Na-, Naya?" Ujar Darren dengan ragu berdiri dari tempat duduk nya

__ADS_1


"Kamu pergi kemana aja? Kenapa ninggalin aku di saat tersulit" tanya Naya dengan penuh berlinang air mata


"Gak usah drama deh nay!! Gitu doang kok di permasalahkan" jawab Darren dengan santai. Mendengar hal tersebut, Naya menampar wajah nya dengan keras


"Gitu doang kata mu!! Gara-gara Lo, gue harus merelakan hidup gue hancur. Lo tau apa yang terjadi setelah Lo pergi??" Tanya Naya


"Gue di DO dan di usir dari desa, papa gue harus kehilangan pekerjaan yang selama ini ia impikan dan- " ujar Naya yang sempat terhenti karena mengatur nafas nya


"Anak itu lahir tanpa ayah di dunia!!" Tambah Naya membuat Darren terkejut


"Jadi anak sialan itu masih hidup!!" Ujar Darren dengan nada tinggi. Sekali lagi, Naya menampar wajah Darren dengan keras


"Anak sialan kata mu!! Emang gak tau diri kau ya! Kau yang buat dia ada di dunia ini. Kenapa kau bilang dia anak sialan" ujar Naya sembari mengelap air mata nya yang tak sadar menetes


"Ini salah Lo!! Kalo Lo bunuh dia dari awal. Hidup Lo gak akan hancur! Jadi stop nyalahin gue" jawab Darren sembari pergi meninggalkan Naya yang tak sanggup menahan air matanya


Ia bergegas pergi meninggalkan bar dan berlarian sembari menangis. Hans yang tengah di bus bersama teman sekelasnya untuk pergi ke tempat pariwisata pun tak sengaja melihat Naya menangis


"Stop!!!" Teriak Hans membuat sopir dengan reflek menghentikan bus nya


"Kenapa Hans? Mau kemana kamu?" Tanya ibu Jollyn saat melihat Hans berlarian turun dari bus


Ia melangkahkan kakinya mendekati Naya yang tengah menangis tersedu-sedu di balik bebatuan pantai


"Coffee..." ujar nya sembari memberikan segelas kopi. "Hans?.." ujar Naya yang terkejut melihat Hans dan buru-buru menghapus air matanya


"Lo abis nangis? Ada apa?" Tanya Hans sembari duduk di sebelah Naya


"ng-nggak! nggak ada apa-apa kok" ujar Naya sembari mengambil Coffee yang diberikan oleh Hans "Thanks coffee nya" Tambah Naya sembari tersenyum paksa


"Lo lagi ada masalah ya? Cerita gih" ujar Hans sembari memandangi wajah cantik Naya yang sedang meminum kopi yang ia berikan


"Nggak, nggak ada apa-apa kok" jawab Naya tersenyum paksa untuk menutupi masalahnya


"Lo belum jawab pertanyaan gue!! Lo ngapain disini?" Tanya Hans membuat Naya terdiam


"Emang Alice belum cerita tentang gue?" Tanya Naya dengan serius


"Nggak" jawab nya sembari menggelengkan kepalanya


Naya hanya diam sembari mengalihkan pandangan nya ke arah laut yang biru saat terkena matahari

__ADS_1


"Lo gak perlu tau! Gue mau ngelupain hal itu" jelas nya dengan tatapan kosong


"Hmm, ya udah!! Gue gak akan nanya hal ini lagi. Yuk ikut gue" ujar Hans sembari menapan tangannya


"Hah? Mau kemana?" Tanya Naya dengan bingung


"Udah, ikut aja yuk" jawab Hans sembari memberikan kode kepada Naya agar meletakkan tangannya di atas tangan Hans


Naya pun menyambut tangan Hans yang sedang menunggu nya berdiri. Hans pun bergegas menarik tangan Naya ke bibir pantai dan menyirami nya dengan air


Naya yang tak terima pakaiannya basah pun membalas Hans. Dan akhirnya, mereka pun bermain air seperti anak kecil


Untuk pertama kali Naya tertawa lepas dan sangat bahagia setelah masalah itu datang ke kehidupan nya.


"Thanks Hans, Lo udah buat gue happy hari ini" ujar Naya sembari tersenyum senang


Hans tersenyum sembari mengacak rambut Naya. Ia pun berlarian menghindari Naya yang mengejar nya dari Belakang


"Hans, nakal!!" Teriak Naya sembari tertawa dan melempari Hans dengan kulit kerang


Singkat cerita, mereka bermain hingga matahari hendak terbenam. Hans mengantar Naya pulang ke apartemen nya dan kembali ke penginapan


"Bagus!! Dari mana aja?" Tanya ibu nano dengan tegas saat melihat Hans baru tiba di penginapan


"Maaf buk. Tadi saya kebelet berak. Eh, malah mampir di tempat bermain game" ujar Hans sembari tersenyum paksa


"Haish, ya sudah lah. Berhubung kamu anak yang pintar dan beberapa kali membanggakan sekolah. Untuk kesalahan kali ini ibu maafkan" ujar ibu nano dan Pergi meninggalkan Hans


Hans tersenyum puas sembari masuk ke kamar nya untuk beristirahat. Disisi lain, Naya melakukan aktivitas nya dengan penuh senyuman sembari bersenandung dengan riang


Tak lama, handphonenya berdering dan ia pun bergegas menjawab telpon tersebut


"Hallo, siapa?" Tanya Naya


"Ini Hans, cuma mau ngasih tau aja kalo gue mau berak" ujar Hans sembari tertawa kecil


"Kurang ajar!! Hahah" jawab Naya tertawa lepas sembari mencuci piringnya


Tak lama, mereka pun mengakhiri telpon nya. Naya tersenyum malu dan menatap wastafel. Pipi nya memerah dan jantung nya yang berdebar membuktikan bahwa ia telah jatuh cinta pada Hans.


Ia tersipu malu dan tak sengaja melihat pantulan tubuhnya di cermin. Senyum nya yang ceria pun berubah menjadi murung

__ADS_1


__ADS_2