
Raya mengikuti Naya dan bersembunyi di balik tiang. Naya yang panik tak memperhatikan sekitar dan menghampiri ibu nya yang tengah menunggu di depan ruangan.
"mah, gimana keadaan Andara?" ujar Naya sembari memegang kedua pundak ibu nya dengan panik.
"Tenang nak. mereka baik-baik aja kok! cuma.." ujar ibu Arum sembari menggenggam tangan Naya.
"Cuma apa mah?" ujar Naya semangkin Panik melihat bayi nya di impuls.
"Dia harus dirawat disini selama beberapa hari" ujar ibu Arum sembari menyentuh kaca dan melihat kedua cucu nya yang sedang tertidur.
sedangkan Naya hanya bisa menangis karena khawatir. "Serius se khawatir itu?" ujar raya yang mengintip Naya dari kejauhan.
"maaf, lagi Cari apa mba?" ujar suster sembari menepuk pundak Raya.
"Ah, nggak kok sus" ujar raya sembari pergi keluar untuk meninggalkan rumah sakit tersebut.
"Nggak, kalo kayak gini gimana gue bisa buktiin kalo bayi-bayi itu anak nya" ujar raya sembari mengigit jarinya untuk berfikir.
"Gue harus masuk lagi dan cari bukti" tambah raya Sembari melangkah masuk ke rumah sakit tersebut.
"Dia kemana? kok ngilang" ujar raya Sembari menghampiri tempat Naya dan ibu nya berdiri.
"Nyari siapa Ray?" ujar Naya yang muncul dari belakang raya yang membuat nya terkejut.
"Ngagetin aja sih!!" ujar raya yang salah tingkah karena telah tertangkap basah sedang mengintai Naya.
"Udah, gak usah pura-pura! Lo pasti ngikutin gue kan" sela Naya dengan serius sembari menunjuk wajah Raya. Raya yang tak terima pun segera menepis tangan Naya dengan penuh amarah
"Gak sopan main nunjuk-nunjuk aja!! gue disini lagi nyari ruangan om gue! sok tau banget" ujar raya sembari melipatkan kedua tangannya di dada agar terlihat tenang.
Mendengar hal tersebut, Naya tersenyum kecil karena tak percaya akan pernyataan raya yang tak masuk akal menurut nya.
"Disini ruangan khusus bayi!! ngapain Lo nyari om Lo disini?" ujar Naya sembari menarik nafas nya agar tetap tenang.
__ADS_1
sedangkan Raya hanya terdiam dan berusaha mencari alasan lainnya. "Om gue punya anak bayi dan di rawat disini!! Berisik banget sih" ujar raya lalu pergi meninggalkan Naya karena merasa terpojok
Disisi lain, Hans tengelam dalam lamunannya sembari memetik gitar nya dan terbayang wajah Naya
"Naya gimana ya kabar nya?" Gerutu Hans. Tak lama, Rere masuk ke kamar Hans dan berteriak. Sehingga, membuat Hans tersadar dari lamunannya.
"Kenapa sih mah!! berisik tau" ujar Hans sembari melirik ke arah ibu nya yang sedang berlarian menghampiri nya.
"Ya kamu sih! Mama panggil dari tadi gak nyaut" ujar Rere sembari menarik gitar yang sedang di petik oleh Hans
"Kamu kenapa? Sejak pindah ke sini murung terus. Karena jauh dari Alice ya" tambah Rere menggoda putra nya yang hanya terdiam memandangi perkotaan dari kamarnya
"Apa hubungannya dengan Alice??" Jawab Hans dengan dingin
"Terus, kalo bukan karena Alice. Karena siapa dong?" Tanya Rere sembari tertawa kecil
"Mah, kalo Hans gak suka sama alice tapi suka nya sama orang lain. Apa perjodohan nya masih di lakukan" tanya Hans membuat Rere terbelalak
"Emang kamu suka sama siapa?" Tanya Rere dengan serius sembari memegang kedua pipi putra nya agar dapat menatap matanya
"Mama gak akan menjodohkan kamu sama siapa pun asal kamu benar-benar punya pacar ya" ujar Rere sembari menepuk pundak Hans
"Se-serius mah!! Mamah gak akan maksa Hans nikah sama Alice kan?" Tambah Hans yang mulai bersemangat
"He'em! Tapi ada syaratnya" ujar Rere menyetujui hal tersebut
"Kamu harus lulus dengan nilai terbaik. Kalo kamu bisa. Kita kembali ke Indonesia dan kamu bisa dengan bebas mengejar cinta mu itu" tambah Rere.
Mendengar kabar tersebut, Hans pun tersenyum dan memeluk ibu nya sembari tertawa bahagia
Disisi lain, Alice mendapat telpon dari Naya dan bergegas menuju rumah sakit untuk melihat bayi Naya yang tengah demam tinggi
Singkat cerita, Alice telah sampai ke rumah sakit tersebut dan bergegas mencari ruangan Andara. Tanpa ia sadari bahwa Maya tengah berada di rumah sakit yang sama.
__ADS_1
"Itu Alice kok kayak panik gitu? mau kemana?" ujar Maya yang baru saja keluar dari ruangan kakek nya.
Melihat alice bergegas ke salah satu ruangan bayi. ia pun diam-diam mengikuti nya dari belakang.
"Naya..." ujar Alice memeluk Naya yang tengah menangis memegang tangan putra nya.
"Andara kenapa?" ujar nya sembari menyentuh pipi bayi yang tengah tertidur pulas
"Gue gak tau!! Pas gue balik dari sekolah. Dia udah panas gini" ujar Naya tersedu-sedu sembari menutupi wajahnya mengunakan telapak tangan
"Sabar nay, Bayi Lo pasti baik-baik aja kok! percaya deh" ujar Alice sembari merangkul dan mengelus pundak Naya untuk menenangkannya.
Maya syok saat mendengar hal tersebut. ia buru-buru menutup pintu dan pergi menjauh dari ruangan tersebut. Saat ia hendak berbalik. Namun, langkah kaki nya terhenti saat melihat raya yang tengah berdiri di belakang nya.
"Muka Lo keliatan nya panik gitu? ada apa?" ujar raya sembari berjalan menghampiri Maya yang tengah berdiri di depan pintu.
Ia pun segera mengintip dan melihat Naya yang tengah menangis bersama Alice
"Gu-gue mau balik ke ruangan kakek gue!! bye" ujar Maya dengan nada gemetar dan berlarian Pergi meninggalkan raya yang masih mengintip.
"Gimana gue bisa tenang!! Panas nya belum turun loh" ujar Naya sembari mengelap air matanya.
"Positif thinking aja nay!! Mungkin bentar lagi panas nya turun" ujar alice sembari menyelimuti Naya dengan jaket nya.
"Lo mah gak akan ngerti!! Lo belum punya anak jadi gak akan tau apa yang gue rasakan saat ini" ujar Naya sembari menutup mulutnya mengunakan tangan dan berusaha untuk menahan air matanya.
"What!! jadi bener dong" ujar raya sembari menutup pintu dengan pelan. "Untung aja gue tarok kamera kecil di kancing gue" ujar Raya sembari tersenyum licik dan pergi meninggalkan ruangan tersebut
Disisi lain, Maya duduk di sebelah ranjang kakek nya sembari mengigit ujung jari nya dengan gelisah memikirkan perkataan yang ia dengar
"Gak!! gak mungkin! Gue pasti salah dengar" ujar Maya sembari mengambil air mineral dan meminum nya agar dapat melupakan hal tersebut
"Berarti bener kecurigaan Sisil sama Naya selama ini! Tapi, tapi kenapa dia gak mau terbuka sama kami. Sedangkan, Alice!! Alice diberitahu" tambah Maya dengan terbata-bata karena sedang syok
__ADS_1
Tak lama, ia mendengar ketukan pintu di ruangan kakek nya. Ia pun bergegas membuka kan pintu tersebut dan melihat raya tengah berdiri di depan pintu