Gadis Tapi Janda

Gadis Tapi Janda
Harus Bagaimana?


__ADS_3

Menjelang maghrib Reyz tiba di kediaman Wijaya kedatangan Reyz di sambut hangat Mira dan Indra .


''Malam om, tante, maaf saya datang secara tiba-tiba tanpa memberi kabar terlebih dahulu'' ucap Reyz sembari duduk di sofa menghadap Indra dan Mira.


''Tidak apa-apa Reyz, maaf tidak apa-apa kan kalau kami memanggilmu dengan nama pendekmu seperti Elina'' ucap Indra.


''Tentu saja tidak apa-apa om, itu akan terdengar lebih menyenangkan untukku ''


''Reyz, apa kedatanganmu untuk menemui El?'' Mira bertanya secara langsung.


Reyz mencoba untuk bersikap santai, meski restu sudah ia dapatkan namun, ia tak mau bersikap seenaknya mengingat Elina adalah bagian terpenting bagi Indra dan Mira.


Tak bisa di pungkiri jika saat ini Reyz, merasakan ketegangan luar biasa, berbeda dengan saat dirinya berkompetisi untuk mendapatkan tender yang terasa mudah , menghadapi kedua keluarga Elina sungguh membuat Reyz spot jantung seakan ia akan menghadapi musuh di medan perang.


''Iya tante, saya datang untuk menemui Elina, seharian ini ia tak menjawab panggilan ataupun pesan yang saya kirim, apa Elina baik-baik saja? saya sangat mencemaskannya'' tutur Reyz


''Tenang saja Elina baik-baik saja dia ada di kamarnya saat ini''


''Dikamarnya? lalu traumanya?''


Reyz cemas mengingat kejadian terahir kali Elina berada dikamar miliknya tempo hari saat Damar mencoba menyakitinya.


''El, berada dikamar yang lain, Mamahnya memindahkan kamar dan semua barang-barangnya ke kamar yang lain, kami ingin Elina merasa nyaman'' jawab Indra


''Syukurlah kalau begitu om, ehmm...apa saya boleh menemui Elina om , tante?'' tanya Reyz dengan perasaan kikuk


''Tentu saja boleh, kau calon suaminya kenapa tidak boleh?'' jawab Mira


''Ehmm...tapi maaf sebelumnya om , tante saya tak bermaksud untuk menggantikan posisi putra kalian karena jujur saya sangat mencintai Elina dengan segenap jiwa dan raga saya, saya ingin Elina bahagia''


Reyz kali ini memberanikan diri untuk berkata ia tak ingin ada masalah di kemudian hari tentang dirinya yang ingin memiliki Elina dengan do'a dan restu orang-orang yang Elina cintai.


''Kami tahu Reyz, kami sadar dan kami tak ingin bersikap egois, Elina memiliki harapan dan masa depan yang tak boleh hancur demi menjaga perasaan kami, selama ini ia sudah banyak berkorban demi kami orang tuanya , kami ingin Elina bahagia Reyz''.


Indra dengan menatap Reyz seolah ia sedang menumpahkan isi hatinya dan mencari kejujuran di mata Reyz.


''Reyz, tolong jaga putriku dengan baik cintai dia dan sayangi dia, jangan pernah kau sakiti hati dan fisiknya Elina itu sebenarnya sangat rapuh namun ia bersikap seolah kuat dengan berpura-pura tegar dan bersikap dingin itu semua ia lakukan untuk menutupi luka hati dan deritanya selama ini'' timpah Mira


''Satu lagi yang om minta darimu Reyz, jika sampai kau menyakiti hatinya maka kau akan menghadapi om dan Dirga bahkan mungkin Kakekmu sendiri'' Indra dengan tegas


''Saya, paham om , tante dan saya berjanji akan selalu mencintai Elina, jika sampai saya menyakiti Elina , saya akan terima hukuman yang akan kalian berikan nanti meski itu adalah dengan menebusnya dengan nyawa saya sendiri''


''Om suka dengan ketegasan dan om pegang janjimu itu, sekarang kau pergilah temui Elina sepertinya ia belum tahu jika kaulah calon suami yang Kakek Adiguna pilih'' tukas Indra

__ADS_1


''Terima kasih om, tante dan untuk itu saya mohon jangan beritahu dulu Elina , saya sendiri yang akan mengatakannya ''ucap Reyz


''Baiklah itu terserah padamu, kami hanya mendo'akan yang terbaik untuk kalian berdua'' kali ini Mira yang berkata .


Reyz mengangguk dan beranjak dari duduknya untuk menemui Elina yang saat ini tengah berada di kamar.


Elina duduk di ayunan kayu yang terletak di roptoop kamar, menikmati angin malam tampak ia sedang memikirkan sesuatu dan tak menyadari kedatangan Reyz.


''Sayang''


Panggil Reyz, Elina tersentak dari lamunannya dan memalingkan wajah ke arah pintu kamar dimana Reyz berdiri saat ini.


''Reyz''


Elina beranjak dari duduknya dan menghambur memeluk Reyz yang juga berjalan ke arahnya memeluk erat Elina , rasa cemas setelah seharian tak mendapat kabar ahirnya terbayar dengan rasa rindu yang menggebu.


''Kau kenapa? seharian ini kau tak menjawab pesan dan panggilanku? Kau tahu ? kau membuatku cemas dan hampir mati karena mencemaskanmu''


Reyz, menghujani Elina dengan berbagai pertanyaan sementara Elina diam mendengarkan ocehan Reyz, dengan mata berkaca-kaca ia menatap Reyz.


Elina bingung harus bagaimana mengatakan tentang perjodohan yang telah di tetapkan sang Kakek.


''Kenapa kau diam saja? apa kau tahu kalau aku sangat merindukanmu seharian ini?''


''Cups''


Reyz menarik tubuh Elina agar semakin erat dalam pelukannya.


''Kau tahu, bukan begitu caranya memberikan ciuman tapi seperti ini''


Tanpa aba-aba lagi Reyz langsung meraup bibir penuh candu Elina dengan ganasnya dan tak memberikan Elina kesempatan untuk menghindarinya.


Elina membiarkan Reyz mengexplore isi mulutnya dengan bertaut lidah dan bertukar saliva suara decapan ciuman mereka menjadi musik terindah untuk keduanya .


''Emmhhh....


Reyz, melepaskan pagutan bibir mereka, tangan Reyz terulur mengusap bibir mungil Elina yang sedikit bengkak akibat ulahnya barusan namun tetap terlihat **** dan menantangnya untuk kembali ia hisap madu manisnya.


''Sayang, aku sangat merindukanmu jangan buat aku gelisah dan tersiksa dengan sikap mu ini kau tahu aku sangat takut terjadi sesuatu padamu''


Reyz, mengecup kening Elina , sementara Elina memejamkan mata meresapi segenap cinta yang Reyz limpahkan untuknya , ia dapat melihat dengan jelas bagaimana kecemasan dan ketakutan Reyz karena dirinya.


''Ya Tuhan, bagaimana aku harus mengatakan kebenarannya tentang perjodohanku pada Reyz, aku tak bisa menyakiti hatinya, aku harus bagaimana ?''batin Elina

__ADS_1


''Sayang, kenapa kau diam saja? Apa kau sakit atau ada yang menyakitimu?'' tanya Reyz cemas


Elina kembali menatap Reyz sakit hatinya saat ini melihat Reyz , perhatian dan sikap Reyz membuat Elina semakin tak kuasa untuk bicara .


''A-aku baik-baik saja sayang, maaf telah membuatmu cemas, aku hanya ingin menyendiri saja, tidak ada apa-apa kau tenang saja'' ucap Elina


Dengan membelai wajah Reyz, Elina berusaha untuk membuat Reyz tenang , meskipun dirinya sendirilah yang saat ini butuh ketenangan


' aku tahu saat ini kau sedang membohongiku sayang, kau sedang tidak baik- baik saja" dalam hati Reyz.


''Jangan membohongiku sayang, aku tahu jika saat ini kau sedang tidak baik-baik saja''


''Apa maksudmu Reyz?''


''Tadi aku ke kantormu, dan aku bertemu Raya di sudah menceritakan semuanya tentang kedatangan orangtuamu'' ucap Reyz.


Elina melepaskan pelukan Reyz dan berdiri membelakanginya dengan berat hati dan tangannya terkepal menahan sakit hati dan sesak yang ia rasakan Elina pun mengatakan segalanya pada Reyz.


Benar dugaan Reyz jika Elina belum tahu dirinya adalah calon suaminya.


''Kenapa kau tak menerima perjodohan itu El?''


''Apa maksud pertanyaanmu itu Reyz?'' Elina menatap nanar Reyz tak percaya dengan apa yang pria dihadapannya katakan barusan.


''Bukankah dari sikapmu padaku hari ini jelas jika kau ingin memutuskan hubungan kita dan menerima perjodohan itu?''


Reyz menatap Elina dengan tatapan yang tak bisa untuk Elina mengerti.


''Jadi kau ingin aku menerima perjodohan ini setelah aku menyerahkan hatiku padamu? Setelah aku membuka hatiku untukmu? Setelah aku menerimamu ?'' namamu sudah terukir di hati, jiwa dan pikiranku? atau apa kau sengaja mempermainkan aku Tuan Muda Hadiningrat?''


Elina dengan suara yang menggelegar menatap tajam Reyz dengan penuh air mata dan sakit yang begitu menusuk sanubarinya saat ini mendengar pertanyaan Reyz yang seolah ingin mempermainkan dirinya.


Reyz mencoba menenangkan dengan mendekap Elina yang meronta-ronta dan memukulinya secara membabi buta


''Sayang, bukan begitu maksudku maafkan aku, kau tahu aku sangat mencintaimu tak mungkin aku membiarkan kau menjadi milik orang lain, baiklah kita akan menghadapinya bersama-sama kau percaya padaku kan?'' tanya Reyz


''Melebihi diriku sendiri''


''Kalau begitu serahkan semuanya padaku, dan yakinlah akan cintaku,kita akan bersama selamanya''


Elina mengangguk dan membiarkan Reyz memeluk dirinya dengan erat, pelukan Reyz membuat Elina tenang dan nyaman itulah yang membuat Elina takut untuk kehilangan Reyz , Elina sudah terjatuh terlalu dalam ke dalam cinta dan pesona seorang Tuan Muda Hadiningrat.


🌿🌿🌿🌿🌿

__ADS_1


Elina Maharani



__ADS_2