
Keesokkan harinya, Keadaan bayi Naya pun membaik dan telah di perbolehkan untuk pulang. Sedangkan Naya dengan semangat pergi ke sekolah karena akan ada ujian.
Naya Merasakan hal yang tak biasa saat semua mata dengan tatapan sinis dan jijik tertuju padanya. Ia melihat Maya yang tengah bersama beberapa siswi sedang bergosip sembari memandangi dirinya
"Hai Maya,Siska,Alina" ujar Naya yang berusaha untuk menyapa teman-temannya. Namun, Maya dan kedua temannya bergegas meninggalkan Naya tanpa menjawab sapaan Naya.
"Kenapa ya?" ujar Naya sembari menoleh ke kiri dan kanan melihat para murid tengah berbisik dan memandangi nya dengan tatapan aneh.
"Ikut gue nay" ujar Alice sembari menarik tangan Naya ke papan pengumuman. Ia melihat poster Naya yang tengah menyusui dan melahirkan terpampang Lebar
Naya terduduk di lantai. Sebab kakinya melemas seakan sedang tak berpijak di tanah bumi. Dada nya sesak dan hampir pingsan. Bagaimana tidak, hal yang selama ini ia takuti telah terbongkar
Bagaimana nasibnya setelah ini, apa yang akan terjadi, apakah ia benar-benar harus merelakan cita-cita nya menjadi dokter berserta impiannya yang ingin masuk ke universitas ternama. Pertanyaan itu lah yang sedang menghantui pikiran nya
Ia melihat sekumpulan murid yang berdatangan menghampiri nya. Ia merasa seakan semua orang sedang membicarakan dirinya, seakan sedang mengolok-olok dirinya dengan wajah yang menakutkan
Ia pun bergegas menerobos sekumpulan murid dengan berlari kenang sembari menangis tersedu-sedu
Disisi lain, Alice merobek poster tersebut dan menghampiri raya yang tengah santai menonton adegan tersebut
"Ini pasti ulah Lo kan!" Ujar Alice berteriak sembari melempar robekan poster tersebut ke wajah Raya
"Heh, sebelum Lo nuduh orang! Mending Lo tanya dulu ke sahabat nya" ujar raya sembari melirik ke arah Maya yang tengah berdiri di samping teman sekelas nya
"Maksud Lo!!" Tanya Alice dengan tegas
"Maya yang waktu itu lagi mengintip Naya pas lagi menyusui. Kenapa Lo nyalahin gue?" Jelas nya sembari memberikan foto dimana Maya sedang mengintip di balik pintu
"Heh, Lo yang ngerekam!! Kenapa Lo nyalahin gue" ujar Maya yang tak terima akan fitnah raya kepada dirinya
"Udah deh may!! Ngaku" jelas nya sembari tersenyum licik
__ADS_1
"Lagian, kalo emang gue yang menyebarkan hal ini!! Udah lama kali. Lo ingat kan" tambah raya sembari memandangi wajah Alice
Alice teringat dimana raya merekam Naya diam-diam sewaktu check up kandungan. Ia membayar seseorang untuk mencopet Handphone nya agar tak memiliki bukti apa pun. Setelah kejadian itu, Alice terus memantau pergerakan raya dan mendapati bahwa raya tak berusaha untuk membongkar kebohongan Naya
"Bener! Kalo emang raya pelaku nya. Gak mungkin baru ke bongkar sekarang" ujar Alice di dalam hati
Ia melihat ke arah maya yang tengah panik menggelengkan kepalanya. Alice pun menghampiri nya. sehingga membuat Maya semangkin Panik
"Bukan gue Al!" Jelas Maya. Namun, Alice tak ingin mendengar apapun dan menampar wajah Maya dengan keras
"Jelas-jelas di foto itu. Lo yang lagi ngintip Naya menyusui. Lo sahabat macam apa sih?" Ujar Alice mengertak Maya
Sedangkan Maya hanya menangis dan menundukkan kepalanya sembari memegangi pipi nya yang hangat disebabkan tamparan Alice
Disisi lain, Sisil baru saja tiba di sekolah dan menghampiri kerumunan para murid yang sedang menonton keributan yang sedang terjadi
Ia melihat poster Naya yang masih tertempel di dinding dan menghampiri nya. Ia menatap poster tersebut dengan dingin
Mendengar keributan tersebut, Sisil pun menghampiri mereka dengan santai dan melihat Maya tengah menangis
"Sahabat macam apa yang menyembunyikan hal sepenting ini!! kita selalu terbuka tentang rahasia kita sama dia! tapi dia gak mau terbuka sama kita! kenapa cuma Lo aja yang di beri tau. kita juga sahabatnya kan. kenapa kita gak di kasih tau juga" ujar Sisil dengan dingin sembari menekukkan tangannya di dada
"Seharusnya kalan mikir! Kenapa Naya gak kasih tau kalian hal ini. Karena dia takut kejadian hari ini terjadi. Dan bener kan, Sejak kalian tau rahasia nya. Hidup Naya hancur" ujar Alice yang kesal sembari pergi meninggalkan mereka untuk mencari keberadaan Naya
Sisil hanya diam melihat Alice pergi. Ia melangkahkan kaki nya menghampiri raya yang tengah santai melipatkan tangannya di dada dan bersandar di dinding bersama Noni
Plak... Tangan mulus Sisil mendarat di pipi raya yang membuat Maya terkejut. Karena Maya mengira bahwa Sisil lah yang telah membuat poster tersebut
"Lo apa-apaan sih!! Kenapa Lo nampar gue" ujar raya dengan nada tinggi sembari memegangi pipi nya
"Lo pantas ngedapetin itu! Licik Lo ya. Lo yang nyebar rahasia itu dan nyalahin kita biar Lo aman gitu! Pantes, Lo dari kemarin berusaha banget ngomporin gue" ujar Sisil sembari menarik kerah baju raya
__ADS_1
"Heh! Seharusnya Lo berterimakasih sama gue. Gue udah bantu kalian membalaskan sakit hati kalian karena gak di anggap" ujar raya sembari menepis tangan Sisil agar terlepas dari genggaman nya
"Gue gak butuh itu" jelas Sisil sembari menekan suara dan pergi meninggalkan raya
"Sisil tunggu" ujar Maya mengejar Sisil dari belakang
Disisi lain, Alice terus mencari keberadaan Naya. Namun, Naya tak ditemui. Ia pun bergegas menelpon Hans dan menanyakan keberadaan nya
"Gila lu! Mana gue tau. Gue kan di Melbourne sedangkan Lo sama Naya di indo" ujar Hans
"Bukan gitu maksudnya!! Lo tau gak tempat yang biasa di datengin Naya pas lagi sedih gak?" Ujar Alice dengan tergesa-gesa
"Kenapa emang? Dia lagi kena masalah kah?" Tanya Hans
"Gak usah banyak tanya!! Langsung jawab aja" ujar Alice dengan kesal mengertak Hans.
"Bawah jembatan. Biasanya dia suka nangis di situ" ujar Hans dengan santai membuat Alice geram
"Serius dodol!" Ujar nya dengan kesal
"Lah, serius ini! Dia suka ngumpet disana biar gak ketahuan orang kalo lagi nangis" ujar Hans yang membuat Alice ragu
"Tau dari mana Lo!! Jangan sampai aja. gue disana tapi dia gak ada!" Ujar Alice
"Iya, gue suka ngikutin dia pas pulang sekolah dan selalu liat dia nangis di bawah jembatan itu" jelas Hans.
Mendengar hal tersebut, Alice pun bergegas menghampiri tempat yang di tunjuk oleh Hans dan benar saja, Naya tengah meringkuk sembari menangis
Alice menghampiri nya dan memeluk tubuh Naya agar ia dapat tenang. Naya pun menangis sejadi-jadinya di pelukan Alice
Telpon Hans yang masih tersambung dengan Alice pun hanya diam mendengar tangisan naya yang sedang pecah. Karena tak ingin menganggu. Ia pun segera mematikan telpon nya
__ADS_1