
Hans menyetir dengan tatapan kosong. Suara raya yang membongkar masa lalu Naya masih terngiang-ngiang di telinga nya. Dada nya sesak dan berusaha untuk tetap tenang
Singkat cerita, Siang pun berganti malam. Naya kembali ke Apartemen nya. Ia dengan lesu melepaskan Cardigan dan menggantung nya
Rasa panik dan takut menghantui dirinya. Pertanyaan tentang reaksi orang tua Hans yang mengetahui masa lalu nya terus melintas di pikiran nya
Ia hendak masuk ke kamar nya dan melihat televisi yang sedang menyala. Ia mendekatinya dengan perlahan untuk memastikan bahwa tidak ada orang asing yang masuk ke apartemen nya
Dibekali wajan, ia mengendap-endap saat melihat sosok tengah merebahkan tubuhnya di atas sofa milik nya
"Maling!!!" Teriak nya sembari menghantamkan wajan tersebut ke sosok misterius
"Aw, ini gue" ujar Hans sembari melindungi wajahnya
Mendengar hal tersebut, Naya menghentikan aksi nya. Dengan rasa bersalah, ia bergegas menghampiri kekasihnya yang tengah melekuk
"Sorry Hans, Lo sih" ujar Naya dengan panik menyentuh pipi Hans...
"Tanggung jawab" ujar Hans beranjak duduk
"Ya udah, ayo ke rumah sakit" ujar Naya sembari menarik tangan Hans
"Gak perlu rumah sakit. Ini obat nya" ujar Hans sembari mendekatkan pipi nya
"Apaan sih, modus banget." Jawab Naya sembari tertawa kecil dan mendorong pipi Hans
Hans tertawa terbahak bahak melihat pipi Naya yang memerah karena malu dan salah tingkah.
"Oh ya, ternyata mama gue gak sabar ketemu Lo. Jadi besok dia kesini" ujar Hans membuat langkah kaki Naya terhenti
"Apa gak kecepatan Hans?" Jawab Naya dengan ragu
"Emang kenapa? Lo gak siap ya?" Jawab Hans sembari berjalan menghampiri Naya
"Hans, gue takut! Orang tua Lo gak akan mau terima gue" ujar Naya
"Gue bisa kok meyakini mereka" ujar Hans sembari tersenyum
"Tapi Hans, mana ada orang tau di dunia ini rela anak nya pacaran sama cewek yang-" ujar Naya terhenti karena di sela oleh Hans
"Udah punya anak?" Ujar Hans membuat Naya terdiam
"Udah, tenang aja! Yang menjalani ini semua itu kita Bukan mereka" tambah Hans sembari memegang kedua pipi Naya
__ADS_1
"Lo, Lo tau Hans?" Tanya Naya dengan ragu
"Iya, semua!! Tapi itu gak merubah perasaan gue ke Lo. Gue mau jadi ayah anak itu. Gue gak akan biarin Lo ngejalanin itu semua sendiri" ujar Hans membuat air mata Naya menetes
"Maaf nay, seharusnya dari awal gue nemenin Lo. Harusnya gue gak pergi kemana pun biar bisa ngelindungi Lo. Maaf, gue telat" ujar Hans
Naya menangis sejadi-jadinya dan memeluk tubuh Hans yang kekar. Hans membiarkan Naya membasahi pakaiannya
Disisi lain, raya yang tak terima pun mulai merencanakan sesuatu untuk merebut Hans dari Naya.
Ia kembali menyebarkan foto dan video Naya di website Hongkong agar Naya malu dan kembali hancur
Keesokan harinya, orang tua Hans benar-benar tiba dan datang untuk menemui Naya. Hans mengengam tangan Naya dengan erat agar ia tenang
"Hai, maaf ya mama sedikit telat" ujar Rere sembari duduk di depan Naya
"Sedikit dari mana? Kami udah nunggu setengah jam di sini" ujar Hans dengan kesal
"Ya ampun, sorry ya sayang! Abis mama sengaja biar kalian punya banyak waktu berduaan" jawab Rere sembari tertawa kecil
"Oh ya, kamu yang nama nya Naya ya?" Tanya Rere dengan ramah
"Iya Tan" jawab Naya dengan ragu sembari tersenyum paksa
Melihat senyum dan cara bicara Rere. Naya pun merasa tenang. Ia kembali rileks dan tak membutuhkan waktu lama untuk dekat dengan calon mertua nya itu
Mereka menghabiskan waktu bersama. Melakukan perawatan dan berbelanja di mall seperti wanita sosialita lainnya
Tak terasa, siang pun berubah menjadi malam. Hans mengantarkan Naya pulang ke apartemen nya
"Gimana? Semua baik-baik aja kan" ujar Hans sembari menyetir mobilnya
"Iya, gue legah banget. Kirain mama Lo sama jahat dan julit kayak di film-film. Ternyata asik banget. Enak tau punya mama asik kayak Tante. Lo harus bersyukur" ujar Naya sembari tertawa kecil
"Haha bisa aja! Tunggu gue lulus ya. Entar mama ku jadi mama mu juga" ujar Hans sembari mengengam tangan Naya
Naya hanya tersenyum malu. Tak lama, senyum nya menghilang. Ia menatap jalan dengan tatapan kosong
"Kenapa lagi?" Ujar Hans yang sadar akan perasaan Naya yang tak baik-baik saja
"Orang tua Lo baik karena gak tau masa lalu gue Hans" ujar Naya
"Nay, gue udah bilang. Apapun yang terjadi. Gak akan ada yang bisa menganggu keputusan gue termasuk orang tua gue sendiri. Gue bakal ngelindungi Lo dan akan memberikan kehidupan baru" jawab Hans dengan serius
__ADS_1
"Udah ya, hal ini gak usah di ungkit lagi" tambah Hans sembari mencium tangan Naya
Disisi lain, orang tua Hans masih berada di restoran tempat mereka makan bersama. Raya yang telah mengawasi dari kejauhan pun menghampiri orang tua Hans
"Hai Tante" sapa raya sembari duduk di depan Rere
"Hallo. Siapa ya?" Tanya Rere dengan ragu
"Saya teman sekolah nya Hans di Indonesia Tan" ujar raya dengan ramah
"Oh, salam kenal ya! Maaf, Tante gak tau hehe" ujar Rere sembari tertawa kecil
"Iya Tan, gapapa kok. Ngomong-ngomong Hans kemana Tan?" Tanya raya yang pura-pura tidak tau keberadaan Hans yang tengah mengantar Naya
"Oh, dia lagi nganter pacar nya pulang" jawab Rere sembari menuangkan teh di cangkir
"Oh, si Naya ya Tan?" Tanya raya yang mulai melancarkan aksi nya
"Iya, kamu kenal Naya juga?" Tanya Rere sembari memberikan teh tersebut ke raya
"Kenal Tan, kami dulu sekelas, tapi..." ujar raya terhenti dan berharap ibu Hans menanyakan kelanjutannya
"Tapi kenapa?" Tanya Rere dengan penasaran yang membuat raya senang
"Dia di keluarkan dari sekolah karena hamil di luar nikah Tan" ujar raya yang mulai berakting sedih
"Apa!!! Kamu gak bohong kan?" Ujar Rere terkejut mendengar hal tersebut
"Nggak tan, ini saya punya foto dan video nya. Dulu sempat viral Tan" ujar raya sembari menyodorkan handphone nya
Rere melihat foto dan video tersebut dengan serius. Ia pun nampak kecewa dan penuh amara
"dia juga pergi ke sini dan meninggal anak nya di indo Tan" tambah raya
Melihat ekspresi Rere yang tak sedap di lihat pun membuat hati raya senang dan girang
"Maaf tan, Raya gak seharusnya bilang gini. Tapi, ini yang terbaik untuk Hans" ujar raya sembari menundukkan kepalanya
"Gapapa, Tante malah sangat berterimakasih ke kamu" ujar Rere sembari tersenyum paksa
"Iya Tan, raya pamit pulang dulu ya. Seneng bisa ketemu Tante disini" Ujar raya sembari beranjak berdiri
"Iya, hati-hati ya" jawab nya sembari tersenyum
__ADS_1
Raya meninggalkan ruangan tersebut dengan puas. Ia tersenyum sembari berlengok menuruni anak tangga