
Malam menjelang Elina masih terlelap dalam tidurnya, Reyz meminta izin pada Dirga untuk menginap ia khawatir jika Elina terbangun dan mencari dirinya mengingat traumanya kembali saat ini.
Dirga memberikan izin, Mira dan Indra pamit pulang setelah memastikan Elina baik-baik saja
Reyz, meminta izin untuk tidur di sofa yang berada di kamar Elina, ia tak ingin berada jauh dari Elina.
Waktu menunjukan sudah jam sepuluh malam namun tak ada tanda-tanda Elina akan terbangun Reyz, memutuskan untuk tidur saja di sofa dengan bantal dan selimut yang di berikan Ratih.
🌿🌿🌿
''Tidak... jangan... jangan mendekat ! Elina jatuh tersungkur ke lantai
Elina di hinggapi ketakutan luar biasa saat ini Damar tengah mengurungnya di sebuah ruangan gelap tanpa pencahayaan.
''Kenapa kau menolakku Elina? Kau tahu sudah lama aku menyukaimu , dan sekarang kau malah akan menikah dengan pria brengsek itu, kenapa bukan aku Elina? ''
''Paman...ka-kau sakit, ini tidak mungkin? Tidaak...i-ini pasti mimpi ''
''A-ku tidak mungkin berada di sini, lepaskan aku biarkan aku pergi!!!''
Elina berusaha untuk bangkit dengan berpegangan pada dinding , semua nampak gelap hanya sinar remang -remang dari lilin di sudut meja yang menyala.
''Aaawwww...
Damar menjambak rambut Elina hingga wanita itu mendongak menahan sakit di belakang kepalanya serasa bagai tercabut dari akarnya.
''Kau selalu bersikap arogan dan dingin pada siapapun , tapi kau malah memutuskan untuk menikah dengan pria lain, kau pikir aku akan membiarkan semua itu terjadi?''
''Kau hanya akan menjadi milikku Elina, bukan Tuan Muda itu atau pun orang lain , kau hanya milikku dan hanya akan menjadi milikku''
''Tidak , aku tidak mau , lebih baik kau bunuh aku saja daripada aku harus menjadi milikmu'' Elina menatap nyalang Damar.
''Baiklah jika itu mau mu, bukan hanya kau yang akan mati tapi juga laki-laki itu''
''Tidak!!! Jangan''
''Lepaskan aku... Reyz... tolong aku... Reyz....
''TIDAAAAAKKK''
__ADS_1
Elina terbangun dari tidurnya seketika, Reyz yang sudah sedari tadi berusaha untuk membangunkannya nampak panik melihat Elina berteriak histeris.
''Sayang''
Elina menoleh ke arah Reyz, keringat membasahi kening dan sekujur tubuh Elina tubuhnya gemetar ketakutan
''Reyz...
''Iya sayang, ini aku''
''Reyz, aku takut, dia ...dia bebas hiks...hiks...dia ingin menyakitiku juga dirimu Reyz, bagaimana ini aku sangat takut Reyz....''
''Sayang, tenangkan dirimu, kau hanya bermimpi dia tak akan berani untuk menyakitimu selama ada aku''
''Tidak, Reyz dia datang, dia ingin membunuhmu aku takut , aku takut dia akan memisahkan kita Reyz...''
''Sayang, lihat aku! Aku disini dihadapanmu tidak ada seorangpun yang bisa menyentuh ataupun melukaimu , selama aku masih hidup aku pastikan kau akan selalu aman ini janjiku''
Reyz memeluk Elina mencoba agar Elina tenang membawa tubuh wanita itu kedalam dekapannya, Elina memeluk erat Reyz berusaha untuk tenang dalam dekapan hangat sang kekasih.
Setelah Elina mulai tenang Reyz melepaskan dekapannya dan merapikan rambut Elina yang tergerai berantakan , ia juga memberikan Elina air putih untuk diminumnya.
Elina yang menerima gelas minum itu meminumnya perlahan dan mengangguk.
''Aku sudah lebih baik, terima kasih karena kau sudah menjagaku ''
''Untukmu aku akan melakukan apapun''
Elina meraih tangan Reyz dan di kecupnya dengan penuh rasa terima kasih dan juga sayangnya pada calon suaminya itu.
''Apa kau lapar?'' tanya Reyz
''Sebenarnya aku memang sangat lapar, tapi ini sudah larut malam ''
''Tidak apa, aku akan menyiapkan makanan untukmu, kau tunggu saja disini aku akan ke dapurmu sebentar membuat sesuatu''
''Baiklah,kalau begitu aku akan mandi saja rasanya tubuhku terasa lengket dengan keringat juga dengan pakaian ku ini ''
Elina melihat pakaian yang ia kenakan masih pakaian yang sama saat tadi siang ia pergi ke butik.
__ADS_1
''Tapi jangan terlalu lama mandinya tidak baik mandi malam-malam''
''Iya , aku mandi pake air hangat kok''
Reyz beranjak dari tempat tidur meninggalkan Elina , untuk pergi ke dapur sementara Elina pergi ke kamar mandi untuk mandi.
Reyz, tengah berada di dapur membuka kulkas mencari apa yang bisa ia gunakan untuk membuat makanan.
Beruntung Reyz menemukan telur, sosis dan beberapa sayuran ia ingin membuat nasi goreng dan jus alpukat untuk Elina , dengan cekatan ia mulai memotong sosis dan sayuran sebagai pelengkap .
Tanpa Reyz sadari jika saat ini Ratih dan Dirga yang terusik oleh suara yang ia timbulkan di dapur membuat pasangan suami istri itu terbangun ditambah aroma bumbu yang tercium membuat mereka penasaran dan melihat ke dapur.
''Reyz, Bu apa dia sedang memasak? tanya Dirga
''Sepertinya begitu Yah, mungkin ia lapar jadi ia memasak''jawab Ratih
''Ibu, gak nyangka udah ganteng , baik hati eh pintar masak juga'' kembali Ratih berkata.
''El, pasti bahagia hidup bersamanya Bu''
''Amin semoga saja , itu yang Ibu harapkan Yah''
Ratih dan Dirga yang melihat gerak gerik Reyz dari kejauhan , tiba-tiba melihat Elina menuruni tangga.
''Udah mateng Reyz?''
''Sudah sayang, ayo makan lah '' jawab Reyz
''Wah nasi goreng , aku makan ya''
Reyz mengangguk dengan cekatan pria itu melayani Elina dan menemaninya makan ,Ratih dan Dirga yang melihat hal itu tersenyum bahagia karena Elina kini berada di tangan yang tepat mereka tidak akan cemas lagi tentang Elina.
Keduanya sangat bersyukur melihat kebersamaan Elina dan Reyz yang terlihat bahagia dan tertawa bersama ahirnya putri yang mereka sayangi menemukan kebahagiaan dari seorang pria bernama Reyzwan Alli Hadiningrat.
''Semoga mereka selalu bahagia ya Bu''
''Iya Yah, semoga tidak ada lagi masalah yang akan datang dan merusak kebahagiaan putri kita''
''Amin''
__ADS_1
Dirga mengaminkan do'a sang istri dan mereka pun kembali ke kamar mereka untuk beristirahat meninggalkan Elina dan Reyz di pantry.