
Tak lama, Naya telah selesai berbicara dengan dokter dan hendak pulang kerumahnya. namun, ia terkejut saat melihat Hans yang tengah mematung menatap nya
"Hans? Ngapain dia disana?" ujar Naya Sembari menundukkan kepalanya dan hendak pergi mengabaikan Hans. Namun, Hans berlarian menghampiri nya
"Tunggu! Lo sakit?" ujar Hans menahan tangan Naya
"Nggak kok!! Lo ngapain kesini?" ujar Naya dengan Panik
"Seharusnya gue yang nanya! Lo ngapain di sini? ini kan tempat khusus untuk check up kandungan" ujar Hans
"oh itu, emh.. itu gue chek up karena udah beberapa bulan gak menstruasi. gue takut ada kista atau penyakit lain. mangkanya gue chek disini" ujar Naya dengan Ragu
"Lo, Lo sendiri ngapain disini?" tambah Naya untuk mengalihkan pertanyaan Hans
"oh, gue abis menjenguk Alice. Gara-gara gue dia jatuh" ujar Hans sembari melepaskan tangan nya yang memegang tangan Naya
"jadi Alice di rawat disini? ruangan nya dimana?" ujar Naya sembari berjalan untuk mencari ruangan Alice
"Ruangan VIP nomor 106" ujar Hans dengan dingin lalu pergi keluar untuk mencari udara segar.
Singkat cerita, Naya telah sampai ke ruangan Alice. tak lama, Alice pun tersadar dari pingsannya dan berusaha untuk duduk
"Sayang, gimana rasanya? masih pusing gak?" ujar Stella sembari membantu Alice untuk duduk
"Iya sedikit tapi gak apa-apa kok" ujar Alice sembari tersenyum agar ibunya tak khawatir
"Ya udah tidur lagi aja ya. istirahat biar enakkan" ujar Stella hendak menyuruh Alice untuk tidur. Namun, Alice menolaknya
"Mah, bisa tinggalin Alice sama Naya gak? Berdua" ujar Alice sembari menggenggam tangan Naya.
Stella, Rere dan ivana pun saling bertatapan dan menyetujui permintaan Alice. mereka pun pergi keluar ruangan untuk memberikan waktu
"Gimana? Lo udah aborsi?" ujar Alice dengan khawatir
"Sekarang belum bisa Al. katanya bisa membahayakan nyawa gue. Karna gue masih terlalu dini. tapi Gue dikasih obat untuk melemahkan kandungan sama dokter. Banyak yang pake obat ini. katanya nanti cabang bayi nya keluar sendiri" ujar Naya sembari berbisik
__ADS_1
"Oh, syukur deh kalo gitu. semoga aja berhasil ya" ujar Alice sembari bernafas lega
"Gue dengar-dengar Lo jatuh karena Hans ya? kok bisa?" ujar Naya sembari memberikan Alice air putih
"Gue jatuh karena raya sih!! dia menggoyangkan tangga yang lagi gue naikin. ya, cuma gara-gara Hans juga. andai aja dia gak ngelempar sepatu gue ke genting. hal ini gak mungkin terjadi" ujar Alice sembari mengambil air yang telah diberikan oleh Naya dan meminumnya
"Tadi waktu gue abis ngobrol sama dokter Erna. gue ketemu sama dia. katanya abis jenguk lo" ujar Naya
"Hah! Dokter Erna" ujar Alice dengan terkejut
"Iya, Dokter Erna yang kasih gue obat ini" ujar Naya sembari memperlihatkan obat nya
"Gila!! waktu Lo ngobrol sama dokter Erna. Hans liat gak?" ujar Alice dengan panik
"Nggak tau. Gue sadar dia di rumah sakit ini pas gue mau pulang" ujar Naya dengan bingung
"Emang kenapa sih?" Tambah Naya yang melihat Alice panik
"Dokter Erna itu Ibu tirinya om bara. bisa di bilang kalo dokter Erna itu nenek nya Hans. dia emang gak mau pensiun dan terus kerja disini. ini rumah sakit keluarga nya!! Lo kenapa bisa chek disini sih! takutnya Hans tau dari nenek nya" ujar Alice dengan panik
"Apa!! gimana dong" ujar Naya semangkin Panik dan takut Hans mengetahui tentang dirinya
"Sayang, maaf mama lancang. Tapi ini waktunya kamu istirahat" ujar Stella yang tiba-tiba masuk bersama ivana yang tengah membawa obat
"Gue pulang ya Al. Lo istirahat aja. makasih ya informasi nya" ujar Naya sembari beranjak pergi meninggalkan ruangan Alice.
Naya berjalan di lorong rumah sakit dengan tatapan kosong sembari memikirkan nasib nya ke depan jika Hans mengetahui rahasianya.
Tak lama, Naya melihat Hans tengah duduk di taman dengan diam tengelam dalam lamunannya. Naya menghampiri Hans untuk menanyakan sesuatu
"Hans.." ujar Naya sembari memberikan secangkir kopi
"Kenapa?" ujar Hans dengan dingin sembari mengambil kopi yang diberikan Naya.
"gapapa sih! gue boleh duduk disini?" ujar Naya dan Hans pun hanya menganggukkan kepalanya
__ADS_1
"Lo kenapa? Kok belum pulang? Lo pasti mikirin Alice ya! Lo gak salah kok" Tambah Naya yang melihat Hans hanya diam
"Alice jatuh bukan karena Lo! lagian Lo juga udah berusaha untuk menyelamatkan Alice saat itu. jadi berhenti menyalahkan diri sendiri ya" Tambah Naya
"Ya emang seharusnya gue gak jahat sama alice! tapi mau gimana lagi. udah terjadi" ujar Hans sembari meminum kopi yang diberikan Naya
"Lain kali jangan di ganggu lagi dong. kasian Alice sering Lo kerjain" ujar Naya
"Gue gak janji" ujar Hans sembari tersenyum kecil
"Oh ya Hans, gue mau nanya boleh gak?" ujar Naya dengan Ragu
"Ya udah nanya aja! kenapa?" Ujar Hans sembari menatap mata Naya
"Tadi waktu gue keluar dari ruangan dokter Erna. Lo denger percakapan kami gak?" ujar Naya sembari mengepal erat rok nya
"Nggak, Kenapa emang?" ujar Hans
"gapapa, gue malu aja kalo Lo tau bahwa sebenarnya siklus menstruasi gue gak normal" ujar Naya sembari tersenyum paksa dan menundukkan kepalanya
"Oh, tenang aja. Lo gak akan kena penyakit apa-apa kok. serahin aja semua nya sama Oma" ujar Hans sembari tersenyum
"Iya Hans. tapi bisa gak. Lo jangan bilang ke siapapun soal ini. gue takut orang mikirnya macem-macem" ujar Naya sembari tersenyum paksa
"Boleh. Lo tenang aja" ujar Hans yang membuat Naya merasa lega
"Ya udah gue pulang duluan ya. bye" ujar Naya sembari tersenyum dan hendak pulang
"Gue anterin ya" ujar Hans hendak berdiri. Namun, Naya menolak dan akhirnya mereka pun berpisah
Karena masalah yang dibuat Hans. Ia pun dikeluarkan dari sekolah untuk yang kelima kalinya. Stella dan Alice telah meminta agar pihak sekolah tidak memperbesar masalah ini. Namun, pihak sekolah dan orang tua bara telah menandai surat perjanjian sebelum Hans masuk ke sekolah tersebut
"Maaf buk, sesuai dengan perjanjian awal. Jika Hans melakukan Kesalahan lagi. Maka ia akan di keluarkan dari skolah ini. Kami benar-benar minta maaf untuk itu" jelas nya dengan
"Dulu, ini sekolah terakhir yang mau nerima Hans. Tapi Hans di keluarkan juga. Mau gak mau kita bawa Hans ke Melbourne" ujar bara
__ADS_1
"Iya, cuma itu satu-satunya jalan biar Hans gak putus sekolah" ujar Rere
Singkat cerita, Hans pun di pindahkan ke Melbourne dan melanjutkan sekolah disana.