Gadis Tapi Janda

Gadis Tapi Janda
Kaburnya Damar


__ADS_3

Usai fitting gaun selesai Elina memutuskan untuk makan siang bersam Mira dan Ratih karena memang sudah waktunya bagi mereka untuk mengisi perut.


Mira yang memilih tempat , dan sesuai dengan pilihan Ratih mereka memutuskan untuk makan siang di restoran bernuansa lesehan di pusat kota restorannya cukup nyaman dan ramai didatangi pengunjung karena jam makan siang.


''El, kau mau makan apa nak? tanya Ratih dengan melihat daftar menu


''El, mau pasta saja Bu''


''Minumnya?''


''Lemon tea saja''


''Ok, kalau kau Mir?''


''Samain aja Mbak, seperti El''


''Ok deh kalau gitu Mbak, juga pasta aja biar gak ribet''


Ratih menyimpan buku menunya dan meminta pelayang restoran untuk segera menyiapkan pesanan mereka.


''El, kamu suka dengan gaun tadi? Kelihatannya sederhana tapi pas banget di tubuh kamu'' ucap Mira


''Iya Mah, simpel tapi mewah itukan pilihan Reyz''


''Kok Reyz sih? Kapan dia memilihnya untuk kamu nak?'' tanya Ratih begitu juga dengan Mira yang menatap bersamaan ke arah Elina sementara yang dilihat nampak gelagapan ia tak mungkin mengatakan jika Reyz tadi datang menemuinya.


''Ah itu Bu, WO yang mengurusnya kan pilihan Reyz, jadi pasti gaun itu juga pilihan Reyz kan?'' Elina mencoba mencari alasan .


''Benar juga'' gumam Ratih


''Sudahlah jangan di bahas lagi, makanan kita sudah sampai, ayo kita makan dulu'' timpah Mira saat melihat pelayan datang membawa pesanan mereka.


''Uh...tampaknya ini lezat'' Mira meraih sendok dan mulai menikmati makan siangnya.


Begitu juga dengan Elina dan Ratih mereka sama-sama menikmati makan siang mereka dengan lahap dan tak lupa saling bercerita dan sesekali menggoda Elina.


''Maaf, apa anda Nona El?'' tiba-tiba pelayan datang menghampiri Elina dengan membawa nampan berisi setangkai bunga mawar merah dan sebuah catatan.


''Iya benar, ada apa ya mas?'' tanya Elina


''Saya , di minta untuk memberikan ini oleh seseorang'' pelayan itu sembari memberikan nampan yang ia bawa.


Elina meraih bunga dan catatan di nampan tersebut dengan raut wajah bingung memikirkan siapa yang mengiriminya bunga.


''Saya permisi Nona''


''Iya, silahkan dan terima kasih''

__ADS_1


''Sama-sama Nona''


Mira dan Ratih yang melihat hal itu nampak penasaran dan bertanya pada Elina.


''Bunga dari siapa El?''


''Entahlah Mah, El juga tidak tahu''


''Coba kau lihat catatannya'' timpah Ratih


Elina meletakan bunga itu di meja dan membuka catatannya wajah Elina berubah pucat seperti tak dialiri darah , tangannya mulai gemetar saat ia membaca isi catatan tersebut.


Mira dan Ratih yang melihat perubahan sikap Elina pun panik di raihnya catatan itu dari tangan Elina oleh Ratih.


''Ada apa Mbak?'' tanya Mira


''Damar'' gumam Ratih


Mira mengambil catatan itu dari tangan Ratih dan ia pun membacanya syok dan panik tak kalah dari Elina dan Ratih.


''Astaga , bagaimana mungkin dia bisa keluar dari penjara?'' Mira meraih ponsel miliknya untuk menghubungi Indra sang suami.


Disaat bersamaan berita kebakaran yang terjadi penjara tengah ditayangkan sebuah stasiun televisi dimana Damar dan beberapa napi lainnya dikabarkan kabur saat kebakaran itu terjadi.


''Ya Tuhan''


" Elina , sayangku kau hanya milikku tak akan ku biarkan kau menjadi milik orang lain ,kau hanya milikku selamanya... Tunggulah aku , aku akan datang untuk membawamu..."


Begitulah isi pesan dalam catatan tersebut, Elina melihat kesana -kemari hingga pandangannya bersirobok dengan pria yang ia cari.


Damar tengah menatapnya , pria itu duduk dengan memakai topi dan kacamata hitam dengan setelan berbeda dari biasanya selama ini , Damar perpenampilan seperti seorang preman jalanan dan siapapun tak akan mengenalinya karena selama ini ia selalu berpenampilan rapi dan modis.


Tubuh Elina menegang dan gemetaran Elina kembali jatuh terduduk di kursi dengan keringat dingin mulai membasahi pelipis dan tangannya pun seketika berubah menjadi dingin.


''El nak, kau kenapa?'' Ratih panik begitu juga dengan Mira


Elina diam tak menanggapi kepanikan Mira dan Ratih yang saat ini benar -benar panik, Beno dan Beni yang selama ini selalu menjaga Elina pun menghampiri ketiga wanita itu.


''Nyonya ada apa dengan Nona El? '' tanya Beno


''Kalian cepat siapkan mobil kita harus segera pulang'' titah Mira .


''Baik Nyonya''


Beno bergegas menuju ke tempat parkir sementara Beni menjaga Elina yang di papah Mira dan Ratih. Ketiga wanita beda usia itu kini berjalan perlahan menunggu mobil yang di kendarai Beno.


Begitu semua orang sudah masuk kedalam mobil, Beno segera melajukan kendaraannya meninggalkan restoran dan Damar yang melihat kepergian Elina dari kejauhan dengan senyum penuh arti.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Elina kini tengah tertidur setelah Ratih memanggil Dokter Anwar untuk memeriksa Elina ,ia cemas jika Elina kembali trauma.


Tak lupa , Mira dan Ratih juga mengabari Indra dan Dirga yang masih berada di kantor dan yang terpenting adalah Reyz.


Begitu mendapatkan kabar Reyz segera menuju kediaman Adiguna bersama Jonathan dan juga Raya yang juga datang bersama Dirga karena kebetulan bertemu di kantor.


Berita kaburnya Damar dari penjara membuat semua orang cemas mengingat perbuatan dan ancaman Damar pada Elina.


''Asalamu'alaikum...Ayah , Ibu semuanya ! dimana Elina?'' Reyz tanpa lama-lama ia ingin segera menemui Elina ia benar-benar di buat khawatir begitu mendapatkan kabar dari Ratih.


''Wa'alaikumsalam Reyz, tenangkan dirimu El, baik-baik saja dia sedang tidur baru saja Dokter Anwar memeriksanya dan memberikan Elina obat penenang'' ucap Dirga


''Apa? Obat penenang ? itu artinya Elina kembali trauma?'' Reyz semakin cemas


''Sepertinya begitu, tapi kau tak usah panik Dokter bilang ini tidak berakibat patal, dan Elina sendiri mencoba untuk melawan rasa traumanya sendiri'' kembali Dirga memberikan penjelasan agar Reyz bisa sedikit tenang.


''Jo, pergilah ke kantor polisi dan cari tahu kenapa Damar bisa sampai kabur'' titah Reyz.


''Baik Tuan Muda'' jawab Jonathan


''Aku ikut denganmu Jo'' Raya dengan cepat , ia juga penasaran bagaimana Damar bisa dengan mudah kabur dari penjara.


Jonathan mengangguk sekilas dan ahirnya Raya pergi bersama Jonathan ke kantor polisi untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


''Reyz, pergilah temui El, takutnya ia nanti terbangun dan mengalami mimpi buruk seperti tempo hari'' ucap Adiguna


''Baik Kek, kalau begitu Reyz temui Elina dulu''


''Ya, sana temuilah''


Dengan segera Reyz beranjak menuju kamar Elina yang berada dilantai atas, dengan perlahan Reyz membuka pintu kamar Elina.


Nampak Elina saat ini sedang tertidur dengan pulas di tempat tidurnya, perlahan Reyz menutup pintu kembali dihampirinya Elina yang terlelap perlahan Reyz duduk di tepi kasur.


Diraihnya tangan Elina dan di kecupnya tangan halus dan lembut milik wanita yang sangat ia cintai itu.


''Kau pasti sangat ketakutan tadi, maaf kau harus kembali mengalami hal ini lagi''


Di belainya wajah Elina dengan perlahan ia tak ingin membuat Elina sampai terusik, meskipun sedang tertidur namun Elina tetap terlihat cantik seperti seorang putri tidur pikir Reyz.


Reyz beranjak dan menatap sekeliling kamar Elina yang di dominasi warna abu dan biru muda, terdapat beberapa koleksi buku dan piala yang menghiasi kamar tersebut juga beberapa boneka dan beberapa koleksi music klasik favorit Elina.


''Kau menyukai musik clasik juga ternyata '' gumam Reyz.


Reyz meraih sebuah buku, sepertinya itu adalah buku harian milik Elina, Reyz perlahan membukan lembar demi lembar buku tersebut terdapat catatan harian Elina saat masih remaja dan beberapa hal yang Elina tulis dibuku tersebut.


Catatan dalam buku itu terhenti di saat perjodohan Elina dengan almarhum Rezwan dan disaat itu juga Elina berhenti menulis buku harian dan lebih banyak menulis puisi tentang kehidupan.

__ADS_1


Reyz, mengulas senyum tipis usai membaca puisi-puisi Elina yang menurutnya begitu indah dan penuh makna berarti.


__ADS_2