Gadis Tapi Janda

Gadis Tapi Janda
Bahagia itu sederhana


__ADS_3

Reyz dan Elina keluar kamar saat waktu makan siang, sebenarnya bisa saja keduanya meminta diantarkan makanan namun mengingat keduanya sedang berbulan madu sehingga para staf dan karyawan Hotel tak berani mengganggu sebelum mendapat perintah.


Para karyawan Hotel menunduk hormat begitu melihat Elina keluar dari lift bersama Reyz.


''Selamat siang Nona El''


Reyz, menatap semua karyawan yang tertunduk hormat melihat kedatangan Elina ia merasa bangga bagaimana sang istri begitu di hormati oleh semua orang di Hotel maupun di Royal Group.


''Selamat siang semuanya, tolong siapkan makan siang untuk ku dan untuk suamiku''


''Baik Nona, segera kami siapkan ''


''Terima kasih ''


Elina dan Reyz kemudian berjalan menuju restoran Hotel dengan bergandengan tangan, semua orang nampak menatap kagum pada pasangan suami istri yang cantik dan tampan itu sungguh pasangan sempurna bagaikan di ciptakan satu sama lain untuk saling melengkapi.


Reyz, menarik kursi mempersilahkan Elina untuk duduk keduanya memilih duduk di meja yang mengarah ke arah laut.


Hotel Royal terletak di pinggiran kota dengan pantai dan suasana kota yang strategis tak heran jika banyak tamu Hotel yang memilih untuk menginap di sana.


Beberapa kali juga Elina mendapatkan penghargaan karena kepintarannya mengelola Hotel hingga mendapatkan penghargaan sebagai Hotel bintang lima terbaik di Jakarta.


Tak berapa lama pesanan Elina datang, pelayan datang membawakan makanan dan menyajikannya di meja


''Silahkan di nikmati Nona!''


''Terima kasih ''


''Biarkan kami melayani anda dan Tuan Muda''


''Tidak usah, itu tugasku kalian pergilah lanjutkan pekerjaan kalian ''


''Baik Nona, kami permisi ''


Setelah para pelayan pergi, Elina meraih piring Reyz dan mengambilkan nasi untuk sang suami, Reyz menatap Elina dengan senyum bahagia.


''Sedikit saja jangan terlalu banyak ''ucapnya

__ADS_1


''Kau harus makan banyak, karena dari semalam kau belum makan yang benar '' Elina sembari mengambil lauk ke dalam piring Reyz


''Kau juga sama belum makan sayangku ''


Reyz meraih sendok nasi dari tangan Elina dan menyuruh Elina untuk duduk, giliran Reyz kini yang mengambil nasi dan lauk pauk untuk Elina.


''Reyz, apa yang kau lakukan ?''


''Sudah diam saja dan makanlah''


''Reyz, kau suamiku tugasku melayani mu,, bukan kau yang melayani ku, apa kata orang nanti?''


''Aku suamimu dan aku suka melakukannya untukmu, aku tak peduli apa yang orang katakan yang jelas aku sangat mencintaimu ''


''Reyz...ohhh....cupss....''


Elina mendaratkan ciuman di pipi Reyz membuat pria itu tertegun namun tak kuasa menahan rasa bahagianya wajah Reyz bersemu merah.


''Jangan hanya di pipi di sini juga '' Reyz menunjuk bibirnya membuat Elina tersipu malu.


''Sudah hentikan ayo kita makan, aku sudah sangat lapar '' Elina mendorong Reyz untuk kembali duduk dan menikmati makan siang mereka.


''Sayang, pelan-pelan makannya tidak ada yang akan mengambilnya darimu nanti kau bisa tersedak'' ucap Reyz cemas


''Aku sangat lapar Reyz, rasanya tubuhku sangat gemetaran, kau tahu ? aku sangat lelah rasanya seluruh tubuhku remuk redam semua ini karena ulahmu Tuan Muda'' Elina menatap kesal Reyz


''Hahaha..jadi kau seperti ini karena aku?'' maaf sayang.... habisnya kau terlalu indah untuk aku biarkan dan terlalu nikmat aku lewatkan ''


''Reyz.... kau , sekarang di pikiran mu hanya itu saja apa kau tidak malu?''


''Kenapa harus malu? aku mengatakannya kepada istriku bukan kepada orang lain ''


''Reyz, cukup hentikan, selesaikan makan siangnya'' Elina Semakin dibuat salah tingkah dengan Reyz yang menggodanya dengan candaan yang mengarah kepada hal yang berbau ****.


''Ya, sudah, aku makan tapi nanti di kamar aku tak akan melepasmu ''


''Astaga Reyz....

__ADS_1


''Hahahaa....


Reyz dan Elina menikmati makan siang mereka dengan penuh canda dan tawa tak ayal keduanya jadi bahan perbincangan para karyawan dan tamu Hotel yang melihat kemesraan mereka .


Dilain tempat ada seseorang yang merana dan dilanda gelisah saat ini dan ya , ia adalah Damar pria yang tergila-gila pada Elina


Damar terbaring di tempat tidur dengan meracau dan memanggil -manggil nama Elina setelah semalaman ia mabuk-mabukan dan pagi ini rupanya ia masih belum sadar dari mabuknya.


''Damar, hentikan ke gilaanmu lupakan wanita itu dia sudah menjadi milik orang lain '' ucap Dini yang memasuki kamar Damar bersama Danu


''Tidak Mih, Elina hanya milikku ia tak bisa menjadi milik orang lain'' tolak Damar


''Damar, apa kau sudah gila?' bentak Danu


''Ya, aku memang sudah gila! aku gila karena mencintai Elina dia wanita yang aku inginkan aku hanya ingin dia bukan yang lain''


Damar semakin histeris membuat Dini dan Danu perperangah syok


''Aku menyesal telah mengeluarkan mu dari penjara, dasar tidak berguna '' Danu dengan kesal meninggalkan Dini dan Damar begitu saja


''Damar, kau telah membuat Ayahmu marah kau harus meminta maaf padanya dan lupakan janda sialan itu kau mengerti!''


''Tidak!!! sampai kapan pun aku tak akan pernah bisa melupakan Elina dia wanita yang aku cintai dan aku bersumpah dia harus menjadi milikku''


ucap Damar


''Damar, Mamih sudah banyak berkorban untuk mu tapi yang ada di pikiran mu hanya janda sialan itu kau benar -benar membuat Mamih kecewa ''


''Aku tak peduli Mih....kau Ibu ku jadi kau harus membantuku untuk mendapatkan Elina''


''Damar....kau benar-benar sakit''


Dini meninggalkan Damar ia sadar jika saat ini putranya telah terobsesi pada Elina.


''Apa yang harus kita lakukan Mas?'' tanya Dini pada Danu setelah beberapa lama kini mereka tinggal bersama menjadi keluarga tanpa sepengetahuan Indra tentunya.


''Kau tenang saja aku akan mencari Dokter untuk mengobati Damar bagaimanpun dia tetap putraku'' ucap Danu

__ADS_1


''Baiklah, aku ikut saja bagaimana baik nya'' timpal Dini.


__ADS_2