GADIS Tawanan ALVARO

GADIS Tawanan ALVARO
Bab. 10 (Felica sadar)


__ADS_3

Caca mengerjapkan matanya, dia menatap ruangan yang cukup dia kenali jika dia ternyata berada di kamarnya bukan lagi di ruang Penjara.


"Nyonya Anda sudah sadar" Ucap Lisa yang masih setia berada di sana.


Caca tersenyum, dia berpikir jika dia tidak akan selamat dan bisa berkumpul bersama orangtuanya itu menurutnya akan lebih baik.


"Anda pasti haus, saya ambilkan minum sebentar."


Lisa berusaha bangun dengan segera Lisa membantunya.


"Kenapa aku di kamar bukannya,-


Ucapan Lisa terpotong saat mendengar suara pintu terbuka.


Alvaro berjalan masuk, dia tau jika Felica sudah sadar saat Lisa memberitahunya.


"Kamu bisa keluar."Ucap Alvaro dengan tatapan terus ke arah Felica.


"Baik Tuan"


Lisa meletakkan gelas di atas meja dan dia pun berjalan keluar, sementara Caca menundukkan wajahnya.


"Kenapa tidak makan?"


Deg.!


Lisa menautkan kedua alisnya, dia bahkan sama sekali tidak mengerti dengan maksud ucapan Alvaro.


"Kamu tau punya Maag tapi berpura-pura kuat."


"A- aku hanya,-


"Sekarang makan, Saya tidak mau melihat orang sakit di mension saya."


"Aku bisa sendiri." Ucap Lisa dengan mengambil piring dari tangan Alvaro.


Alvaro terus menatapnya, sementara Lisa sedikit kesulitan karena tangannya yang masih di infus.


"Apa begitu susah untuk minta tolong."


Lisa mendongak, Alvaro kembali menarik piring dari tangan Lisa dan mulai menyendok nya.


"Buka mulut kamu" Titah Alvaro.


Lisa membuka mulutnya, dia hanya diam dan mengunyah makanannya walaupun sebenarnya dia masih tidak nafsu karena mulutnya yang begitu mual.


Lisa langsung menutup mulutnya saat dia merasakan perutnya seperti akan memuntahkan sesuatu.


Alvaro mengernyit,


"Uwek uwek"


Akhirnya Lisa memuntahkan makanan yang dia makan, sementara Alvaro segera mengambil tisu dan memberikannya.


"Uwek"


Lisa membulatkan matanya saat dia tidak sengaja mengotori pakaian Alvaro.


"Maaf Tuan"

__ADS_1


Lisa segera membersihkannya, walau dia merasakan sedikit nyeri di bagian tangannya karena harum infus namun rasa sakit itu tidak sebanding dengan ketakutannya.


"Maaf Tuan, A- aku tidak sengaja."


Alvaro menghela napasnya, dia pun segera beranjak bangun dan keluar kamar meninggalkan Caca yang merasa bersalah dan juga rasa ketakutan.


Sandra yang baru saja akan menuju lantai bawah pun melihat Alvaro keluar dari kamar Lisa, namun bukan menatap wajah tampan Alvaro. Sandra menatap baju yang Alvaro kenakan.


Basah.


Sandra menatap pintu kamar Lisa yang terbuka, dia pun berjalan mendekat dan masuk ke dalam.


Di lihatnya Lisa yang tampak diam, dia menatap jika piring yang masih berisi makanan.


"Nyonya" Ucap Sandra mendekat namun Lisa wajah Lisa terlihat ketakutan.


"Anda kenapa? apa yang terjadi"


"A- aku sudah melakukan kesalahan."


Sandra terdiam, dia cukup mengerti dari ucapan Lisa jika baju Alvaro basah karena ulahnya.


"Tuan sangat membenci kotor, dan dia begitu menyukai kebersihan."


Lisa semakin takut, sudah pasti dia akan marah dan menghukum nya.


"Saya permisi Nyonya" Ucap Sandra keluar namun dia berpapasan dengan Lisa yang datang membawa obat.


Lisa menautkan kedua alisnya, apa yang sudah Sandra lakukan kenapa dia keluar dari kamar Felica.


"Nyonya Anda"


Lisa segera meletakkan semua obat di atas meja, dia pun membantu Felica yang sedang membersihkan lantai.


Lisa membantu Felica kembali ke atas ranjang, setelah nya dia pun membersihkan lantai.


Di dalam kamar,


Alvaro membersihkan tubuhnya, dia menatap wajahnya di depan cermin. Selama ini dia sangat menyukai kebersihan namun kenapa dia sama sekali tidak marah saat Felica malah mengotori bajunya. Apa karena dia merasa kasihan dengannya atau,-


Alvaro menggeleng, dia berjalan keluar namun Langkahnya berhenti tepat di depan kamar Felica.


Felica terlihat sedang menunduk, dia tidak tau apa yang sedang Felica pikirkan kenapa melihat wajah Felica seperti ini membuat hatinya perih.


"Tuan" Ucap Lendra membuat Alvaro menoleh.


"Tuan Miko menunggu Anda di bawah."


Alvaro mengangguk dan melangkah turun.


Sedangkan Lisa yang baru saja membersihkan lantai menatap Felica yang masih melamun.


"Nyonya, Apa ada memikirkan sesuatu?" Ucap Lisa dan Caca mengangguk.


Memang antara Caca juga Lisa sudah sangat dekat, mereka selalu bersama karena memang Lisa lah yang selama ini membantu semua keperluan Caca selama di mension.


"Aku takut jika Tuan Alvaro marah, apalagi dia sangat membenci kotor tapi aku,-


Lisa berhenti, dia tidak sengaja memuntahkan semua itu apalagi hingga sampai terkena Alvaro karena memang perutnya masih sangat mual dan tidak bisa makan terlalu banyak.

__ADS_1


"Nyonya tenang saja ya, Saya yakin jika Tuan tidak akan marah buktinya Tuan tidak kembali untuk memarahi atau bahkan menghukum Nyonya."


"Tapi Lisa-


"Tuan Alvaro memang sangat tegas, tapi sebenarnya dia tidak akan pernah tega melihat orang-orang yang berada di dekatnya menderita ataupun sakit. termasuk Nyonya Felica."


"Lisa, sudah berapa kali panggil saya Caca saja."


"Maaf Nyonya tapi saya tidak bisa"


"Baiklah terserah kamu."


Lisa tersenyum.


"Sebaiknya nyonya istirahat, Nyonya baru saja siuman dan masih harus banyak istirahat."


Caca pun mengangguk,


Dia membaringkan tubuhnya dengan Lisa yang setia membantunya.


Alvaro yang baru saja turun pun langsung menghampiri Miko yang berada di ruang tengah.


"Tuan"


"Kita ke ruang kerja saja."


Miko mengangguk dan mereka berjalan menuju lantai dua dimana ruangan kerja Alvaro di sana.


Namun mereka berpapasan dengan Lisa yang baru saja keluar dari kamar Felica.


"Tuan" Sapa Lisa menunduk.


"Bagaimana dia"


"Nyonya Caca em maksud saya Nyonya Felica sudah makan minum obat dan sekarang sedang istirahat Tuan."


Alvaro mengangguk dan kembali melangkah menuju ruangan pojok dan mereka masuk ke dalam.


Mereka akan membicarakan hal yang penting hingga Alvaro mengajak Miko untuk ke ruang kerjanya.


"Apa yang terjadi" Ucap Alvaro saat mereka sudah berada di dalam ruangan."


"Johan kembali mengajukan hutang."


Alvaro mengernyit, bahkan hutang-hutangnya pun belum sama sekali dia cicil namun dengan beraninya dia kembali meminta uang kepadanya.


"Dia bilang jika dia telah memberikan Nyonya Felica sebagai jaminan tapi tidak seberapa dengan hutang-hutangnya karena nyonya Felica merupakan gadis perawan."


Alvaro mengepalkan tangannya mendengar semua ucapan Miko, bahkan dengan seenaknya Johan berkata seperti itu terhadap keponakannya.


"Berapa yang dia minta"


"100juta"


Alvaro tersenyum.


Miko menatap Alvaro, dia tau apa yang di pikirkan sahabatnya itu apalagi selama ini Alvaro sama sekali tidak pernah mau berurusan dengan orang lain namun dengan Felica, Alvaro bahkan seperti ingin melindunginya.


"Beritahu dia jika besok siang dia bisa mengambil uang itu."

__ADS_1


"Baik Tuan."


Alvaro mengangguk dan menatap keluar jendela, dia tidak menyangka jika kehidupan Felica begitu menyedihkan bahkan dia seperti tidak di akui oleh keluarga nya sendiri.


__ADS_2