GADIS Tawanan ALVARO

GADIS Tawanan ALVARO
Bab. 12 (Kenyataan Pahit)


__ADS_3

Tidak lama orang yang mereka maksud akhirnya masuk, tatapan mata Caca tertuju ke salah satu laki-laki paruh baya yang begitu dia kenali. Laki-laki yang sudah dia harapkan untuk bisa keluar dari mension. Laki-laki yang sudah menjadikan dirinya sebagai tawanan.


Dia lah Johan yang datang bersama temannya, namun siapa Caca sendiri tidak mengenalnya.


"Caca" Ucap Johan kaget saat melihat Felica duduk bersama Alvaro.


"Ada apa Anda mencari saya, bukannya seharusnya Anda datang untuk membayar semua hutang-hutang Anda dan,- Ucapan Alvaro berhenti dia melirik Felica yang duduk di sampingnya.


"Membawa keponakan Anda pulang?"


Johan tersenyum, dia melirik kilas Caca namun kemudian kembali menatap Alvaro tanpa menanyakan kabar apapun terhadap keponakannya.


"Tidak - tidak Tuan, Semestinya asisten Anda sudah memberitahu Anda soal kedatangan Saya."


"Dia sama sekali tidak memberitahu soal kedatangan Anda." Ucap Alvaro dingin.


Alvaro sengaja ingin membuat Felica tau bagaimana sifat asli dari pamannya. Walaupun kenyataannya sudah pasti akan membuat Felica sedih.


Johan menghela napasnya dan langsung duduk di sana, bahkan dia sama sekali tidak tau malu di saat Alvaro sama sekali tidak mempersilahkannya duduk.


"Bagaimana dengan keponakan saya Tuan, dia bahkan sangat cantik di usianya yang masih sangat muda. atau jika Anda tidak menyukainya Anda bisa menyuruhnya untuk menjadi pelayan di mension Anda."


Deg.!!


Felica bahkan sama sekali tidak percaya dengan Apa yang dia dengar. Apa dia sama sekali tidak berharga di mata keluarganya. apa selama ini dia hanya di anggap sebagai benalu di keluarga.


Alvaro melirik Felica, Dia tau bagaimana perasaan gadis di sampingnya ini. Namun dia harus bersabar hingga Felica tau bagaimana sifat Johan.


"Katakan sebenarnya apa tujuan Anda."


Johan tersenyum.


Terlalu basa-basi memang hanya membuat laki-laki di hadapannya ini marah dan dia tidak mau mengambil resiko jika nantinya Alvaro malah tidak memberikannya uang.


"Felica masih gadis, dan Anda pasti tau harga seorang gadis di luaran sana bukan.-


"Katakan apa mau Anda."Potong Alvaro.


"Saya mau meminjam uang kepada Anda, bahkan hutang saya tidak seberapa dengan harga Felica."


Tes.


Akhirnya runtuh sudah pertahanan Felica mendengar semua kenyataan pahit jika dirinya benar-benar tidak di anggap di keluarganya.


"Berapa yang Kamu inginkan."


"100juta, ya 100juta" Ucap Johan

__ADS_1


"Miko"


Tidak lama Miko datang dengan membawa tas, dia membuka tasnya dan mata Johan berbinar kala melihat begitu banyak uang di dalamnya.


"Kamu boleh ambil uang itu, tapi Kini Felica menjadi milik saya." Ucap Alvaro.


"Ya, Silahkan bawa dia." Ucap Johan tanpa menatap Felica yang menangis.


"Berikan uangnya." Titah Alvaro membuat Miko memberikannya.


Johan langsung menerimanya, terlihat jelas wajahnya begitu senang.


"Terima kasih Tuan, kami permisi."


Felica menunduk dengan air mata yang terus mengalir di wajahnya, hatinya sesak bagaimana bisa seorang paman bersikap seperti itu apalagi selama ini Felica sudah melakukan apapun untuk mereka. semua harta peninggalan Orangtuanya Felica pun mereka habiskan.


"hiks Hiks hiks"


"Kenapa kamu menangis" Ucap Alvaro membuat Felica menyeka air matanya.


"Untuk apa kamu menangisi orang seperti dia."


Felica masih tetap diam, di saat dirinya sedang seperti ini bahkan Alvaro malah membuatnya semakin sedih.


Alvaro menghela napasnya.


Mereka berjalan keluar, namun Langkah Felica terhenti ketika kembali bertemu dengan Johan di depan Gudang.


Johan sama sekali tidak menatapnya, dia hanya terus sibuk menghitung uang yang dia dapatkan.


Alvaro menatap Felica.


Dia tidak habis pikir, untuk apa Felica menangisi orang macam dia.


"Ayo masuk" Ucap Alvaro membuka pintu mobil.


Felica masuk ke dalam dan di susul Alvaro serta Miko, Mobil melaju pergi dan melewati Johan yang masih sibuk dengan uangnya.


Felica hanya terus menatap keluar jendela, sesekali dia menyeka air matanya. Rasanya sangat sakit andai dia bisa segera menyusul kedua orangtuanya saat ini dengan senang hati dia akan bersedia.


Saat ini dia tidak punya siapa-siapa lagi, hidup hanya sebatang kara.


Hingga mobil sampai di depan mension, Alvaro juga Felica turun.


"Maaf Tuan, Saya masuk dulu." Pamit Felica langsung berjalan masuk.


Alvaro terus menatap Felica, rasanya dia ikut merasakan pedih di hatinya melihat Felica seperti ini.

__ADS_1


"Tuan" Ucap Miko menghampiri


"Pastikan Johan tidak pernah lagi muncul di depan Felica."


"Baik Tuan."


Alvaro berjalan masuk, dia langsung menuju kamarnya namun Langkahnya terhenti saat melewati kamar Felica.


Terdengar suara Isak tangis dari dalam kamar.


Ingin rasanya dia masuk dan menenangkan gadis itu namun dia urungkan dan akan membiarkan Felica sendiri.


*******


Berbeda dengan Felica yang merasa perih, Johan justru sedang bersenang-senang dengan menyewa perempuan penggoda di sebuah Bar dengan beberapa minuman di depannya.


Setelah dia mendapatkan uang dengan sangat mudah dia pun langsung berfoya-foya tanpa memikirkan bagaimana perasaan Felica saat ini.


"Hahaha ini sayang enak sayang, lebih baik kalian semua pesan karena akan saya bayar semuanya." Ucap Johan sombong dengan meneguk minumannya.


Beberapa orang di sana pun tampak senang dan langsung memesan beberapa minuman lagi.


"Tidak sia-sia aku menampung gadis itu, karena dengan sangat mudahnya aku bisa mendapatkan uang." Gumam Johan tersenyum.


Tidak hanya Johan,


Mariska juga Sela pun berada di sebuah Mall besar. setelah mereka ke salon untuk melakukan perawatan Mereka kini berada di sebuah Butik untuk membeli pakaian yang mereka inginkan.


Johan memberikan sebagian uang untuk istri dan juga anaknya, hingga mereka sangat senang untuk membelanjakan semua uangnya tanpa menghiraukan bagaimana jika uang itu nanti habis dan kehidupan mereka setelahnya.


"Sela senang hari ini Ma, andai setiap hari kita bisa seperti ini, ke salon, belanja."


"Kamu benar sayang, lebih baik kamu melakukan perawatan. siapa tau nantinya kamu bakal bertemu dengan laki-laki kaya raya. Tapi kamu harus selalu ingat untuk mengajak Mama bersenang-senang seperti ini."


Sela tersenyum.


Dia membayangkan laki-laki yang beberapa kali dia temui di Bar. Laki-laki yang sangat sulit untuk dia dekati. Laki-laki tampan dan terlihat begitu mempesona.


"Laki-laki itu terlihat kaya raya, Gue harus bisa mendapatkannya. dengan begitu makan gue bisa menjadi nyonya dan bisa setiap hari shoping bersama Mama."


Baik Sela ataupun Mariska memang tidak tau jika selama ini Johan meminjam uang di Alvaro. Bahkan Johan sendiri tidak pernah menceritakannya.


"Ayo Ma, kita makan."


"Ayo sayang."


Mereka berjalan menuju salah satu restoran mewah di dalam Mall tersebut dengan membawa beberapa paper bag di tangannya.

__ADS_1


Senyuman terus terpancar di wajah keduanya.


__ADS_2