
Alvaro baru saja selesai dengan meeting bersama kliennya dan kini sedang dalam perjalanan kembali ke Kantor namun ponselnya bergetar.
Matanya menatap Felica lah yang menghubunginya dengan segera dia pun menggeser tombol hijaunya.
"Ya"
"Al, kamu lagi dimana?"
"Aku baru saja akan kembali perusahaan. Ada apa?"
"Tidak, aku hanya mau ijin sama kamu kalau aku mau ketemu Bu Nadia. Boleh kan Al."
Alvaro terdiam.
Sebenarnya dia tidak mau jika Felica keluar mension apalagi di saat tidak bersama Dirinya. Namun dia pun sangat tau jika Gadisnya itu pasti merasa bosan hanya berada di mension.
"Al, apa boleh tapi jika kamu tidak mengijinkan gapapa kok."
"Kamu boleh pergi tapi Lisa menemani kamu."
"Serius Al, aku boleh keluar?"
"Ya, setelah urusan aku selesai aku jemput di toko."
"Oke. makasih Al kamu semangat kerjanya."
Alvaro menutup telponnya, dia pun menghubungi beberapa pengawal untuk menjaga Felica.
Miko yang berada di sana pun hanya tersenyum melihat bagaimana sikap posesif sahabat sekaligus bosnya itu. Dia sangat tau bagaimana Alvaro jika sudah menyukai seseorang dia akan sangat menjaganya.
"Jadi, apa sudah tau bagaimana perasaan Anda Tuan."
Alvaro mengernyit, terlihat Miko tersenyum dan itu hanya membuat Alvaro menghela napasnya.
Entahlah, Alvaro sendiri tidak mengerti dengan perasaannya.
Sedangkan Felica, dia sudah bersiap dengan Lisa yang memang akan menemaninya karena perintah Alvaro bahkan dua orang pengawal siap mengantarkan mereka.
"Kalian,-
"Maaf Nyonya, kami di perintahkan Tuan Alvaro untuk menjaga Anda."
Felica hanya mengangguk dan masuk ke dalam mobil di susul Lisa yang juga ikut masuk.
Mobil melaju keluar Mension dengan seseorang Felica tampak tersenyum.
Sudah lama dia tidak bertemu dengan Bu Dinda. Bagaimana pun selama ini Bu Dinda begitu baik kepadanya hingga mobil berhenti di depan sebuah toko bunga.
"Silahkan Nyonya."
"Terimakasih."
Felica tersenyum dan matanya menatap Dinda yang berada di dalam bersama seorang wanita.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikusalam,, Caca"
Felica langsung mendekat dan memeluknya erat, begitupun dengan Dinda yang membalas pelukannya.
"Ibu apa kabar, Caca kangen."
"Baik nak, kamu sendiri apa kabar?"
"Baik Bu."
Dinda tersenyum dan menatap Lisa yang berdiri di sana bahkan terlihat dua orang yang juga berada di luar toko.
__ADS_1
"Oya Bu kenalin ini Lisa, Lisa ini Bu Dinda."
Lisa tersenyum dan menundukkan kepalanya sopan, Dinda pun membalas senyuman namun dia masih penasaran dengan siapa dua orang di luar yang bertubuh kekar.
"Kita masuk dulu, Ibu kangen sekali sama kamu Nak."
Felica mengangguk dan mereka masuk ke dalam, terlihat seorang perempuan berjalan mendekatinya.
"Maaf Bu Dinda, Aku ijin mau antar pesanan dulu."
"Iya Keyla, hati-hati."
Felica menatapnya.
"Dia Keyla, dia bekerja baru satu Minggu." Ucap Dinda membuat Felica tersenyum.
"Sebenernya ibu sangat penasaran dengan kehidupan kamu sekarang Ca, apa kamu hidup bahagia?"
Felica tersenyum dan menggenggam tangan Dinda. Dia tau jika Dinda khawatir dengannya namun tinggal bersama Alvaro tidak membuatnya tersiksa bahkan semua bersikap sangat baik kepadanya.
"Ibu tenang saja ya, Caca baik-baik saja kok. Caca juga tinggal di suatu tempat tapi maaf Caca belum bisa kasih tau Ibu."
Dinda tersenyum.
"Nyonya Maaf, Tuan mengirimkan pesan."
Felica mengangguk dan mengambil ponselnya, benar saja jika Alvaro mengirimkan pesan untuknya. Felica tampak membalasnya dan semua itu tidak lepas dari tatapan Dinda.
"Sepertinya kamu hidup bahagia di tempat itu." Ucap Dinda membuat Felica Mendongak dan tersenyum.
"Mereka bersikap sangat baik sama Caca Bu."
"Syukurlah Ibu senang dengannya."
Caca tersenyum dan menoleh saat mendengar suara dari depan.
"Assalamualaikum."
"Caca."
Sebastian menatap Caca dengan senyumannya, bahkan dia langsung berjalan mendekat dan memeluknya erat.
Caca pun tersenyum, dia membalas pelukannya. Selama ini memang Caca begitu dekat dengan Sebastian bahkan Caca sudah menganggapnya seperti Kakak sendiri.
"Astaga Ca, kamu baik-baik saja kan, kamu kemana saja selama ini. Kakak terus mencari kamu."
Caca tersenyum.
"Caca baik-baik saja Kak, Kak Bas apa kabar."
"Kakak baik, kamu bener baik-baik saja."
Caca tersenyum dan mengangguk.
"Terus siapa mereka,?"
Caca menatap Lisa yang tengah menatapnya, bahkan dia orang pengawal pun tampak menatap mereka.
"Mereka orang baik Kak."
Bastian mengangguk namun dia masih penasaran siapa mereka karena seperti menjaga Caca, namun Caca terlihat biasa saja dan tidak merasa ketakutan.
"Bas, kamu kenapa datang ke sini."
"Memangnya gak boleh Bu, lagian kan untung juga kan Bas datang jadi ketemu Caca."
"Kamu ini."
__ADS_1
Bastian terkekeh dan mereka terlihat saling bercerita.
Sesekali melirik Caca dan tersenyum, Caca terlihat semakin cantik bahkan wajahnya pun terlihat begitu bahagia.
Berbeda dengan Alvaro yang tampak tidak fokus dengan kerjanya. Dia bahkan tidak mendengar Miko yang tengah berbicara.
"Bagaimana Tuan." Ucap Miko namun Alvaro masih diam.
"Ehem,, Alvaro Vernando."
"Bisa bicara lebih sopan.?" Ucap Alvaro menatap Miko dengan tatapan tajamnya.
"Bagaimana apa ada yang perlu saya revisi?"
"Letakkan saja di sana, Saya pelajari nanti."
Miko membulatkan matanya, bahkan sedari tadi dia bicara panjang lebar sama sekali tidak di dengar.
"Astaga."
"Ada apa?"
"Tidak."
"Loh Anda mau kemana Tuan."
"Sejak kapan kamu harus tau urusan Saya."
Deg.!!
Miko menelan ludahnya kasar, padahal dia hanya bertanya dan biasanya pun Alvaro akan memberitahu dirinya.
"Memang aneh kalau orang sudah jatuh cinta." Gimana Miko berjalan keluar.
Alvaro segera masuk ke dalam lift, dia terus memikirkan gadisnya yang entah sejak apa. Bahkan Lisa mengirimkan pesan jika ada seseorang laki-laki datang dan terlihat begitu dekat dengan Felica.
Karena itulah membuat Alvaro tidak fokus. dia tidak mau jika gadisnya dekat dengan laki-laki di luar.
Alvaro segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tidak menghiraukan umpatan yang di teriaki dari pengendara lain.
Dia hanya ingin segera sampai di toko dan membawa gadisnya pulang.
Alvaro mengernyit saat melihat sebuah mobil yang juga terparkir di depan Toko, berarti laki-laki itu masih berada di sana.
Dia pun segera mengambil ponselnya dan menghubungi Felica.
"Halo Al."
"Saya di depan"
"Kamu sudah datang, sebentar aku pamit sama Bu Dinda dulu."
Alvaro menutup telponnya dan terus menatap ke arah toko. Tidak lama terlihat Gadisnya keluar bersama Lisa juga Dinda namun matanya memicing saat melihat seorang laki-laki yang juga berada di sana.
"Ibu, Caca pamit dulu ya."
"Iya Nak, kamu hati-hati ya sering-sering datang ke sini."
Caca mengangguk dan memeluk Dinda.
"Kak, Caca pulang dulu ya."
"Kabarin Kakak kalau ada sesuatu."
Felica mengangguk dan berjalan menghampiri mobil Alvaro.
Sedangkan Bastian terus menatapnya.
__ADS_1
Melihat Alvaro yang keluar dan langsung mengandeng tangan Felica masuk ke dalam mobil.
"Siapa laki-laki itu.?"