
Caca tersenyum menatap Alvaro yang ternyata terlelap setelah dia Pijat. Di tatapnya wajah laki-laki itu, wajah yang damai dan sangat tenang di saat tertidur seperti ini namun sangat berbanding saat dia bangun wajah nya berubah menjadi iblis yang sangat mematikan apalagi tatapan matanya yang seakan ingin memangsa siapa saja yang berada di depannya.
"Sebenarnya bagaimana sifat kamu Al, kadang kamu begitu baik dan perhatian namun kadang kamu bersikap seperti iblis yang akan memangsa siapapun."
Caca menghela napasnya, dia membiarkan Alvaro tidur di kamarnya sementara dirinya berjalan turun.
Beberapa penjaga langsung menundukkan sedikit tubuhnya saat melihat Caca berjalan.
Sebenarnya Caca merasa risih dengan sikap mereka, namun dia tau mereka melakukan itu karena pekerjaannya.
"Pak Lendra" Panggil Felica.
"Iya Nyonya, Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya boleh pinjam dapur lagi, Saya ingin memasak untuk Alvaro."
"Tapi Sandra sudah sembuh nyonya."
"Gapapa, biar saya memasak untuk Alvaro ya."
"Baik Nyonya."
Caca langsung menuju dapur, dia langsung mengambil beberapa bahan masakan juga sayuran di kulkas. Rencananya dia ingin memasak sup iga kesukaannya karena sudah lama tidak masak dan juga makan membuatnya ingin memasaknya.
Caca langsung membersihkan daging dan mulai merebusnya.
Sandra menautkan kedua alisnya heran, kenapa bisa Felica berada di dalam dapur dan malah sedang memasak. Padahal tugasnya di mension untuk memasak dengan di bantu koki.
"Nyonya Anda kenapa di dapur?"
Caca menoleh dan tersenyum.
"Aku mau masak Sup iga, aku pinjam dapur sebentar ya."
"Tapi ini tugas saya Nyonya, Silahkan Anda keluar biar saya yang akan memasaknya untuk Tuan Alvaro."
Felica menatap Sandra dan tersenyum.
"Gak usah, kamu baru saja sembuh. Biar aku saja ini hampir selesai kok."
Sandra terdiam dan menatapnya.
Semakin hari rasanya dia semakin membenci adanya Felica di Mension. Semua bahkan selalu menceritakan kebaikannya dan seakan menggeser dirinya.
"Sudah selesai, Oya Sandra boleh aku minta tolong siapkan di meja makan."
Sandra mengangguk.
"Terimakasih."
Caca berjalan keluar dapur dan kembali menuju kamarnya. Dia akan melihat Alvaro apa masih tidur atau sudah terbangun.
"Astaga." Kaget Caca saat Alvaro membuka pintu kamarnya.
Alvaro menautkan kedua alisnya menatap wajah Caca yang kaget.
"Kenapa"
"Gapapa, aku baru saja akan membangunkan kamu. Karena aku sudah masak."
__ADS_1
"Aku mandi dulu."
Caca mengangguk dan kembali berjalan turun dan melihat Sandra yang sedang menata di meja makan.
"Lebih baik Anda jangan lagi masuk dapur, Saya yang bertugas memasak di sini."
"Tapi aku hanya,-
"Jangan pernah berpikir semua orang menyukai Anda, Anda hanya seorang jaminan hutang jadi jangan pernah bersikap seakan anda adalah orang penting bagi Tuan Alvaro." Ucap Sandra berjalan meninggalkan Caca yang masih di buat kebingungan.
Alvaro yang baru saja sampai menatap Felica yang masih berdiri mematung menatap masakannya.
"Kenapa masih berdiri."
Caca mengerjapkan matanya, dia pun menggeleng.
Alvaro menatap sup Iga dengan potongan daging dengan campuran beberapa sayuran.
"Kamu yang masak semua ini?"
"Apa kamu tidak suka Al, Maaf aku hanya kepikiran masak sup iga karena sudah lama aku tidak memakannya."
Alvaro tidak menjawab namun malah dia mengambil nasi dan juga sup nya.
Caca terus saja melihatnya hingga Alvaro menyendok dan memakannya dengan lahap. Senyuman di wajahnya terukir dan sekilas melupakan ucapan Sandra yang membuatnya sedih.
"Kenapa tidak makan"
"Ah iya."
Caca pun ikut menikmatinya, tidak ada obrolan di meja makan dan hanya ada suara sendok juga piring di sana.
Berbeda dengan Caca yang dengan mudahnya menikmati makanan enak, malam ini baik Mariska ataupun Sela sedang memegang perutnya yang terasa lapar. seharian mereka tidak makan apapun karena semua stok makanan di rumah habis tanpa sisa dan mereka tidak memiliki uang sepeserpun.
"Ma, itu pasti Papa bawa makanan" Ucap Sela langsung berlari membuka pintu.
Benar saja Johan pulang dengan membawa sebungkus Nasi, Sela yang melihatnya langsung saja merebutnya dan membawanya masuk.
"Sela, jangan makan Semuanya kamu bagi juga dengan Papa" Ucap Johan saat Sela langsung memakannya.
Mariska yang Melihatnya pun tampak ikut makan, hingga makanan mereka habis tanpa sisa membuat Johan yang bisa menelan ludahnya.
"Kenapa kalian habiskan, Apa kalian tau bagaimana Papa mendapatkan nasi itu?"
"Sudah lah Pa, besok-besok tuh kalau bawa pulang nasi Padang kek Pa. jangan Nasi campur terus."
Johan menghela napasnya.
Bagaimana dengan perutnya malam ini. dia harus menahan rasa laparnya.
"Lebih baik aku langsung menghubungi asisten Alvaro untuk bisa mendapatkan uang lagi." gumam Johan.
Tidak lama terdengar suara ketukan pintu, Johan menautkan kedua alisnya heran siapa tamu malam-malam seperti ini.
Dengan langkah gontai, dia pun berjalan untuk membukanya.
Bastian berdiri di depan pintu membuat Johan menautkan kedua alisnya.
"Selamat malam Om."
__ADS_1
"Ngapain kamu ke sini."
"Maaf Om, Saya hanya ingin menanyakan dimana Caca. Sudah hampir satu bulan saya tidak melihatnya bahkan Bu Dinda pun bilang jika Felica tidak ke toko selama sebulan."
"Saya tidak tau."
"Apa Caca sakit?"
"Itu bukan urusan kamu, sekarang kamu pergi dari rumah saya."
"Tapi Om, saya ingin bertemu Caca, tolong ijinkan saya bertemu Caca."
"Caca tidak ada di rumah dan saya tidak tau dia dimana."
"Maksud Om Johan?"
"Sudah lah ini sudah malam dan saya sudah sangat lelah."Ucap Johan menutup kasar pintu rumahnya.
Bastian masih terdiam di depan pintu.
Caca tidak ada di Rumahnya, lantas dimana Caca sekarang bagaimana keadaannya.
Bastian akan melangkah namun seseorang memanggilnya.
"Kak Bastian."
Sela tersenyum dan langsung berlari menghampiri laki-laki dengan wajah yang juga tak kalah tampan.
"Sela, Ada apa?"
Sela tersenyum dan terus menatap wajah tampan Bastian.
Selama ini Sela memang selalu mencuci pandang di saat Bastian datang ke rumahnya atau jika mengantar Caca pulang.
"Kak Bas tumben ke rumah, ada apa kak."
Bastian terdiam, apa dia akan menanyakan soal Caca kepada Sela. Apa Sela akan menjawabnya.
"Gapapa, aku cuma mencari Caca karena sudah hampir satu bulan aku tidak melihatnya, Oya Sel apa kamu tau dimana Caca?"
Sela terdiam,
Malas rasanya karena Bastian datang karena mencari Caca kenapa semua orang begitu menyukai Caca.
"Aku tidak tau Dimana Caca, pasti dia pergi dengan laki-laki di luar sana."
Bastian menaikkan kedua alisnya.
"Kak Bas gak tau gimana sifat asli Caca, setiap malam dia selalu pergi tengah malam dan baru pulang paginya. Entahlah kemana dia pergi."
"Aku mengenal Caca bukan seperti itu."
"Astaga Kak Bas, Wajahnya saja cupu tapi sifat aslinya suhu Kak."
"Sudah malam aku pulang dulu."
"Iya Kak."
Sela menatap Bastian yang masuk ke dalam mobilnya. Dia pun tersenyum karena berhasil membuat Bastian percaya dengan ucapannya.
__ADS_1