
Caca terus di seret ke ruang bawah tanah bahkan melalui lorong sempit juga gelap.
Walaupun mension itu sangat mewah namun Caca tetap tidak tau jika ada ruangan seperti ini di sana.
"Tolong lepaskan saya" Ucap Caca berusaha memohon namun tetap saja tidak ada satu pun dari mereka yang melepaskannya hingga sampai di depan sebuah ruangan.
Pintu terbuka, Caca langsung di dorong masuk dan pintu kembali di kunci dari luar.
"Buka pintunya"
Caca terus berteriak namun tetap saja tidak ada jawaban, hingga akhirnya tubuhnya merosot ke bawa dengan terdengar suara Isak Tangisan pilu Caca.
Alvaro yang masih di Landa kemarahan nya pun tidak mengijinkan siapa pun membebaskan Caca ataupun memberikannya makan juga minuman.
"Kalian semua dengar, jangan pernah ada satu pun dari kalian yang berani memberikan makanan juga minuman." Ucap Alvaro beranjak ke kamarnya.
Lisa menggeleng khawatir.
Bagaimana bisa Felica keluar kamar, padahal selama ini dia sangat patuh dan tidak pernah keluar walaupun dia sangat tau bagaimana bosannya berada di dalam kamar.
"Sebenarnya bagaimana bisa Nyonya keluar Kamar Pa, saya tau Nyonya sangat bosan tapi nyonya tidak akan berani keluar kamar."
"Saya juga tidak tau, lebih baik kamu kembali bekerja Lisa."
Lisa mengangguk dan kembali masuk ke dalam dapur, namun tetap saja pikiran dengan Felica.
"Ini akibatnya jika kalian berani dengan aku."
"Jadi kamu yang melakukan semua ini, saya akan adukan ke Pak Lendra."
"Jangan pernah lakukan atau aku bakal membuat Nyonya kamu itu semakin menderita."
Lisa terdiam.
Dia tidak mau melihat Felica menderita. Selama sebulan bersama Felica, Lisa merasa memiliki seorang teman apalagi Felica merupakan perempuan yang sangat menyenangkan.
Felica tidak pernah mau dianggap sebagai Nyonya di Mension dan mereka semakin dekat dan malah berteman.
Sarah tersenyum dan berjalan keluar.
Selama ini dia berusaha merebut hati Alvaro namun tidak pernah berhasil. Hingga dia mendengar jika Alvaro membawa seorang wanita ke dalam Mension.
Walaupun dia tau perempuan itu merupakan tawanan namun selama ini Alvaro memperlakukan nya dengan sangat baik, mulai dari menyiapkan makanan, pakaian dan meminta maid untuk menyiapkan segala keperluannya dan itu membuat Sarah tidak terima.
Selama dia bekerja di Mension, dia berusaha melakukan apapun dengan sangat baik. Dia ingin bisa lebih dekat dengan Alvaro laki-laki yang begitu tampan dan mempesona.
__ADS_1
salah satu alasan Sarah masih bertahan bekerja di sana selama ini karena dia berambisi menjadi Nyonya dalam mension dan istri dari Alvaro.
********
Hari semakin malam.
Caca masih berada di dalam ruangan sempit dan remang-remang. karena hanya ada satu lampu berwarna Orange untuk pencahayaan di sana.
Ruangan yang hanya ada kasur kecil, terasa sangat dingin.
Caca memegang perutnya, dia merasakan sakit karena seharian dia sama sekali tidak makan juga minum di sana.
"Hiks hiks hiks.. kenapa hidup aku seperti ini. Jika aku bisa memilih aku lebih baik menyusul Papa Mama di surga."
Caca tidak menyangka jika hidupnya akan seperti ini.
Selama ini dia hidup bersama keluarga pamannya yang terus menyiksanya namun sekarang dia semakin menderita karena hidup di dalam istana namun seperti penjara.
Caca membaringkan tubuhnya, dia berusaha memejamkan matanya untuk menghilangkan rasa sakit di perutnya. bahkan tenggorokan nya sangat kering.
Dia terus berteriak dan sama sekali tidak minum apapun.
Lisa yang masih belum bisa tidur pun terus memikirkan Felica, dia tau jika pasti Felica kelaparan di penjara bawah tanah.
Namun bagaimana bisa dia membawakan makanan atau minuman ke sana, sementara beberapa penjagaan terlihat di pintu.
Saya berharap anda baik-baik saja di dalam sana. Anda adalah perempuan yang sangat kuat. Maaf karena saya anda seperti ini."
Lisa menyeka air matanya dan berjalan masuk.
Di dalam sebuah kamar mewah.
Alvaro masih berada di balkon kamarnya dengan sebuah rokok yang dia pegang di tangannya.
Alvaro memang seorang perokok, dia selalu merokok bahkan lebih dari satu bungkus jika sedang dalam masalah.
seperti saat ini, emosinya belum hilang mengingat bagaimana bisa Felica membantah semua perintahnya.
Alvaro memang sangat tidak menyukai orang-orang yang membantah ucapannya apalagi melawan dirinya.
*****.. bagaimana bisa gadis kecil seperti dia melawanku."
Alvaro kembali masuk dan membiarkan semua rokok di balkon kamarnya.
Dia berjalan keluar kamar, semua ruangan sudah sepi bahkan beberapa lampu sudah padam karena memang semua sudah beristirahat.
__ADS_1
Alvaro berjalan turun, namun langkahnya terhenti saat mendengar suara dari dapur.
Alvaro berjalan mendekat.
"Tuan Alvaro." Ucap Sarah yang berada di dapur sedang mengambil minum.
Alvaro kembali keluar, dia akan mencari angin malam karena memang dia tidak bisa tidur.
"Maaf Tuan, Anda mau kemana?"
Alvaro menghentikan langkah dan menatap Sarah dengan mata tajamnya..
"Ini sudah malam Tuan, apa sebaiknya Anda istirahat."
Alvaro mengernyit.
Dia menatap Sarah dari bawah hingga atas membuat Sarah yang merasa Alvaro tergoda dengan dirinya pun merasa percaya diri.
Karena saat ini Sarah hanya memakai piyama tidurnya dengan belahan dada yang sangat rendah bahkan terlihat dadanya menonjol.
Seakan mendapatkan sinyal, Sarah semakin berani mendekat bahkan tangannya mulai berani menyentuh dada Alvaro.
"Jika Anda ingin keluar untuk mencari kesenangan, Saya bisa memberikannya untuk Anda tuan." Lirih Sarah dengan semakin berani.
Alvaro tersenyum membuat Sarah semakin merasa percaya diri namun detik kemudian Alvaro langsung mendorong tubuh Sarah.
"Aw" pekik Sarah yang sudah terjatuh di lantai.
"Jangan pernah berani menyentuh saya atau saya akan memotong tangan kamu." Ucap Alvaro tegas dan langsung berjalan keluar.
"Sialan, aku gak akan pernah menyerah karena Alvaro hanya milik aku."
Sarah beranjak bangun dan merapikan pakaiannya.
Sebenarnya Sarah tau jika saat ini Alvaro belum tidur, dan dia mendengar suara pintu terbuka membuat nya sengaja masuk ke dalam dapur. dia bahkan sengaja menggunakan piyama dengan belahan dada rendah untuk menggoda Alvaro.
_______
Jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi,
Alvaro yang baru saja kembali langsung masuk ke dalam kamarnya.
Dia sedikit mabuk untuk menghilangkan semua masalahnya. Walaupun dia terlihat begitu tegas dan kejam namun dia akan tetap rapuh jika sudah mengingat Ibu nya.
Dia sangat menyayangi Ibunya, namun dia harus kehilangan wanita yang sangat dia cintai hanya karena seorang perempuan lain yang merebut Ayahnya dan membuatnya kehilangan sesosok Ibu.
__ADS_1
Alvaro membaringkan tubuhnya, kepalanya terasa sangat berat dia pun memejamkan matanya untuk bisa mengurangi rasa sakit dan juga rasa sedihnya.
Hingga akhir dia pun terlelap dengan masih memakai pakaiannya tanpa berganti piyama tidur.