
Alvaro menautkan kedua alisnya saat melihat Felica yang sudah bangun bahkan tampak menyiapkan sarapan pagi ini. Sementara dirinya mengijinkan Felica keluar kamar Felica lebih suka memasak ataupun membuat kue.
"Pagi Al" Sapa Felica saat Alvaro berjalan mendekat.
"Kamu masak semua ini?"
"Eum, tapi kamu tenang aku tidak masak telor pagi ini."
"Saya hanya tidak suka, bukan melarang kamu memasak telor."
"Ya ya ya"
Alvaro menautkan kedua alisnya mendengar jawaban Felica. Memang gadis di sampingnya ini masih sangat kecil.
Felica duduk di samping Alvaro yang sudah menikmati sarapan paginya. Hanya masakan biasa seperti tumis jamur, cumi asam manis juga udang goreng tepung.
"Kenapa kamu tidak makan."
"Aku belum lapar."
Alvaro mengangguk dan kembali menikmatinya, semenjak Felica memasak entah mengapa nafsu makan Alvaro meningkat bahkan dia memakan apapun yang Felica masak biasanya dia hanya akan makan sedikit saja.
"Selamat pagi Tuan." Sapa Sandra menundukkan tubuhnya.
"Kenapa kamu sudah masuk mension, apa kamu sudah sembuh? Saya tidak mau jika penyakit kamu malah menyebar ke semua orang termasuk Felica."
Deg.
Sandra menatap Felica, sejak kapan Tuannya mulai peduli dengan gadis yang entah dari mana asalnya.
"Saya sudah sembuh Tuan."
Alvaro tidak menjawab, dia kembali menikmati sarapannya.
Sandra yang masih berdiri di sana menatap heran, sejak kapan Tuannya bisa makan banyak dan berlama-lama di meja makan. Biasanya Alvaro hanya makan satu sampai tiga Senduk saja dan langsung ke Kantor. Apa seenak itu masakan Felica hingga Alvaro begitu lahab makan.
"Stop, jangan minum itu." Cegah Felica saat Alvaro akan mengambil kopi yang juga tersedia di atas meja.
Alvaro menautkan kedua alisnya heran.
"Minum ini, Kopi tidak sehat jika di konsumsi lebih bahkan setelah makan."
Felica memberikan segelas air putih, namun bukan menolaknya dan marah Alvaro malah menurut dan meneguknya. Sandra yang berada di sana semakin heran dengan sikap Alvaro yang sangat menurut dengan semua ucapan Felica.
__ADS_1
"Saya berangkat dulu." Ucap Alvaro dan Felica mengangguk.
Dia pun mengantar Alvaro sampai di depan pintu, karena memang Felica tidak di ijinkan keluar mension walaupun hanya berdiri di depan pintu.
Miko yang melihat Tuannya langsung membuka pintu mobil, Alvaro langsung masuk begitu juga dengan Miko yang langsung berlari memutar.
"Pemandangan yang sangat manis." Gumam Miko namun berhasil Alvaro dengar.
"Saya mendengarnya."
"Memang seperti itu bukan, seorang istri mengantar suaminya saat akan bekerja."
"Siapa yang kamu maksud"
"Oh itu tetangga saya Tuan."
Alvaro menggeleng dan menatap keluar jendela mobilnya. Sementara Miko terkekeh melihat wajah Alvaro namun dia dalam hatinya dia merasa senang karena Sahabatnya bisa membuka hatinya kembali untuk seorang perempuan.
Felica kembali masuk ke dalam rumahnya, dia belum merasa lapar dan dia pun berjalan ke taman samping mension. Taman bunga Lili yang sangat cantik membuat Felica duduk di sana.
Namun tiba-tiba dia teringat dengan Bu Dinda, apa kabar dengannya, pasti sangat khawatir karena sudah hampir satu bulan lebih dirinya tidak datang ke toko. Apa Bi Dinda mencarinya ke rumah?. Felica hanya bisa menghela napasnya. Keluar mension pun rasanya sangat tidak mungkin dan juga ponsel miliknya entah berada dimana karena Alvaro yang menyimpannya.
"Ternyata Anda di sini Nyonya."
Felica menoleh dan tersenyum saat Lisa berjalan mendekat. Lisa berdiri di samping Felica dan pandangannya ikut menatap bunga lili putih yang begitu cantik.
Lisa menatap Felica, wajahnya berubah sedih dan dia tau jika kedua orang tua Felica sudah meninggal namun Lisa sama sekali tidak tau jika meninggalnya karena kecelakaan yang di sengaja.
"Nyonya sabar ya, mereka pasti bahagia di surga sana."
Felica tersenyum dan mengangguk.
"Kamu benar Lisa, mereka pasti bahagia melihat aku sekarang walaupun aku berada di sini tapi setidaknya aku tidak menderita seperti saat aku tinggal bersama paman."
Lisa menautkan kedua alisnya.
"Maksud Anda Nyonya."
"Sebelum aku datang, aku tinggal bersama Paman juga Bibi namun mereka tidak memperlakukan aku dengan sangat baik, aku hanya terus di suruh bekerja dan uangnya mereka minta. Aku hanya makan satu kali sehari dan itupun jika mereka masih menyisakan untukku. Tapi mereka malah menjadikan aku sebagai jaminan atas semua hutang-hutangnya. menjual aku hanya untuk bisa mendapatkan uang."
Felica tersenyum mengingat bagaimana hidupnya dulu, bagaimana dia selalu menangis hampir setiap hari.
Namun walaupun kini hidupnya sudah sangat baik, tinggal di sebuah Istana mewah, semua kebutuhannya terpenuhi namun tetap saja dia merasa sedih. karena dia tidak bisa bebas melakukan apapun.
__ADS_1
"Anda benar-benar wanita kuat Nyonya."
Felica tersenyum dan kembali menatap bunga lili di depannya.
"Pantas saja tinggal di sini kamu merasa seenaknya, bahkan tanpa memiliki sopan santun terhadap Tuan Alvaro."
Felica dan juga Lisa menoleh, Sandra berdiri menatap mereka dengan kedua tangannya yang disilangkan di depan dada sembari menatapnya.
"Seharusnya kamu tuh sadar siapa kamu, bukan malah bertingkah seperti seorang Nyonya di sini. Ingat jika kamu bisa masuk ke sini karena kamu seorang jaminan hutang. dan kapan saja kamu bahkan bisa di bilang oleh Tuan Alvaro."
"Sandra apa yang kamu ucapkan, ingat siapa yang sedang kamu bicarakan. Dia Nyonya di Mension ini." Ucap Lisa kesal dengan sikap Sandra.
"Loh semua ucapan aku benar bukan, sekarang aku tanya apa antara dia juga Tuan memiliki sebuah hubungan? tidak. Sama seperti kita. pelayan di rumah ini bahkan dia lebih rendah karena hanya sebagai alat pelunas hutang."
"Kamu benar, dan aku selalu sadar diri dengan status aku di mension ini." Ucap Felica menyeka air matanya.
Tidak mungkin Felica akan baik-baik saja mendengar semua ucapan Sandra karena semua yang di ucapkan Sandra memang benar.
"Kamu benar-benar keterlaluan Sandra." Ucap Lisa saat Felica berjalan masuk.
Sandra tersenyum, dia tau jika selanjutnya Felica akan lebih menjaga jarak dengan Alvaro. Karena jika mereka terus dekat sudah Pasti akan ada sesuatu dengan mereka.
Felica langsung masuk ke dalam kamarnya.
"Nyonya." Ucap Lisa
"Tinggalkan aku sendiri Lisa."
"Tapi Nyonya."
"Aku pengin sendiri."
"Baik Nyonya, panggil Saya jika Anda menginginkan sesuatu."
Lisa berjalan keluar dan membiarkan Felica sendiri, dia tau jika saat ini Felica ingin menenangkan dirinya.
Lisa langsung mencari keberadaan Sandra, dia sudah keterlaluan dan tidak seharusnya berkata seperti itu.
"Kamu lihat Sandra, Nyonya Felica menangis dan tidak mau keluar kamar."
"Loh bagus dong, terus kenapa memang."
"Seharusnya kamu yang sadar siapa kamu, kamu sangat berbeda dengan Nyonya Felica."
__ADS_1
"Dia yang seharusnya sadar siapa dirinya, hanya seorang tawanan tapi bertingkah seolah nyonya di sini."
"Walaupun benar Nyonya Felica seorang tawanan tapi setidaknya Tuan Alvaro memperlakukannya dengan Sangat baik dan spesial. tidak seperti seorang wanita gatal yang terus berniat menggoda Tuannya." Ucap Lisa berjalan meninggalkan Sandra yang tampak menahan emosinya.