GADIS Tawanan ALVARO

GADIS Tawanan ALVARO
Bab. 11 (Ketakutan Felica)


__ADS_3

Alvaro kembali ke kamarnya, namun dia menatap Felica yang seperti memikirkan sesuatu di dalam kamar lantas dia pun berjalan masuk.


"Tu- tuan" Ucap Caca menunduk.


Alvaro terus menatap Caca, wajahnya sudah tidak lagi pucat


"Gimana tubuh kamu?"


"Sudah lebih baik, dan Maaf karena tadi aku,-


"Lupakan."


Felica terdiam, dia masih terus menunduk tanpa berani menatap wajah Alvaro yang begitu menakutkan untuknya.


"Besok bersiaplah, Saya akan mengajak kamu bertemu seseorang."


"Si- siapa?"


Alvaro tidak menjawab, namun dia melangkah keluar dan menutup pintu kamar Felica.


Sementara Felica tampak penasaran, siapa orang yang di Maksud Alvaro.


Berbeda dengan Felica yang tampak penasaran, Johan yang mendapatkan kabar jika Alvaro bisa memberikannya uang membuatnya terus tersenyum.


Selama Felica tidak ada, sumber keuangan di keluarga mereka tidak ada apalagi selama ini Johan tidak bekerja dan hanya mengandalkan Felica juga dia yang sering bermain judi.


"Aduh Pa, kamu cari kerja kenapa sih" Keluh Mariska yang baru saja membersihkan rumah.


Setelah kepergian Felica, Mariska lah yang membersihkan rumah dan juga mencuci pakaian.


Sela sendiri selalu saja bangun siang dan setelahnya pergi bersama teman-temannya.


"Mama tenang saja Ma, karena besok Papa bakal punya uang banyak. Apapun yang Mama pengen Pasti Papa belikan."


"Serius ini Pa?"


"Yah"


Mariska tersenyum.


Dia membayangkan untuk bisa shoping seperti sebelumnya, karena sudah lama pula dia tidak pergi shoping.


*******


Hari pun sudah malam,


Kondisi Felica semakin membaik membuat nya untuk bisa melepas infusnya.


"Nyonya ternyata Anda di sini?" Ucap Lisa


Felica menoleh dan tersenyum, dia kembali menatap pemandangan dari balkon kamarnya.


"Tuan sudah menunggu Anda di bawah Nyong."


"Maksud nya?"


Lisa tersenyum dan berjalan menghampiri Felica.


"Tuan menunggu Anda di meja makan."


"Aku? keluar kamar?"


Lisa mengangguk.


Entah kenapa dia pun merasa senang karena Felica bisa keluar kamar setelah sebulan hanya berada di kamarnya.

__ADS_1


"Benar Nyonya, Tuan sudah menunggu di bawah.


Kita harus turun sebelum Tuan marah."


Felica mengangguk dan berjalan keluar, dia bahkan masih tidak percaya jika dia di perbolehkan keluar kamarnya.


Alvaro yang sudah berada di meja makan pun menunggu Felica.


Dia sudah mengambil keputusan jika Felica bisa keluar kamarnya namun tetap saja tidak bisa keluar rumah.


Tap.


Tap.


Tap.


Alvaro menoleh, dan terlihat Felica berjalan turun bersama Lisa.


"Se- selamat malam Tuan" Ucap Felica saat sudah berada di depan meja makan."


Alvaro hanya diam dan kembali menatap lurus, Felica yang masih berdiri pun bingung harus berbuat apa. Apa dia hanya akan menunggu Alvaro makan malam atau,-


"Kenapa terus berdiri, duduk." Titah Alvaro membuat Felica menarik kursi dan duduk di sana.


Dia merasa canggung berada di satu meja bersama Alvaro, apalagi mereka selama ini tidak pernah berinteraksi. Sikap dingin dan tegas Alvaro membuat Felica merasa takut akan membuat kesalahan.


Alvaro menghala Napasnya dan kembali menatap Felica yang masih menunduk.


"Makan, kamu baru saja sembuh."


"I- iya Tuan."


"Panggil Saya Alvaro"


Alvaro menatap tajam Felica, seperti biasanya Alvaro paling tidak suka dengan bantahan dan apapun ucapannya adalah perintah.


"Sekarang kamu makan, karena besok kamu harus ikut saya dengan tubuh yang sehat."


Felica terdiam, apa maksud ucapan Alvaro.


Apa dia akan di jual kepada orang lain untuk menggantikan semua uang yang di pinjam pamannya. Karena selama ini Johan sama sekali tidak datang untuk membayar semua hutang-hutangnya dan menjemputnya.


Alvaro kembali menatap Felica yang masih terdiam, dia pun menghentikan makannya.


"Apa yang kamu pikirkan."


"Tu- tidak Tuan." Ucap Felica


"Makan."


Felica mengangguk dan mengambil nasi juga sayur, dia memang sangat menyukai sayur-sayuran.


Setelah selesai makan, Felica kembali ke kamarnya.


Dia masih masih memikirkan ucapan Alvaro jika akan mengajaknya bertemu seseorang. Siapa sebenarnya dia apa benar semua yang dia pikirkan.


Felica benar-benar tidak bisa tidur malam ini, padahal tubuh nya baru saja sehat dan masih harus banyak istirahat.


Alvaro yang berada di kamarnya pun berdiri di balkon dengan menghisap rokok di tangannya.


Entahlah apa yang di pikirkan nya saat ini, ucapan Miko soal Johan terus saja berputar di otaknya bahkan semua fakta tentang Felica sangat dia ingat.


Bagaimana bisa Johan kembali malah kembali meminta uang kepadanya dan sama sekali tidak memikirkan perasaan Felica.


Paman macam apa memberikan keponakannya hanya demi uang.

__ADS_1


********


Keesokan harinya.


Alvaro sudah menunggu Felica di mobil, setelah sebelumnya dia lebih dulu ke Perusahaan karena ada hal penting yang harus dia kerjakan di sana.


Felica yang tengah bersiap menoleh, Lisa masuk dan berjalan mendekat.


"Nyonya, Tuan sudah menunggu di bawah."


"Iya makasih Lisa."


Lisa menatap wajah Felica yang begitu cantik, namun terlihat seperti memikirkan sesuatu.


"Maaf Nyonya, apa Anda baik-baik saja?"


Felica tersenyum dan mengangguk.


"Lisa, terima kasih kamu selama ini sudah sangat baik sama aku. kamu sudah mau menaksir teman aku. Maaf jika selama ini aku banyak menyusahkan bahkan membuat kamu mendapatkan hukuman."


Lisa mengernyit, dia Bingung dengan ucapan Felica.


"Kenapa Nyonya berbicara seperti ini, Saya tidak merasa seperti yang Anda katakan."


"Gapapa, Kita turun sekarang."


Lisa mengangguk dan mereka berjalan turun dan langsung menuju keluar karena Alvaro memang menunggu di dalam mobil.


"Silahkan Nyonya" Ucap Miko membuka pintu mobil.


Felica mengangguk dan masuk, dia menatap Alvaro yang juga berada di dalam bahkan tepat di sampingnya.


Miko berjalan memutar dan masuk ke dalam.


Selama ini Miko selalu menjadi sopir Alvaro kemana pun, hanya sesekali saja Alvaro mengendarai Mobilnya sendiri.


Mobil melaju keluar, tidak ada obrolan di dalam.


Felica yang hanya terus menatap keluar jendela sementara Alvaro menatap lurus.


Hingga mereka sampai di depan sebuah tempat yang Bahkan Felica tidak tau tempat macam apa.


"Turun" Ucap Alvaro


Felica menurut, dia menatap bangunan yang seperti sebuah gedung tua dan terlihat banyak penjagaan di sana.


"Ayo masuk." Ajak Alvaro tanpa menatap Felica.


Perasaan Felica benar-benar campur aduk, bayangannya semakin membuatnya yakin jika Alvaro akan menjualnya. Matanya mulai berkaca-kaca, namun Alvaro tidak boleh melihatnya menangis. Lagi pula hidupnya sudah begitu pilu untuk apa lagi dia berpikir untuk bahagia.


"Silahkan Tuan"


Alvaro menatap Felica yang terus terdiam di sampingnya, dia tau jika Felica memikirkan sesuatu. Namun dia sengaja mengajak Felica untuk datang ke sana.


"Tu- tuan" Panggil Felica membuat Alvaro menoleh.


"Panggil Saya Alvaro."


"Ma- Maksud aku Alvaro, sebenarnya ini tempat apa dan kenapa kita datang ke sini ?"


Alvaro terdiam dan menatap tajam Felica yang langsung menunduk.


"Maaf Tuan, mereka sudah datang."bisik Miko namun tatap saja Felica mendengarnya.


Jantung Felica semakin cepat, kering dingin bahkan dia hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya dengan kehidupannya.

__ADS_1


__ADS_2