GADIS Tawanan ALVARO

GADIS Tawanan ALVARO
Bab. 16 (Bocil)


__ADS_3

Seharian Felica hanya berada di dalam mension tanpa melakukan apapun karena semua melarangnya melakukan pekerjaan apapun.


Sama saja berada di dalam kamar ataupun berada di luar karena dia hanya duduk, nonton televisi dan semua kebutuhannya selalu saja si penuhi oleh para pelayan di mension.


"Nyonya apa Anda ingin sesuatu?" Ucap Lisa yang memang selalu bersama Felica.


"Astaga Lisa, jika seperti ini terus badan aku akan seperti babi."


"Tapi saya yakin Nyonya akan tetap terlihat cantik."


Felica memutar bola matanya, membuat Lisa terkekeh.


Dia memang suka menjahili Felica.


"Biasanya jam berapa Alvaro pulang?"


"Sebenarnya Tuan selalu pulang malam, namun setelah ada Nyonya di rumah Tuan pulang sore."


"Hah iya kah?"


Lisa mengangguk.


Felica jadi berpikir, apa dia tanyakan saja dimana keluarga Alvaro kenapa selama ini tidak ada orang lain yang datang Ke mension.


"Em,Lisa apa aku boleh tanya sesuatu?"


"Silahkan Nyonya."


"Dimana keluarga Alvaro, kenapa selama ini aku tidak pernah melihat siapapun datang ke mension ataupun foto yang di pajang di mension."


Lisa tersenyum.


"Lebih baik Nyonya tanya langsung kepada Tuan, Saya tidak berhak menjawabnya."


Felica mengangguk.


Dia tau maksud Lisa dan dia tidak akan memaksanya, bisa saja nanti dia menanyakan langsung kepada Alvaro.


Dia pun kembali menonton film di sana bersama Lisa.


******


Di Perusahaan.


Alvaro baru saja selesai dengan semua pekerjaannya, dia pun memijat pelipisnya. Kepalanya masih pusing bahkan pegal di tangannya pun masih terasa.


Dia terdiam mengingat apa yang terjadi semalam, bagaimana Felica begitu ketakutan dalam mimpi itu. apa yang sebenarnya terjadi. Apa begitu menyedihkan kehidupan Felica.


Alvaro pun menghubungi Miko untuk masuk ke dalam ruangan.


"Tuan memanggil saya?" Ucap Miko berdiri di hadapan Alvaro.


"Selidiki kecelakaan orang tua Felica."


Miko mengernyit.


"Apa tidak jelas, dan segera kirimkan secepatnya."


"Baiklah."


Miko berjalan keluar, apapun yang Alvaro minta pasti akan di lakukan. karena bagi Miko Alvaro bulan hanya sahabatnya saja, namun Alvaro juga Ibunya sangat baik kepadanya selama ini bahkan Miko sudah di anggap seperti anak sendiri oleh ibu Alvaro.


"Pak Miko, apa Tuan Alvaro ada di dalam?" Ucap Isabella sekretaris Perusahaan.


"Di dalam."


Isabella tersenyum dan merapikan penampilan sebelum dia masuk ke dalam ruangan CEO yang sangat di kagumi oleh semua karyawan.

__ADS_1


Miko menggeleng, namun dia tau bagaimana sahabatnya itu. Alvaro sama sekali tidak akan pernah tergoda dengan perempuan di luar karena hatinya akan selalu dia jaga hanya untuk orang yang memang spesial baginya.


Tok.


Tok.


Tok.


"Permisi Tuan" Ucap Isabella masuk dengan sengaja melangkah dengan meliukkan tubuhnya.


Alvaro yang menatap laptop pun sama sekali tidak menatapnya.


"Ini berkas yang harus Anda tandatangani."


Alvaro menoleh.


Dia menatap Isabella yang tersenyum, bahkan terlihat jika Isabella sengaja membuka satu kancing atas kemejanya.


"Letakkan di sana, dan keluar." Ucap Alvaro kembali menatap Laptopnya.


Isabella kesal dengan sikap cuek Alvaro, selama ini dia selalu berusaha menggodanya namun Alvaro tidak pernah menganggapnya.


Hari semakin sore,


Alvaro yang masih sibuk dengan Laptopnya pun menatap jam di tangannya.


Sudah hampir jam 6 sore, bahkan dia tidak merasakan jika sudah sore.


Alvaro menutup Laptopnya dan beranjak bangun.


Selama adanya Felica di mension, Alvaro sudah tidak lagi pulang larut malam bahkan dia selalu akan pulang lebih cepat.


Keadaan Perusahaan sudah sepi, semua karyawan sudah pada pulang.


"Tuan akan pulang sekarang?" Ucap Miko


Gue balik sendiri, Lo lakuin yang gue minta."


Miko memberikan kunci mobilnya dan Alvaro langsung masuk ke dalam lif khusus.


Felica yang sudah menunggu Alvaro pun tampak tidak sabar, seperti rencananya jika dia akan meminta maaf soal tadi pagi.


Tidak lama terdengar suara mobil sampai, Felica langsung berlari keluar namun Alvaro yang akan membuka pintu mension pun kaget saat malah Felica berdiri di sana.


"Astaga Kamu ngapain di sini."


"Hehehe Maaf, Aku aku nungguin kamu. Lama banget pulangnya."


Alvaro menautkan kedua alisnya, dia melihat Felica yang sudah tidak lagi takut kepadanya.


"Aku mau minta maaf karena tadi pagi, aku sama sekali tidak tau kamu tidak makan telor tapi kenapa kamu tidak menolaknya dan malah memakannya."


"Siapa yang bilang?"


"Sandra. aku tanya Lisa juga memang iya. Aku minta maaf."


Alvaro menatap Felica, kenapa begitu menggemaskan gadis di hadapannya ini.


"Kamu mau kan maafin aku?"


"Hem"


"Em, sebagai permintaan maaf aku gimana kalau makan malam ini aku yang masak?"


"Ada koki juga Sandra yang memasak."


"Tapi aku,-

__ADS_1


"Jangan memberontak."


"Tapi aku bosan Al"


Alvaro terdiam mendengar Felica memanggilnya Al, selama ini hanya orang-orang terdekatnya saja yang memanggilnya dengan sebutan itu dan kini Felica juga memanggilnya dengan sebutan itu.


"Maaf" Ucap Felica menunduk.


Dia takut jika Alvaro akan marah karena sikapnya yang seperti anak kecil.


"Dasar Bocil." Ucap Alvaro mengacak rambut Felica dan berjalan masuk.


Felica membulatkan matanya mendengar Alvaro menyebutnya Bocil.


"Hei, aku bukan Bocil. Usia aku saja sudah 22tahun." Ucap Felica berlari mengejar Alvaro.


"Tetap saja masih Bocil."


"Al,-


"Waa"


Alvaro menarik tangan Felica yang akan terjatuh.


Tatapan keduanya bertemu, Felica yang langsung memeluk Alvaro hingga membuat tubuh mereka sangat dekat tanpa adanya celah.


"Ma- maaf" Ucap Felica mendorong tubuh Alvaro.


"Bocil" Ucap Alvaro berjalan menuju kamarnya.


Felica menatapnya,


Dia terdiam, kenapa dengan jantungnya bahkan tatapan Alvaro yang kini sudah sangat berbeda.


Felica pun berlari masuk ke dalam kamarnya.


Sandra yang berada di lantai bawah pun melihat semuanya, semakin hari mereka semakin dekat bahkan Alvaro sama sekali tidak menolak saat Felica memeluknya.


"Kenapa panas ya?" Ucap Lisa tersenyum menatap Sandra.


"Kamu bisa lihat bukan bagaimana Tuan Alvaro kepada Nyonya Felica, Bahkan mereka terlihat semakin dekat dan sangat serasi. Tuan yang tampan bersanding dengan Nyonya yang juga cantik. Lagian kamu harusnya sadar Sandra, siapa kamu dan siapa Tuan Alvaro."


Sandra meninggalkan Lisa dengan perasaan kesal, namun Lisa terkekeh melihat sikap Sandra yang terlihat kepanasan.


Felica duduk di dalam kamarnya, kesal karena Alvaro yang memanggilnya dengan sebutan Bocil.


Padahal usianya sudah 22tahun, kenapa malah di sebut Bocil.


Ceklek


Pintu kamar terbuka, Felica menoleh dan Lisa lah yang masuk ke dalam kamar.


"Nyonya, Apa anda ingin makan sesuatu malam ini biar nanti koki akan memasaknya."


"Tidak, aku akan makan apa saja."


"Wajah Nyonya kenapa seperti itu?"


Felica menatap Lisa, dia pun menceritakannya membuat Lisa tertawa.


"Kenapa kamu malah tertawa."


"Tidak Nyonya, tapi Tuan memang benar jika Anda masih kecil."


"Lisa,-


Kesal Felica menyilangkan kedua tangannya, namun bukannya takut Lisa malah terkekeh melihat tingkah Felica.

__ADS_1


__ADS_2